
"Kau baru saja menyerap manna Master Claus," kata Nyx Cornus. "Apa dia sudah pernah memberitahu manna pemulihannya bersifat racun sekaligus penawar?"
"Hmh!" Evelyn mengangguk singkat.
"Kalau begitu, cobalah untuk mengingat kenangan indah yang paling membahagiakan dalam hidupmu!" saran Nyx Cornus. "Ingatan menyenangkan yang didukung manna Master Claus bisa menghasilkan ledakan kekuatan spiritual yang sangat besar. Kau mungkin bisa mendapatkan cakra kelimamu!"
"Ingatan menyenangkan?" Evelyn menggumam mengulang kata-kata Nyx Cornus dalam bentuk pertanyaan.
"Kesenangan murni yang membentuk dirimu menjadi Evelyn yang senang berpetualang!" timpal Nyx Cornus.
Evelyn mengerjap dan tertunduk muram. Kesenangan murni yang membentuk dirinya menjadi seorang petualang adalah kenangan bersama ayahnya saat berburu.
Itu adalah saat-saat yang paling lepas di mana Evelyn bebas menjadi dirinya tanpa pengawasan tajam mata ibunya yang sedingin es. Saat-saat paling menyenangkan di mana ia bisa mengutarakan angan-angannya tanpa dihujat. Saat-saat paling berharga kebersamaan mereka di tengah kesibukan ayahnya.
Kelopak mata Evelyn spontan bergetar dan kedua matanya mulai berkaca-kaca.
Ingatan yang menyenangkan ternyata hanya membuat Evelyn sedih.
Lady Die mengerling ke arah Nyx Cornus dengan cemas.
Mata Nyx Cornus seakan tersenyum memandang Evelyn.
"Emotion!"
Tiba-tiba suara Victoria melintas dalam benak Evelyn.
"Emotion—renjana, sesuatu yang paling membuatmu emosional, entah itu marah, kecewa, sedih, putus asa, apa saja, emosi negatif yang menurutmu paling tidak terkendali."
Yang paling tidak terkendali? ulang Evelyn dalam hatinya. Emosi negatif yang paling tidak terkendali dalam dirinya adalah rasa kehilangan atas kematian ayahnya.
"Alam bawah sadar manusia tidak ada bedanya dengan dunia peri. Di sana, kau akan menemukan banyak monster dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi. Dan kau hanya perlu menemukan yang paling kuat dan membunuhnya seperti kau membunuh peri monster, lalu serap cakranya."
Ingatan menyenangkan, pikir Evelyn. Aku tak akan memilikinya jika terus seperti ini. Aku harus menaklukkan emosi negatif ini dulu baru bisa memiliki kembali ingatan yang menyenangkan.
Evelyn mengusap wajahnya dengan air pemandian obat, kemudian menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. Ia melemaskan tubuhnya, dan memejamkan mata. Menenggelamkan dirinya ke dalam ingatan terakhirnya mengenai sang ayah.
"Princess!"
Ia mendengar suara ayahnya.
"Princess Eve!"
Rumpun bunga Alamanda tersibak ketika ia berlari melewatinya. Langkahnya ringan dan gesit di atas rumput yang dingin dan lembut bagaikan sutra.
"Ayah!" panggilannya terengah-engah.
"Ayah!"
Ia mendengar suaranya memantul ke dinding tebing dan berbalik pada dirinya.
Sayup-sayup suara berkeresak dedaunan dan gemeretak ranting-ranting kering yang terinjak sepatu armor ayahnya mengambang melewati lapangan rumput.
Evelyn menyelinap melewati bayang-bayang pepohonan, berlari terengah-engah. Matanya meneropong jauh ke dalam hutan, mencari-cari sosok ayahnya di antara semak-semak.
Langit berwarna biru terang di atas kepalanya, dipenuhi oleh awan putih.
Gemericik air sungai semakin terdengar seiring dia mendekat. Di pinggir sungai yang ditumbuhi tanaman rambat, tampak seekor rusa sedang merunduk menjulurkan kepalanya ke permukaan air dan menyesapnya.
Di sebelah kanannya, Evelyn menangkap bayangan lain dalam siluet di bawah langit malam.
Evelyn berlari menuju bayangan itu, melewati rerumputan, mengira akan melihat ayahnya sedang mengendap-endap di suatu sudut tersembunyi dan mengejutkannya. Tapi ia mendapati dirinya hanya sendirian.
Ketika ia mencapai tempat itu, ia berhenti tiba-tiba, jantungnya berdebar-debar, kemudian membeku menatap kekosongan.
Bunyi gemeretak di belakang membuatnya berbalik badan, dan tepat pada saat itu ia melihat seorang pria tinggi berwajah lancip putih porselen dengan ikat kepala dari emas.
Nazareth!
Pria itu mendekat perlahan ke arah Evelyn, kedua tangannya terlipat di belakang tubuhnya. "Maaf," katanya. "Sejujurnya aku tak punya persiapan apa pun untuk menemuimu. Tapi…" ia menarik sebelah tangannya dan mengulurkan setangkai bunga Alamanda. "Selamat!"
