
"Apa yang kalian inginkan?" Electra membeku di tepi lubang pembuangan sampah, mengawasi kelima pria asing yang mengepungnya dengan mata terpicing waspada.
Lima pria asing itu mengenakan mantel dengan penutup kepala. Wajah mereka tersamarkan oleh bayang-bayang tudung kepala mereka masing-masing.
"Murid Akademi Dewa Mimpi," salah satu dari mereka mendesis dalam gumaman tipis. Suaranya terdengar seperti bisikan angin.
"Hati-hati!" temannya memperingatkan. "Siapa yang tahu dia dikawal Ksatria Ordo!"
Pria pertama menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis. "Hanya seorang murid tingkat pengawal," dengusnya bernada mencemooh. "Apa perlu sampai dikawal pasukan elit?"
"Katakan apa yang kalian inginkan?" Electra menyela tak sabar.
Pria pertama terkekeh tanpa selera humor.
Electra bisa merasakan aura pria itu menekan dirinya. Aura pembunuh yang hanya dimiliki Master Spiritual tingkat ksatria dengan level spiritual minimal lima puluh. Dia jelas bukan penyamun biasa, pikir Electra. Mungkin juga bukan orang yang sederhana.
Tapi apa yang dia inginkan dari seorang gadis kecil?
"Keturunan Rodrigo Knight itu… apakah dia laki-laki atau perempuan?" Pria pertama dengan aura paling dominan itu menatap ke dalam mata Electra dengan mata terpicing.
"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," desis Electra dengan suara gemetar. Lututnya mendadak limbung dan kepalanya terasa merayang ketika pria itu menghujamkan tatapan tajam.
"Just answer!" desis pria itu dengan raut wajah dingin. Suaranya semakin pelan dan tipis, tapi tekanan yang diberikannya semakin besar.
"Aku tak tahu!" jawab Electra bersikeras.
"Gadis kecil keras kepala," pria itu berdesis semakin tipis.
Leher Electra serasa tercekik dan puncak kepalanya seperti ditekan kuasa besar yang tidak terlihat.
"Siapa namanya?" pria itu bertanya lagi, masih dalam bisikan tajam yang terdengar seperti angin.
"Aku tidak… mengerti…" Electra memekik dengan suara tercekik. Seluruh warna terkuras dari wajahnya. Sebulir keringat menggelinding di pelipisnya. Kedua kakinya tertekuk dengan gemetar.
Kelebat bayang-bayang melesat mengempaskan angin tipis yang tidak kentara kecuali oleh pria pertama dengan aura paling dominan. Keempat pria lainnya tidak menyadarinya.
Tatapan pria itu bergulir ke sudut matanya dan seketika tekanan yang mencekik Electra mulai berkurang.
Electra menelan ludah dan menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya yang serasa terbakar. Lalu mengedar pandang dengan waswas melalui sudut matanya.
Tidak ada yang mencurigakan.
Tapi pria misterius dengan aura pembunuh yang kental itu terlihat waspada meneliti sekelilingnya.
Keempat pria lainnya melirik pria itu dan saling bertukar pandang dengan teman-temannya.
Terdengar suara berdesir tipis yang tidak tertangkap oleh pendengaran biasa.
Bola mata pria pertama bergulir ke sisi lainnya, menyimak dengan seksama.
Hening.
Tiba-tiba salah satu temannya memekik dan tersungkur memegangi lehernya. Tak lama kemudian napasnya tersentak dan tidak bergerak lagi.
Electra menelan ludah dan tergagap dengan mata dan mulut membulat.
"Tunjukkan dirimu!" pria pertama menggeram seraya menyentakkan kepalanya ke sana kemari dengan tatapan mencari-cari yang tajam.
Tidak ada tanda-tanda kehadiran seseorang.
Teman lainnya memekik dan langsung terkulai tanpa tanda kehidupan.
"Bajingan pengecut! Tunjukkan siapa dirimu!" pria pertama semakin berang dan mulai memasang kuda-kuda.
Kedua rekannya yang masih hidup serentak merapatkan diri dan saling membelakangi satu sama lain dan memasang kuda-kuda. Memasang mata dan telinga mereka dengan waspada.
Tiba-tiba sesuatu melesat dari permukaan tanah dan mencabik leher salah satu dari mereka.
Pria pertama spontan melontarkan energi cahaya dengan membabi-buta. "Beraninya kau menyerang diam-diam!" pria itu menggeram murka.
Pria itu semakin murka dan melontarkan energi cahaya berbentuk bola ke arah Electra.
DUAAAAARRRR!
