
"Mari kita lihat data tim Akademi Sihir Dewa Musik!" Pemandu acara mengumumkan dengan antusias.
Tepuk tangan penonton terdengar lebih meriah.
"Ketua tim Akademi Sandalphon, Alice Morgan, Master Spiritual tingkat Ksatria level empat puluh lima dengan peri pelindung paling disegani di Neraida!"
Sorakan histeris menggema ke seluruh aula.
Alice Morgan mendongakkan hidungnya dengan ekspresi menantang, sebelah tangannya berkacak pinggang.
"Dua wajah di belakangnya juga sangat familier di kalangan Master Spiritual, dua Master Spiritual tingkat Ksatria, dengan masing-masing level empat puluh tiga!" Pemandu acara melanjutkan. "Sangat menantikan penampilan yang luar biasa!"
Tepuk tangan meriah kembali menggelegar disertai sorakan semangat para pendukung tim Akademi Sandalphon.
"Ini adalah tim yang sangat kuat! Apakah hari ini mereka juga akan mendorong keluar lawan mereka?" pemandu acara memperingatkan. "Lawan mereka harus berhati-hati!"
Para pendukung tim Akademi Sandalphon meneriakkan yel-yel.
"Baiklah langsung saja! Pertarungan tim Akademi Sihir Dewa Musik melawan tim Akademi Militer Dewa Mimpi segera dimulai!" Pemandu acara mulai menghitung, diikuti para penonton.
"Gunakan penglihatan super sebelum mereka menarik keluar teknik cahaya!" Evelyn menginstruksikan pada Xena.
Xena mengangguk singkat. Lalu mengaktifkan penglihatan super yang didapatkannya dari cakra peri vampir.
"Gunakan suara terkeras!" instruksi Evelyn pada Electra. "Kalahkan suara musik mereka!"
"Hmh!" Electra mengangguk.
Sementara tim lawan menyiapkan kuda-kuda, Evelyn sudah mengeluarkan peri pelindungnya yang kemudian langsung melilit membentuk kurungan yang mengelilingi tubuhnya sendiri.
Xenephon mengerutkan keningnya dari tempat guardian. Mencoba menebak-nebak apa yang dilakukan Evelyn kali ini. Ia tidak berani menyimpulkan bahwa Evelyn melakukan hal bodoh. Ia tahu persis Evelyn tidak sebodoh itu!
Nazareth dan keempat guardian lainnya ikut tertegun dengan dahi berkerut-kerut.
Gadis itu sekarang menghilang dari pandangan semua orang, tersembunyi dalam kurungan peri pelindungnya.
"Teknik perlindungan?" Cleon coba menerka.
"Memangnya itu berguna?" tanya Altair tak yakin.
Alice Morgan tersenyum miring. Entah dia terlalu bodoh karena tak tahu, atau terlalu waspada sampai overprotektif, pikirnya. Tapi dia tak bisa menangkal serangan sihir dengan perisai!
Pada saat bersamaan, Evelyn mengeluarkan teknik kedua kekuatan inti peri pelindung peniru yang dipelajarinya di ruang dimensi dalam kalung penyimpanan yang diberikan oleh Nazareth dan menciptakan tiruan dirinya. Tujuannya menciptakan kurungan itu bukan untuk melindungi diri dari serangan, tapi untuk menutupi penglihatan semua orang.
Jadi, begitu tim lawan mulai menyerang, Evelyn mengirim keluar tiruan dirinya untuk menghadapi mereka, sementara dirinya yang asli tetap sembunyi dalam kurungan.
Energi cahaya berbentuk titinada dengan garis yang melecut-lecut menyeruak ke arah tim Evelyn ketika peri pelindung celo dan biola mulai dimainkan.
Electra melesat dengan gerakan terbang meliuk ke arah pemain biola, sementara Xena melambung dengan dua sayap kelelawar raksasa dan menukik ke arah pemain celo.
Evelyn menerjang dengan tendangan memutar ke arah Alice Morgan.
Namun sama halnya seperti jangkauan suara musik mereka yang memenuhi seluruh aula, serangan para penyihir dewa musik itu memang tak bisa dihindari.
Ke mana pun lawan mereka bergerak, tidak satu pun terluput dari musik mereka.
Dalam sekejap, Evelyn dan teman-temannya sudah disergap energi cahaya berbentuk titinada dengan garisnya melilit mereka seperti tali.
Nazareth dan Migi Vox mengerjap dengan raut wajah tegang. Keempat guardian di kiri-kanannya membeku dengan wajah pucat.
"Kalian sudah terjebak!" cemooh Alice sambil tersenyum miring.
Electra balas tersenyum miring, kemudian melolong dengan teknik kedua peri monster werewolf. Lolongan serigala jadi-jadian itu menenggelamkan suara musik mereka. Lilitan di tubuh mereka mulai melonggar.
