Poison Eve

Poison Eve
Chapter-124



"Baiklah, para hadirin yang terhormat!" pemandu acara wanita memberitahu. "Sekarang kita sudah terhubung dengan Balai Mulia Ordo Angelos Shangri-La!"


Empat cermin sihir berkeredap menyala di baris ketiga, berdampingan dengan empat layar yang menampilkan keempat tim Neraida.


Gambar Kaisar Shangri-La mulai bergerak.


Kaisar Aero Thunder mengangguk ke arah layar Kaisar Shangri-La, dibalas anggukan yang sama. Para pejabat di belakang mereka membungkuk bersamaan.


"Mari kita lihat data tim Shangri-La!" pemandu acara pria mengambil peran. "Yang pertama Tim Akademi Militer Poseidon!"


Lima remaja pria berwajah tangguh muncul di layar.


Para hadirin bertepuk tangan.


"Kedua, Tim Akademi Sihir Hades!" pemandu acara wanita menimpali.


Satu gadis memimpin empat pemuda muncul di layar dengan aura iblis yang sangat kental.


Para hadirin bertepuk tangan sambil menggeleng-geleng, memandang kagum dan ngeri.


"Ketiga, Tim Akademi Martial Art Hermes!" pemandu acara pria melayangkan telapak tangannya ke arah layar berikutnya yang menampilkan empat remaja wanita dengan satu remaja pria sebagai ketua tim.


"Yang terakhir, Tim Akademi Saturnus!" pemandu acara wanita melanjutkan. "Lagi-lagi akademi martial art!" ia menambahkan sambil bertepuk tangan, diikuti para hadirin.


"Lima besar yang sangat memukau!" komentar pemandu acara pria. "Dua akademi militer, dua akademi martial art, satu akademi sihir! Siapa kira-kira yang akan maju ke babak final? Mari kita ikuti terus…"


"Turnamen Elit Master Spiritual!" kedua pemandu acara sekarang berseru serempak.


Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan meriah disertai ledakan kembang api dan taburan serbuk cahaya berwarna-warni seperti serbuk sari bunga peri dan jejak kupu-kupu monarch di Hutan Berburu Peri Monster.


Sementara itu, di Balai Mulia Ordo Angelos Shangri-La…


"Gadis Neraida ternyata cantik-cantik…" salah satu remaja pria dari tim peringkat atas menggumam seraya memelototi layar tim Morfeus Academy dengan mata berbinar-binar.


"Ketua tim Morfeus Academy itu sangat memukau!" seru yang lainnya.


Ketua tim mereka memandangi wajah Evelyn dengan raut wajah dingin. Kedua tangannya bersilangan di depan dada dengan sikap arogan seorang bangsawan.


Seluruh aula berdengung oleh gumaman takjub para hadirin.


Dua peri vampir laki-laki berusia ratusan tahun berlutut di depan Evelyn.


Bahkan teman-teman Evelyn terkesiap.


Begitu pun para hadirin di Balai Mulia Ordo Angelos di Neraida.


"Akankah dia melepaskan mereka juga?" beberapa orang mulai menggumam.


Evelyn mengangkat sebelah tangannya dan mengatakan sesuatu. Lalu kedua peri vampir itu berlalu.


Seisi aula kembali mengerang.


"Apa dia tidak bisa membedakan usia peri monster?" seseorang memekik dengan sikap gemas.


"Kalau begini terus mereka takkan mendapatkan apa pun!" komentar orang lainnya.


Neiro Sach tersenyum samar dengan tatapan puas. Mau sok pahlawan tapi tidak pada tempatnya, batinnya mencemooh.


Evelyn dan teman-temannya bergeming di lapangan itu.


Peri vampir anak-anak menghampiri Evelyn dan mengerumuninya setengah berjingkrak.


Teman-teman Evelyn spontan menyisi dan memandangi mereka dengan raut wajah bingung.


"Jadi kau memang seorang peri?" tanya peri vampir berusia dua belas tahun.


"Apa kalian tak bisa menciumnya?" tukas Evelyn.


"Baumu seperti manusia!" gumam peri vampir itu dengan cemberut.


"Ya," sahut Evelyn. "Aku manusia!"


"Mustahil!" anak-anak vampir itu menggumam bersamaan.


"Itu karunia," jawab Evelyn sambil tersenyum.


Semua orang di Balai Mulia Ordo Angelos di dua negara tak bisa berpaling dari Evelyn.


Sementara tim lain sudah mengumpulkan poin hingga ribuan, Evelyn masih bermain-main dengan anak-anak vampir. Teman-temannya bahkan bergabung dengan mereka seperti para pengasuh.


