Poison Eve

Poison Eve
Chapter-122



Balai Mulia Ordo Angelos…


Balai Mulia Ordo Angelos itu terletak di pusat Kota Ilusi, beberapa kilometer dari Balai Budaya. Ukurannya dua kali lipat lebih besar, dan aula pertarungannya berbeda dengan kebanyakan arena.


Bukan bentuknya, tapi fungsinya.


Bentuknya tetap sama---seperti stadion di dunia modern. Tapi lantai arena itu berlapis lingkaran cahaya bercorak simbol heksagram. Itu adalah gerbang teleportasi.


Cermin sihir berbentuk layar kaca besar berderet memenuhi dinding bagian atas aula.


Dua orang pemandu acara yang merangkap sebagai wasit melayang-layang di atas arena tanpa bantuan alat sihir seperti di arena lain. Mereka terbang dengan menggunakan sayap yang entah bawaan dari peri pelindung atau bentuk mutasi dari cakra spiritual.


Bahkan para pengawal yang ditempatkan di setiap sudut aula beterbangan dengan sayap emas dengan sekujur tubuhnya berlapis zirah emas---Ksatria Ordo Angelos tingkat mulia.


"Selamat datang di arena babak pertama penentuan Turnamen Elit Master Spiritual!" pemandu acara memberikan sambutan pembuka dengan sikap yang jauh lebih resmi. Para hadirin hanya terdiri dari para pejabat dan para Master Spiritual tingkat Mulia di samping Kaisar dan para guardian dari masing-masing akademi yang lolos ke lima besar.


Babak penentuan yang diselenggarakan di Balai Mulia Ordo Angelos tidak dibuka untuk umum.


"Sebelum pertandingan dimulai, mari kita lihat data tim yang lolos ke babak penentuan," pemandu acara wanita mengumumkan. "Yang pertama adalah tim peringkat atas babak penentuan Neraida yang tidak akan mengikuti babak kali ini, Tim Satu Akademi Kekaisaran Neraida!"


Wajah Catlyn Thunder dan rekan-rekannya muncul di layar besar ketiga di bawah dua kaisar dari dua negara.


Aula menggelegar oleh tepuk tangan yang lebih teratur.


"Yang kedua adalah tim peringkat atas babak penentuan Shangri-La, Tim Akademi Militer Athena!" pemandu acara pria mengumumkan.


Lima wajah arogan terpampang di layar keempat di samping layar tim Catlyn Thunder.


Tepuk tangan para hadirin kembali menggelegar.


Evelyn menatap salah satu wajah di layar keempat yang ia yakini sebagai ketua tim Akademi Militer Athena. Sangat keras dan dingin! pikirnya. Kelihatannya bukan lawan yang mudah.


"Berikutnya, kita persilahkan keempat tim memasuki arena!" pemandu acara wanita menginstruksikan. "Tim Dua Akademi Kekaisaran, Tim Akademi Sihir Dewa Musik, Tim Akademi Militer Dewa Mimpi dan Tim Akademi Sihir Azrael!"


Tim Akademi Sihir Saint Claus tak lolos lima besar? batin Evelyn muram. Masih merasa bahwa mereka mengaku kalah demi kebaikannya.


Tentu saja dugaan itu tidak keliru meskipun Mikhail Claus berusaha membantahnya. Mikhail memang mengorbankan timnya demi keselamatan Evelyn.


Evelyn dan teman-temannya mengangguk ke arah guardian mereka, kemudian bergegas menuruni tangga menuju pintu masuk arena.


Tak lama kemudian, empat layar menyala di bawah dua layar tim peringkat atas, masing-masing layar menampilkan masing-masing tim.


"Perlu diketahui bahwa masing-masing peserta akan diperlengkapi dengan perangkat sihir Balai Mulia," pemandu acara pria memberitahu. "Jadi Balai Mulia secara khusus telah menyediakan armor khusus untuk babak ini. Kami persilahkan untuk para peserta mengganti armornya!"


Aula hening dalam waktu yang lama sementara kedua pemandu acara terus membacakan sederet ketentuan yang harus dipatuhi para peserta secara bergantian.


Beberapa menit kemudian, pintu-pintu masuk arena terkuak membuka di empat sudut berlawanan.


Aula meledak oleh cahaya terang benderang yang dipancarkan dari sekeliling dinding bagian atas.


Dua puluh cermin sihir berbentuk layar kaca diaktifkan secara serentak di sekeliling dinding bagian atas aula, tepat di bawah empat layar yang menampilkan empat tim peserta.


