Poison Eve

Poison Eve
Chapter-117



"Sial!" geram Neiro sambil memukulkan kepalan tangannya di permukaan meja.


Gubernur itu kini sedang berkumpul dengan komplotannya di ruang istirahat Tim Akademi Sihir Azrael.


Sang putra gubernur dan rekan-rekannya tertunduk dengan raut wajah tegang.


Guardian mereka, Bedros Damon juga tak bisa berbuat banyak.


"Sudah kuperingatkan meskipun peri pelindungnya cacat, Earth Thunder tetaplah genius gila!" timpal Kush Thunder.


"Kau yang mengusulkan ini!" Neiro Sach menoleh pada Bedros, menghujamkan tatapan tajam. "Kau yang harus menyelesaikannya."


"Tidak! Aku tak bisa mempercayainya!" sergah Kush Thunder. "Terakhir kali aku mengutusnya, dia malah mengutus saudaranya. Dan sampai saat ini saudaranya tak pernah kembali!"


Neiro kembali menoleh pada Bedros. Kedua matanya spontan terpicing.


Bedros serentak terdiam. Seisi ruangan menoleh padanya.


"Aku punya cara lain!" seseorang menginterupsi.


Seisi ruangan sekarang berpaling dari Bedros.


.


.


.


"Benar-benar merepotkan!" Lady Die mengeluh setelah mereka sampai di estat Nazareth.


Lingkaran cahaya putih kebiruan bercorak simbol-simbol astrologi yang disebut-sebut sebagai portal teleportasi itu sekarang muncul di permukaan tanah di pekarangan estat Nazareth.


Dan mereka semua terlempar keluar seperti disemburkan dari lubang dan bergelimpangan di sekeliling lingkaran itu. Sebagian terkapar dengan posisi tertelungkup, sebagian terlentang, sebagian lagi meringkuk.


Hanya Nazareth yang mendarat dengan berdiri tegak.


Migi Vox merunduk memandangi semua orang yang bergeletakan di bawah dengan mata dan mulut membulat.


Mereka menarik bangkit tubuh mereka masing-masing dengan napas terengah-engah.


Nyx Cornus dan Electra muncul belakangan dengan posisi berdiri berhadap-hadapan di tengah lingkaran dengan kedua tangan terjulur ke depan, telapak tangan Nyx Cornus saling beradu dengan telapak tangan anak asetnya.


Beberapa saat kemudian, mereka saling melepaskan diri dan menurunkan kedua tangan mereka. Lingkaran cahaya di bawah kaki mereka serentak menghilang.


"Aku baru tahu portal teleportasi itu benar-benar mengerikan!" erang Altair sambil berjalan terhuyung-huyung, berpegangan ke pagar beranda. "Rasanya seperti dilempar ke dasar jurang dalam kecepatan komet!"


"Tidak lebih mengerikan dari melakukan teleportasi itu sendiri!" tukas Electra.


"Sekarang kau akhirnya tahu penderitaan kami setiap kali melakukan teleportasi!" timpal Xena sambil menepuk-nepuk lututnya untuk menepiskan debu.


"Perjalanan ini membuatku lapar," gumam Evelyn di luar kebiasaanya.


Nazareth spontan menoleh dan memicingkan matanya. Itu adalah pertama kalinya ia mendengar Evelyn mengeluh lapar. "Apa itu berkelakar?" ia bertanya tak yakin.


"Aku lapar sungguhan!" ratap Evelyn sambil membaringkan dirinya lagi di rerumputan.


Semua orang tergelak menanggapinya.


"Aku dan Cleon akan memesan makanan ke kantin akademi!" Altair mengusulkan.


"Biar kami saja!" Lady Die dan Nyx Cornus menyela bersamaan. Lalu keduanya melesat ke kaki bukit dan menghilang.


Nazareth membungkuk di dekat Evelyn sambil mengulurkan tangannya, kemudian menariknya bangkit.


Seusai makan siang, Evelyn dan teman-temannya melakukan meditasi di kamar mereka sementara para guardian berjaga di luar.


Sejumlah pengawal bayangan ditempatkan Nazareth di sudut-sudut tersembunyi di sekitar estat dan akademi.


Anak-anak aset mereka tidak diizinkan bermeditasi di luar pondok.


Evelyn berniat untuk menyelinap ke Balai Keterampilan, tapi kemudian ia ingat pesan Nazareth bahwa setelah makan tak bisa langsung melakukan gerakan ekstrem.


Jadi ia terpaksa melakukan meditasi seperti yang lain sambil menunggu Xena dan Electra tenggelam ke alam bawah sadarnya masing-masing, dan ia akan menghilang tanpa disadari teman-temannya.


Meditasinya kali ini terasa berbeda!


