
Kereta kuda yang dikendarai Arsen Heart dan Salazar Lotz berhenti di depan gerbang Morfeus Academy.
Satu per satu anak-anak aset mereka melompat keluar dengan wajah putus asa dan kelelahan setelah berjam-jam menyisir hampir separuh kota tanpa hasil.
Kemarahan menguasai Nazareth hingga hampir kehilangan kontrol.
Beruntung Mikhail Claus tiba tepat waktu setelah Nyx Cornus menyelinap diam-diam menemui Xenephon dan mengatakan sesuatu terjadi pada Evelyn, kemudian Xenephon memberitahu ayahnya.
Siapa yang tidak tahu bahwa jika terjadi sesuatu pada Evelyn, Putra Cahaya itu bisa meledakkan sebuah negara.
Hanya Mikhail Claus yang tahu cara menangani manusia pilihan dewa yang satu ini.
Sekarang pria paruh baya itu mengendarai kereta kuda bersama putranya di belakang kereta kuda yang dikendarai Arsen Heart dan Salazar Lotz.
Ketika mereka semua turun, dua penjaga mengamankan kereta kuda mereka.
Bersamaan dengan itu, salah satu penjaga gerbang menghadang mereka dengan hormat tentara dan mengatakan bahwa Evelyn Katz sudah kembali ke akademi dan meminta mereka untuk mengatakannya pada Nazareth jika rombongan mereka tiba.
Sejurus kemudian, Nazareth sudah melesat ke belakang gedung akademi dan menghambur menuju estatnya. Migi Vox mendahuluinya.
Lady Die dan Nyx Cornus melemas sembari mendesah lega, diikuti anak-anak aset mereka.
Mikhail Claus bertukar pandang dengan putranya, kemudian mengekori Nazareth sambil menggerutu.
Xenephon menggiring para guardian dan anak-anak aset mereka ke kantin asrama.
Evelyn sedang bermeditasi untuk memulihkan diri ketika Migi Vox menyeruak ke dalam kamarnya dan menyergap leher Evelyn, menggelayut dan menyusupkan wajahnya di ceruk bahu gadis itu.
Evelyn mengerjap dan membuka matanya, kemudian menarik napas dalam-dalam dan menyimpan tenaga dalamnya.
"Vox!" Evelyn memeluk boneka itu dan mengusap-usap lembut punggungnya.
Nazareth muncul di ambang pintu, kemudian menghambur dan memeluk Evelyn. "Kau membuatku khawatir setengah mati!" bisiknya terengah-engah.
Evelyn baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika Mikhail Claus menyela mereka, "Aku tak melihat gubernur saat menyaksikan pertarungan terakhir," katanya.
Nazareth dan Evelyn spontan saling melepaskan diri dan menoleh ke arah pintu.
"Benar," jawab Evelyn sambil beranjak dari tempat meditasinya, kemudian melangkah menyeberangi ruangan dan membungkuk ke arah Mikhail. "Memang dia yang menyerangku!"
Mikhail meraup kedua bahu Evelyn dan menegakkan tubuhnya, "Tak disangka dia bisa melepaskanmu," katanya sambil memicingkan matanya. "Biasanya dia sangat licik! Tak peduli lawannya menyerang atau lari, itu sulit untuk berhasil."
Migi Vox masih menggelayut di leher Evelyn. Boneka itu mendongak dan menelengkan kepalanya, kemudian mengerjap dan menatap Evelyn dengan kepolosan anak balita.
"Sekarang kau sudah tahu aku lebih licik," gumam Evelyn sambil tertunduk.
Mikhail terkekeh tipis dan menggeleng.
Beberapa saat kemudian, Mikhail menuntun Evelyn ke pekarangan. "Tunjukkan padaku caranya!" ia menginstruksikan, kemudian mundur menjauh beberapa langkah dan mengeluarkan peri pelindungnya.
Evelyn kembali terjebak dalam bola kristal. Ia duduk bersila dan mulai berkonsentrasi, mendemonstrasikan apa yang dilakukannya ketika ia meloloskan diri dari sihir Neiro.
"Balai Keterampilan!" gumam Mikhail tanpa bisa menutupi kekagumannya.
Nazareth mendesah kasar dan menghambur memeluk Evelyn sekali lagi.
Mikhail mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal. "Kau seorang dewa," rutuknya tak sabar. "Bersikaplah selayaknya seorang dewa!"
"Apa aku masih kurang semena-mena?" sembur Nazareth sambil melotot pada guardiannya.
"Maksudku bukan Dewa Zeus!" tukas Mikhail. Tapi lalu mendesah dan mengibaskan tangannya sekilas. "Forget it!" katanya jengah. "Aku harus kembali ke tim!"
"Wait!" Evelyn menginterupsi.
Mikhail tertunduk menatap Evelyn dengan alis bertautan.