Satu per satu wajah-wajah peserta bermunculan di tiap-tiap layar, lengkap dengan data identitas dan kekuatan. Selanjutnya para hadirin di Balai Mulia Ordo Angelos akan memantau mereka melalui cermin-cermin sihir itu.


Sejumlah Ksatria Ordo Angelos yang terlihat seperti patung emas bersayap meluncur ke lantai arena membentuk empat kelompok dengan masing-masing kelompok terdiri dari tiga orang ksatria. Selanjutnya para peserta akan mengikuti instruksi mereka setelah mereka tiba di garis start.


"Dalam hitungan ketiga, semua peserta harus melompat ke dalam portal teleportasi!" pemandu acara menginstruksikan. "Satu…"


"Dua…"


Para peserta mengeluarkan cakra spiritual mereka masing-masing.


"Go!"


Dua puluh remaja melesat serempak ke tengah arena, diikuti empat kelompok ksatria tadi, kemudian berkeredap dan menghilang.


Sejurus kemudian, mereka semua terlempar ke suatu lapangan terbuka di depan sebuah gerbang perbatasan kota---Erebos.


Tiga orang ksatria menghampiri tim Evelyn.


Salah satu dari mereka meletakkan jam pasir di telapak tangannya, kemudian mengulurkannya ke arah Evelyn dan teman-temannya. "Saat pasir ini habis, pastikan kalian semua sudah berada di sini. Sekarang pergilah!" instruksinya sambil menunjuk gerbang perbatasan.


Evelyn dan teman-temannya serempak membungkuk dalam hormat tentara, kemudian bergegas ke arah gerbang, beriringan dengan tiga tim lainnya. Tim Akademi Sihir Sandalphon, tim Akademi Sihir Azrael dan tim dua Akademi Kekaisaran.


Tim Akademi Sihir Dewa Musik menyisi beberapa meter dari jalan masuk, kemudian berkerumun membentuk formasi khusus yang Evelyn yakin untuk membuat portal teleportasi. Alice Morgan mengangguk sekilas pada Evelyn dan tersenyum samar.


Evelyn membalasnya dengan anggukan singkat yang sama.


Xena dan Electra mengikuti arah pandang Evelyn dan mengerutkan dahi.


Tim Akademi Sihir Dewa Musik itu sudah berhasil membentuk formasi yang dalam sekejap membuat mereka menghilang dengan meninggalkan suara seperti dawai kecapi yang dicakar secara kasar.


Semua orang mengerjap dan terperangah.


Tim putra gubernur memamerkan teknik terbang dengan formasi gabungan yang menghasilkan sosok ilusi naga bersayap, sejurus kemudian mereka sudah melesat melewati tim Evelyn. Putra gubernur menjejakkan kakinya di punggung Altair hingga pemuda itu nyaris tersungkur.


"Bajingan pengecut!" teriak Xena sambil menudingkan telunjuk ke arah rombongan putra gubernur itu.


Melalui kaca sihir di Balai Mulia, para pejabat memperhatikan mereka sambil menggeleng-geleng.


Kaisar mengerling ke arah Neiro Sach, dan seketika gubernur itu mengerjap dengan gelisah.


Ketika tinggal tim Evelyn yang tersisa bersama tim Dua Akademi Kekaisaran, Sloan melirik adiknya dengan intensitas tatapan yang bisa membakar.


Cleon membalas tatapannya dengan ekspresi datar. Jauh lebih tenang dari sebelumnya. Membuat Sloan spontan membuang muka dan mengetatkan rahang.


Evelyn melirik Cleon melalui sudut matanya diam-diam, kemudian tersenyum samar. Pelatihan khusus dari Nazareth tampaknya tidak sederhana, batinnya.


"Formasi gabungan!" instruksi Sloan pada teman-temannya dengan suara lantang. Lalu dalam sekejap kelompok itu sudah melesat dalam bentuk sosok ilusi kuda bersayap.


Evelyn dan teman-temannya tetap berjalan dengan tenang sambil berbincang-bincang seperti ketika mereka pulang-pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar.


Para hadirin di Balai Mulia mengawasi mereka dengan mata terpicing.


"Kenapa mereka tidak mengeluarkan teknik cahaya?" sejumlah pejabat mulai menggumam.


"Menurutku itu genius!" salah satu Master Pencari bakat menyela.


Sebagian besar hadirin menoleh pada pria itu. Bahkan Kaisar.


"Genius?" sejumlah pejabat memekik bersamaan.


Nazareth tersenyum samar. Migi Vox menyeringai di pangkuannya.