Poison Eve

Poison Eve
Chapter-62



"Bagaimana?" para guardian yang menunggu di teras aula pengobatan akademi menghambur ke arah Nazareth dan mengerumuninya.


Evelyn melangkah keluar dan menutup pintu.


Ketiga temannya spontan menyerbunya juga dan memberondong gadis itu dengan pertanyaan yang sama.


"Bagaimana?"


Master Pengobatan Akademi menunggu jawaban dengan waswas.


"Tidak apa-apa," jawab Nazareth tanpa ekspresi. "Sebentar lagi dia sadarkan diri."


"Aku akan melihatnya!" Salazar Lotz menyeruak ke dalam dengan buru-buru, diikuti Master Pengobatan Akademi.


Nazareth berjalan ringan melewati semua orang dengan raut wajah datar, bersiap meninggalkan aula pengobatan. Di ujung teras, ia berhenti sesaat dan melirik sekilas pada Evelyn melalui sudut matanya. "Ingat, Eve!" ia menasihati. "Master Spiritual Pengendali tak hanya mengendalikan musuh. Tapi juga diri sendiri. Karena musuh terbesar… adalah diri sendiri."


Evelyn membungkuk pada Nazareth dengan hormat tentara.


Nazareth berlalu dari tempat itu tanpa menoleh lagi. Semua orang memandangi punggungnya dengan alis bertautan, lalu menoleh pada Evelyn dengan tatapan bertanya.


"Are you okay, Eve?" tanya Nyx Cornus.


Evelyn mengangkat wajahnya dan meluruskan punggungnya, lalu tersenyum pada Nyx Cornus. "I'm okay, Ma'am!" katanya.


Nyx Cornus bertukar pandang dengan Lady Die dengan tak yakin, lalu keduanya mendesah pendek dan bergegas ke dalam aula pengobatan.


"Ayo, Anak-anak!" ajak Lady Die.


Cleon menghampiri Evelyn dengan tatapan cemas. "Kau yakin kau baik-baik saja?"


Evelyn mengangguk dan tersenyum. "Tentu," jawabnya meyakinkan Cleon.


Cleon mendesah dan bertukar pandang dengan Xena dan Electra.


"Tadi Lord Vox…"


"Hanya masalah adaptasi!" Evelyn memotong perkataan Xena.


Xena langsung terdiam.


"Lord Vox bilang bukan masalah!" Evelyn menambahkan.


Cleon mendesah pendek sekali lagi. "Baiklah," katanya. "Ayo kita masuk!" ajaknya pada Xena dan Electra.


Kedua gadis itu mengangguk.


"Dengar, Eve!" Cleon berhenti di depan pintu tanpa menoleh. "Kalau ada masalah, katakan pada kami. Kita sekarang teman tim. Ingat?"


"Tentu!" Evelyn meyakinkan Cleon. "Masuklah! Aku akan menunggu kalian di sini."


Ketiga teman Evelyn akhirnya menghilang ke dalam mengikuti ketiga guardian mereka, sementara Evelyn menunggu di teras.


Tak berapa lama, semua sudah keluar bersama Altair.


Evelyn memandangi anak laki-laki itu dengan raut wajah bersalah.


Anak laki-laki itu tersenyum pada Evelyn. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat, tapi tatapannya meyakinkan Evelyn bahwa ia baik-baik saja.


"Ayo kita makan sebelum kalian mengemasi barang-barang kalian!" Lady Die menginstruksikan seraya berjalan mendahului semua orang.


Ketiga guardian lainnya mengikuti Lady Die dan keempat remaja itu berjalan di belakang mereka.


"Bagaimana perasaanmu?" Evelyn bertanya pada Altair ketika mereka berjalan menuju kantin.


"Jauh lebih baik!" Altair tersenyum lagi.


Evelyn mengerutkan keningnya.


"Maksudku… kau tahu, kecuali saat jam makan, aku jarang sekali bertemu orang karena harus bekerja paruh waktu di luar jam pelajaran." Altair mengulum senyumnya. Tatapannya seolah menerawang ke tempat jauh. "Aku terharu mendapati kalian berada di sisiku saat aku siuman. Itu terasa seperti… keajaiban. Aku tak pernah punya teman selama ini."


Evelyn dan ketiga teman lainnya menoleh pada Altair dengan tatapan sedih.


Cleon menepuk bahunya dengan raut wajah menyesal. "Aku mewakili teman-teman bangsawan meminta maaf," katanya tulus. "Aku tahu beberapa temanku sering menindasmu."


"Aku tahu kau berbeda," sahut Altair sambil tersenyum. "Tak perlu meminta maaf untuk mereka."


"Kau sudah terbiasa bekerja keras," kata Cleon ketika langkah mereka sudah mencapai koridor. "Kukira tugas mengambil kayu bakar itu bukan masalah besar bagimu."


"Tugas mencari kayu bakar itu memang sudah menjadi rutinitasku sehari-hari," tukas Altair. "Tapi tanpa energi cahaya…" ia menggeleng tak yakin.


"Lord Vox terlalu kejam," gerutu Xena dalam gumaman lemah.


"Apa kau dilatih sekeras itu setiap hari?" Electra bertanya pada Evelyn.


"Tidak juga!" jawab Evelyn. "Kukira karena musim kompetisi sudah semakin dekat."