Para pemilik peri pelindung celo dan biola itu menaikkan nada mereka hingga beberapa oktaf.
Xena tertawa melengking dengan suara peri vampir yang kering dan jahat, bersahut-sahutan dengan lolongan serigala yang diraungkan Electra.
Suara musik yang menyayat kembali teredam. Teman-teman Alice menaikkan nadanya lebih tinggi lagi hingga mencapai cord e tertinggi. Itu adalah dawai paling tipis yang rawan putus.
Seisi aula membeku dalam kengerian.
Tawa kering Xena dan lolongan Electra serentak ikut meninggi.
Seisi aula sekarang menutup telinga.
Bersamaan dengan itu, Evelyn mengeluarkan peri pelindungnya lagi dari dalam kurungan ke tiga titik di belakang tim lawan yang dalam sekejap sudah berubah menjadi dirinya dan mengacaukan konsentrasi Alice.
Para penonton memekik tertahan melihat tiga Evelyn lain yang tiba-tiba muncul di belakang tim Akademi Sandalphon.
Para pemilik peri pelindung celo dan biola menyergap ketiga Evelyn itu hingga konsentrasi mereka pun terbagi. Irama musik mereka mulai terdengar kacau.
Dan sebelum Alice sempat mengirim Evelyn dan teman-temannya ke dunia mimpi, Evelyn yang asli melayang keluar dari dalam kurungan peri pelindungnya dengan teknik kedua kekuatan inti peri pelindung leluhur.
"Kalian yang terjebak!" Evelyn balas mencemooh.
Sosok ilusi Apollo Katz melesat keluar sambil mengayunkan palunya ke lantai.
DUAAAAARRRR!
Ledakan cahaya membuncah bersama gelegar suara halilintar.
Suara-suara bising di tengah arena seketika tenggelam disapu gemuruh badai yang tercipta dari palu Apollo.
Seisi aula tercengang dengan mata terbelalak.
"Eksekusi!" teriak Evelyn sambil menudingkan telunjuk ke arah Alice dan teman-temannya.
Detik berikutnya, sejumlah sosok ilusi pasukan tentara abadi Ordo Angelos menyeruak keluar dari kurungan peri pelindung Evelyn yang langsung menerjang ke arah tim Akademi Sandalphon.
Sosok ilusi pasukan tentara abadi Ordo Angelos itu adalah teknik ketiga kekuatan inti peri pelindung peniru.
Musik hipnotis dan sihir peri pelindung mimpi buruk memang bisa menyerang hati manusia yang paling lemah, tapi tidak berpengaruh pada sosok ilusi. Sosok ilusi tidak berhati.
GRAAAAKKK!
Suara-suara logam yang bertautan berderak serempak ketika Alice dan teman-temannya dikepung sejumlah tentara. Tangan dan kaki mereka terbelenggu, sementara sejumlah pedang terhunus di sekeliling leher mereka masing-masing.
Nazareth dan Xenephon mengerjap dari dua tempat yang berseberangan.
Bagaimana dia melakukannya? pikir Xenephon sangat terkejut.
Kapan tepatnya dia belajar teknik kedua dan ketiga kekuatan inti peri pelindung peniru? pikir Nazareth tak kalah terkejut.
Keheningan menyergap seluruh tempat dalam waktu yang lama.
Alice mengerjap dan melirik Xenephon di tempat guardian.
Pria cantik itu mengangguk singkat dengan rahang menegang.
"Kami mengaku kalah!" Alice menyerah. Kedua temannya serentak melemas.
Xena dan Electra jatuh terduduk dan terbatuk-batuk.
Pemandu acara sekaligus wasit mengerjap dan tergagap-gagap ketika terpaksa mengumumkan, "Pertarungan berakhir. Tim Akademi Militer Dewa Mimpi memenangkan pertandingan!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler. Semakin banyak saja suara-suara histeris yang meneriakkan nama Evelyn.
Evelyn menarik semua kekuatan cahayanya dan seketika semua sosok ilusi di sekeliling mereka lenyap.
Alice jatuh terpuruk bersama teman-temannya, kemudian menghela bangkit tubuh mereka dan membungkuk pada tim Morfeus Academy.
Evelyn dan teman-temannya balas membungkuk dengan hormat tentara.
Alice Morgan tersenyum samar pada Evelyn.
Lalu kedua tim berbalik ke dua arah yang berlawanan dan beranjak meninggalkan arena.
Xenephon bertukar pandang dengan Nazareth, kemudian tersenyum pahit sembari menggeleng-geleng. Bahkan tingkat Kaisar tak ingin berurusan dengan Alice Morgan! batinnya tak habis pikir.
Kaisar masih membeku menatap Evelyn. Apa itu tadi? pikirnya. Kenapa dia bisa memunculkan sosok ilusi Apollo?