Poison Eve

Poison Eve
Chapter-36



Panggung arena malam ini lebih gemerlap, lebih meriah dan lebih menegangkan.


"Tibalah saatnya kita pada babak final yang ditunggu-tunggu," kata si pemandu acara dengan dramatis. "Pertarungan antara juara sembilan kali berturut-turut melawan juara dua kali berturut-turut dengan poin yang sama."


Tepuk tangan meledak lebih meriah dari dua babak sebelumnya.


"Eve!"


"Eve!"


"Eve!"


Dukungan untuk Evelyn semakin meningkat.


"Mari kita langsung panggilkan saja kedua finalis kita… Hell Catie dan Poison Eve!"


Pintu geser di kedua sisi panggung terbuka bersamaan.


Evelyn dan Catie melangkah ke tengah arena dan seketika aula kembali meledak oleh tepuk tangan dan sorak-sorai. Keduanya berhenti dan saling menatap, saling menilai dan saling memperkirakan kekuatan satu sama lain.


"Lima detik dihitung mundur!" pemandu acara menginstruksikan.


Para penonton ikut menghitung.


"Dan… mulai!" seru pemandu acara.


Tepuk tangan dan sorakan kembali menggelegar.


Catie mengepalkan kedua tangannya di depan dada, kemudian menyeringai. Tidak mengeluarkan teknik cahaya.


Evelyn terkesiap dengan alis bertautan, membuat ia lengah sepersekian detik.


BUGH!


Catie tahu-tahu sudah mendaratkan tendangan di rahang Evelyn.


Evelyn tergagap.


Para penonton terkesiap.


"Apa yang terjadi?" Beberapa orang mulai menggumam. "Mereka tidak menggunakan teknik cahaya!"


BUGH!


Serangan kedua mendarat di rahang lainnya.


Evelyn serentak mengetatkan rahangnya dan menerjang ke arah Catie dengan tendangan lurus.


BUK!


Catie menangkisnya dengan kedua tangan.


BUGH!


Kaki lainnya mendarat telak pada leher Evelyn.


Dia lumayan cepat, pikir Evelyn. Dan sebelum Evelyn sempat bereaksi, sebelum ia menyadari apa yang terjadi, sebuah pukulan telak sudah mendarat di ulu hatinya.


BUGH!


Seisi aula menahan napas. Bahkan si pemandu acara.


Nazareth mengerjap dengan wajah gelisah.


Evelyn mengernyit, mencoba menghirup udara sebanyak-banyaknya untuk mengisi paru-parunya. Tapi sebelum ia sempat mengembuskannya, lutut Catie sudah mendarat di rusuknya.


BEG!


Isi dada Evelyn serasa meledak.


Catie sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menggunakan teknik cahaya.


Evelyn menerjang dengan lompat harimau.


Tapi Catie menepisnya dengan tendangan memutar.


BRUK!


Tubuh Evelyn terlempar ke lantai.


Catie melambungkan tubuhnya ke udara dengan kedua kaki mengembang lurus di sisi tubuhnya sementara kedua tangannya tertaut di depan tubuhnya.


BUGH!


Kedua tangan Hell Catie yang tertaut kini mendarat di ulu hati Evelyn, sementara kakinya mendarat dalam posisi split sempurna---terentang lurus di sisi tubuhnya.


Para penonton memekik tertahan, sebagian sampai melompat berdiri.


Evelyn menelan ludah dengan susah payah dan napasnya tercekat di tenggorokan. Ia melentingkan tubuhnya ke dalam posisi kayang, kemudian menariknya berdiri.


Catie memutar kakinya di lantai, kemudian menyapukan tendangan ke mata kaki Evelyn.


BRUK!


Tubuh Evelyn terjerembab lagi dalam posisi terlentang.


Evelyn mengetatkan rahang dan kedua matanya, menahan sesak. Ia masih belum bernapas sejak tubuhnya terjerembab di lantai.


Seisi ruangan terasa beku, semua orang terpana membisu dengan wajah tegang.


Catie mengetatkan cengkeraman tangannya.


Evelyn mengernyit menahan nyeri pada kerongkongannya. "Jadi… kau tidak berniat menjadikan ini sebagai pertarungan spiritual?" ia bertanya terbata-bata dengan suara tercekik.


"Menurutmu?" Catie semakin mengetatkan cengkeramannya.


Evelyn mengetatkan rahangnya sekali lagi, kemudian menyentakkan lututnya sekuat tenaga. Tapi tidak berpengaruh apa-apa.


Catie terkekeh tipis. "Kau yakin masih ingin aku menggunakan teknik cahaya?" katanya sedikit melembut, namun dipenuhi cemooh.


Evelyn membuka matanya dan menatap Catie. Inikah maksudnya dia sangat menyebalkan? pikirnya.


Xenephon mengerjap gelisah dan menoleh pada Nazareth. "Ini tak adil," bisiknya.


