Poison Eve

Poison Eve
Chapter-131



Detik-detik menegangkan itu akhirnya mereka taklukkan dengan tepat waktu, begitu tepat waktu hingga mereka hampir tertinggal.


Begitu mereka tiba di Balai Mulia, Evelyn masih harus dipersulit oleh rangkaian penyelidikan terkait aksi heroiknya mengalahkan peri vampir berusia sembilan ratus empat puluh ribu tahun.


Evelyn dan teman-temannya bahkan belum keluar dari arena ketika lima Master Penggali Bakat mendarat di lantai arena portal teleportasi, sesaat setelah para Master Teleportasi menutup portal.


Para peserta dihalau keluar, kecuali Evelyn.


Nazareth menunggu dengan resah di tempat para guardian. Tak sabar untuk memeluk kekasihnya yang cantik namun malang.


Migi Vox terbangun dan mengerling ke sana kemari dengan tatapan mencari-cari yang tajam.


Kaisar Aero mengangkat sebelah tangannya ke arah layar Kaisar Shangri-La dan mengisyaratkan permintaan untuk terhubung secara audio.


Para Master Spiritual aliran sihir musik di kedua negara serentak menjadi sibuk.


"Dengan segala hormat, Sir!" ungkap Kaisar Aero seraya menangkupkan kedua tangannya di depan wajahnya mengisyaratkan permohonan maaf yang sebesar-besarnya. "Mohon untuk tidak meninggalkan Balai Mulia dulu," pintanya setelah berbasa-basi sejenak. "Demi keadilan, pihak kami berniat untuk melakukan Ritual Penggalian Ingatan untuk peserta tim Akademi Militer Morfeus Academy, Evelyn Katz, untuk melihat kejadian sebenarnya di balik layar yang tertutup tabir."


"Nice!" Kaisar Shangri-La menanggapi dengan antusias. "Tampaknya akan ada pertunjukan bagus!"


"Kami akan mengirimkan seribu poin dukungan!" lanjut Kaisar Aero sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah portal teleportasi yang dibuka kembali sebagian. "Bunga Alamanda, mewakili suara rakyat!"


Taburan bunga-bunga Alamanda seketika bertebaran ke arah portal dan menghilang. Detik berikutnya, taburan bunga Alamanda itu bertebaran di Balai Mulia Shangri-La.


Para hadirin di sana berebut untuk menangkapnya dengan antusias.


Tak lama kemudian, audio kembali padam, sementara cermin sihir masih berfungsi.


Kaisar Aero mengangguk ke arena, mempersilahkan para Master Penggali Bakat yang juga dikenal dengan julukan Penggali Kubur untuk memulai menggali ingatan terkubur.


Para Master Teleportasi kembali menutup portal dan menyisi.


Lalu tujuh Master Spiritual aliran sihir musik menggantikan mereka untuk merekam ritual penggalian ingatan itu dengan cermin sihir mereka.


Evelyn berdiri tegang di tengah-tengah portal teleportasi yang telah ditutup.


Kelima Master Penggali Bakat mengelilinginya.


"Ini akan sedikit sakit, Eve!" Si pemilik bola kristal memperingatkan. "Tapi tak berbahaya."


Ketujuh Master Spiritual aliran sihir musik tadi membuat lingkaran di luar lingkaran para Master Penggali Bakat.


Evelyn menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Lalu tersenyum dan mengangguk pada si pemilik bola kristal, mengisyaratkan bahwa dirinya sudah cukup siap.


Detik berikutnya. Lantai arena kembali menyala oleh dua lingkaran cahaya dengan simbol poligon berlapis yang tercipta dari dua aliran spiritual yang berlainan.


Evelyn mulai terhuyung dan merasakan kesadarannya mulai melayang. Tak lama kemudian, kepalanya terkulai sementara tubuhnya melayang di atas arena dalam pancaran cahaya berwarna-warni.


Deretan layar di sekeliling dinding bagian atas bangunan mulai berkeredap menyala, menampilkan sesosok pria berjubah gelap dengan tudung kepala.


Neiro Sach spontan bertukar pandang dengan Bedros Damon.


"Aku tak ingin melukaimu," bisik pria berjubah gelap dengan sepasang bibir tak kalah gelap, suaranya menyerupai hembusan angin.


Nazareth mengepalkan tangannya seraya mengetatkan rahangnya.


Migi Vox menatap layar dengan dahi berkerut-kerut karena geram.


"Apa tepatnya yang kau inginkan?"


"Nothing. Hanya ingin memastikan ini benar-benar kau."


Evelyn terkekeh sinis.