"Morfeus Five!" Salazar Lotz tiba-tiba berhenti di dasar tangga yang mengarah ke lantai dua, lalu menoleh pada Evelyn dan teman-temannya.


Ketiga guardian lainnya ikut berhenti dan menoleh pada Master Lotz dengan alis bertautan.


"Mulai sekarang, kalau kubilang Morfeus Five, itu artinya kalian berlima!" Master Lotz memberitahu.


"Yes, Sir!" Evelyn dan teman-temannya membungkuk dengan hormat tentara.


"Morfeus Five?" gumam Nyx Cornus dengan dahi berkerut-kerut.


"Julukan itu terlalu konyol dan kekanak-kanakan!" komentar Lady Die dengan tampang muak.


"Menurutku lumayan," Nyx Cornus tersenyum tipis.


Lady Die membeliak sebal seraya berbalik dan melanjutkan langkahnya.


Arsen Heart terkekeh tipis dan menggeleng-geleng.


"Ikut kami makan di lantai dua!" instruksi Master Lotz kepada kelima remaja yang mulai sekarang akan dipanggil Morfeus Five itu.


Kelima remaja itu kembali membungkuk, kemudian mengikuti keempat guardian itu.


Seusai makan siang, Evelyn membantu Xena dan Electra mengemasi barang-barangnya di kamar asrama. Lalu membenahi kamar mereka di estat Nazareth.


Sementara para gadis sudah selesai menata kamar mereka, Cleon dan Altair terpuruk di teras kamar mereka, duduk bersandar pada pagar beranda seraya menatap ke dalam kamar mereka dengan raut wajah putus asa.


Ketiga gadis itu melogok ke dalam kamar mereka.


Ruangan itu masih terlihat kacau setelah berjam-jam Altair dan Cleon mencoba menata dan membersihkannya.


Bergulung-gulung selimut usang yang sudah tidak terpakai, tumpukan peti kayu lapuk, bangku-bangku dan meja rusak, buku-buku bekas, gulungan kerai, semuanya tak bisa disingkirkan dalam waktu dua hari tanpa bantuan sedikit sihir.


Ketiga gadis itu tertawa terbahak-bahak.


Kedua pemuda itu mendelik pada mereka.


"Hei—dengar!" kata Evelyn. "Lord Vox bilang, latihan dimulai besok. Hari ini, kita masih bebas menggunakan kekuatan cahaya, kan?"


Kedua pemuda itu serentak terbelalak dengan wajah semringah.


"Benar juga!" seru Cleon sambil melompat berdiri dengan bersemangat. "Kenapa tidak terpikirkan?"


Altair turut beranjak tak kalah bersemangat.


Kedua anak laki-laki itu kembali ke dalam ruangan dan mencoba menyapu debu dengan kekuatan cahaya.


"Kami akan membantu kalian!" Xena mengikuti keduanya ke dalam gudang yang akan disulap menjadi kamar.


Evelyn dan Electra bertukar pandang dan saling mengangguk. Lalu bergegas ke dalam untuk membantu mereka.


"Aku punya permata penyimpanan yang masih kosong," kata Altair. "Bantu aku memasukkan semua rongsokan ini ke dalam ikat pinggangku. Besok saat kita pergi ke hutan, kita bisa membuang semuanya di hutan."


"Tidak—tunggu!" protes Evelyn. "Besok kita sudah mulai berlatih! Tidak boleh menggunakan kekuatan cahaya, ingat?"


Keempat remaja lainnya mengerang bersamaan. Mengeluarkan barang dari permata penyimpanan membutuhkan tenaga dalam.


"Berarti besok kita juga harus membawa bekal tanpa bantuan permata penyimpanan," gerung Xena hampir menangis.


"Begini saja!" Cleon mengusulkan. "Kita masukkan saja semua rongsokan ini ke dalam ikat pinggangnya, Electra akan membuang rongsokan ini di tempat pembuangan sampah kota seusai makan malam. Electra menguasai sedikit teleportasi!"


"Benarkah?" Evelyn dan Xena terperangah bersamaan. Lalu menatap Electra dengan mata dan mulut membulat.


Electra mengulum senyumnya dan mengangguk. "Hanya sepuluh meter," katanya tersipu. "Tapi tidak masalah untuk mencapai tempat pembuangan sampah kota. Aku bisa menggabungkannya dengan aerokinesis."


Seusai makan malam, Electra memenuhi janjinya. Ia membawa ikat pinggang penyimpanan Altair dan bergegas ke tempat pembuangan sampah kota yang berjarak sekitar empat kilometer dari Morfeus Academy, melewati atap-atap bangunan yang berderet rapat di sepanjang jalan menuju pinggiran kota dengan menggunakan kecepatan berlari, dan sesekali terbang dengan kemampuan aerokinesis---ilmu meringankan tubuh, hanya diperlukan beberapa kali menggunakan teleportasi untuk melompati bangunan yang jaraknya relatif berjauhan.


Semuanya berjalan lancar ketika ia pergi, hingga ia selesai menguras habis rongsokan dari dalam permata penyimpanan Altair dan berbalik untuk kembali ke akademi.


Lima pria tak dikenal menghadang Electra di sekitar lubang pembuangan sampah dan mengepungnya.