
"Maaf, Master… aku kalah!" Hell Catie tertunduk dengan raut wajah terpukul. Harga dirinya serasa diinjak. Merasa dipermalukan dan krisis percaya diri.
Gadis berwajah arogan itu sekarang berdiri dengan muram bersandar pada mini bar di sudut ruangan kelas royal di atas kelas satu di penginapan itu yang khusus disewa oleh keluarga kaisar.
Kedua bahunya menggantung lemas di sisi tubuhnya, sementara di sekelilingnya sejumlah pelayan---pria dan wanita berdiri tertunduk dengan raut wajah tegang.
Bagaimana tidak?
Hell Catie adalah putri bungsu kaisar Neraida. Tak heran dia begitu manja dan arogan.
Tentu saja semua pelayan menjadi tegang.
Catlyn Thunder adalah tipe orang yang tidak bisa terima kekalahan.
Ia baru saja mengamuk dan melemparkan semua barang sebelum Dimitri Aris datang dan menyelamatkan para pelayan yang malang.
Dimitri Aris adalah orang ketiga yang dihormati Catlyn Thunder selain ayah dan ibunya. Dimitri adalah guardiannya.
"Tidak perlu berkecil hati," kata guardiannya. "Kekalahan bukanlah akhir dunia."
"Tapi—" perkataan Catlyn terpotong ketika pintu VVIP itu mendadak terbuka dan seorang pria berparas malaikat melangkah masuk disambut bungkukan hormat para pelayan, bahkan Dimitri.
"Earth!" seru Catlyn sambil menghambur ke dalam pelukan pria itu. "Kenapa kau di sini?"
Migi Vox tiba-tiba muncul dari balik punggung pria berparas malaikat itu dan menyeringai.
Catlyn tersentak dan melompat melepaskan pelukannya. "Dia…"
"Anda sudah menguasai ilmu pemusat bayangan?" Dimitri terkesiap.
Pria itu---Nazareth, tetap bergeming dengan raut wajah datar.
"Apa itu ilmu pemusat bayangan?" tanya Catlyn pada Nazareth. Lalu melirik Migi Vox dengan ketakutan.
"Kita bicara di tempat lain," kata Nazareth sambil berbalik dan berjalan pelan keluar ruangan.
Catlyn mengikutinya dengan berlanting karena gembira.
"Kelihatannya, beberapa tahun ini kau mengalami banyak kemajuan," kata Nazareth setelah mereka sampai di balkon di ujung koridor penginapan itu. Ia berdiri membelakangi Catlyn dan memandang lepas ke pekarangan samping gedung serbaguna di bawah kakinya.
Migi Vox menelengkan kepalanya dari balik bahu Nazareth dan menyeringai pada Catlyn.
Gadis itu menelan ludah dan mengernyit.
"Sudah level dua puluh lima!" Nazareth akhirnya menoleh pada Catlyn dan tersenyum. "Kau akhirnya tumbuh dewasa."
Catlyn masih membeku di tempatnya, menatap Migi Vox dengan gelisah. "Makhluk apa dia sebenarnya?" ia bertanya setengah mendesis.
"Hanya marionette," jawab Nazareth sambil menurunkan Migi Vox ke lantai menggunakan benang cahaya dari ujung jemarinya. Lalu menggerak-gerakkan jemarinya dan Migi Vox bergerak sesuai gerakan jarinya.
"Bagaimana bisa dia juga tersenyum dan berkedip?" Catlyn bertanya lagi. Dahinya berkerut-kerut. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi.
"Itulah yang dimaksud dengan ilmu pemusat bayangan," jelas Nazareth. "Aku membelah diriku secara paksa, kemudian menyegel sebagian diriku dalam tubuh Vox."
"Vox?" Catlyn mengerutkan keningnya semakin dalam.
"Namanya Migi Vox," kata Nazareth. "Kau boleh memanggilnya Vox."
"Kau menautkan namanya di setiap buku-bukumu?" tanya Catlyn.
Nazareth menanggapinya dengan senyuman tipis.
"Apa kau tahu?" Catlyn bertanya lagi. Raut wajahnya berubah muram. "Bukan sekali dua kali aku melihat Ayah sedang melamun sambil memandangi buku-bukumu."
Nazareth tertunduk dan menarik kembali Migi Vox ke pangkuannya.
"Ayah pasti sangat berharap kau pulang," tutur Catlyn dengan sedih. "Pulanglah bersamaku, Earth!" pintanya. "Sebenarnya… Ibu selalu rindu padamu."
"Ayah juga!" Catlyn menambahkan.
Migi Vox melongok dari balik bahu Nazareth dengan tatapan polos seorang anak kecil.
Catlyn mengerjap dan menatapnya dengan heran. Menarik! katanya dalam hati.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Nazareth dengan suara datar. Pandangannya kembali beralih menatap udara kosong di luar pagar balkon.
"Mereka sangat baik. Ayah sudah tua," cerita Catlyn bernada iba. "Sebagian besar masalah kekaisaran diurus oleh Paman Kush. Pulanglah, Earth!"