"Apa kau kira musuh akan menunggu waktu terbaikmu saat ingin menyerang?" tukas Nazareth datar.


"Tapi dia curang," sanggah Xenephon.


Nazareth tersenyum sinis dan melirik pada Xenephon. "Kecurangan juga merupakan kekuatan," katanya.


Xenephon akhirnya terdiam, lalu kembali menatap arena.


Migi Vox bergeming dengan mata dan mulut membulat.


Hell Catie mulai mengeluarkan cakra spiritualnya dengan kedua tangan masih menahan Evelyn di lantai, lalu muncullah gambar seekor kucing hitam berbulu api dari punggungnya dalam bentuk hologram.


Evelyn tiba-tiba menyeringai.


Catie mengerutkan dahi, menatap Evelyn dengan alis tertaut. Merasa heran dengan reaksinya.


Evelyn masih menatapnya, belum berkedip sejak ia membuka mata. Masih tersenyum dengan sikap intimidasi.


Hell Catie mengetatkan cengkeramannya, menggemeretakkan giginya dan menyentakkan cakra spiritualnya dengan tenaga dalam yang ia salurkan ke tulang punggungnya, lalu dalam sekejap kucing hitam berbulu api itu melompat dari punggungnya dan meliuk dari arah samping Catie, menerkam ke arah Evelyn.


Bersamaan dengan itu Evelyn membuka mulutnya dan menggeram. Api menyembur dari mulutnya seperti gunung sedang meletus.


GLAAAAARRRR!!!


Benturan cahaya meledak dan menggetarkan seluruh tempat.


Kucing hitam berbulu api terpental ke belakang.


Seisi aula kembali hening. Orang-orang terpana antara takjub dan ngeri. Beberapa sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi.


Nazareth dan Xenephon terkesiap bersamaan.


Migi Vox terlonjak dan terperangah.


Tentu saja, pikir Nazareth seraya tersenyum samar. Kenapa aku bisa lupa teknik ketiga naga pengeluh adalah api? Padahal aku mengira teknik ketiganya adalah racun!


Tubuh Hell Catie mendadak gemetar, wajahnya serentak memucat. Lalu sebutir keringat menggelinding di pelipisnya, cengkeraman tangannya melemah secara perlahan.


Evelyn menyentakkan lututnya sekali lagi, tidak begitu keras, tapi sudah berhasil membuat Catie tersentak lepas dan terpuruk di sisi Evelyn.


Seisi ruangan berubah riuh rendah. Semua orang bergumam pelan di sekeliling arena.


Hell Catie menatap Evelyn dengan terkejut. Bagaimana bisa… tanaman rambat… batinnya tak habis pikir.


Evelyn hanya tersenyum tipis menanggapinya. Lalu melompat berdiri dan mengembangkan kedua tangannya di sisi tubuhnya, mengeluarkan cakra spiritualnya.


Hell Catie mengerjap dan menelan ludah. Kemudian mengangkat tangannya tanda menyerah. Aku menghabiskan banyak tenaga untuk bertarung secara fisik dan memboroskan tenaga dalam saat mengeluarkan teknik cahaya, katanya dalam hati.


Evelyn mendongak ke arah stand pemandu acara yang melayang dalam bentuk piring terbang.


Pemandu acara itu masih tergagap.


"Sudah berakhir!" Evelyn memberitahu. "Dia sudah menyerah!"


Pemandu acara itu mengerjap dan tergagap-gagap, "Pertarungan selesai!" Ia mengumumkan dengan tak yakin. "Lebih cepat dari dugaan," ia menambahkan sambil tersenyum gugup. "Pertarungan final dimenangkan oleh Poison Eve!"


Aula menggelegar oleh pekik-jerit histeris para penonton wanita yang melompat-lompat sambil bertepuk tangan.


"Sulit dipercaya," komentar beberapa orang. "Bagaimana bisa peri pelindung tanaman menyemburkan api juga?"


Evelyn menoleh pada guardiannya.


Pria itu masih membeku tanpa berkedip. Migi Vox menggeliat-geliut dalam pangkuannya, sementara Xenephon tergagap di sisinya hingga lupa bernapas.


Hell Catie menghambur meninggalkan arena tanpa menoleh lagi. Hampir menangis karena kekalahannya. Itu adalah pertama kalinya ia merasa dipermalukan seumur hidupnya. Kekalahanku hari ini… akan kubalas berlipat ganda! batinnya dengan getir.


Evelyn menghambur ke puncak tangga menghampiri guardiannya.


Migi Vox akhirnya berhasil melepaskan diri dari rengkuhan Nazareth dan melesat ke arah Evelyn.


Evelyn memeluk boneka itu dengan gembira.


Xenephon menatap gadis itu dengan raut wajah syok. Dari peri monster apa sebenarnya dia mendapatkan cakra spiritualnya? ia bertanya-tanya dalam hatinya.