
"Lihat cakra spiritual akan keluar," Nazareth menginstruksikan.
Evelyn mengamati tubuh serigala hantu itu dengan tak sabar.
Tak sampai lima detik, lingkaran cahaya putih berbentuk cakram keluar dari pinggang serigala yang terkoyak.
Nazareth menautkan kedua tangannya di depan dada dengan satu telapak tangan menadah ke atas, sementara tangan lainnya melayang di atas tangan lainnya. "Dengan kekuatan spiritual, menarik cakra spiritual ke tubuh," jelasnya. Ia menggerak-gerakkan jari tengah dan telunjuknya menarik lingkaran cahaya itu ke arahnya.
Lingkaran cahaya berbentuk cakram itu berputar-putar di sekeliling Nazareth.
Evelyn memperhatikannya dengan teliti.
"Lalu mulai meditasi untuk menyerap kekuatan cakra spiritual," Nazareth melanjutkan penjelasannya sambil menautkan pergelangan tangannya dan memutar-mutar telapak tangannya ke arah yang berlawanan. "Kekuatan spiritualku sekarang tak cukup untuk naik tingkat. Jadi tak bisa menyerap," katanya sambil mendesah dan menurunkan tangannya.
Evelyn mengangguk tanda mengerti.
"Dalam satu jam, cakra spiritual akan tersebar dengan sendirinya," Nazareth menambahkan sambil menyelipkan kembali belatinya ke dalam sepatu. Lalu mendekat pada Evelyn dan mengambil alih bonekanya.
Tiba-tiba tanah di bawah kaki mereka bergetar. Lalu terdengar suara berkeretak di atas kepala mereka.
Apa lagi sekarang? pikir Evelyn waswas.
Nazareth membeku dan menyimak. Matanya menyipit dengan waspada.
Cahaya merah kekuningan berkeredap di atas kepala mereka.
Api menyembur keluar dari mulut gua di atas sana.
Evelyn memekik tertahan dan merapat pada guardiannya. "Apa yang terjadi?" bisiknya. "Apa gunung itu sedang erupsi?"
Semburan api di mulut gua itu semakin membesar, disertai suara geraman yang menggetarkan seluruh tempat.
Sial! erang Nazareth dalam hatinya. "Ternyata naga pengeluh," katanya setengah menggumam. "Berhati-hatilah, Eve!" Ia memperingatkan. Lalu mulai memasang kuda-kuda.
Terdengar geraman nyaring seorang wanita, "SUNGGUH KETERLALUAAAAAN…!"
Evelyn menelan ludah dan mengerling pada guardiannya.
Pria itu tidak bergerak. Tatapannya terfokus ke mulut gua.
Dia tidak mendengarnya, pikir Evelyn. Apa aku benar-benar mendengarnya?
Terdengar suara berkeretak keras, bebatuan di mulut gua itu mulai retak dan rontok ke bawah.
Nazareth dan Evelyn melompat mundur secara serempak.
"Kuharap usianya tidak terlalu tua," kata Nazareth tanpa mengalihkan perhatiannya dari mulut gua. "Kalau usianya di atas seratus bisa gawat!"
GRRRRRR…
Gunung di depan mereka berguncang dan tanah di sekeliling mereka bergetar hebat.
Kepala naga pengeluh itu akhirnya muncul keluar disertai semburan api dari mulutnya. "Ingat, Eve! Aku sudah memperingatkanmu," geramnya. "Kenapa kau begitu keras kepala?"
Evelyn terperangah dan tergagap-gagap. Dia benar-benar bicara, katanya dalam hati.
Sejurus kemudian, naga itu menyeruak keluar dan menukik ke arah mereka.
GROAAAAAAARRR…!!!
Semburan api menerjang ke arah mereka.
Evelyn dan Nazareth serempak menyisi dengan lompatan memutar.
Migi Vox menempel rapat di pangkal lengan Nazareth.
"Master! Kita harus bagaimana?" teriak Evelyn dari seberang lapangan tandus.
Nazareth melompat ke arah Evelyn dan membentenginya. "Peri monster buas seperti naga pengeluh cenderung tidak sabaran, kita bertahan sebentar lagi. Dia mudah menyerah."
Naga itu sekarang berputar-putar mengelilingi mereka dan melingkari keduanya dengan tubuhnya.
Migi Vox mengambang di sisi mereka.
"Naga pengeluh sangat beracun," tutur Nazareth. "Racunnya sangat kuat. Tak hanya mematikan rasa, tapi juga bisa merusak saraf. Salah satu yang paling mengerikan dari semua peri monster beracun."
