
"Aku sedikit salut pada putri Knight itu," gumam Nyx Cornus sambil mengawasi Evelyn dari dahan pohon besar di lereng bukit, di pekarangan belakang estat Nazareth, tempat persembunyiannya dengan Xenephon di waktu santai. "Tidak membedakan diri dari yang lain!"
Morfeus Five bergelimpangan di pekarangan belakang estat Nazareth seperti habis dilanda tsunami.
Xenephon duduk bersandar pada batang pohon sambil menggigiti sebatang rumput yang terselip di sudut bibirnya. Satu kakinya tertekuk di depan dada, sementara kaki lainnya terjulur lurus ke depan. Kedua tangannya bersilangan di belakang menopang kepalanya. Nyx Cornus duduk meringkuk bersandar pada dadanya.
"Ketua bisa saja mengistimewakannya kalau dia mau merajuk," lanjut Nyx Cornus. "Aku berani taruhan Ketua tak akan tahan kalau dia melakukannya!"
"Dia hanya gadis remaja sepekan lalu," komentar Xenephon menanggapi. Ia menurunkan sebelah tangannya di belakang punggung Nyx Cornus, mengelus lembut punggung gadis itu, kemudian mulai merayap ke pinggang, ke perut…
Nyx Cornus menggeliat pelan seraya menekankan tubuhnya semakin dalam ke tubuh Xenephon. "Pertumbuhannya sama mengerikannya dengan kultivasinya!" bisiknya menimpali, pikirannya sudah tidak terfokus pada pembicaraan kosong mereka ketika tangan Xenephon yang satu lagi mulai mendarat di dadanya. "Aku tidak mengira di balik wajah polos itu tersimpan kebijaksanaan seorang wanita dewasa," ia menambahkan dengan napas mulai terengah.
"Kurasa.. itu berkat Pacar Tua-nya!" kelakar Xenephon bernada sarkas. Lalu membungkuk untuk memagut mulut Nyx Cornus sambil menyusupkan tangannya ke dalam kerah baju gadis itu.
"Aku tidak setua itu!"
Suara di atas kepala mereka membuat Xenephon dan Nyx Cornus tersentak dan spontan saling melepaskan diri. Lalu mendongak serempak untuk melihat pemilik suara itu.
Nazareth tahu-tahu sudah bertengger di dahan lain di pohon yang sama, tepat di atas kepala mereka, menyandarkan punggungnya di batang pohon, dengan sebelah kaki tertekuk di depan dada dan satu kaki lainnya berlunjur mengikuti cabang pohon. "Kalau aku terlalu tua, maka Xenephon sudah cukup tua!" katanya pada Nyx Cornus.
Migi Vox melongok ke bawah dari pangkuan Nazareth sembari menyeringai.
Xenephon dan Nyx Cornus mengerjap dan tergagap.
Bajingan tua sialan! gerutu Xenephon di dalam hatinya. "Sudah berapa lama kau sana?" desisnya bernada jengkel.
Nazareth melayang turun dan mendarat di ujung dahan di mana Xenephon dan Nyx Cornus bertengger, kemudian menatap Xenephon seraya tersenyum miring, "Cukup lama untuk melihat tanganmu bergerilya," katanya.
Wajah Nyx Cornus spontan merona. Lalu buru-buru tertunduk seraya merenggut kerah bajunya.
"So…" Nazareth menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya dan merunduk sedikit ke arah mereka, "Apa tepatnya yang sedang kalian lakukan di sini?"
Migi Vox melayang di sisi bahu Nazareth seraya menelengkan kepalanya dan menyeringai pada Xenephon.
"Hanya bersantai!" sergah Xenephon seraya memalingkan wajahnya menghindari tatapan Nazareth yang mengejek. Menahan perasaan jengkel.
"Hanya bersantai?" ulang Nazareth seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Tentu saja hanya bersantai! Sekarang kan, jam istirahat!" tukas Nyx Cornus sedikit tersipu. Tidak berani menatap mata Nazareth.
Nazareth terkekeh tipis seraya berbalik dan melompat turun. Migi Vox mengikutinya dengan gaya yang sama.
Xenephon dan Nyx Cornus saling melirik sekilas, lalu melompat mengikuti Nazareth.
Nyx Cornus masih tersipu setelah mendarat di permukaan tanah. Xenephon meliriknya dengan senyuman samar. Wajah Nyx Cornus yang seperti itu membuatnya semakin berdebar-debar. Tunggu sampai bajingan sialan ini mabuk dengan Rubah Kecilnya! pikirnya seraya membeliak sebal pada Nazareth.
