
"Saat terakhir kali kami bertemu dengan Kefas, mereka terlibat perselisihan," Neiro menjelaskan sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah Bedros. "So…" sekarang ia berpaling ke arah Nazareth dan membungkuk dengan basa-basi, "Aku berani pastikan ini tidak ada hubungannya dengan akademi kami."
Nazareth terdiam dengan rahang mengetat. Sebelah tangannya masih terkepal di pagar balkon, sementara tangan lainnya menahan tubuh Migi Vox. Boneka itu bergetar di bahunya. Sekarang aku tahu kenapa Vox menjadi tak terkendali, katanya dalam hati.
Nyx Cornus merenggut lengan mantel Nazareth. "Kefas tak akan melukainya," ia berbisik dalam bahasa cahaya.
Nazareth melirik Nyx Cornus dengan mata terpicing.
"Ketika aku menyerang penyihir itu di gerbang Altarus, pria itu sedang berusaha melarikan Evelyn dari mereka!" Nyx Cornus menunjuk deretan bangku pejabat di sebelah kiri Kaisar dengan ekor matanya.
"Itu tidak menjamin Kefas tidak berniat mencelakainya," balas Nazareth dengan bahasa cahaya yang sama.
"Lihat itu!" Nyx Cornus sekarang mengerling ke arah layar yang khusus menampilkan gambar Evelyn.
Evelyn meronta-ronta dalam rengkuhan Kefas, tak bisa mengeluarkan teknik cahaya. Kedua tangannya mendorong dada pria itu dengan keras, tapi tidak berpengaruh apa-apa.
Wajah Kefas terlihat begitu tenang, bahkan seringai khasnya yang menjengkelkan tidak terlihat. "Aku tak ingin melukaimu," bisiknya menyerupai hembusan angin.
Evelyn menjauhkan wajahnya dan berpaling.
Kefas tidak berpaling dari Evelyn, tatapannya melembut.
"Tatapan Kefas terlihat sama seperti saat kau memandang Eve," bisik Nyx Cornus.
Nazareth menelan ludah. Isi dadanya bergemuruh. Kepalanya serasa terbakar.
Tubuh Migi Vox bergetar semakin hebat. Kedua tangannya terkepal. Wajahnya berkerut-kerut karena geram. Matanya menyala merah.
"Earth!" seseorang menegur Nazareth dalam bahasa cahaya, terdengar seperti desau air bah di kejauhan.
Nazareth mengerjap dan seketika cahaya merah di mata Migi Vox mulai meredup.
Xenephon mengawasinya dengan mata terpicing. Ia tahu seseorang baru saja menenangkan Nazareth, tapi bukan Mikhail. Mikhail Claus tidak sedang berada di sana. Lalu ia mengerling ke arah Kaisar.
Pria nomor satu di Neraida itu membeku dengan tatapan lurus ke layar yang khusus menampilkan Evelyn.
"Apa tepatnya yang kau inginkan?" Evelyn membalas tatapan Kefas dengan tatapan tajam.
"Nothing," bisik Kefas, masih terdengar seperti bisikan angin. "Hanya ingin memastikan ini benar-benar kau."
Evelyn terkekeh sinis.
"Apa yang membawamu ke sini?" tanya Kefas sambil meneliti setiap lekuk tubuh Evelyn dengan penuh perhatian. Lalu tiba-tiba mengerutkan keningnya. Tatapannya sekarang tertuju pada batu permata di bagian atas dada sebelah kanan armor Evelyn. Cermin sihir! pikirnya sambil merenggut permata itu dengan tangan lainnya.
"Oh, tidak! Dia berusaha menghancurkan cermin sihir!" Catlyn Thunder memekik seraya membekap mulutnya dengan telapak tangan.
Seisi aula serentak menegang.
Nazareth mengetatkan kepalan tangannya. Migi Vox tersengal-sengal dan kembali mencakar-cakar bahu Nazareth.
"No!" ratap Evelyn sambil menyergap pergelangan tangan Kefas dengan kedua tangannya.
Kefas mengerjap dan membeku, menatap ke dalam mata Evelyn. "Kompetisi itu…" ia menyadari. Kemudian menjauhkan tangannya dari cermin sihir itu. "Baiklah," katanya. Tatapannya kembali melembut. "Lagi pula mereka tak bisa mendengar kita!"
Seisi aula di Balai Mulia Neraida menghela napas.
Bedros mengerutkan keningnya. Begitu pun dengan Neiro. Wajah Kush Thunder dan Agathias Katz tampak mengencang.
"Dia melepaskannya?" gumam seseorang bernada heran.
"Kota di depan sana tak menjanjikan apa-apa," Kefas memberitahu.
Evelyn hanya mendengus.
Tiba-tiba Kefas mendaratkan tubuhnya di permukaan tanah, kemudian melepaskan Evelyn. "Bertahanlah lebih lama di dalam hutan," ia menyarankan. "Kau mungkin akan menemukan peri vampir ratusan ribu tahun."
