
"Master…" Xena Moz berjongkok di lantai dan membungkuk ke arah Lady Die. Sebelah tangannya terkepal di lantai, sementara tangan lainnya terkepal di depan dada, memberi hormat tentara.
Usai pertarungannya dengan Evelyn, semua anggota kelompok sepuluh besar kelas Lady Die dikumpulkan di ruang istirahat.
Lady Die berdiri mendongakkan hidungnya, membelakangi Xena Moz dengan kedua tangan tertaut di belakang tubuhnya. Wajahnya terlihat kencang dan angker. Anak-anak asetnya yang lain menegang di belakang Xena Moz dengan sikap berlutut yang sama.
"Maaf," sesal Xena Moz dengan raut wajah muram.
"Kerja bagus, Xena!" kata Lady Die di luar dugaan.
Anak-anak asetnya spontan bertukar pandang, melontarkan tatapan tak yakin.
Lady Die memutar tubuhnya menghadap ke arah mereka, dan seketika anak-anak itu tertunduk. "Kau masuk sepuluh besar, Xena!" katanya pada Xena Moz, raut wajahnya masih terlihat kencang dan nada bicaranya tetap dingin seperti biasa. Tapi cahaya di matanya sedikit lembut. "Selamat!"
Xena melirik rekan-rekannya. Anak-anak aset itu mengangguk singkat menyemangatinya.
Pada waktu yang sama… di gang antara deretan bangku-bangku penonton, Altair berlari tergopoh-gopoh mengejar Evelyn yang baru saja keluar dari arena diapit Xenephon dan Nyx Cornus.
Mencapai teras samping akademi, Altair meneriaki gadis itu dengan suara lantang yang secara otomatis membuat Evelyn dan kedua guardian di kiri-kanannya menyentakkan kepala dan menoleh ke arah Altair.
Altair menghampiri mereka dengan terengah-engah, lalu membungkuk ke arah Xenephon dan Nyx Cornus.
Kedua guardian itu mengangguk singkat dan meninggalkan Evelyn.
"Kali ini kau tak boleh menolak undanganku," pinta Altair, masih sedikit terengah-engah. "Aku ingin merayakan kemenangan kita."
Evelyn akhirnya tersenyum dan menyetujuinya.
Lalu keduanya bergegas menuju kantin. Xena Moz bergabung di meja mereka setelah ia keluar dari ruang istirahat.
Lady Die melirik gadis itu ketika hendak mendaki tangga menuju lantai dua, lalu melirik Evelyn di sampingnya. Ia mendesah pendek dan menggeleng sekilas, lalu beranjak ke lantai dua.
"Aku berharap kau mengeluarkan cakramu saat kita bertemu di arena," kata Altair pada Evelyn.
"Oh, aku juga tak sabar menantikannya," timpal Xena antusias.
Evelyn tersenyum sambil mengunyah makanannya. "Hanya jika kau sudah melewati level dua puluh dan mau berjanji takkan mengecewakan momen perdanaku memperlihatkan cakra spiritual," katanya. "Aku akan berusaha menahannya sampai aku bertarung denganmu."
"Bagaimana kalau lawanmu sebelum itu Cleon Jace?" Xena bertanya cemas. "Dia adalah salah satu yang terkuat dari pemilik peri pelindung senjata."
"Benar," Altair menimpali. "Peri pelindungnya adalah palu."
"Aku sudah melihat teknik pertarungannya di babak kedua," kata Evelyn. "Tipe kekuatan dan pertahanan," ia menambahkan dalam gumaman pelan, lebih terdengar untuk dirinya sendiri. "Levelnya sudah mencapai dua puluh enam."
Altair dan Xena mengangguk bersamaan.
"Aku akan berusaha menjadikan momen perdanaku mengeluarkan cakra spiritual saat bertarung denganmu," janji Evelyn pada Altair.
Altair tersenyum dan mengangguk antusias.
Xena mengepalkan tangannya di depan wajah menyemangati Evelyn.
.
.
.
Claus Manor, Kota Cahaya…
Mikhail dan istrinya berdiri berhadap-hadapan dengan masing-masing memasang sikap kuda-kuda.
Mereka sekarang berada di ruang bawah tanah yang biasa mereka gunakan untuk berlatih dari waktu ke waktu.
Bibi Gavriil mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya---seekor naga berwarna biru laut transparan, lalu mengangguk ke arah suaminya.