"Aku…" Evelyn menelan ludah dan tertunduk. "Aku menyesal kau mengorbankan timmu!"
"Itu tak benar," sergah Mikhail. "Anak-anak asetku mengaku kalah atas dasar pertimbangan lain!"
Giliran Evelyn sekarang yang menautkan alis. "Kalian tak mungkin selemah itu, kan?"
"Tidak! Tentu saja tidak," tukas Mikhail. "Hanya saja… kalau kami menang dari kalian, maka lawan kami berikutnya adalah Azrael! Akademi Sihir Azrael sudah seperti Harpy bagi kami. Kami tak mau buang waktu. Kau mengerti maksudku?"
Evelyn mengerjap dan tercenung. Haruskah kami juga mengaku kalah? pikirnya.
Mikhail tersenyum dan menyentuh pundak Evelyn, "Kau bisa mengatasi ayahnya," katanya. "Putranya takkan jauh berbeda!"
"Kau tak mau mengantarku?" Mikhail melotot pada Nazareth.
"Tua renta manja!" gerutu Nazareth sambil bergegas mendahului.
Beberapa saat kemudian, sebuah kereta kuda sudah menunggu Mikhail dan Xenephon di depan gerbang.
Nazareth dan para guardian lima besar, mengantar Mikhail dan Xenephon sampai ke gerbang bersama anak-anak aset mereka.
"Aku membawakan makan siangmu!" Cleon mengulurkan sebuah bungkusan pada Evelyn ketika mereka semua berjalan beriringan menuju estat Nazareth.
Migi Vox menautkan alisnya dan mencoba merenggut bungkusan itu, tapi Cleon berhasil menghindarkannya.
Tampaknya kebiasaan berebut makanan dengan Migi Vox melatih refleksnya juga.
Detik berikutnya, keduanya sudah mulai saling baku hantam yang berakhir dengan aksi kejar-kejaran.
Keesokan harinya…
"Selamat datang di Arena Babak Kualifikasi!" suara pemandu acara menggema melalui pengeras suara.
Aula menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler.
Evelyn dan teman-temannya masih berkerumun dalam ruangan yang disediakan khusus untuk persiapan tim sebelum bertarung, didampingi Nyx Cornus dan Lady Die.
Nazareth menyeruak masuk ke dalam ruang persiapan bersama Arsen Heart dan Salazar Lotz.
"Aku membawa kabar baik sekaligus kabar buruk!" Nazareth mengumumkan. "Mau dengar yang mana dulu?" ia menawarkan sambil mengangkat sebuah dokumen di sisi tubuhnya.
Evelyn dan teman-temannya bertukar pandang.
Nyx Cornus dan Lady Die beranjak dari sofa, kemudian menghampiri Nazareth.
Nyx Cornus sampai lebih dulu, langsung merenggut dokumen di tangan Nazareth dan membukanya.
"Kabar buruknya?" Evelyn mengambil alih keputusan.
"Besok kalian akan berhadapan dengan Tim Satu Kaisar!"
Tim Satu Kaisar adalah tim Catlyn Thunder.
Evelyn mengerling pada teman-temannya.
Teman-temannya hanya terdiam dan saling bertukar pandang satu sama lain.
Evelyn berpaling lagi pada Nazareth, "Dan apa kabar baiknya?"
"Tim Akademi Sihir Azrael menyerah!"
"Itu tidak terdengar seperti putra gubernur!" komentar Cleon.
"Membosankan sekali," erang Xena. "Sudah dua hari kita menganggur!"
Evelyn mengerutkan keningnya. Cleon benar, katanya dalam hati. Ini tidak terdengar seperti putra gubernur!
"Nyx, buat portal teleportasi!" perintah Nazareth pada Nyx Cornus. "Kita kembali ke akademi!"
"Portal teleportasi?" Seisi ruangan serentak terperangah.
"Akademi Sihir Azrael mengaku kalah," tukas Nazareth. "Bukankah itu terlalu mencurigakan?"
"Seharusnya tadi kau tak bilang kalau ini kabar baik!" gerutu Lady Die.
"Just do it!" tegas Nazareth sambil menoleh pada Nyx Cornus.
Nyx Cornus mendesah pendek dan menjejalkan dokumen di tangannya ke tangan Lady Die, kemudian berjalan ke tengah ruangan. "Ele, kau masih ingat cara membuat portal teleportasi?"
"Hmh!" Electra mengangguk singkat, lalu bergabung dengan guardiannya di tengah ruangan.
Sejurus kemudian, sebuah lingkaran cahaya putih kebiruan bercorak astrologi tercipta di permukaan lantai.
Seisi ruangan serempak bersiap dalam sikap kuda-kuda, kemudian melesat ke tengah lingkaran seperti melompat ke dalam jurang.
Sedetik kemudian, mereka semua menghilang bersama.