Poison Eve

Poison Eve
Chapter-141



"Neraida menang lagi!"


"Neraida pasti menang sampai akhir!"


Sorak-sorai penduduk kota Ilusi menggema di seluruh tempat ketika Morfeus Five keluar dari Balai Mulia bersama para guardian mereka dikawal para Ksatria Ordo Angelos.


Tim akademi lain menggiring di belakang mereka.


Orang banyak di sana-sini berebut untuk menggapai mereka sambil berteriak histeris ketika mereka naik ke dalam kereta masing-masing.


Migi Vox menoleh ke sana kemari dengan ekspresi bingung dan polos seorang anak kecil.


Di depan mereka, kereta Kaisar sudah merambat pelan menerobos kerumunan di luar Balai Mulia.


Di belakang mereka, kereta tim akademi lain berderet seperti gerbong kereta api.


"Neraida menang lagi!"


"Neraida pasti menang sampai akhir!"


Teriakan-teriakan semangat semua orang menyambut iring-iringan itu.


Dan ketika dua kereta Morfeus Academy melintas di depan kerumunan, orang-orang kembali berebut untuk menggapai mereka.


Kuntum-kuntum bunga Alamanda bertebaran di mana-mana, beterbangan seperti dandelion.


Altair dan Cleon melemas di tempat duduknya ketika para wanita berteriak pada mereka.


"Marry me!"


"Marry me!"


Lady Die dan Xena terkikik sambil membekap mulut mereka.


Di kereta belakang, Evelyn dan Electra juga tergelak bersama Nyx Cornus.


Nazareth memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


Migi Vox masih menoleh ke sana kemari dengan ekspresi polos dan penasaran seorang anak kecil.


"Kenapa adegan sialan ini juga harus kita lalui?" gerutu Cleon.


"Kurasa Penulis Keparat sudah mulai kehabisan ide untuk merangkai adegan pertempuran," timpal Altair juga dengan menggerutu.


"Adegan mesum berbungkus status pernikahan lebih diminati," tukas Lady Die. "Kenapa tidak mencobanya? Menikah muda dan hasilkan anak genius. Itu juga diminati!"


"Mau mesum ya mesum saja! Kenapa harus sok suci?" gumam Altair sambil mengerling ke arah Xena dengan tatapan nakal.


"Jangan memelototiku!" Xena memarahinya.


Cleon mendesis menahan tawa.


"Shut up!" hardik Xena sambil melotot pada Cleon.


Lady Die melipat kedua tangannya di depan dada. "Masih ada waktu satu bulan sebelum semifinal," kelakarnya tanpa tertawa, lalu melirik pada anak asetnya. "Buatlah adegan menarik selama itu!"


"Kalau begitu aku akan membunuhnya secara perlahan!" sembur Xena sambil mendelik pada Altair.


Altair dan Cleon tergelak menanggapinya. Tapi hanya sesaat.


Kereta berhenti mendadak, disusul suara ledakan logam yang berbenturan di sisi kereta.


Tawa mereka seketika lenyap. Merasa sedikit familier dengan situasinya.


Nazareth mencoba mengintip keluar kereta, namun pada saat bersamaan, para tentara tersentak gusar disertai pekik-jerit ketakutan semua orang di tengah kerumunan.


"Serangan udara!" teriak seorang kapten pasukan abadi kerajaan.


"Lindungi Kaisar!" instruksi jenderal mereka.


"Lindungi rakyat dan para peserta!" teriak pemimpin pasukan Ksatria Ordo Angelos, bersahut-sahutan dengan jenderal pasukan abadi kerajaan.


Tak lama kemudian, semua peserta turnamen dan para guardian menghambur keluar dari kereta masing-masing. Begitu juga dengan Kaisar dan para pejabat.


Detik berikutnya, seluruh tempat berdebuk ribut dan bergemuruh.


Bongkahan-bongkahan batu besar berjatuhan dari langit seperti hujan.


"Rakyatku!" ratap Kaisar ketika dua tentara abadi kerajaan menuntunnya keluar dari kereta. Pria nomor satu itu mendarat dengan terhuyung. Kedua lututnya terasa goyah melihat kematian massal di depan matanya.


Sosok-sosok gelap bersayap berkeriapan di udara seperti ribuan kelelawar raksasa, terbang berputar-putar sambil melemparkan bongkahan-bongkahan batu besar ke arah semua orang.


Para tentara abadi kerajaan berhimpun di sekeliling Kaisar, menggabungkan perisai mereka bersama energi cahaya yang dalam sekejap membentuk lingkaran cahaya berwarna emas dengan simbol poligon seukuran lapangan di atas kepala semua orang.


Migi Vox terbang ke sana-kemari sambil mengepak-ngepakkan kedua tangannya dengan gelisah. Lebih terlihat seperti sedang berjingkrak-jingkrak dibanding gusar.