Mikhail melakukan hal yang sama dan mengeluarkan peri pelindung naga berwarna hitam yang secara perlahan menggabungkan diri dengan naga milik istrinya membentuk simbol taijitu atau lebih dikenal dalam istilah yin dan yang.
Kedua naga berbeda warna itu berputar-putar di atas kepala Nazareth sementara Mikhail dan istrinya mulai menggerak-gerakkan tangan, kaki, pinggang dan seluruh tubuh mereka membentuk simbol-simbol dan jurus-jurus khas para ahli bela diri spiritual.
Keredap garis-garis cahaya mulai bermunculan membentuk pola lingkaran cahaya berbentuk cakram dengan simbol-simbol aneh dari setiap putaran kedua naga yang berkolaborasi itu, melayang di atas kepala Nazareth dan mengendap di lantai mengelilingi pemuda itu.
Detik berikutnya, kedua lingkaran itu membentuk tabung transparan dengan dua warna hitam dan putih di kedua sisinya, mengurung tubuh Nazareth dan Migi Vox.
Tubuh Nazareth dan Migi Vox mulai terkulai dan melayang di dalam tabung transparan itu, Migi Vox di garis yang gelap, Nazareth di garis yang terang, lalu keduanya mengambang seperti di dalam air.
Nazareth mulai tenggelam dalam ketidaksadarannya.
Dan ketika kesadarannya berangsur-angsur pulih dan membuka mata, ia menemukan dirinya sudah berada di kamarnya di akademi. Nazareth memicingkan matanya untuk memfokuskan pandangannya yang masih memburam, mencoba membuat dirinya benar-benar sadar. Kesadarannya masih timbul-tenggelam. Kepalanya serasa ringan dan merayang.
Ia mengedar pandang sekali lagi. Seluruh tempat di sekelilingnya tidak berubah. Ia memang sedang berada di dalam kamarnya di akademi.
Tiba-tiba Nazareth menyentakkan tubuhnya dan terduduk. Lalu kembali mengedar pandang. "Vox!" pekiknya mulai panik.
Migi Vox tidak berada di sana.
Nazareth melompat dari tempat duduknya dan menghambur keluar, kemudian berlari menuju kamar Evelyn.
Pintu kamar gadis itu terbelalak membuka.
Nazareth menyeruak ke dalam dan terhenyak.
Gadis itu terlentang di lantai di tengah kubangan darah dengan sebelah bahu terkoyak.
Migi Vox membungkuk di atas kepala Evelyn.
"Vox!" Nazareth menggeram dengan murka, kemudian menerjang ke arah Migi Vox dan menjerat boneka itu dengan benang cahaya dari ujung jemarinya, menariknya ke dalam genggamannya dan mencengkeram boneka itu dengan kekuatan penuh, mencoba memecahkan boneka itu.
Dan itu terasa seperti menarik lepas tangannya sendiri.
Migi Vox meronta-ronta dalam genggamannya, melontarkan tatapan memelas.
Nazareth menatapnya dengan mata terpicing dan mengetatkan rahangnya. Kemarahan menguasai dirinya. Kesedihan menyayat hatinya, menghancurkan seluruh kesadaran dan kendali atas dirinya hingga melampaui apa yang dapat ia bayangkan.
Rasa sakit menyergap pergelangan tangannya, urat nadinya serasa terkoyak dan titik-titik sarafnya berdenyut-denyut ingin meledak. Tapi ia tidak mencoba melepaskan cengkeramannya.
Dengan tubuh gemetar akibat kemarahan bercampur rasa sakit yang tak terkira, ia mengetatkan cengkeramannya dengan mengerahkan seluruh kekuatan cahaya yang dimilikinya.
Migi Vox menyala berkedut-kedut, yang semakin lama semakin terang hingga cahaya itu akhirnya meledak dan pecah berkeping-keping.
BLAAAARRRR!
Ledakan cahaya itu membuat seluruh tempat hanya terlihat putih.
Mikhail dan Gavriil terpental ke arah yang berlawanan hingga terlempar ke dinding dan merosot di lantai.
Nazareth jatuh ambruk dengan wajah tersungkur.
Gavriil terbatuk-batuk hingga memuntahkan segumpal darah dari mulutnya.
Mikhail terengah-engah seraya memegangi dadanya, lalu menghela paksa tubuhnya untuk bangkit berdiri, kemudian menghampiri istrinya dan membantunya berdiri.