Lady Die melirik jam pasir dengan gelisah, kemudian mengerling ke arah Nazareth.


Pria itu tetap bergeming bersama bonekanya seperti Morfeus Statue---patung dewa mimpi di akademi mereka.


Bahkan Migi Vox terlihat begitu tenang. Hanya mengerjap dan menoleh ke sana kemari dengan raut wajah polosnya yang seperti bayi sungguhan.


"Sebenarnya apa yang dia tunggu?" para pejabat di Balai Mulia Ordo Angelos Shangri-La bertanya-tanya.


Ketua tim peringkat atas tetap bergeming memandangi layar tim Morfeus Academy. Raut wajahnya terlihat datar dan tatapannya terkesan dingin, tapi jelas tidak berpaling dari Evelyn. Isi kepalanya sulit ditebak.


Beberapa saat kemudian, dua peri vampir laki-laki berusia ratusan tahun itu kembali pada Evelyn dan seketika gerombolan peri vampir anak-anak di sekelilingnya tersentak dan berpencaran melarikan diri.


Semua orang kembali terpicing.


Dua peri vampir itu membawa kereta pengangkut yang ditarik dua kuda bersayap dan mempersilahkan Evelyn naik bersama teman-temannya.


Mereka berebut menaiki kereta itu sambil bercanda.


"Dikiranya ini study tour?" Neiro Sach mendengus sinis. Seisi ruangan kehormatan serentak menoleh pada dirinya.


Nazareth mengerling sekilas pada Neiro Sach, mencoba menahan dirinya untuk tidak bergegas ke arah pria itu dan memukul kepalanya untuk memotivasinya supaya diam.


Sejurus kemudian, sepasang kuda bersayap itu melesat membelah hutan, dan melayang dalam kecepatan komet. Dua peri vampir laki-laki itu mengawal di kiri-kanannya dalam bentuk kelelawar raksasa.


Beberapa saat kemudian, kereta itu melayang berputar-putar di atas sebuah kota yang tampak gelap.


Kota itu terhampar seperti jubah yang menyelubungi sejumlah bukit. Jubah itu merambat naik dengan keras kepala ke puncak-puncak bukit tersebut bagaikan rumput liar, tanpa menyisakan ruang, dan berusaha menutupi semuanya dan menyebar di kakinya.


Semuanya serba hitam, warna bangunan-bangunan, pepohonan yang gundul…


Langitnya juga berwarna hitam.


Negeri yang tampak seperti kulit buaya dengan lapisan kabut gelap.


Panorama yang kelihatan dingin tanpa berkas cahaya matahari.


Di balik puncak-puncak gunung, terlihat gurun berbatu-batu dan bangunan-bangunan bergaya Victoria mulai terhampar dari kaki pegunungan yang menunjukkan wilayah raksasa.


Hanya melihatnya dari atas saja, wilayah yang luas dan berlekuk-lekuk, yang dikelilingi oleh pegunungan dan puri-puri raksasa, sudah cukup mengingatkan setiap orang yang melihatnya bahwa di sini segala hal datang dalam ukuran besar.


Para hadirin di Balai Mulia Ordo Angelos di dua negara terpekik dengan ekspresi ngeri.


Semua orang dunia master spiritual tahu persis kota itu adalah pusat kejahatan terliar di Erebos.


Nazareth mengerjap dengan tatapan cemas. Migi Vox tersentak dan hampir melesat dari pangkuannya. Nazareth mencengkeram tengkuknya.


Migi Vox mulai meronta-ronta, tangan dan kakinya mengais-ngais dengan gelisah.


Seharusnya tak kukatakan ini sebagai penugasan ketertiban lingkungan! sesal Nazareth. Nyx Cornus menegang di sampingnya. Xenephon melirik mereka dari seberang balkon.


Lady Die terlihat semakin gelisah. Arsen Heart dan Salazar Lotz membeku di belakangnya.


Migi Vox masih meronta-ronta dan sulit dikendalikan.


"Tenanglah, Vox!" bisik Nazareth di telinga boneka itu sambil menepuk-nepuk punggungnya.


Migi Vox menggigiti bahunya dan mencakar-cakar.


"Lihat itu!" seseorang memekik sambil menunjuk layar tim Morfeus Academy.


Semua mata serentak tertuju pada layar itu.


Segerombol peri vampir puluhan ribu tahun tersentak dan berhamburan keluar dari sudut-sudut tersembunyi, menyeruak cepat dan terbang berputar-putar di sekeliling kereta yang membawa Evelyn dan teman-temannya, membentuk pusaran gelap.