
Jalan menuju Arena Debut terlihat mengagumkan.
Jalan itu membentuk garis lurus yang seolah tak berujung, dikelilingi oleh puncak-puncak bangunan tinggi menjulang yang membuat kesan seakan-akan mereka memasuki jurang sempit di antara tembok-tembok tinggi, dari gunung yang terbelah oleh pisau untuk memberi jalan bagi semua orang.
Terik matahari sore yang bersinar keemasan mendadak sirna digantikan kemuraman batu cadas yang gelap.
Xenephon menghentikan kereta kuda mereka di pelataran sebuah bangunan paling besar di ujung jalan dan meninggalkan mereka di sana.
"Master Claus tidak ikut dengan kita?" tanya Evelyn seraya memperhatikan bagian belakang kereta kuda yang dikendarai Xenephon yang kian menjauh.
"Dia punya urusan lain di kota ini," kata Nazareth sambil menuntun langkah mereka menuju tangga.
Migi Vox mengedar pandang dengan ekspresi bingung seorang anak kecil.
Arena Debut maupun Arena Guardian berada di dalam gedung yang sama, menjadi satu dengan penginapan, restoran dan kedai minuman.
Dari balik jendela-jendela penginapan yang bergaya neo-Gothic laksana kastil, pergantian hari terlihat begitu mencekam, gelap dan mistis.
Dari aula besar tempat mereka berhenti untuk memesan kamar, Evelyn dapat melihat bayangan menara-menara dan atap segitiga bangunan yang terbentuk melintang di atas rerumputan, nyaris sirna ditelan kegelapan.
Interior bangunan itu membuat Evelyn sedikit merinding. Mungkin karena kerangka jendelanya yang silang-menyilang di jendela-jendela yang sempit. Dekorasinya gelap, ramai dan sesak dengan tema gothic.
Bingkai kayu terbentang sampai ke atap kubah yang diplester dengan warna putih krem, ditopang dengan tiang berwarna gelap. Tiga lampu gantung yang terbuat dari besi tempa, terkait di ketinggian, rangka lampu itu terlihat seperti dicuri dari penjara bawah tanah.
"Kami butuh dua kamar kelas dua," kata Nazareth pada resepsionis penginapan.
"Dengan segala hormat, Sir!" Resepsionis itu menangkupkan kedua tangannya di depan wajah. "Karena musim kompetisi sudah di depan mata, para Master pendatang baru berdatangan dari berbagai tempat bersama guardian mereka. Jadi, kamar kelas dua dan kelas tiga sudah dipesan semua. Tinggal satu kamar kelas satu."
Nazareth dan Evelyn bertukar pandang dengan isyarat saling bertanya.
Nazareth tentunya tidak keberatan dengan harga fantastis kamar kelas satu, tapi tersisa satu kamar itu artinya mereka harus tinggal sekamar berdua selama beberapa hari kecuali mereka bersedia berjalan cukup jauh untuk mencari penginapan lain.
"Aku tidak keberatan kecuali Master tidak berkenan," kata Evelyn sambil membungkuk.
Tentu saja Evelyn tidak keberatan, bisa jadi dia malah berharap.
Lalu, bagaimana dengan Nazareth?
Dia juga berharap Evelyn tidak keberatan!
"Baiklah!" kata Nazareth tanpa ekspresi. Lalu menoleh pada resepsionis itu dan mengatakan bahwa mereka akan mengambil kamarnya.
Migi Vox menyeringai menanggapi keputusan Nazareth yang kalau diperhatikan sebenarnya tak perlu didiskusikan.
Sebagai sisi gelapnya, Migi Vox yang paling tahu keinginan-keinginan rahasia Nazareth.
Seorang pelayan kemudian mengantar mereka ke kamar itu.
Setelah Evelyn berganti pakaian, Nazareth mengajaknya ke restoran, melewati meja resepsionis itu lagi, tepat ketika dua orang pengunjung memesan kamar.
"Semua kamar terutama kelas tiga sudah dipesan," kata resepsionis itu. "Hanya tersisa satu kamar kelas dua!"
Nazareth dan Evelyn juga Migi Vox menyentakkan kepala mereka secara serempak, menghujamkan tatapan tajam pada resepsionis itu.
Resepsionis itu balas menatap ke arah mereka tanpa rasa bersalah.
"Untuk memaksimalkan tempat, mereka menyiasati setiap transaksi," seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun menyela sebelum Nazareth sempat bereaksi dan menyemburkan kata-kata hujatan.
Nazareth dan Evelyn spontan menoleh pada pria itu diikuti Migi Vox.
Pria itu menatap Migi Vox dengan terkejut, "Ini…" ia menggantung kalimatnya dan berpaling pada Nazareth.
Evelyn mengerjap menatap Nazareth dan pria itu bergantian.
