
"Tubuhku serasa remuk," erang Xena ketika ia berendam di kolam pemandian obat.
Electra berendam di sampingnya.
Lady Die berdiri bersedekap memelototi mereka.
Evelyn membungkuk di depan meja racik obat, menumbuk rupa-rupa ramuan di bawah instruksi Nyx Cornus yang duduk bersilang tangan di depan dada, tak jauh dari tempat Evelyn berdiri.
"Kalian akan berada di sini sepanjang malam!" Lady Die memberitahu.
"Apa?" Xena dan Electra memekik bersamaan.
Lady Die tak menggubrisnya, ia menoleh pada Evelyn dan menginstruksikan, "Dan kau, pergilah bermeditasi setelah selesai meramu obat!"
"I see, Lady!" Evelyn membungkuk pada Lady Die. Kemudian menyelesaikan pekerjaannya dan berpamitan pada teman-temannya, membungkuk ke arah Lady Die dan Nyx Cornus, lalu bergegas keluar dari pondok pemandian obat. Sejurus kemudian, ia sudah menghilang ke Balai Keterampilan Militer.
Lima lukisan dari tingkat kelima menyala keemasan dan melayang turun menyambut Evelyn, disusul satu lukisan dari tingkat keenam. Sosok ksatria di dalamnya bergerak dan berlutut serempak. Kemudian satu per satu mulai mendemonstrasikan keterampilan baru.
Enam puluh dua, batin Evelyn. Aku harus segera mendapatkan cakra keenam!
Latihan keterampilannya nanti saja! Evelyn memutuskan. Kemudian melayangkan tangannya ke arah semua lukisan di sekelilingnya dan seketika lukisan-lukisan itu melayang kembali ke tempatnya masing-masing.
Evelyn duduk bersila di tengah ruangan dan mulai berkonsentrasi pada satu titik di dadanya, bersiap untuk menembus alam bawah sadarnya.
"Conscience---hati nurani," bisiknya mengulang perkataan Victoria. "Temukan apa yang paling membuatmu mengasihani diri. Bunuh, dan serap cakranya!"
Yang membuatku mengasihani diri…?
Evelyn mengerutkan keningnya, tak yakin apa yang membuatnya mengasihani diri.
"Peri pelindung tak berguna!"
Suara-suara itu menggema dalam benaknya, menggemuruh seperti mesin penggiling raksasa.
Aku sudah menang! bantah Evelyn dalam hatinya.
"Miss Evelyn memang sangat cantik, tapi dia terlalu keras, kaum bangsawan takkan menyukai perilakunya yang seperti pria."
Nazareth mencintaiku! batinnya. Lebih dari seorang bangsawan. Dia juga putra mahkota. Juga Putra Cahaya!
"Menyedihkan sekali nasib wanita-wanita itu Mereka sudah berakhir, kan? Apa yang harus mereka lakukan sekarang?"
"Menjual kastil tua itu mungkin, meski Tuhan pun tahu kalau bangunan itu telah menjadi puing."
"Bukankah itu rumah mereka... mereka tidak bisa pergi ke tempat lain!"
"Sssh, sssh, mereka sedang berkabung, Sayang."
"Ya, tapi, bukan salah mereka. Oh, rasanya begitu memilukan melihat sebuah keluarga yang pernah berjaya jatuh terpuruk..."
"Mungkin Lord Katz yang baru akan menolong mereka. Sepertinya dia pria yang baik hati!"
"Lady Catherine tidak akan pernah menerima pertolongan itu. Kedua keluarga itu belum pernah saling berbicara sepatah kata pun dalam beberapa tahun terakhir. Aku rasa semua orang tahu itu!"
"Ya, benar, tapi Lord Katz yang baru tidak mungkin meninggalkan mereka dalam keadaan kelaparan. Oh, ini semua sangat menyedihkan. Pertama kematian Mr. Ragnarus di Nadia, kemudian diikuti oleh tewasnya keponakannya dalam duel yang mengerikan. Tak lama kemudian ayahnya menyusul. Sekarang… dia. Mungkin ada sesuatu yang menyebabkan Perwira Katz dikutuk!"
Lord Katz yang baru! Evelyn membatin sinis.
Dua tahun lalu Ayah yang mewarisi gelar itu!
"Aku tidak peduli soal gelar!"
Suara dalam yang menggelegar itu menyentakkan Evelyn. Tanpa sadar membuka matanya.
Seorang pria tua berdiri di hadapannya. Orion Katz!
Bukan Orion Jace—sang Duke, ayah Sloan dan Cleon Jace, tapi Orion Katz.
