
Neiro Sach melayangkan telapak tangannya di atas nampan dan seketika semua pelat melayang keluar dari nampan itu tanpa ia menyentuhnya. Ia memutar jemarinya di depan wajahnya yang secara spontan membuat semua pelat itu turut berputar secara acak. Lalu ia melontarkan telapak tangannya ke depan seperti mendorong sesuatu dan seketika semua pelat melesat ke tengah ruangan secara berurutan, lalu berhenti—membeku di udara dalam formasi satu di depan, dua di belakang, tiga di belakangnya lagi, dan seterusnya.
Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan meriah dan sorak-sorai para hadirin.
"Akademi Sihir Santa Claus melawan Akademi Botani Demeter!" pemandu acara mengumumkan hasil undian.
Akademi Sihir Santa Claus adalah akademi milik Mikhail Claus, ayah Xenephon.
"Akademi Alkemis Metatron melawan Tim Satu Akademi Kaisar!" pemandu acara melanjutkan.
Tim Satu Akademi Kaisar adalah tim Catlyn Thunder.
"Akademi Sihir Dewa Musik—Sandalphon Academy melawan Akademi Sihir Azrael!"
Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon adalah sekolah milik Xenephon.
Akademi Sihir Azrael adalah tim sang putra gubernur yang bertarung dengan Evelyn di Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran.
"Akademi Militer Dewa Mimpi---Morfeus Academy melawan Tim Dua Akademi Kaisar!"
Tim Dua Akademi Kaisar adalah tim Sloan Jace---kakak Cleon.
"Akademi Dewa Mimpi?" terdengar gumaman banyak orang.
"Tim dengan seragam perawat itu, kan?" seorang pelajar wanita mendengus.
Terdengar cekikikan.
"Tim dua Akademi Kaisar benar-benar beruntung!" komentar sejumlah peserta pria.
"Tim Dua Akademi Kaisar?" Altair memekik terkejut. "Kenapa bisa begitu kebetulan?" erangnya.
"Ini tak mungkin curang, kan?" timpal Xena dengan raut wajah sedih kekanak-kanakan.
"Meski berasal dari Akademi Kaisar, mereka juga ikut babak penyisihan," hibur Evelyn sambil mengusap bahu Xena. "Kemampuan mereka pasti tidak jauh berbeda."
"Sir!" Cleon menginterupsi. "Izinkan aku mengikuti pertarungan di babak ini!" katanya memberanikan diri untuk bernegosiasi dengan Nazareth.
Nazareth tersenyum dingin. "Tidak!" jawabnya sadis. "Tetap jalankan sesuai rencana awal. Kemampuanmu harus disembunyikan."
Cleon mengepalkan tangannya dan mengetatkan rahang. Tapi Evelyn buru-buru menyentuh bahunya.
Migi Vox melotot di pangkuan Nazareth.
"Tenanglah!" kata Evelyn meyakinkan Cleon. "Kami bisa mengatasinya!"
"Nice!" sela Nazareth bernada sadis. "Karena kau begitu percaya diri, biar kutambahkan satu syarat lagi. Kalahkan mereka dalam satu menit!"
"What the—" Xena dan Electra memekik dengan raut wajah syok.
Para guardian tergagap mendengar keputusan Nazareth.
Evelyn menaikkan rahangnya, melontarkan tatapan dingin khas ibunya pada Nazareth. "Baik!" tandasnya tak kalah sadis.
Nyx Cornus dan Lady Die bertukar pandang dengan isyarat, "Ada apa dengan mereka?"
Menyadari adanya ketegangan tak jelas di antara pasangan itu, Cleon akhirnya memutuskan untuk sekalian mengacaukannya. Ia mendekat pada Evelyn dan menyentuh pundaknya dengan lembut, lalu tersenyum pada gadis itu. "Aku mengandalkanmu, Eve!"
"Hmh!" Evelyn mengangguk dengan semangat.
Migi Vox mengerutkan keningnya dengan ekspresi geram seorang balita.
Cleon mengedipkan sebelah matanya pada boneka itu sambil tersenyum miring. Rasakan itu! katanya dalam hati. Sekarang aku sudah tahu kau adalah kutub negatif Earth Thunder. Tapi aku suka kau yang lebih jujur!
"Bersiaplah, Ladies!" geram Lady Die menyemangati.
Evelyn, Xena dan Electra mengangguk dengan ekspresi penuh tekad. Lalu berjalan menuju arena dengan penuh percaya diri.
Nazareth mengatupkan matanya dan mendesah kasar, mengutuk dirinya sendiri dalam hatinya. Tidak seharusnya aku marah pada Evelyn! pikirnya. Xenephon benar, aku mudah sekali dihancurkan oleh diri sendiri. Aku hanya cemburu, tapi malah melukai Evelyn dengan sikapku.