Evelyn merasa tubuhnya jauh lebih ringan meski porsi makan siangnya hari ini di luar kebiasaan. Dan para guardian di luar dikejutkan oleh semburat cahaya terang berwarna emas di atap kamarnya.


"Apa itu Evelyn?" pekik Lady Die.


"Tidak salah lagi!" Arsen Heart menimpali. "Itu memang Evelyn. Lihat itu!" ia menunjuk sulur tanaman yang menjalar keluar mengikuti pancaran cahaya terang keemasan.


"Kurasa tekanan portal teleportasi itu meningkatkan level kekuatannya," bisik Nyx Cornus pada Nazareth. "Pantas saja porsi makannya meningkat drastis!"


Nazareth memicingkan matanya, "Tingkat guardian," desisnya mengejutkan semua orang.


"Tingkat guardian?" Keempat guardian itu memekik bersamaan.


"Dia sudah melewati level lima puluh!" Nazareth menambahkan.


Keempat guardian itu terkesiap dan kembali mendongak menatap energi cahaya di atap pondok itu dengan mata dan mulut membulat.


Tiba-tiba cahaya itu meredup dan menghilang.


"Apa yang terjadi?" para guardian mendadak cemas.


"It's okay!" tukas Nazareth.


Keempat guardian itu serempak mengerutkan dahi.


Evelyn sudah mendarat di ruang dimensi dalam permata penyimpanannya.


Bersamaan dengan itu, tujuh lukisan melayang turun menyambut kedatangannya, kemudian mendarat di sekelilingnya dan menyala keemasan, sosok-sosok ksatria dalam lukisan serempak bergerak dan berlutut pada dirinya.


Apa yang terjadi? pikir Evelyn.


Lalu satu per satu sosok ksatria dalam lukisan itu mendemonstrasikan gerakan-gerakan khusus.


Lima puluh dua! batin Evelyn. Lalu mendongak menatap undakan ke lima. Dua di antaranya sudah kosong.


Berarti… levelku... lima puluh tiga!


Kenapa aku tak bisa merasakannya?


Apa yang salah?


Sejurus kemudian, Evelyn sudah menghambur keluar pondok dengan ekspresi panik. Melupakan tujuan awalnya, meninggalkan Balai Keterampilan dengan pikiran kacau. "Aku tak bisa merasakan level kekuatanku!" ungkapnya pada Nazareth.


Semua orang serentak tercengang menatap Evelyn.


Nazareth menyambar pergelangan tangan Evelyn dan menekankan jemarinya untuk menguji denyut nadinya.


Migi Vox melipat kedua tangannya di depan dada dan menyeringai.


Nyx Cornus melirik boneka itu dengan mata terpicing. "Kenapa dia tersenyum?" gumamnya curiga.


Nazareth membeku dengan alis bertautan.


Evelyn menatapnya dengan gelisah.


Nazareth akhirnya mengerjap dan tertunduk, "It's okay," katanya sambil menekankan telapak tangannya di bahu Evelyn. Lalu menoleh pada Nyx Cornus. "Seorang penyihir sedang melacaknya menggunakan sonar!" Ia memberitahu.


"Cari mati!" geram Nyx Cornus sambil mengepalkan tangan, raut wajahnya berubah iblis. Ia melambungkan tubuhnya ke udara dan melesat ke arah bukit.


Nazareth berpaling pada Lady Die, "Periksa kamar mereka!" ia menginstruksikan.


Lady Die mengangguk dan melesat ke beranda kamar anak-anak aset mereka, diikuti Arsen Heart dan Salazar Lotz.


Sekarang Nazareth berpaling pada Evelyn, "Kembalilah ke Balai Keterampilan," katanya.


"Hmh!" Evelyn mengangguk singkat, lalu berbalik dan melambungkan tubuhnya ke udara sambil mengerahkan energi cahaya ke dalam kepalanya, lalu menghilang dari pandangan.


Migi Vox tiba-tiba tersentak dan melompat dari bahu Nazareth.


Nazareth menyergapnya dengan tali cahaya dan merenggutnya.


Boneka itu meronta-ronta dalam cengkeramannya. Kedua tangan dan kakinya mengais-ngais udara kosong.


Bersamaan dengan itu, Evelyn terlontar ke ruang dimensi yang bukan miliknya!


Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, sekujur tubuhnya tahu-tahu sudah terbelenggu.


Seuntai rantai berwarna gelap menjalar keluar dari dalam tanah dan melilitnya.


Sekarang tubuhnya melayang beberapa inci dari permukaan tanah yang berumput lidah-lidah api, kepulan asap tebal menyelubungi seluruh tempat di sekelilingnya. Rambutnya melecut-lecut seperti sedang tenggelam di dalam air.