
"Salah satu anak asetku memiliki peri pelindung Bola Kristal Merkurius. Levelnya sudah empat puluh enam, cakra keempatnya didapat dari peri vampir," tutur Mikhail. "Kau tahu, kan? Peri vampir selalu memiliki sonar. Itu adalah musuh para pemilik tulang cakra kepala."
Evelyn menelan ludah dan terperangah. Bola matanya bergerak-gerak dengan gelisah.
"Tentu saja peringatan ini hanya berlaku untukmu!" Mikhail menambahkan. "Kau adalah satu-satunya Master Spiritual tingkat Ksatria yang memiliki tulang cakra, Evelyn!"
Terutama pemilik tulang cakra Apollo! Evelyn menambahkan dalam hatinya.
"Kuberi kau tiga pilihan," Mikail menawarkan opsi dengan gaya bicara yang sangat mirip sekali dengan Nazareth. Ia mengacungkan tiga jari di sisi wajahnya, kemudian melipat salah satunya. "Pertama, relakan ronde ini dan simpan tenaga untuk ronde berikutnya."
Benar-benar mirip Nazareth! pikir Evelyn. Kenapa bukan Xenephon yang mirip dia?
Mikhail melipat jari kedua dari tiga jarinya yang teracung di sisi wajahnya. "Kedua, tetap bertanding dengan mengubah formasi tim." Sekarang ia menurunkan tangannya dan bersedekap. "Ketiga, tetap bertanding dengan formasi awal dengan risiko kau terancam seumur hidup!"
"Aku mengerti," desis Evelyn.
"Aku percaya bahwa kau bertarung bukan hanya untuk menang," kata Mikhail serasa menyindir.
Evelyn spontan menoleh pada Nazareth dengan tatapan menuduh.
Nazareth mengangkat bahunya dengan isyarat tidak tahu-menahu.
"Tak perlu heran!" sergah Mikhail mematahkan kecurigaan Evelyn pada Nazareth. "Peri pelindungku adalah Bola Kristal Oracle!
Pantas saja! pikir Evelyn.
Sesuai dengan namanya, bola kristal oracle---peramal adalah bola kristal yang umum digunakan para peramal.
"Jadi kau bukan tipe pemulihan?" tanya Evelyn setengah mengerang.
Mikhail terkekeh tipis, "Aku tipe pengamatan!"
"Lalu kenapa kau bilang jangan remehkan tipe pemulihan?" tuntut Evelyn bernada merajuk.
"Aku hanya menjawab apa yang kau pikirkan," tukas Mikhail.
"Masih bilang kalau tak salah tebak!" gerutu Evelyn tak sabar. "Kau jelas tak pernah menebak-nebak."
Nazareth mendesis menahan tawa.
Mikhail dan Evelyn serempak memelototinya.
.
.
.
Keesokan harinya, di Balai Budaya Kota Ilusi…
"Hari ini, kalian tidak akan turun bertanding!" Lady Die memberitahu.
Evelyn dan teman-temannya serempak terperangah.
"Kenapa?" tanya Xena.
"Lawan kalian Akademi Sihir Saint Claus menyerah!" Nyx Cornus mengambil alih jawaban.
Evelyn dan Nazareth spontan bertukar pandang.
Dia mengorbankan timnya! batin Evelyn merasa bersalah.
"Whoa—tampaknya kekuatan tim kita sudah tersebar!" seru Altair, tidak menyadari kegundahan hati Evelyn.
"Bagaimana kalau hari ini kita berjalan-jalan saja ke kota?" usul Lady Die dengan riang. "Aku benar-benar butuh liburan!" katanya berlagak sedih.
Arsen Heart mengerang sambil memutar-mutar bola matanya. "Besok mereka harus bertarung dengan Akademi Sihir Azrael!"
Evelyn dan teman-temannya serempak memekik.
Akademi Sihir Azrael adalah tim putra gubernur!
"Akhirnya tiba juga giliran yang menjengkelkan ini," Electra bergumam.
"Oh, telapak tanganku benar-benar gatal sekarang!" gerutu Cleon tak sabar.
"Aku benci penyihir!" ratap Xena dengan gaya kekanak-kanakannya yang khas.
Evelyn kembali bertukar pandang dengan Nazareth.
"Oh, ayolah! Kenapa kita tidak mencoba bersenang-senang saja dulu barang satu jam!" rengek Lady Die bernada memelas.
Nyx Cornus spontan mendengus sembari memutar-mutar bola matanya, "Naga pengeluh!" rutuknya dengan ekspresi muak.
Naga pengeluh adalah peri pelindung Lady Die.
Nazareth mendesah pendek dan terkekeh masam. "Baiklah," katanya. "Kita makan siang di luar sekarang!"
Beberapa saat kemudian, mereka sudah berbaur dalam keramaian di pusat kota.
Nazareth menautkan jemarinya di jemari Evelyn dan menggenggam tangan gadis itu sampai telapak tangan mereka berkeringat.