Evelyn mengerjap dan tergagap. Merasa familier dengan adegan ini. Ia menatap ke dalam mata Nazareth, kemudian menelan ludah. "Jangan katakan apa pun mengenai ayahku!" desisnya dengan suara tercekat.
Nazareth balas mengerjap dan tertunduk, menatap Evelyn dengan alis bertautan.
Evelyn beringsut mundur sambil menggeleng-geleng, "Kumohon," ratapnya dalam bisikan lirih.
"Tapi…"
"Aku tak ingin dengar soal ayahku!" sergah Evelyn setengah menjerit, memotong ucapan Nazareth.
"Aku hanya…"
Evelyn beringsut lagi, melangkah mundur semakin jauh.
"Aku datang menggantikan ayahmu!"
"Menggantikan?" Evelyn berhenti mendadak dan terperangah. "Dia tak akan datang?"
"Sebenarnya dia sudah datang!" tukas Nazareth. "Hanya saja kau tak melihatnya." Ia mengulurkan telapak tangan sekali lagi, tapi isinya bukan lagi sekuntum bunga Alamanda, melainkan sekeping lencana.
"Dia selalu bersamamu, Eve!" bisik Nazareth. "Kau hanya tak melihatnya."
Evelyn spontan tertunduk.
Nazareth melayangkan lencana itu pada Evelyn. "Ini adalah cakra ayahmu!" ia memberitahu.
Evelyn kembali mengerjap dan terkesiap.
Lencana itu melayang berputar-putar, kemudian secara perlahan berubah bentuk menjadi lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna emas.
Sejurus kemudian…
BLAAAAAAASHHHHH!
Semburat cahaya terang keemasan meledak dari pondok pemandian obat, kemudian berpendar dalam bentuk lingkaran hingga mencapai radius ratusan meter disertai angin kencang, menyentakkan para pria yang sedang berhimpun di pekarangan membahas soal tulang cakra yang didapat oleh tim Morfeus Academy.
Para pria serentak membeku dan berhenti bicara.
Sunyi mendadak!
Migi Vox berhenti mondar-mandir di pagar beranda. Boneka itu terkesiap dengan ekspresi takjub. Lalu menoleh ke arah pondok pemandian melalui bahunya sambil menyeringai.
Para pria di pekarangan belum berkedip sementara para wanita di dalam pondok pemandian obat masih disergap kebutaan.
Lady Die tertunduk ke arah bathub.
Sosok Evelyn hanya terlihat seperti lampu.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah bergabung dengan para pria di ruang makan.
"Perlihatkan pada kami cakra kelimamu!" pinta Xena dengan ekspresi penasaran seorang gadis kecil.
Migi Vox ikut berjingkrak-jingkrak sambil bertepuk tangan menirukan gaya Xena.
Evelyn mengerling ke arah Nazareth.
Pria itu menanggapinya dengan anggukan samar.
"Baiklah!" kata Evelyn sambil memasang kuda-kuda. Dan…
BLAAAASHHH!
lima lingkaran cahaya berbentuk cakram berkeredap di sekeliling tubuhnya. Satu kuning, satu merah, satu biru dan dua emas.
"Cakra jutaan tahun lagi!" gumam semua orang nyaris bersamaan.
"Bagaimana kau mendapatkannya?" tanya Altair.
"Kukira…" Evelyn tertunduk. "Itu cakra ayahku."
"Kau bertarung dengan ayahmu di alam bawah sadar?" sela Cleon.
Evelyn menggeleng. "Aku bahkan tidak melihatnya di alam bawah sadarku," gumamnya muram.
"Apa tekniknya?" tanya Nazareth.
"Bahasa cahaya," jawab Evelyn.
"Bahasa cahaya?" Seisi ruangan terperangah.
"Dan… penglihatan super pengunci target!" Evelyn menambahkan.
"That's amazing!" seru Arsen Heart, sedikit terlalu antusias, tak bisa menutupi rasa kagumnya.
"Dan…?" Nazareth memicingkan matanya, menuntut jawaban lain, tak yakin seorang perwira hanya memiliki dua teknik rahasia.
"Taktik…"
"Dan…?" Nazareth bertanya lagi.
Evelyn langsung terdiam. "Aku tak yakin apa namanya," ia mengaku. "Tapi…" ia menggantung kalimatnya sesaat, kemudian menoleh pada Migi Vox. Ia menudingkan telunjuk ke arah boneka itu seraya berkata, "Berlutut!"
Dan seketika boneka itu langsung berlutut.
Seisi ruangan tergagap.
Evelyn menoleh ke arah Xena dan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya pada Migi Vox.
Xena juga melakukannya dengan patuh.
Evelyn menarik tangannya dan menoleh pada Nazareth. "Itulah yang kumaksud," katanya.
Nazareth terpaku menatap Evelyn. Dahinya berkerut-kerut. Lalu tiba-tiba meledak tertawa.
Seisi ruangan spontan tersentak dan memelototinya.