Nazareth melirik Xenephon melalui sudut matanya, "Satu sama!" katanya melalui gerakan mulut tanpa suara.
Xenephon menginjak kakinya diam-diam.
Nyx Cornus tidak menyadarinya. Gadis guardian itu terlalu sibuk memulihkan napas dan debaran jantungnya sambil tertunduk. Sentuhan Xenephon masih membekas di beberapa bagian tubuhnya yang paling sensitif.
Tak lama kemudian, mereka sudah berkumpul di dapur yang menjadi satu dengan ruang makan bersama Morfeus Five yang babak belur karena kelelahan.
"Selalu terasa berat pada hari pertama," kata Nazareth sambil meletakkan satu per satu gelas berisi minuman dingin di depan setiap anak.
Kelima remaja itu langsung meneguknya begitu Nazareth selesai membagikannya. Lalu mencoba duduk tegak dengan kedua siku tangan bertumpu di tepi meja. Wajah mereka terlihat sama kacaunya.
Nazareth tersenyum samar ketika tatapannya menyapu wajah Evelyn yang berkeringat, tersengat oleh gairah. "Hari kedua akan terasa lebih berat," ia melanjutkan dengan ekspresi datar. "Dan akan terasa lebih berat lagi setelah hari ketiga."
Kelima remaja di seputar meja itu mengerang tidak berdaya.
"Hari keempat akan semakin berat!" Nazareth menambahkan. "Dan hari kelima akan semakin bertambah berat!"
Morfeus Five menjatuhkan kepala mereka lagi di atas meja dengan gerakan seragam.
Migi Vox menoleh ke sana kemari, memandangi mereka satu per satu dengan ekspresi bingung.
"Makanlah!" instruksi Nazareth seraya berpaling memunggungi mereka, kemudian menuju rak dinding untuk menaruh nampan yang dibawanya.
Migi Vox menggasak makanan mereka lebih dulu, kemudian berebut dengan Evelyn.
Nazareth melirik mereka seraya mengulum senyumnya. Lalu menggeleng tipis sambil menggulung lengan bajunya untuk mencuci perangkat masak.
Xenephon membantunya sembari menggerutu, "Karena kau sudah berani merusak kencanku, jangan salahkan aku kalau Rubah Kecil-mu harus menerima pelatihan keras," ancamnya bernada licik.
Giliran Nazareth sekarang yang menginjak kaki Xenephon diam-diam.
Suara berdebuk pelan di dekat bak cuci itu menarik perhatian Nyx Cornus yang secara otomatis langsung menoleh dan memperhatikan kedua pria berparas malaikat jatuh itu dengan dahi berkerut-kerut.
Evelyn mengikuti lirikan mata Nyx Cornus dan seketika Migi Vox melesat menyambar kentang goreng di mulut Evelyn dengan mulutnya.
Sekeliling meja memekik serempak, yang secara otomatis membuat Nyx Cornus, Nazareth dan Xenephon menyentakkan kepala mereka dan menoleh ke arah meja.
Nazareth nyaris tersedak air liurnya sendiri mendapati mulut Migi Vox menempel rapat di mulut Evelyn.
Seisi ruangan serentak membeku dengan mata dan mulut membulat.
Nazareth berdeham seraya memalingkan wajahnya cepat-cepat dan mengepalkan tangan di depan mulutnya, menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
Xenephon dan Nyx Cornus tertunduk dan memalingkan wajah menyembunyikan senyuman geli.
Teman-teman Evelyn memandangi mereka dengan alis bertautan, kemudian saling bertukar pandang satu sama lain tanpa berkedip.
Evelyn menurunkan Migi Vox ke meja dan mengelap mulutnya dengan buku jarinya, kemudian mengedar pandang dengan gelisah. Lalu tertunduk memelototi Migi Vox.
Boneka itu mendongak sembari menyeringai dan mengedipkan sebelah matanya menirukan gaya Nazareth.
Mata Evelyn spontan membulat sementara teman-temannya tergelak menertawakan Migi Vox, tidak mengerti apa yang terjadi.
Nazareth tertunduk membelakangi meja makan, pura-pura sibuk melanjutkan pekerjaaannya sementara Evelyn tertunduk dengan wajah tersipu.
Tatapan geli Nyx Cornus membuat Evelyn kikuk. Dia pasti mengerti soal Migi Vox, katanya dalam hati. Boneka mesum sialan!