"Well---yeah," seloroh naga itu dengan nada mengejek. "Dan jangan lupa kecepatanku tak bisa diremehkan!"
Evelyn menggigit bibirnya. Mencoba menahan diri untuk tidak membuka mulut dan menyemburkan kata-kata balasan untuk menanggapi naga itu.
"Tubuhnya sangat kokoh," bisik Nazareth. "Pisau biasa tak bisa melukainya."
"Sudah terlambat untuk berubah pikiran," sela naga itu sambil menunduk pada Evelyn.
"Kelemahannya hanya mulut dan mata," Nazareth menambahkan. "Namun perlindungannya pada dua hal itu sangat baik."
"Karena kalian begitu keras kepala, jangan salahkan aku kalau aku jadi tak sungkan!" Naga itu menyemburkan api lagi dari mulutnya, kemudian menukik ke arah mereka.
Evelyn melejit dalam gerakan memutar di udara.
Nazareth membentenginya dengan melontarkan Migi Vox yang dikendalikan benang cahaya dari jemari tangannya, sementara tangan lainnya melontarkan energi berbentuk kubah ke arah naga pengeluh.
BLAAAARRRR!!!
Benturan energi cahaya itu membentur rahang si naga dan menggelegar ke langit tinggi.
Tubuh naga itu melecut secepat kilat dan melilit tubuh Nazareth.
Nazareth mendorong Evelyn dan Migi Vox keluar, kemudian melesat ke udara untuk menghindari lilitan naga tidak berkaki itu.
Naga pengeluh itu merupakan perpaduan dari naga dan ular biasa. Itulah sebabnya ia tidak berkaki dan sangat beracun. Kecuali bentuk kepala dan semburan api di mulutnya, secara keseluruhan naga pengeluh adalah ular biasa dalam ukuran raksasa. Bisa dikatakan sebagai ular berkepala naga.
Perpaduan yang mengerikan!
Evelyn dan Migi Vox terlempar ke dinding tebing, sementara Nazareth mendarat ringan di dekat mereka dalam posisi jongkok.
Naga itu kembali menggoyangkan ekornya dalam kecepatan luar biasa dan merontokkan bebatuan di atas kepala Evelyn.
Nazareth mengayunkan sebelah tangannya menyapu bebatuan itu dengan energi biru api berbentuk kubah dan menjauhkannya dari Evelyn.
Naga itu menukik ke arah Nazareth sambil menyemburkan api, sementara ekornya melecut ke arah Evelyn dan menyergap pinggang gadis itu.
"Eve!" pekik Nazareth sambil melontarkan Migi Vox ke arah kepala naga itu dan melontarkan belati dengan tangan lainnya sambil melompat dan memutar di udara.
"Master!" jerit Evelyn dalam lilitan ekor naga pengeluh yang tidak diduganya ternyata sekeras batu gunung, sebelah tangannya terulur ke arah Nazareth untuk menggapai belati yang dilemparkan pria itu.
Masih sambil berputar-putar di udara, Nazareth mengerak-gerakkan kedua tangannya, memainkan jemarinya sedemikian rupa, mengendalikan Migi Vox dalam kecepatan luar biasa.
Boneka itu melecut-lecut di seputar kepala naga pengeluh dalam tarian yang mematikan.
Evelyn akhirnya berhasil menangkap belati itu, namun bersamaan dengan itu tubuhnya terlempar ke sana kemari seiring geliat naga pengeluh yang mulai gelisah.
Naga itu mengangakan mulutnya lagi dan menyemburkan api, pada saat yang sama, Migi Vox melesat masuk ke dalam mulutnya dan menghilang.
"Vox!" jerit Evelyn ketakutan.
Naga itu tersentak dan melemparkan Evelyn ke dinding tebing.
Evelyn menjerit dengan kedua tangan mengais udara kosong.
Nazareth melesat ke arah gadis itu dan menyergap pinggangnya.
Evelyn mendarat di dada guardiannya seperti Migi Vox dengan kedua lengan menggelayut di leher pria itu.
Nazareth mendarat dengan ringan di kaki tebing dan menyisikan Evelyn ke belakang punggungnya, kemudian menjulurkan kedua tangannya dengan jemari membentuk cakar, lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya seakan sedang menari.
Serat-serat cahaya berwarna-warni melesat keluar dari setiap ujung jarinya.
Naga pengeluh menggeliat-geliut dan mengamuk tanpa kendali, ketika jemari Nazareth menari semakin lincah, menarik, mendorong dan memuntir ke sana kemari.
Evelyn memekik tertahan sambil membekap mulutnya ketika tersadar Migi Vox masih berada di dalam mulut naga itu.