
"Evelyn Katz!" Nazareth berteriak lantang penuh kuasa. "Aku bertanya padamu, apakah kau mengerti apa itu Master Spiritual sejati?"
Evelyn membungkuk dengan hormat tentara, "Mengabdikan diri sepenuhnya untuk Ordo Angelos!" jawabnya dengan sikap seorang ksatria.
"Apakah kau bersedia mengabdikan diri sepenuhnya bagi Ordo Angelos, bertempur demi keadilan dan melindungi umat manusia?"
"Aku bersedia!" Evelyn berlutut sambil menyilangkan sebelah tangannya yang terkepal di depan dada, sebelah kaki terlipat di depan dada bertumpu di lantai dengan telapak kaki, sementara kaki lainnya terlipat ke belakang bertumpu di lantai dengan lututnya.
Nazareth mengulurkan ujung tombaknya ke arah Evelyn, "Atas nama Dewa Cahaya yang bertahta di Syamayim, hari ini aku menobatkan Evelyn Katz sebagai Ketua Balai Keterampilan Militer Ordo Angelos dan memberikan hak penuh atas seluruh warisan keterampilan rahasia aliansi."
Seluruh ruangan sekarang menyala terang berwarna emas.
"Mahkota cahaya membawa kemuliaan bagimu!" Nazareth menambahkan.
Seketika, Evelyn merasakan kepalanya merayang dan kedua pelipisnya berdenyut-denyut, ia mengerutkan keningnya menahan sengatan rasa sakit seperti ada kawat duri yang meliliti kepalanya. Lalu secara perlahan, mahkota peri yang disebut-sebut sebagai cakra Apollo menyembul keluar dari belakang telinga hingga pelipisnya.
Nazareth melontarkan permata yang terdapat pada kalung yang diberikannya pada Evelyn.
Permata itu melayang perlahan, kemudian mendarat di kening Evelyn dan meresap masuk ke dalam tengkorak kepalanya.
Sepasang mata Evelyn sekarang menyala biru seperti warna permata itu. Begitu juga dengan dahinya.
"Mulai hari ini, nyawamu adalah milik Aliansi Militer Ordo Angelos!" lanjut Nazareth masih dengan kuasa seorang raja—mungkin juga Putra Cahaya. "Hidupmu untuk berjuang demi keadilan. Mati untuk semangat pahlawan yang akan hidup selamanya di medan perang tanpa penyesalan. Kemuliaan aliansi adalah kemuliaanmu. Kemuliaan adalah nyawa! Kalung warisan mewariskan kemuliaan Master Spiritual, mewariskan misi melindungi umat manusia, mewariskan segala milikku!"
Cahaya terang keemasan berangsur-angsur meredup.
Nazareth menarik tongkatnya dan menurunkannya di sisi tubuhnya.
Evelyn mengangkat wajah dan beranjak berdiri.
Sejumlah lukisan melayang dari tempatnya masing-masing, kemudian berputar-putar di sekeliling Evelyn, lalu mendarat di lantai dan menyala berwarna emas.
Sosok-sosok ksatria Ordo Angelos di dalam lukisan berlutut ke arah Evelyn dengan hormat tentara, sama persis dengan yang dilakukan Evelyn ketika Nazareth berlaku sebagai raja.
"Balai Keterampilan Militer sudah mengakuimu sebagai majikan mereka," Nazareth memberitahu. "Mulai sekarang, kau adalah ketua di sini. Tapi karena levelmu baru mencapai tingkat ksatria, masih banyak keterampilan di sini yang belum kau taklukkan."
Evelyn mendongak mengikuti arah pandang Nazareth.
Setengah dari lukisan yang berada di tingkat atas masih bertengger di tempatnya masing-masing.
Undakan itu ada sembilan tingkat dengan masing-masing tingkat berisi sembilan lukisan.
Hanya empat tingkat yang turun dan berlutut di depan Evelyn.
Pada tingkat keempat, masih tersisa lima lukisan yang tidak turun dan menyala.
"Hanya setelah kau melewati level mereka, mereka baru akan aktif satu per satu!" kata Nazareth.
Aku mengerti, kata Evelyn dalam hati. Setelah aku melewati level lima puluh, tingkat kelima baru akan turun dan mengakuiku sebagai majikan.
Beberapa saat kemudian, lukisan yang turun ke lantai kembali ke tempatnya semula, kemudian padam.
"Keterampilan yang kau pelajari semalam adalah keterampilan level empat puluh lima," jelas Nazareth. "Kau harus menyempurnakan keterampilanmu dengan mempelajari setiap keterampilan dari awal secara berurutan."