Seolah bisa membaca kegundahan Nazareth, Nyx Cornus tiba-tiba mendekat ke sisi Nazareth seraya berbisik. "Begini juga bagus! Performa Evelyn lebih mengagumkan saat sedang marah padamu!"
"Kau—" Nazareth balas mendesis seraya memelototinya, lalu tergagap kehilangan kata-katanya. Arsen Heart tiba-tiba bergabung dengan mereka. Nazareth langsung terdiam.
"Baiklah, tak berlama-lama lagi!" seorang pemandu acara wanita mengambil alih pengeras suara. "Turnamen Elit Master Spiritual resmi dibuka!" ia mengumumkan disambut tepuk tangan meriah dan sorakan sekaligus ledakan-ledakan kembang api dan taburan bunga-bunga Alamanda bersama balon-balon berwarna-warni.
Kuntum-kuntum bunga Alamanda itu menebar ke seluruh tempat dan hinggap di setiap orang.
"Apa ini?" tanya Evelyn pada Electra.
"Ini poin dukungan!" jawab Electra. "Aku akan menyimpannya untuk Cleon dan Altair," katanya sambil memasukkan bunga itu ke dalam ikat pinggang dengan permata penyimpanan.
"Mohon untuk kedua tim segera naik ke arena!" pemandu acara pria menginstruksikan.
Evelyn menghela napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, lalu bertukar pandang dengan Xena dan Electra. "Menangkan dalam semenit!" katanya mengingatkan.
Xena dan Electra mengangguk dengan yakin.
Lalu ketiganya melangkah memasuki pintu masuk arena.
Hening.
Semua orang terpaku menatap ketiga gadis itu dengan ekspresi bingung dan kagum. Tentu saja lebih banyak bingungnya.
"Akademi apa ini?" komentar seseorang. "Bahkan tak ada yang menyemangati mereka!"
"Mereka pasti hanya orang-orang payah!" komentar yang lainnya. "Tak perlu dipedulikan."
Nazareth bertepuk tangan diikuti Nyx Cornus dan yang lainnya, bahkan Migi Vox.
Tapi tidak dengan penonton!
"Tim selanjutnya adalah bintang tamu malam ini!" pemandu acara wanita mengumumkan. "Tim Dua Akademi Kaisar yang ditunggu-tunggu!"
Aula kembali meledak oleh tepuk tangan dan sorakan histeris, disertai taburan bunga-bunga Alamanda yang bercahaya.
Tiga pemuda melangkah masuk dan berderet di hadapan ketiga gadis itu dengan gaya tangguh elegan.
Evelyn berdiri di depan, berhadap-hadapan dengan anggota paling tinggi dari tim lawan.
Sloan Jace!
Evelyn dan teman-temannya belum tahu pemuda itu adalah kakak Cleon.
Di belakang Sloan Jace, berdiri dua pria tangguh yang tampak tak asing di mata Evelyn.
Tentu saja!
Mereka pernah bertemu di Arena Debut.
Mo Rhino dan Voz Panther!
Oh, s h i t ! Evelyn mengerang dalam hatinya. Kenapa aku begitu sial?
Suara berderit di layar yang mengambang di atas kepala semua orang menarik perhatian para peserta.
Layar-layar ajaib itu disebut sebagai cermin sihir atau kamera di zaman modern, dan layar itu sekarang menampilkan jumlah dukungan untuk Tim Dua Akademi Kaisar seribu delapan ratus lima belas, dan jumlah dukungan untuk Akademi Militer Dewa Mimpi nol.
Xena dan Electra mendesah berat.
Lady Die melemas di tempat khusus para guardian.
Nazareth dan Nyx Cornus tidak peduli.
Arsen Heart dan Salazar Lotz terlihat tak berdaya.
Cleon dan Altair bertukar pandang dengan raut wajah prihatin. Lalu saling mengangguk dan melemparkan bunga mereka ke kubu Evelyn di arena.
Cermin sihir berderit.
Angka dukungan untuk Morfeus Academy menjadi dua.
Tiba-tiba sang Duke melemparkan bunganya ke kubu Evelyn dan seketika semua orang terperangah ke arah pria itu. Tidak terkecuali Cleon. Bahkan Kaisar.
Sloan mengerutkan keningnya, menatap Evelyn dan teman-temannya dengan alis bertautan.
Tepuk tangan meriah menggelegar menanggapi sang Duke.
Akhirnya semua orang tahu tim yang mendapat kehormatan itu.
Detik berikutnya, poin dukungan untuk Morfeus Academy meningkat hingga ratusan.
Meski tidak sebanding dengan poin dukungan untuk Tim Dua Akademi Kaisar, itu saja sudah sangat ajaib mengingat reputasi mereka.
"Ingat, kita tidak menang karena dukungan," bisik Evelyn menyemangati teman-temannya. "Tapi karena kemampuan!"
Semangat Xena dan Electra kembali bangkit.
Cleon melirik ayahnya dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
Ayahnya balas meliriknya, mengangguk dan tersenyum samar.