Evelyn mendongak menatap wajah pria itu dengan ragu-ragu. "Earth," bisiknya bernada memohon.
Nazareth tetap memasang wajah datar, menatap lurus ke depan. Pura-pura tidak mendengar permohonan Evelyn.
Evelyn mendesah pelan dan tertunduk. Haruskah dia menjagaku seketat ini? batinnya tak tahan lagi.
Migi Vox mendongak, menatap Evelyn dari pangkuan Nazareth.
Evelyn balas menatapnya dengan isyarat memohon. Ia tahu Nazareth bisa melihat apa yang dilihat Migi Vox.
Boneka itu menanggapinya dengan seringai menjengkelkan.
Evelyn mengerang sambil memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.
Di depan mereka, Cleon menoleh berkali-kali melirik mereka dengan ekspresi jengkel, sementara teman-temannya yang lain terlihat gembira.
"Earth! Aku tak akan menguap atau apa, kan?" protes Evelyn dalam bisikan tajam.
Nyx Cornus sampai menoleh mendengar Evelyn berkasak-kusuk, ia mengerling ke arah tangan mereka yang bertautan dan membeliak sebal.
Nazareth tetap tak menggubrisnya.
Oh, Tuhan! ratap Evelyn dalam hatinya.
Ketika mendengar langkah seseorang begitu dekat di belakang mereka, Nazareth akhirnya melepaskan genggamannya dan mengayunkan telapak tangannya ke belakang, secara spontan menyalurkan energi cahaya ke telapak tangannya.
Evelyn tersentak dan menoleh ke belakang.
Seorang anak anak laki-laki berusia enam tahun terperangah menatap tangan Nazareth dengan ekspresi ketakutan.
Evelyn menepiskan tangan Nazareth cepat-cepat.
Nazareth menoleh ke belakang dengan mata terpicing, lalu tertunduk dengan dahi berkerut-kerut.
Anak kecil itu mendongak menatap Nazareth dengan mata dan mulut membulat.
Nazareth mendesah pendek dan menurunkan tangannya. Kemudian berbalik dan meneruskan langkah sambil menyambar pergelangan tangan Evelyn. Tapi lalu tertegun dan terkesiap.
Bukan tangan Evelyn! ia menyadari. Yang digenggamnya tangan si kecil yang ketakutan tadi.
Ia menyentakkan kepalanya ke samping dan terperangah. Evelyn sudah tidak berada di sampingnya.
"Eve!" Nazareth memekik panik sambil berputar-putar dengan gelisah, yang secara spontan membuat rekan-rekan tersentak dan menoleh, lalu mengedar pandang.
Evelyn tak ada di mana-mana!
"Dia benar-benar menguap!" pekik Nyx Cornus dengan syok.
"Xena! Aktifkan penglihatan super!" instruksi Lady Die.
"Baik!" tanggap Xena seraya menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah dalam sikap kuda-kuda, sedetik kemudian kedua matanya menyala merah.
Bersamaan dengan itu, Salazar Lotz juga mengeluarkan peri pelindungnya, dan seketika suara burung phoenix melengking di atas kepala semua orang.
Kerumunan orang banyak itu tersentak dan seketika Nazareth dan keempat guardian lainnya beserta anak-anak aset mereka, menjadi pusat perhatian.
Salazar Lotz melesat ke puncak sebuah bangunan dan mendarat di tempat yang paling tinggi, kemudian menyisir kerumunan di bawah dengan mata terpicing.
Tidak ada tanda-tanda keberadaan Evelyn.
Di bawah sana, Xena berputar-putar mengedar pandang dengan telapak tangan menudungi matanya. Kemudian menggeleng dengan raut wajah putus asa. Ia mendesah pendek dan tertegun menatap anak kecil di dekat Nazareth. Lalu tiba-tiba memekik sambil menunjuk tangan anak laki-laki dalam genggaman Nazareth. "Dia bukan manusia!"
Nazareth spontan melepaskan cengkeramannya dan menepiskan tangan anak kecil itu.
Nyx Cornus dan Lady Die serentak memasang kuda-kuda.
"Seperti apa bentuknya?" tanya Arsen Heart pada Xena sambil memasang kuda-kuda juga.
"Seperti... anjing," jawab Xena tak yakin.
"Peri monster level sepuluh saja berani mengacau!" geram Nazareth sambil mendaratkan telapak tangannya di dahi anak kecil tadi.
SLASH!
Keredap cahaya berwarna biru berpendar dari telapak tangannya dan seketika anak laki-laki itu berubah menjadi seekor anjing maltese berbulu putih yang lucu.
Anjing itu melompat-lompat dengan kedua kaki depannya terangkat ke arah Nazareth, seperti anak kecil yang minta digendong.
"Imutnya…." Lady Die malah tergila-gila.
Nazareth mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang frustrasi.