Nazareth menghela napas berat dan menoleh pada Catlyn. "Tidak lama lagi… kita mungkin akan bertemu lagi," katanya tanpa ekspresi. "Jangan berkecil hati karena kekalahanmu hari ini!"
"Kau melihat pertarunganku hari ini?" Catlyn menautkan alisnya.
Nazareth tersenyum tipis.
"Aku mempermalukan keluarga kita dan kekaisaran," Catlyn berkata pahit. Lalu tertunduk dengan raut wajah sedih.
"Kekalahan sama sekali tidak menakutkan, Catlyn!" Nazareth menasihati. "Yang menakutkan adalah… tak bisa menarik pelajaran dari kekalahan."
Catlyn mengerjap dan menelan ludah, lalu mengangkat wajahnya, memandang Nazareth dengan tatapan memelas.
"Sedari awal, perjalananmu terlalu mulus," tutur Nazareth. "Kekalahan ini datang tepat waktu. Membuatmu bisa menyerap pelajaran. Tumbuh dalam kekalahan adalah hal yang belum pernah kau alami. Kau perlu mengalaminya untuk bertumbuh."
"Tumbuh dalam kekalahan?" Catlyn kembali tertunduk dengan dahi berkerut-kerut.
"Kau tahu di mana kesalahanmu?" tanya Nazareth. "Kau sebenarnya tidak kalah dari lawanmu. Tapi kau kalah dari dirimu sendiri."
Catlyn menatap Nazareth lagi. Dahinya masih berkerut-kerut.
"Kau terlalu memandang tinggi dirimu sendiri!" kata Nazareth. "Alasan kau bisa kalah hari ini, karena dalam hatimu ada kesombongan yang berasal dari kekaisaran."
"Kesombongan?" Catlyn menundukkan kepalanya lagi dengan raut wajah terluka.
Nazareth mendesah pendek dan menepuk pundak Catlyn.
"Kalau ada kesempatan berikutnya, aku tak akan kalah lagi darinya," tekad Catlyn.
"Tentu akan ada kesempatan," Nazareth menanggapi dengan senyuman tipis. "Karena aku adalah guardiannya."
Catlyn terhenyak dan terbelalak.
Nazareth menepuk bahu Catlyn sekali lagi. Lalu berjalan melewatinya.
"Tunggu!" Catlyn tiba-tiba berbalik dan menghambur menubruk punggung Nazareth dan memeluknya. "Earth! Maukah kau mengajariku?" pintanya setengah merengek.
Bersamaan dengan itu, Evelyn muncul di ujung koridor bersama Xenephon hendak menyeberang ke lorong lain menuju kamar mereka.
Menyadari Nazareth ada di sana, Evelyn berhenti dan berbalik hendak menghampirinya. Tapi lalu membeku melihat sepasang tangan melingkar di pinggang pria itu.
Senyumnya seketika lenyap dan lututnya serasa goyah. Degup jantungnya yang semula berdebar-debar karena gembira mendadak bergemuruh karena terpukul.
Nazareth mengerjap dan menatap lurus pada Evelyn seraya berbisik pada Catlyn. "Kalau kau benar-benar ingin menjadi Master Spiritual yang hebat, jadikan dia sebagai target!" Ia memberitahu. "Kalau suatu hari kau bisa melewatinya, maka kau bisa berdiri di puncak Master Spiritual dunia."
Catlyn menarik wajahnya dari punggung Nazareth, tapi tidak melepaskan rangkulannya di pinggang pria itu. "Kenapa?" tanyanya dengan nada merajuk. "Dia memang sangat kuat, tapi… kurasa ada yang salah dengan datanya. Kekuatan spiritualnya seharusnya tak jauh berbeda denganku, kan? Selain itu, peri pelindungnya hanya tanaman. Kalau sejak awal aku menggunakan teknik cahaya, dalam pertarungan cahaya, aku pasti bisa menang melawannya."
"Datanya benar," kata Nazareth tanpa menoleh.
"Mustahil!" pekik Catlyn sambil melepaskan pelukannya cepat-cepat, lalu memutar ke depan Nazareth.
Evelyn menahan napas dan membekap mulutnya dengan jemarinya. Hell Catie! pekiknya dalam hati. Dia kekasih Nazareth? Itukah sebabnya Nazareth tidak tersenyum meski aku memenangkan pertarungan final?
"Dia memang level tiga belas," Nazareth meyakinkan Catlyn. "Tapi…" ia menggantung kalimatnya dan tersenyum samar. "Ah, sudahlah!" katanya lalu bergegas ke arah Evelyn yang tiba-tiba berpaling dan menghambur menjauh dari koridor. "Nanti juga kau akan tahu sendiri." ia menambahkan sambil berlari.
Catlyn membeku Dengan alis bertautan, menatap kakaknya dengan mata terpicing. Tidak biasanya dia tergesa-gesa! pikirnya terkejut.