Setelah mengatakan itu, Kefas memutar tubuhnya sambil mengibaskan tepi jubahnya, kemudian lenyap dengan meninggalkan hempasan angin yang sangat kencang.
Evelyn membeku menatap kekosongan.
Semua orang tercengang menatap layar Evelyn.
Bersamaan dengan itu, layar tim Morfeus Academy berangsur-angsur menyala.
Semua mata berpaling ke arah layar tim Morfeus Academy.
Keempat remaja di dalamnya membeku saling membelakangi satu sama lain dalam sikap kuda-kuda. Masih bertahan dengan kondisi prima.
"Mereka selamat!" Lady Die mendesah lega. Wajah-wajah di kiri-kanannya mulai mengendur, kecuali Nazareth.
Pria itu masih membeku menatap layar Evelyn dengan tatapan nanar. Migi Vox terkulai di bahunya seperti anak balita yang kelelahan.
Layar tim Akademi Sihir Dewa Musik berpendar dan menyala terang.
Neiro Sach tertunduk dengan rahang mengetat.
Tim Akademi Sihir Azrael masih berkutat dalam kepungan peri vampir level sepuluh yang tidak ada habisnya. Poin mereka bahkan belum mencapai lima ribu.
Jika tim Morfeus Akademy berhasil mengalahkan peri vampir puluhan ribu tahun tersebut, sudah bisa dipastikan tim Akademi Sihir Azrael akan tereliminasi.
Bersamaan dengan itu, Evelyn juga sedang bergegas menyusul teman-temannya.
Semangat Nyx Cornus bangkit kembali.
Xenephon meliriknya sambil tersenyum samar.
Tiba-tiba layar Evelyn kembali memburam, gambarnya kembali padam.
Nazareth kembali menegang. Kaisar dan Catlyn Thunder spontan meliriknya dengan cemas.
Migi Vox mengangkat kepalanya dengan susah payah seakan kepala mungilnya itu berbobot ratusan kilogram.
Lady Die dan Nyx Cornus berpegangan tangan, tanpa sadar saling mencakar.
Layar tim Shangri-La kembali menyala terang. Tim ketiga sudah mencapai sepuluh ribu poin. Tim keempatnya hampir menyusul.
Balai Mulia Shangri-La kembali semarak.
Para hadirin di Balai Mulia Neraida kembali melemas.
Migi Vox menggeletar dan kembali terkulai. Kelelahan akibat amarah yang tidak tuntas.
Nazareth menelan ludah dengan raut wajah tegang. Apa yang terjadi? pikirnya cemas.
Layar Evelyn semakin gelap.
"Apa cermin sihirnya mati?" Helios bertanya sambil menunjuk layar Evelyn.
"No, Sir!" salah satu panitia membungkuk pada Helios. "Cermin sihirnya masih berfungsi. Tapi kami benar-benar tak bisa melihat apa-apa!"
Para penggali bakat mengerang bersamaan, duduk melorot di bangkunya masing-masing.
Nyx Cornus melayangkan pandang ke seberang balkon, mengirimkan isyarat memohon pada Xenephon.
Xenephon menggeleng dengan ekspresi tak berdaya.
Tidak satu pun ahli visi bisa menembus tabir misterius yang menyergap Evelyn.
Di sisi lain, teman-temannya sudah mulai kewalahan menangani peri vampir puluhan ribu tahun itu.
Neiro Sach menyeringai. Tanpa Evelyn Katz, Morfeus Academy ternyata tidak ada apa-apanya! batinnya tertawa puas.
Langit telah berubah gelap di luar gedung.
Para peserta mulai menyisi ke tempat-tempat aman untuk beristirahat.
Tim Akademi Sihir Azrael dan tim Morfeus Academy masih bertempur sengit.
Layar Evelyn masih segelap malam.
Peri vampir puluhan tahun semakin banyak merubung kelompok putra gubernur, sementara para peserta sudah terlihat kelelahan.
"Mereka terlalu banyak!" teriak putra gubernur. "Kita harus keluar dari kota ini sebelum peri vampir dewasa menemukan anak-anak mereka yang mati! Formasi gabungan!"
BLAAAAAASHHH!
Tim Akademi Sihir Azrael berhimpun dan berputar-putar sambil berpegangan tangan.
SLASH!
SLASH!
SLASH!
Poin mereka meningkat dengan cepat hingga mencapai tujuh ribu poin. Lalu melesat meninggalkan kota dalam bentuk naga bersayap.
SLASH!
Poin bertambah sepuluh lagi.
Bersamaan dengan itu, layar tim Morfeus Akademi meledak oleh cahaya terang benderang hingga seluruh aula hanya terlihat putih.
Semua orang di Balai Mulia di dua negara membeku dalam kebutaan.
Lalu ketika cahaya itu berangsur-angsur meredup, bilah poin tim Morfeus Academy menunjukkan angka satu juta.