Electra terpental dan terlempar ke permukaan tanah. Pria itu berhasil mematahkan teleportasinya.
Bersamaan dengan itu, rekan terakhirnya juga terkulai dan mati di tempat.
Pria itu mengerang jengkel dan melarikan diri dengan teleportasi.
Electra mengernyit dan menghela bangkit tubuhnya dengan gemetar dan terengah-engah. Lalu mengedar pandang dengan gelisah. Apa yang terjadi? ia bertanya-tanya dalam hati.
Apakah pria itu benar-benar sudah pergi?
Siapa yang menyerang mereka?
Sebuah gerakan tanpa suara di permukaan tanah membuat Electra spontan tertunduk dan terbelalak.
Migi Vox berdiri di dekat kakinya dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. Boneka itu mendongak menatap Electra sambil menyeringai.
"Lord Vox!" desis Electra dengan campuran rasa ngeri dan lega. Lalu mengedar pandang mencari-cari sosok pemilik akademi yang ia pikir mungkin sembunyi di suatu sudut di sekeliling tempat pembuangan sampah itu, tapi tak menemukannya.
Migi Vox melesat ke atap salah satu bangunan kumuh tak jauh dari tempat Electra jatuh.
Sebagian atap bangunan itu hancur akibat serangan yang dilontarkan pria asing tadi ketika Electra melakukan teleportasi.
Boneka itu berhenti sejenak dan menoleh pada Electra seakan mencoba memastikan apakah Electra mengikutinya.
Electra segera melompat berdiri dan mengikutinya.
Migi Vox memutar tubuhnya dan melejit ke atap bangunan lainnya, kemudian melesat memimpin langkah Electra hingga ke gerbang akademi.
Nazareth menunggu di depan gerbang dengan raut wajah datar. Migi Vox melompat ke dalam pelukannya dan menggelayut di leher pria itu.
Untuk sesaat, Electra tak tahu apa yang harus dilakukan, hanya membeku di bawah tatapan dingin pria itu dengan kepala tertunduk.
"Masuklah!" perintah Nazareth dalam gumaman tipis yang mendirikan bulu roma. Lalu berbalik dan berjalan pelan menuntun langkah Electra menuju estatnya.
Electra mengikutinya dengan kikuk dan gelisah. Apakah dia marah? Ia bertanya-tanya dalam hatinya. "Thanks, My Lord…" gumamnya takut-takut, suaranya tercekat di tenggorokan.
"Lain kali jangan pernah meninggalkan estatku tanpa seizinku!" Nazareth memperingatkan.
"Baik," jawab Electra nyaris tak terdengar.
Sesampainya di pekarangan pondok, Electra mendapati keempat temannya tengah berbaris di halaman dengan kepala tertunduk. Kedua bahu mereka menggantung lemas di sisi tubuhnya. Wajah mereka berkerut-kerut gelisah.
Nyx Cornus berdiri dengan hidung mendongak di depan mereka. Kedua tangannya bersilangan di depan dadanya. Wajahnya tampak tidak sedap dipandang.
Electra tergagap menatap mereka satu per satu. Mereka balas melirik dengan raut wajah bersalah.
"Kalian dihukum berlari mengelilingi Morfeus Statue sebanyak dua puluh putaran!" geram Nyx Cornus. Wajah lembutnya yang senantiasa terlihat ramah dan manis mendadak lenyap berganti wajah kencang yang mengerikan. Itu adalah sisi lain Nyx Cornus. Ia terkenal sebagai pemilik perangai ganda---iblis dan malaikat.
Kalau sudah begitu, tidak satu pun berani menatap Nyx Cornus. Apalagi membantahnya.
"Dan kau!" Nyx Cornus menoleh pada Cleon Jace dengan intensitas tatapan yang bisa membakar sekaligus membekukan. "Karena kau yang mengusulkan, kesalahanmu yang paling banyak. Hukumanmu yang paling berat. Kau harus lari sebanyak tiga puluh putaran."
Cleon menelan ludah dengan susah payah.
Evelyn dan teman lainnya terperangah.
Taman Morfeus Statue dua kali lebih luas dibanding lapangan bendera yang biasa digunakan semua anak melakukan pemanasan setiap pagi.
Electra mengerjap dan membuka mulutnya, bersiap mengajukan pembelaan. Tapi tatapan tajam Nyx Cornus kemudian menghujamnya juga, membuat gadis itu membeku di tempat.
"Tidak boleh menggunakan kekuatan cahaya!" Nyx Cornus menambahkan.
Bulu kuduk Evelyn serentak meremang. Begitu juga teman-temannya.