
Langit malam berubah menjadi kegelapan yang membungkus. Malam sudah sangat larut.
Di penghujung malam, dengan senyuman samar yang khas, Nazareth berpesan pada Evelyn, "Besok kau akan tampil di pertarungan final. Jika kau kalah, kau masih akan mengikuti tantangan lainnya untuk mengumpulkan poin dan mendapatkan Lencana Master Spiritual Level Perak. Tapi jika kau menang, latihanmu sudah berakhir. Usahakan untuk tidak mengeluarkan semua teknik."
Evelyn mengangguk.
"Kecuali jika kau yakin kau akan menang!" Nazareth menambahkan.
Evelyn langsung terdiam.
"Lawanmu adalah Master Penyerang Samping dengan level dua puluh lima," Nazareth memberitahu.
"Saya akan berusaha!" Evelyn membungkuk dengan hormat tentara.
"Berusahalah untuk tidak terpancing emosi," Nazareth menasihati sambil berbalik memunggungi Evelyn, lalu berhenti dan melirik sekilas melalui sudut matanya. "Dia sangat menyebalkan!" ia menambahkan.
Evelyn membeku dengan alis tertaut.
Nazareth dan Xenephon sudah berjalan menuju kamar mereka.
Migi Vox menelengkan kepalanya, melongok ke arah Evelyn dari balik bahu Nazareth dengan tatapan cemas.
Evelyn memandangi boneka itu tak kalah cemas. Kenapa dia menatapku begitu? batinnya gelisah.
Nazareth memuntir kepala Migi Vox dan memalingkan wajah boneka itu kembali ke depan tanpa menoleh ke sana kemari.
Lagi? pikir Evelyn. Apa hanya perasaanku saja? ia bertanya-tanya dalam hatinya. Kenapa rasanya Migi Vox seperti ingin mengatakan sesuatu? Tapi lagi-lagi Nazareth mencoba menghalanginya!
Evelyn memasuki kamarnya dengan wajah berkerut-kerut karena gelisah.
Apakah ada hubungannya dengan lawanku di final nanti? ia membatin gusar sambil mengunci pintu kamarnya dan bergegas menuju sofa sambil melepas topeng satinnya. Ia melemparkan topeng itu ke meja, sementara ia sendiri mengempaskan tubuhnya ke sofa. Apa maksudnya jangan terpancing emosi?
Dan… apa maksudnya dia sangat menyebalkan?
Evelyn menghela napas berat dan mengembuskannya dengan kasar, ia menatap langit-langit kamar, sebelah lengannya menjuntai menutupi dahinya. Ia berdoa semoga malam ini dia bisa mengenyahkan semua kekhawatirannya yang tak pasti supaya ia bisa berlatih dengan tenang.
Ia beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan melintasi kamarnya yang antik dan megah dengan dinding gelap dan tirai sutra, kemudian menyalakan keran sembari membungkuk di atas wastafel dan secara perlahan memercikkan air ke wajahnya, mencoba membangunkan dirinya yang masih mengawang-awang di antara segala hal yang belum pasti terjadi.
Ia mengambil handuk dan menepuk-nepuk wajahnya perlahan hingga kering, kemudian berbalik dan berjalan ke tengah ruangan. Mengambil posisi berdiri dengan pose favoritnya, menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan mulai berkonsentrasi.
Lingkaran cahaya kuning keemasan mulai berpendar di lantai mengelilingi kakinya, kemudian merangkak naik hingga ke pinggang.
Evelyn menekuk lututnya sedikit dan memusatkan pikirannya ke otot di kedua betisnya.
Deg, DEG!
Deg, DEG!
Jantungnya berdegup teratur dan ia merasakan denyut nadi di kedua betisnya bergetar tidak stabil. Tidak sejalan dengan irama jantungnya.
Rileks! katanya pada diri sendiri. Lalu memusatkan pikirannya semakin dalam ke otot di kedua betisnya.
Deg, DEG!
Deg… Deg…
Denyut nadi di kedua betisnya mulai seirama dengan degup jantungnya.
Lantai di bawah kakinya seakan ikut berdenyut.
Dengan perlahan dan secara teratur, Evelyn menyalurkan tenaga dalamnya ke dua titik yang disebut-sebut sebagai jantung kedua dan ketiga.
DRRRRTTT…
DRRRRRTTTT…
Lantai di bawah kakinya mulai bergetar.
Aku bisa melakukannya! Evelyn berseru dalam hatinya. Aku berhasil!
Bersamaan dengan itu…
TRAAAKK!
Sesuatu---seperti kelereng menggelinding di bawah kakinya dan menyemburkan kepulan asap yang membuat Evelyn mendadak terhuyung dan melemas.
BRUK!
Tubuh gadis itu roboh dan sepasang tangan menangkap pinggangnya.
