Poison Eve

Poison Eve
Chapter-132



Peri vampir itu terhempas ke belakang, tapi tak sampai jatuh. Dengan cepat, peri vampir itu membalikkan keadaan dengan balas menerjang ke arah Evelyn sebelum Evelyn siap dengan teknik berikutnya.


Evelyn berkelit sambil melontarkan peri pelindungnya dalam bentuk cemeti, kemudian mencambuk tanah untuk memantulkan tubuhnya ke udara, bersamaan dengan itu, ia mengayunkan cemeti tanaman rambatnya ke arah si peri vampir dengan gerakan memutar di udara.


DUAAAAARRRR!


Seisi aula di kedua negara tercengang menatap teknik Evelyn.


"Apa sebenarnya peri pelindungnya?" Kaisar Shangri-La bertanya-tanya tanpa bisa menutupi perasaan takjubnya.


"Gadis ini benar-benar penuh kejutan!" komentar seseorang.


Ketua tim peringkat atas mengerjap, tapi tatapannya tak bisa berpaling dari layar.


Peri vampir itu tiba-tiba lenyap, lalu dalam sekejap sudah berpindah tempat dan muncul kembali di belakang Evelyn. Tapi ketika jemarinya yang runcing coba menggapai wajah Evelyn, sosok Evelyn tiba-tiba menguap dan berubah menjadi sulur tanaman yang dalam sekejap sudah menyergap pergelangan tangan si peri vampir.


Seisi aula di kedua negara, kembali terperangah.


Teknik kedua peri pelindung peniru! Nazareth membatin takjub.


Bersamaan dengan itu, sosok Evelyn melesat keluar dari semburat cahaya biru muda sekali lagi, mengalungkan tangannya di leher si peri vampir dari belakang, kemudian berubah lagi menjadi sulur tanaman.


Sosok ilusi yang sama muncul lagi dari sisi lain dengan cara yang sama, kemudian menyergap pergelangan tangan si peri vampir yang satu lagi, kemudian berubah lagi menjadi sulur tanaman dan mengikat peri vampir itu.


Peri vampir itu melakukan teleportasi lagi dan berhasil melepaskan diri. Tapi hanya sekejap.


Sosok ilusi Evelyn bermunculan dari berbagai arah dengan kecepatan luar biasa, kemudian menyergap peri vampir itu secara serempak dan berubah menjadi ular raksasa berkepala banyak dan melilit tubuhnya.


Dan ketika peri vampir itu mencoba berteleportasi lagi, sosok Evelyn yang asli melesat keluar dari semburat cahaya terang keemasan seraya menghunus ilusi sebilah pedang dengan sepasang mata menyala biru, mahkota peri sudah bertengger di kedua pelipisnya.


Nazareth mendesah lega. Ternyata begitu! katanya dalam hati.


Evelyn mengeluarkan tulang cakra kepala untuk menangkap gerakan teleportasi. Tak sampai mengeluarkan semua tekniknya.


Dalam hitungan sepersekian detik, ilusi pedang Rodrigo Knight sudah menembus dada si peri vampir, tepat ketika peri vampir itu sedang melakukan teleportasi.


DUAAAAARRRR!


Aula di kedua negara meledak oleh semburat cahaya terang keemasan yang menyilaukan.


Ketua tim peringkat atas Shangri-La mengerutkan keningnya. Kaisar bilang tulang cakra kepala hanya akan keluar jika tak ada lagi yang bisa dilakukan, pikirnya sedikit kecewa. Apa hanya begitu saja?


Para Master Penggali Bakat menarik energi cahaya dan menurunkan tangan mereka.


Evelyn meluncur turun dan seketika Nazareth melesat dari balkon untuk menangkap tubuhnya. Migi Vox ikut melesat dan mendahuluinya. Nazareth terbang kembali ke tempat khusus guardian, di mana teman-teman Evelyn dan guardian mereka sudah menunggu dengan khawatir, sambil membopong tubuh Evelyn.


Migi Vox menggelantung di jubah armor Evelyn.


Begitu Nazareth mendarat, Lady Die dan Nyx Cornus berebut untuk meraup tubuh Evelyn bersama Xena dan Electra.


Migi Vox menerjang lebih cepat ke arah Evelyn dan menggelayut di leher gadis itu, seakan tak rela orang lain merenggutnya.


Seisi aula masih membeku dalam keterpukauan.


Neiro Sach dan Badros Damon mengepalkan tangan dengan ekspresi geram.


Bagaimana tidak?


Keputusan ritual penggalian ingatan itu hanya membuktikan bahwa sembilan ratus empat puluh poin tim Morfeus Academy adalah poin murni.