"Portal teleportasi!" instruksi seorang jenderal di barisan depan.


Kaisar dan para pejabat berhimpun di tengah lingkaran cahaya di permukaan tanah yang tercipta dari gabungan energi para pengawal abadi kerajaan.


"Lindungi rakyat!" teriak Kaisar dengan nyalang. "Aku tak ingin ada yang mati lagi!"


Detik berikutnya, portal teleportasi membuncah ketika para tentara abadi kerajaan itu akhirnya berhasil melarikan Kaisar dan para petinggi.


"Anak-anak, keluarkan cakra spiritual dan peri pelindung!" instruksi para guardian dari semua akademi.


SLASH!


SLASH!


SLASH!


Dalam seketika ledakan cahaya membersit di sana-sini. Semua orang mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing, kemudian menggabungkan kekuatan mereka dengan kelompoknya.


Evelyn dan teman-temannya juga melakukannya. Masing-masing mereka menggabungkan energi dengan guardiannya.


Migi Vox mendarat di bahu Evelyn dengan sikap kuda-kuda, lalu dalam sekejap energi mereka menjadi satu kesatuan.


BLAAAAASSSHHH!


Ledakan cahaya berwarna emas membuncah hingga radius ratusan kilometer, membuat semua orang terperangah dan menoleh ke sumber ledakan.


Nazareth menjejakkan sebelah kakinya dan melambungkan tubuhnya ke udara, lalu dalam sekejap berubah penampilan menjadi seorang raja, lengkap dengan jubah kebesaran dan mahkota emas berbentuk sayap di kedua pelipisnya. Sekarang ia melayang di udara dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.


Bersamaan dengan itu, ribuan ksatria Ordo Angelos menghambur keluar dari balik-balik awan dan menyebar di sekelilingnya.


Orang-orang kembali tercengang antara takjub dan ngeri.


Gerombolan penyerang bersayap gelap serentak menyisi dan membentuk lingkaran besar di udara mengepung Nazareth.


Tak lama kemudian, sosok-sosok yang sama bermunculan dari berbagai arah.


Bongkahan-bongkahan batu besar berjatuhan semakin deras.


Pasukan abadi kerajaan dan para ksatria Ordo Angelos yang tidak memiliki kemampuan terbang berjuang membendung serangan itu bersama para peserta turnamen dan para guardian.


Catlyn Thunder melesat ke sana kemari dengan tendangan memutar di udara untuk menghalau bongkahan-bongkahan batu itu bersama guardiannya.


Sloan Jace mengayun-ayunkan palunya dalam pukulan acak untuk menyingkirkan bongkahan batu dari khalayak.


Cleon juga sedang melakukan hal yang sama ketika sebongkah batu yang lebih besar meluncur ke arah Sloan. "Watch out!" Refleks ia melesat ke arah batu itu dan mengayunkan palunya untuk menepiskan bongkahan batu itu dari kepala kakaknya.


Sloan tergagap dan terkesiap, menatap adiknya dengan mata dan mulut membulat.


"Lindungi rakyat sipil!" perintah Nazareth dalam bisikan penuh kuasa yang mendirikan bulu kuduk semua orang. Suaranya terdengar seperti desau air bah di kejauhan. Namun bisa didengar oleh semua orang di tengah kegaduhan.


Para ksatria bersayap emas menyeruak ke arah semua orang, masing-masing ksatria menyergap satu orang dewasa atau dua orang anak-anak, kemudian membawa mereka terbang menjauh dari zona bahaya.


Langit terlihat ramai ketika para ksatria berseliweran membawa pergi semua orang.


Para penyerang menerjang di sana-sini, mencoba menghadang para ksatria itu dan berusaha menjatuhkan semua orang dalam rengkuhan mereka.


Pekik-jerit semua orang sekarang menebar di udara.


Musik orkestra dari penggabungan energi kelima anggota tim Akademi Sihir Dewa Musik membuat situasi lebih terasa seperti karnaval dibanding pertempuran.


Xenephon melesat ke arah Nazareth dan melayang di belakangnya dengan posisi saling membelakangi, kemudian merekahkan jemari tangannya di sisi wajah dan seketika bola-bola cahaya berwarna merah darah menebar seperti lampion yang dilepaskan serentak. Mula-mula sebesar kelereng, lalu membesar hingga mampu menampung seseorang di dalamnya seperti gelembung pelindung, menangkap setiap orang yang terlempar dari rengkuhan para ksatria dan membawanya melayang ke tempat aman.


Gelembung-gelembung berwarna merah darah berisi manusia itu sekarang melayang ringan memenuhi udara, ditambah iringan musik orkestra, membuat suasana semakin terlihat meriah.


Benar-benar seperti karnaval!