Seseorang, berpakaian misterius seperti ninja assassin lengkap dengan tudung kepala dan selubung wajah, menyeret tubuh Evelyn ke arah jendela.
Pada saat yang sama…
BRUAAAAAAKKK!
Sosok misterius itu tersentak dan menoleh ke arah pintu. Lalu membeku.
Menunggu.
Tidak ada siapa pun di ambang pintu!
Sosok ninja misterius itu mengedar pandang dengan gelisah, lalu terhenyak ketika sesuatu melesat dari lantai dan mencabik tenggorokannya.
BRUK!
Sosok itu roboh dan tersungkur di lantai.
Tubuh Evelyn terpuruk tak jauh di sisinya.
Sama-sama tidak bergerak.
.
.
.
Nazareth baru saja terlelap ketika sesuatu yang basah menetes di ujung jarinya.
Ia mengerjap dan membuka matanya. Lalu menggerakkan jemarinya dengan alis bertautan. Ia mengangkat tangannya dan terbelalak mendapati telapak tangannya berlumuran darah. Lalu tersentak dan menyisir ruangan dengan tatapan nyalang.
"Vox!" pekiknya panik.
Xenephon terbangun di tempat tidur lainnya di seberang ruangan. Ia menarik bangkit tubuhnya dan menoleh ke arah Nazareth dengan dahi berkerut-kerut. "Are you okay?" ia bertanya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Vox!" desis Nazareth sambil menyentakkan kepalanya ke sana kemari dengan tatapan mencari-cari yang tajam. Sebelah alisnya terangkat tinggi ketika pandangannya berakhir di ambang pintu.
Pintu kamar itu terbelalak lebar.
Nazareth melompat dari tempat tidurnya dan menghambur keluar, diikuti Xenephon di belakangnya.
Lalu secara otomatis keduanya bergegas menuju kamar Evelyn.
Detik berikutnya, kedua pria itu membeku di ambang pintu dengan mata terbelalak.
"Vox!" pekik Nazareth.
"Eve!" pekik Xenephon bersamaan.
Lalu keduanya menyeruak masuk ke dalam dan membungkuk di atas kedua sosok wanita yang terbujur di lantai.
Keheningan menyergap mereka sesaat.
Nazareth dan Xenephon bertukar pandang dengan ekspresi gusar.
Xenephon berjongkok di sisi Evelyn, memeriksa napasnya dan mengecek denyut nadinya. "Dia masih hidup," bisiknya. Lalu beralih ke tubuh yang satunya dan membuka penutup wajahnya.
Nazareth terkesiap dan menelan ludah.
"Naomi?" desis Xenephon.
Nazareth beralih pada Migi Vox dengan tatapan tajam. Lalu mengayunkan telapak tangannya membentuk cakar, melontarkan benang cahaya dan menyergap Migi Vox.
Migi Vox meronta-ronta.
"Kenapa kau membunuh lagi?" desis Nazareth dengan rahang mengetat. Wajahnya berkerut-kerut dengan frustrasi.
Xenephon mendesah pendek dan bergegas menutup pintu kamar Evelyn dan menguncinya. Lalu kembali ke tengah ruangan dan memindahkan tubuh Evelyn ke tempat tidur. Kemudian memeriksanya.
Nazareth berjalan ke arah jendela sambil memangku bonekanya. Boneka itu melongok ke lantai melewati pangkal lengannya sambil menyeringai. Nazareth memalingkan wajah boneka itu dengan paksa dan memaksanya untuk diam.
"Dia dibius," Xenephon memberitahu dari sisi tempat tidur Evelyn.
Nazareth berhenti di depan jendela dan menoleh sedikit ke belakang. Dahinya berkerut-kerut.
Xenephon mendesah dan tercenung, tidak lekas beranjak dari tempat tidur Evelyn. "Itukah sebabnya Vox membunuhnya?" desisnya dengan mata terpicing.
Nazareth tidak menjawab, ia melemparkan Migi Vox keluar jendela di bawah kendali tali cahaya dari ujung jemarinya, lalu mulai menggerak-gerakkan kedua tangannya dengan jemari membentuk cakar, melakukan banyak jurus untuk mengontrol bonekanya yang sudah melesat melintasi puncak-puncak bangunan di seberang penginapan mereka.
Xenephon tertunduk menatap tubuh di lantai dengan ekspresi muram.
Beberapa saat kemudian, Migi Vox sudah kembali bersama dua pengawal bayangan berseragam ninja misterius yang sama dengan wanita yang disebut Naomi.
Dua ninja itu melesat dari atap bangunan lain di seberang sana ke arah jendela kamar Evelyn dalam kecepatan yang tidak tertangkap oleh mata biasa, lalu mendarat di lantai secara serempak.
Migi Vox mendarat di dada Nazareth dengan kedua tangan menggelayut di leher pria itu.
"Bersihkan!" perintah Nazareth pada kedua pengawal itu dengan ekspresi dingin.