"Apa yang membawamu ke sini?" tanya pria itu sambil meneliti setiap lekuk tubuh Evelyn dengan penuh perhatian. Lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Tatapannya sekarang tertuju pada batu permata di bagian atas dada sebelah kanan armor Evelyn. Kemudian merenggut permata itu dengan tangan lainnya.


Pria itu mengerjap dan membeku, menatap ke dalam mata Evelyn. "Kompetisi itu…" pekiknya. Kemudian menjauhkan tangannya dari cermin sihir itu. "Baiklah," katanya. Tatapannya kembali melembut. "Lagi pula mereka tak bisa mendengar kita! Kota di depan sana tak menjanjikan apa-apa."


Evelyn hanya mendengus.


Tiba-tiba pria itu mendaratkan tubuhnya di permukaan tanah, kemudian melepaskan Evelyn. "Bertahanlah lebih lama di dalam hutan," ia menyarankan. "Kau mungkin akan menemukan peri vampir ratusan ribu tahun."


Setelah mengatakan itu, pria itu memutar tubuhnya sambil mengibaskan tepi jubahnya, kemudian lenyap dengan meninggalkan hempasan angin yang sangat kencang.


Evelyn membeku menatap kekosongan.


Bedros Damon mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya.


Evelyn berbalik setelah sejenak tercenung, lalu bergegas menuju tempat di mana ia berpisah dengan teman-temannya.


Sesuatu melesat dari kegelapan hutan.


Evelyn spontan mengedar pandang dengan waspada.


Sebuah bayangan gelap jatuh dari ketinggian dan menyergapnya.


Evelyn terpekik dan terkesiap. Seraut wajah menyeringai dari balik tengkuknya. Sepasang tangan dengan jemari runcing berkuku tajam merayap ke wajahnya, tangan lainnya melingkar di pinggangnya.


Evelyn memejamkan matanya dan mengetatkan rahang, lalu tanah di bawah kakinya bergetar dan bergemeretak.


KRAAAAAAK!


Tanah di bawah kakinya terkuak dan meledak.


Peri vampir di belakangnya terperosok.


Bersamaan dengan itu, Evelyn melompat dalam gerakan salto sambil menyentakkan jemari tangannya membentuk cakar, dan seketika sulur tanaman merambat dengan cepat ke permukaan tanah, kemudian menyergap pergelangan tangan si peri vampir.


Peri vampir itu melejit dan menyentakkan sulur tanaman itu dari tangannya. Tapi sulur tanaman itu mengetat dan mengeras. Tak berhasil menyingkirkan lilitan sulur tanaman itu dari pergelangan tangannya, peri vampir itu kemudian menerjang ke arah Evelyn.


Evelyn melejit, memantulkan tubuhnya ke udara sambil menyemburkan api dari mulutnya.


Seisi aula di dua negara terkesiap.


Bahkan Neiro Sach dan komplotannya.


Tak banyak orang yang tahu teknik ketiga Evelyn yang didapat dari cakra peri monster naga pengeluh.


Teknik itu baru dikeluarkan sekali saat melawan Catlyn Thunder.


Catlyn mengerling sekilas pada kakaknya dengan tatapan penuh arti.


Nazareth spontan mengerjap. Gawat! pikirnya. Bertarung sampai mengeluarkan tulang cakra kepala tentunya Evelyn sudah mengeluarkan seluruh teknik cahaya yang dimilikinya. Semua orang akan melihat seluruh kekuatannya sekarang!


Keempat guardian di belakangnya juga menegang menyadari hal itu.


Peri vampir itu memutar tubuhnya membentuk pusaran kabut gelap yang kemudian menggulung tubuh Evelyn.


Evelyn terjebak dan menggeliat-geliut dengan kedua tangan melekat di sisi tubuhnya seperti dibelenggu. Ia kembali memejamkan matanya dan tampak berusaha keras berkonsentrasi, tak lama kemudian dahinya menyala biru, dan seketika tubuhnya lenyap.


Peri vampir itu meraung dengan murka kemudian berubah menjadi kelelawar raksasa, mengamuk ke sana-kemari seraya mengepak-ngepakan sayapnya dengan gusar.


Nazareth mendesah tipis, merasa sedikit lega menyadari cermin sihir tak dapat menembus Balai Keterampilan. Ia sangat yakin Evelyn sedang menyelinap ke dalam ruang dimensi itu untuk menyiapkan teknik lainnya.


Sejurus kemudian, Evelyn melesat keluar dari ledakan cahaya biru muda dengan kedua tangan bersilangan di depan wajahnya, kemudian mengayunkan keduanya ke arah yang berlawanan dan seketika ledakan cahaya biru muda berbentuk silang berkeredap dari kibasan tangannya dan menerjang ke arah peri vampir itu.


SLASH!