Poison Eve

Poison Eve
Chapter-57



"Aneh sekali," gumam Lady Die. "Tidak ada tanda-tanda pemilik akademi ada di sini. Tapi boneka itu…"


"Lihat itu!" pekik Salazar sambil menunjuk ke arah Evelyn.


Gadis itu menggerak-gerakkan jemarinya sedemikian rupa, mengendalikan Migi Vox menggunakan energi berbentuk serat berwarna-warni.


Migi Vox memantul-mantul dalam gerakan-gerakan lincah, menyerang, menangkis, memukul, dan menendang seakan sedang menari, mengikuti gerakan Evelyn seperti marionette yang dikendalikan dengan benang.


"Mustahil!" rintih Lady Die. "Ternyata dia sendiri yang mengendalikannya."


"Mungkinkah…" Salazar menggumam seraya mengerutkan keningnya.


"Peri pelindung penjaga jiwa!" Arsen Heart menimpali.


"Maksudmu… dia menjadikan pemilik akademi sebagai penjaga jiwanya?" Lady Die menoleh pada Arsen Heart dengan alis bertautan.


"Menurutmu?" Arsen Heart balas menoleh pada Lady Die seraya menaikkan sebelah alisnya.


"Watch out!" Salazar memekik seraya mendorong kedua guardian itu menyisi dan melontarkan energi cahaya berbentuk kubah ketika Migi Vox melesat ke arah mereka.


GLAAAAAARRRR!!!


Benturan energi menimbulkan ledakan cahaya dan hempasan angin yang membadai ke seluruh tempat.


Seluruh akademi bergemuruh oleh pekik jerit para murid.


Para penduduk yang penasaran menghambur dari berbagai penjuru kota menuju akademi.


"Perintahkan semua anak untuk membuat formasi penyatuan!" wakil akademi memerintahkan yang dalam sekejap membuat para guardian berpencaran ke sana kemari untuk mengumpulkan murid-muridnya.


"Oh, tidak!" pekik Xenephon.


"Hentikan!" jerit Nyx Cornus. "Itu bisa menghancurkannya!" protesnya pada wakil akademi.


Pria paruh baya itu mengabaikannya dan tetap mengatur formasi penggabungan energi.


Para guardian sudah bersiap dengan murid-murid mereka.


"Xen!" Nyx Cornus menoleh pada Xenephon dengan isyarat tatapan menuntut. "Lakukan sesuatu!"


Pria itu membeku dengan ekspresi tak berdaya. Penggabungan energi para petinggi dan guardian yang didukung energi cahaya semua murid bahkan bisa meledakkan akademi mereka. Dia hanya dengan Nyx Cornus tak mungkin bisa membentengi Evelyn.


Bersamaan dengan itu, penduduk kota juga sudah menyerbu ke arah gerbang.


Para penjaga gerbang dibantu para perawat taman hampir tak sanggup membendung mereka.


"Bagaimana ini?" tatapan Nyx Cornus yang panik menyapu seluruh tempat.


Situasi terlihat genting di mana-mana.


Sementara semua murid membentuk formasi lingkaran dengan masing-masing mengeluarkan cakra dan peri pelindung mereka, para guardian mereka berjongkok di tengah-tengah lingkaran dengan sikap kuda-kuda seperti orang sedang bersiap untuk balapan lari, kemudian mendaratkan telapak tangan mereka di lantai secara serempak dan seketika semburan api meledak di sekeliling guardian mereka masing-masing, kemudian merambat mengepung Evelyn.


Evelyn menggerakkan kedua tangannya dalam bentuk tarian ringan seolah sedang bergerak di dalam air kemudian menghisap seluruh api di sekelilingnya ke telapak tangannya. Lalu muncullah sebilah pedang dalam bentuk gambar cahaya seperti hologram dengan lidah-lidah api.


Semua orang kembali tercengang.


Tidak terkecuali Xenephon dan Nyx Cornus.


"Pedang Rodrigo!" pekik beberapa orang.


"Rodrigo Katz…" Nyx Cornus mendesis dengan syok, "Evelyn Katz!"


"Peri pelindung leluhur!" Xenephon menyimpulkan.


Nyx Cornus menelan ludah dengan susah payah. "Dia sudah mencapai tahap ketujuh!"


"Dia putri Rodrigo Katz?" seseorang memekik. Menatap Xenephon dan Nyx Cornus dengan mata terpicing.


Kedua guardian itu tidak berpaling dari Evelyn.


"Bahkan energi gabungan tidak bisa mematahkan kultivasinya!" desis Salazar dengan ekspresi ngeri.


"Dan kita sungguh celaka!" Xenephon menimpali. "Kalau dia sudah mencapai tahap kedelapan, tidak seorang pun bisa menghentikannya."


"Apa?" Para petinggi dan guardian memekik bersamaan.


"Bentuk formasi baru!" wakil akademi menginstruksikan.