Aula di Balai Mulia Shangri-La meledak oleh tepuk tangan spektakuler.


Semua orang melemparkan poin dukungan dalam bentuk kuntum bunga Alamanda ke arah layar yang khusus menampilkan Evelyn selama babak pertama penentuan yang diselenggarakan di Erebos.


Aula di Balai Mulia Neraida gegap-gempita oleh euforia spektakuler.


Evelyn terkulai dalam rengkuhan Nyx Cornus.


Manna pemulihan itu melayang ke ruang guardian tim Morfeus Akademi dan mengendap turun ke arah Evelyn, lalu meresap ke dalam tubuh gadis itu melalui dahinya.


Nazareth mengerling ke arah Xenephon dengan tatapan penuh terima kasih.


Xenephon menanggapinya dengan menjulurkan lidahnya menirukan gaya Migi Vox.


Keparat Cantik sialan! batin Nazareth merasa tergelitik.


Kelopak mata Evelyn mulai bergetar.


Migi Vox tersentak dengan mata dan mulut membulat, menampakkan ekspresi senang seorang anak kecil.


Lalu secara perlahan kelopak mata Evelyn mulai terkuak membuka.


Semua orang di sekelilingnya berebut untuk menyapanya.


Nazareth meraup tubuh Evelyn ke dalam dekapannya. "Kau membuatku hampir sinting hari ini!" desisnya lirih.


Evelyn mengerjap dan mengedar pandang melewati bahu Nazareth.


"Kenapa setiap karunia selalu datang bersama kutukan?" bisik Nazareth prihatin.


"Kau manusia setengah dewa," tukas Evelyn dalam bisikan lemah. "Kalau kau tanya aku, lalu aku tanya siapa?"


Nazareth terkekeh tipis, kemudian menyusupkan wajahnya di ceruk bahu Evelyn.


"Jadi kau berniat untuk menguasainya seorang diri?" Lady Die menggerutu pada Nazareth. Sudah kembali menjadi dirinya lagi.


Nazareth mengangkat wajahnya dan mengulum senyumnya, kemudian membantu Evelyn beranjak dari lantai.


Para wanita memeluk Evelyn bergantian. Migi Vox menggeliat di bahunya sambil menyikut semua orang yang memeluknya.


"Posesif gila tak masuk akal!" geram Lady Die pada Migi Vox.


Setelah mereka kembali ke Akademi, para wanita itu kemudian merawat Evelyn di pondok pemandian obat.


Migi Vox berjalan mondar-mandir di pagar beranda pondok Nazareth selama ia menunggu, kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya menirukan gaya Nazareth.


"Lady! Aku kan sudah tak pingsan!" protes Evelyn ketika Lady Die menjejalkan paksa tubuhnya ke dalam bak mandi.


"Kau kira terapi pemandian obat hanya untuk orang pingsan?" hardik Lady Die tak peduli.


Nyx Cornus tersenyum tipis di dekat meja racik obat di sudut ruangan, duduk di bangku sembari bersedekap. Wajahnya sedang menjelma sebagai malaikat.


Xena dan Electra tertawa-tawa di dekat Nyx Cornus sambil membungkuk meracik obat di atas meja di bawah instruksi Nyx Cornus.


"Tapi ini sangat membosankan!" protes Evelyn lagi sambil menarik punggungnya dari tepi bak dan mencoba duduk tegak.


"Dan relaks-lah!" Lady Die mendorongnya lagi, memaksa Evelyn untuk rebah kembali. "Relaksasi juga termasuk meditasi."


"Tapi—"


"Aku tak ingin dengar kata tapi!" sergah Lady Die cepat-cepat, memotong perkataan Evelyn.


Evelyn menyerah dan duduk melorot menyandarkan punggungnya di kepala bak mandi dengan wajah cemberut.


Nyx Cornus mencomot sejumput serbuk obat yang sudah selesai ditumbuk, kemudian menebarkannya ke arah bak mandi, dan seketika serbuk cahaya berwarna-warni menebar di sekeliling Evelyn dan berkelap-kelip seperti taburan bintang di kejauhan.


Evelyn terkesiap dengan tatapan takjub, ia mendongak mengamati taburan serbuk cahaya itu dengan ekspresi senang dan penasaran seorang anak kecil.


"Cobalah pikirkan hal-hal menyenangkan, Eve!" instruksi Nyx Cornus dengan suara lembut yang terdengar seperti denting kecapi yang menenangkan.


Nyx Cornus sangat menyenangkan kalau sedang menjadi dirinya yang seperti malaikat, pikir Evelyn.