Pria itu tergagap dan membungkuk sekilas pada Nazareth, kemudian segera menyingkir.
Evelyn memandangi punggung pria itu dengan mata terpicing. Lalu melirik guardiannya sekali lagi.
"Ayo," kata Nazareth tanpa ekspresi. Lalu berjalan dengan elegan.
Evelyn menjejeri langkah guardiannya sambil melamun. Pria tadi mengenalinya, katanya dalam hati. Lalu memandang Migi Vox.
Migi Vox mendongak ke arah Evelyn, balas memandanginya dengan kepolosan anak balita.
Jurus Pemusat Bayangan, batin Evelyn. Dua jiwa yang berlawanan memperebutkan satu kesadaran.
Apakah yang dikatakan peri vampir itu benar?
"Jika dia tak bisa mengontrolnya dengan baik, maka… akan terkena serangan balik!"
Memasuki kawasan restoran mereka disambut para pelayan wanita berpakaian terbuka dengan rok tinggi yang dipadu dengan korset dan stoking jala berwarna hitam.
"Silahkan, Tuan, Nyonya!" sapa mereka sambil membungkuk. Barangkali dikiranya Nazareth dan Evelyn pasangan suami istri karena membawa balita.
Nazareth tidak tampak terganggu dengan persepsi itu. Ia tetap melangkah dengan elegan dan memilih meja yang khusus untuk pasangan.
"Nanti malam adalah debut perdanamu," kata Nazareth setelah mereka selesai memesan makanan. "Apa kau siap?"
"Hmh!" Evelyn mengangguk penuh semangat.
"Jangan tunjukkan semua teknik pada debut pertama supaya lawan berikutnya tidak bisa membaca kekuatanmu," Nazareth memperingatkan.
Migi Vox mendongak menatap wajah Evelyn dengan raut wajah yang masih terlihat polos.
Terkadang dia begitu murni, batin Evelyn tak bisa menghentikan dirinya untuk tidak terus-terusan memikirkan boneka itu. Pikirkan saja debut pertamamu! ia mengingatkan dirinya. Tapi tatapannya tak bisa berpaling dari Migi Vox.
Setelah selesai makan, Nazareth membimbing Evelyn ke bagian pendaftaran dan kembali ke kamar mereka.
"Dengar," kata Nazareth setelah mereka sampai di kamar. Ia membentangkan dokumen yang dibawanya dari bagian pendaftaran di atas meja sofa di ruang duduk. "Entah ini keberuntungan atau bencana, tapi lawan pertamamu adalah petarung hebat yang sudah mencapai level dua puluh."
Evelyn menegang di seberang meja. Bagaimana bisa yang seperti ini disebut keberuntungan? pikirnya pesimis.
"Hari ketujuh datang ke Arena Debut, sudah menang tujuh kali berturut-turut," lanjut Nazareth. "Dalam setiap pertarungannya, lawannya kalau tak mati, terluka."
Evelyn memekik tertahan dan membekap mulutnya dengan jemari tangannya, tak bisa menutupi perasaan cemas.
"Kau harus menjaga diri," pesan Nazareth. "Jika merasa berbahaya, jangan ragu untuk mengaku kalah."
Kalau tak mati terluka? pikir Evelyn.
"Jangan terpengaruh oleh reputasi," Nazareth menyemangati. "Meski sudah memenangkan pertarungan tujuh kali berturut-turut, belum tentu lawanmu hanya mengandalkan kekuatan. Jangan menganggap remeh lawan maupun diri sendiri. Tapi juga jangan menilai terlalu tinggi lawan, maupun diri sendiri. Ekspektasi adalah penyesat yang paling keji!"
Evelyn menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Berusaha menguatkan hatinya. Tapi itu tak semudah kedengarannya.
"Kau datang ke Balai Budaya untuk mendaftar di Ajang Gali Bakat Master Spiritual," Nazareth menambahkan. "Bukankah itu hanya berarti satu hal? Kau seorang ahli bela diri!"
Evelyn tidak menjawab. Tapi hatinya membenarkan. Tentu saja setiap anak yang mengikuti Ajang Gali Bakat Tahunan memiliki latar belakang pelatihan dasar bela diri, bahkan Nadine, sepupu perempuannya.
Ahli beladiri tidak selalu Master Spiritual di Negeri Peri. Beberapa di antaranya Master Martial Art dan Master Warrior. Namun yang paling tinggi adalah Master Spiritual.
Ibarat Martial Art adalah daerah, Master Warrior adalah negara, Master Spiritual adalah dunia.
"Kau begitu percaya diri saat mendaftar di Ajang Gali Bakat," tutur Nazareth memotivasi. "Kuharap kau juga percaya diri dalam hal ini. Sudah terlambat untuk kau mundur sekarang. Kau tak punya banyak pilihan, Eve!"