Evelyn menoleh pada Nazareth.
"Coba letakkan telapak tanganmu pada salah satu lukisan!" instruksi Nazareth.
"Tenangkan hatimu, gunakan kekuatan cahaya untuk melihat level kekuatan keterampilan!"
Lukisan itu kembali menyala dan bercahaya keemasan, sosok ksatria di dalamnya bergerak memperagakan kuda-kuda dasar untuk mengeluarkan cakra spiritual, lalu muncullah cakra spiritual berwarna putih.
"Level sepuluh!" terka Evelyn.
"Benar," jawab Nazareth. "Kau masih ingat urutan warna berdasarkan usia cakra spiritual?"
Evelyn menoleh pada Nazareth.
"Di sini warna cakra di setiap lukisan melambangkan angka di belakangnya. Satu cakra berwarna putih, artinya level sepuluh sampai sebelas."
"Tapi…" Evelyn menyela. "Warna cakra spiritual hanya tujuh!"
"Sebenarnya ada sembilan," tukas Nazareth. "Tiga lainnya termasuk merah dan biru."
Evelyn mengerutkan keningnya.
"Merah muda, merah terang, dan biru muda!" Nazareth menjelaskan. "Warna muda menandakan usia lebih muda. Namun tetap dalam kisaran ratusan ribu tahun dan jutaan tahun untuk usia cakra spiritual. Tapi di sini berlaku untuk hitungan angka di belakang setiap sepuluh level. Satu cakra merah muda artinya level lima belas, satu cakra merah terang artinya level enam belas, satu cakra merah darah artinya level tujuh belas, satu cakra biru muda artinya level delapan belas dan seterusnya."
"Baiklah, aku sudah mengerti," kata Evelyn.
"Nice!" kata Nazareth sambil melepaskan tongkat dari tangannya, kemudian mendekat pada Evelyn. Tongkat emasnya melayang di tengah ruangan. "Melatih keterampilan rahasianya nanti saja," kata Nazareth sambil tersenyum nakal. "Untuk sementara… bagaimana kalau kita melatih keterampilan lain?"
Evelyn mengerjap dan terperangah ketika pria itu tiba-tiba meraup wajahnya dan menciumnya. Seketika, mahkota peri dan batu permata yang menyala di dahinya melesak ke dalam dan menghilang.
Begitulah pada akhirnya, mereka menghabiskan setengah jam lagi untuk melampiaskan kerinduan mereka masing-masing seakan lama tidak bertemu.
Setelah mereka keluar dari ruang dimensi, Nazareth memberitahu Evelyn bahwa kalung penyimpanannya sekarang berada dalam kepalanya.
"Kau hanya perlu memusatkan energi cahaya ke dalam pikiranmu untuk masuk atau menaruh sesuatu di dalam sana seperti kau memasuki alam bawah sadarmu," kata Nazareth sambil mengetuk-ngetuk dahi Evelyn setengah bercanda.
Evelyn menepiskan tangan Nazareth dari dahinya dengan wajah cemberut.
Migi Vox yang sudah kembali jadi balita menelengkan kepalanya untuk mengintip wajah Nazareth seolah ingin memastikan apakah ia sedang bercanda atau sedang marah.
Nazareth tersenyum tipis dan menyusupkan dahi Evelyn ke dadanya, kemudian mengecup puncak kepalanya.
"Ehem!"
Suara bariton seseorang di belakang mereka menyentakkan keduanya.
Evelyn menyentakkan kepalanya ke samping, menoleh ke belakang. Lalu memucat. Ia melepaskan dirinya dari rengkuhan Nazareth, memutar tubuhnya cepat-cepat dan membungkuk. "Yang Mulia Kaisar!"
Ayah Nazareth tahu-tahu sudah berdiri di belakang mereka diapit dua bangsawan---Duke Orion Jace dan Marquez Kush Thunder, paman Nazareth.
Nazareth ikut berbalik dan membungkuk dengan basa-basi.
Jika tidak ada Orion Jace, dia mungkin sudah menyeret Evelyn menjauh dari pamannya.
Kush Thunder melirik Evelyn sambil tersenyum samar. Menelisik setiap bagian tubuh Evelyn yang diduganya mungkin menyimpan cakra Apollo. Di mulai dari pelipis, pundak, lengan, hingga ke ujung kakinya.
Nazareth masih tertunduk sementara rahangnya mengetat dan menggertakkan gigi.
Sekarang orang-orang serakah akhirnya tahu siapa leluhur Evelyn, pikirnya.