Kakek Evelyn.
"Kakek?" Evelyn mendongak dengan dahi berkerut-kerut. Lalu mengedar pandang dengan mata terpicing dan terkejut mendapati dirinya tidak sedang berada di Balai Keterampilan. Tapi di kastil tua peninggalan kakeknya.
Evelyn masih membeku dengan dahi berkerut-kerut. Mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia melihat kakeknya.
"Kita disegani karena darah Apollo," tutur kakek Evelyn.
Aku ingat sekarang! pikir Evelyn. Gelar Viscount itu tidak didapat dari Apollo. Tapi dari kakeknya.
"Setelah aku mati, Ragnarus akan mewarisi gelarku. Begitu pun seterusnya. Setelah dia mati, putranya akan mewarisi gelarnya."
Ragnarus Katz adalah paman Evelyn, kakak ayahnya. Ayah Nadine.
Rarganus mewarisi peri pelindung palu seperti ayahnya, Orion Katz. Begitu juga dengan putranya, kakak Nadine.
"Kecuali mereka mati sebelum kau…" kakek Evelyn tiba-tiba menoleh ke belakang, menghujamkan tatapan tajam. Tapi bukan pada Evelyn.
Evelyn menyentakkan kepalanya ke samping, mengikuti lirikan mata kakeknya dan terhenyak.
Ayahnya duduk membungkuk di sampingnya dengan ekspresi muram. Ia terlihat sangat muda. Mungkin tiga puluh tahun.
Evelyn tertunduk memeriksa dirinya dan menyadari kedua tangannya begitu mungil. Sepasang tangan seorang gadis kecil.
Kenapa aku tak ingat kenangan ini? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya. Berapa usiaku?
"Kau baru bisa mewarisi gelarku!" Kakek Evelyn menambahkan. "Itu pun jika keponakanmu tak memiliki putra!"
Ayah Evelyn masih bergeming. Tuhan pun tahu perwira itu tidak peduli dengan warisan. Yang membuatnya terpuruk di tempat duduknya adalah sindiran mengenai peri pelindungnya.
Rodrigo Katz tidak mewarisi peri pelindung palu.
"Dan pada hari itu terjadi, klan kita sudah terkena kutuk!" sindir kakeknya bernada ketus.
Warisan itu... pikir Evelyn..
Pada hari itu, kakeknya menghalau ayah dan ibunya dari kediaman barunya di Ibukota. Kediaman Agathias Katz sekarang.
Tapi karena ayah Evelyn belum memiliki rumah sendiri, kakek Evelyn akhirnya mengizinkan mereka tinggal di kastil tuanya di kota kecil di selatan Neraida.
Lalu ketika Viscount Tua itu mulai sakit-sakitan, ia juga dikirim pulang ke kastil tuanya. Evelyn yang merawatnya selama ia sakit. Kemudian kakeknya mewariskan kastil tua itu pada Evelyn.
Evelyn sudah remaja ketika Orion Katz meninggal dunia.
Tak lama berselang, Ragnarus juga tewas, disusul oleh kematian putranya. Lalu istrinya, Bibi Madeleine dan putrinya, Nadine, dibawa pulang ke kastil tua itu oleh ayah Evelyn.
Seharusnya aku tidak merawat Viscount Tua itu! batin Evelyn dengan geram. Kemudian menerjang ke arah kakeknya.
"HIAAAAAAAT!"
BLAAASSSHHHH!
Segala sesuatu di sekelilingnya menghilang, menyisakan kakeknya yang masih gagah dan belum sakit-sakitan.
Pria itu memutar tubuhnya dengan tenang, dan mengedikkan bahunya sedikit.
Evelyn menerjang udara kosong, lalu terhuyung melewati kakeknya. Ia memutar tubuhnya dan memasang kuda-kuda.
Kakeknya juga melakukannya.
Sejurus kemudian, keduanya sudah mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing.
BUUUUMMM!
Orion Katz mendaratkan peri pelindung palunya ke permukaan tanah. Jumlah cakranya ada sembilan. Satu kuning, sisanya hitam semua.
Level saint! batin Evelyn tak peduli.
Evelyn menggertakkan giginya dan menekuk kedua lututnya, mengeluarkan teknik penyatuan tiga jantung.
Tanah di bawah mereka mulai bergetar disertai suara-suara berkeretak dari retakan yang mulai tercipta di permukaan tanah, juga dari retakan di punggung Evelyn. Sulur-sulur tanaman menjalar keluar dari punggungnya dan secara perlahan berubah menjadi ular.