Bersamaan dengan itu, para penjaga gerbang dan para petugas taman sudah terdesak di pintu gerbang.


Tepat ketika gerombolan penduduk hampir menerobos pintu gerbang, sejumlah pria berseragam ksatria lengkap dengan tombak dan perisai, baju zirah dan helm baja tertutup, melesat dari sudut-sudut halaman entah dari mana kemudian mendarat serentak dan berderet menghadang para penduduk itu dan menghalau mereka dalam satu hentakan kaki.


Para penduduk terpental keluar gerbang dan beringsut mundur dengan ketakutan.


"Ordo Angelos!" gumam mereka bersamaan.


Bersamaan dengan itu pula, sejumlah ksatria yang sama meluncur dari angkasa di atas kepala semua orang di dalam akademi, mengambang di sekeliling Evelyn membentuk formasi lingkaran dan membentengi gadis itu.


Semua orang mendongak dan terperangah.


"Ordo Angelos!" gumam semua orang dengan ekspresi ngeri.


Xenephon spontan menghela napas lega.


"Syukurlah!" Nyx Cornus mendesah pendek dan melemaskan tubuhnya, kemudian membungkuk menekuk perutnya sambil terengah-engah.


Sejurus kemudian, semburat cahaya berkeredap di langit, membuat awan terkuak dan sesosok bayangan melesat keluar dari ledakan cahaya itu.


Dan…


GLAAAAAAAARRRR!


Ledakan energi besar-besaran menggelegar hingga menyebabkan seluruh tempat berguncang disertai angin badai.


Evelyn tersentak dan menjerit hingga meledakkan seluruh cahaya yang menyelubungi dirinya, lalu terkulai. Lingkaran cahaya dan sulur-sulur berkepala ular di sekeliling tubuhnya berangsur-angsur menghilang, meresap kembali ke dalam tubuhnya, sementara tubuhnya mulai terhempas ke bawah.


Xena dan Electra memekik. Altair dan Cleon tergagap.


Sosok gelap yang muncul dari ledakan cahaya di angkasa itu melesat ke arah Evelyn dan menangkap tubuhnya, lalu mendarat ringan di tengah-tengah kepungan semua orang di antara puing reruntuhan dari aula guardian yang telah hancur.


BLAAAAASSSS!


Hempasan angin kencang dan semburan debu tercipta dari tumit sepatunya yang beradu dengan lantai. Tepi jubahnya melecut di belakang tubuhnya.


Orang-orang terhempas ke belakang seraya menyilangkan lengan mereka di depan wajah.


Keheningan menyergap seluruh tempat hingga waktu yang lama, hingga badai debu perlahan turun dan semua orang mulai pulih dari keterpukauan mereka.


Seorang pria berjubah gelap dengan tudung kepala berdiri tertunduk menatap wajah Evelyn yang terkulai lemas di pangkuannya.


Para ksatria mengendap turun dan mendarat ringan di sekeliling pria itu tanpa suara.


Para petinggi dan para guardian serentak berlutut ke arah mereka diikuti semua murid akademi.


Xenephon dan Nyx Cornus membungkuk serempak dengan hormat tentara.


"Bersihkan!" perintah pria berjubah misterius itu pada para ksatria. Suaranya terdengar seperti bisikan angin.


Lalu secara serentak para ksatria Ordo Angelos itu menyergap wakil akademi dan kelima antek-anteknya.


Suasana mendadak gaduh oleh pekikan semua orang.


Para petinggi akademi dan semua guardian menoleh ke arah wakil akademi dan kelima rekannya ketika para ksatria itu menggelandang mereka melewati semua orang dan menyeretnya ke arah gerbang, lalu mengerjap dan mendongak menatap sosok misterius di depan mereka dengan mata terpicing.


Migi Vox melongok keluar dari balik jubah pria itu dengan ekspresi polos seorang anak kecil.


"Lord Vox?" semua orang menggumam bersamaan dengan nada tak yakin.


Pria itu memutar tubuhnya membelakangi semua orang. Lalu memanggil Nyx Cornus. "Nyx!"


Nyx Cornus spontan membungkuk dengan hormat tentara.


"Ikut aku!" perintah pria itu sambil melangkah pelan ke arah pekarangan samping akademi dengan menggendong tubuh Evelyn.


Migi Vox memanjat melalui lengan pria itu, kemudian bertengger di bahunya.


"Xen!" Tiba-tiba pria itu berhenti dan menoleh pada Xenephon.


Semua orang kembali memekik dan terperangah.


"Ternyata memang Lord Vox," gumam Lady Die dengan raut wajah syok.


Para murid menelan ludah dan saling bertukar pandang.


Xenephon membungkuk dengan hormat tentara.


"Kau tahu apa yang harus dilakukan?" tanya Nazareth dengan ekspresi dingin.


"Tentu, Sir!" jawab Xenephon tanpa berani mengangkat wajah.