Poison Eve

Poison Eve
Chapter-85



Dalam penglihatan Nazareth…


Evelyn terlentang di tanah di tengah kubangan darah dengan sebelah bahu terkoyak.


Migi Vox membungkuk di atas kepala Evelyn.


"Vox!" Nazareth menggeram dengan murka, kemudian menerjang ke arah Migi Vox dan menjerat boneka itu dengan benang cahaya dari ujung jemarinya, menariknya ke dalam genggamannya dan mencengkeram boneka itu dengan kekuatan penuh, mencoba memecahkan boneka itu.


Migi Vox meronta-ronta dalam genggamannya, melontarkan tatapan memelas.


Nazareth menatapnya dengan mata terpicing dan mengetatkan rahangnya. Kemarahan menguasai dirinya lagi. Kesedihan menyayat relung hatinya, menghancurkan seluruh kesadarannya yang hampir pulih.


Dengan tubuh gemetar akibat kemarahan bercampur rasa perih yang tak terkira, ia mengetatkan cengkeramannya dengan mengerahkan seluruh kekuatan cahaya yang dimilikinya.


Migi Vox menyala berkedut-kedut.


"Nazareth…" suara Evelyn mendesis lirih dari mulut Migi Vox yang sedang tercekik. "Sadarlah!"


Nazareth terkesiap dan terperangah.


"Sadarlah…" Migi Vox melemas dalam genggamannya, lalu terkulai dan tidak bergerak lagi.


"Eve?" Nazareth tersentak dan melonggarkan cengkeramannya. Sesuatu dalam genggaman tangannya ternyata bukan Migi Vox, melainkan leher jenjang kekasihnya. "Tidak!" desisnya lirih. Tongkat Hati Iblis terlepas dari tangannya yang satu lagi, kemudian berkeredap menghilang dan menjadi Migi Vox lagi, lalu terlempar dan jatuh berguling-guling di permukaan tanah.


Evelyn terkulai dengan wajah pucat dan mata terpejam.


Nazareth membungkuk menangkap pinggang gadis itu dan merengkuhnya, memeluknya erat-erat, kemudian melolong dengan kepala mendongak. "Tidaaaaaak!"


Orang-orang yang rebah di sekelilingnya mulai bergerak, beringsut dan terbatuk-batuk.


Nazareth mengedar pandang dan terkesiap.


Seluruh tempat di sekelilingnya porak-poranda seperti habis dilindas badai tsunami. Atau lebih buruk lagi!


Apa yang terjadi? pikirnya terkejut.


Serpihan bebatuan berserak bersama ratusan peri monster level rendah—menggelepar dan bertumpuk-tumpuk.


Migi Vox menggelinding dan menarik bangkit tubuhnya, kemudian melangkah terseok-seok ke arah Nazareth, lalu merangkak naik ke bahunya.


Nyx Cornus dan Xenephon menghampiri mereka dengan tergopoh-gopoh, diikuti Lady Die dan anak-anak aset mereka. Arsen Heart dan Salazar Lotz menyusul kemudian.


Sekarang mereka semua berkerumun di sekeliling Nazareth yang bersimpuh gemetar memeluk Evelyn yang tidak bergerak.


Xenephon menjatuhkan dirinya di sisi Evelyn, kemudian meraih pergelangan tangan gadis itu dan memeriksa denyut nadinya. Lalu duduk bersila dengan napas tersengal. Dengan kondisi tubuh yang sangat menghawatirkan, ia berusaha memusatkan seluruh energi cahaya yang masih tersisa ke telapak tangannya, kemudian menekankan telapak tangannya di puncak kepala Evelyn untuk menyalurkan Manna pemulihan.


Nazareth mengerjap dan memandangi Xenephon dengan mata terpicing, terkejut mendapati kondisinya. "Kau terluka?" bisiknya dengan suara tercekat.


Nyx Cornus dan Lady Die serempak mengerang sambil memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


Detik berikutnya, Evelyn tersentak dan terbatuk-batuk.


Begitu juga dengan Xenephon. Pria itu menarik tangannya dan terbatuk-batuk, memuntahkan darah lagi, lalu terkulai lemas.


Nyx Cornus dan Arsen Heart spontan menghambur ke arah pria itu dan menangkap tubuhnya, menyisikannya dan menyandarkannya ke dinding tebing.


Evelyn mengerjap dan membuka matanya, tapi tubuhnya masih terkapar dan gemetaran.


Bersamaan dengan itu, sejumlah peri monster raksasa level tinggi menghambur ke arah mereka dari berbagai penjuru tempat.


Semua orang tersentak dan beberapa dari mereka bahkan melompat berdiri dan memasang kuda-kuda. Lady Die dan Salazar Lotz!


Tapi salah satu goliath menepis mereka dengan hanya mengibaskan tangannya dan seketika kedua guardian itu terpelanting agak jauh dari tempatnya. Goliath itu berjongkok di depan Nazareth dan membungkuk ke arah Evelyn.


Nazareth spontan mendongak menatap goliath itu dengan marah.


Tapi goliath itu mengabaikannya. Ia merenggut Evelyn dari rengkuhan Nazareth, meraup gadis itu ke dalam pangkuannya, dan itu terlihat seperti Migi Vox dalam pangkuan Nazareth.


Tapi Evelyn kemudian menghardiknya, "Just enough!"


Nazareth langsung terdiam.


"Siapa yang mengajariku untuk tetap bersikap tenang meski orang terpentingmu dalam bahaya?" sembur Evelyn bernada sengit.


Nazareth mengerjap dan menelan ludah.


Semua mata mengerling pada Nazareth.


"Entah kalian percaya atau tidak," kata Evelyn dengan suara tercekat. "Para peri monster ini hanya berniat menolong kita!"


Goliath itu tertunduk menatap Evelyn seraya mengusap kepala gadis itu dengan buku jarinya.


"Biarkan mereka merawatku," desis Evelyn terengah-engah. "Kau tak bisa merawatku, Nazareth! Kau melukaiku! Kau melukai semua orang!"


Semua orang mengerjap dan terperangah, terkejut melihat sikap Evelyn pada Nazareth.


Kenapa rasanya seperti melihat pertengkaran pasangan suami-istri? pikir Lady Die. Kemudian melirik Nazareth melalui sudut matanya.


Nazareth membeku dengan wajah berkerut-kerut. Kesedihan menyayat relung hatinya sekali lagi. Ia mengedar pandang dengan kelopak mata bergetar, meneliti satu demi satu wajah-wajah di sekelilingnya.


Semua orang terengah-engah. Semua orang terlihat lelah dan berkeringat. Semua orang terlihat pucat. Semua orang kacau-balau!


Apa yang telah kulakukan? Nazareth bertanya-tanya dalam hatinya.


Bersamaan dengan itu, para pengawal kekaisaran yang bertugas menjaga Hutan Berburu Peri Monster itu menghampiri mereka. Para pengawal itu juga terlihat sama kacaunya dengan semua orang dan sejumlah peri monster level rendah yang berserak di sekeliling mereka.


Para pengawal itu berjongkok dan membungkuk pada Nazareth dengan hormat tentara.


Nazareth hanya mengerjap. Raut wajahnya masih terlihat syok.


Victoria, bersama para pengawalnya mengendap turun di belakang goliath itu, lalu membungkuk serentak pada Nazareth.


"Mohon izinkan kami merawat kalian," pinta Victoria dengan bahasa yang hanya dipahami oleh Evelyn, dan tentu saja Nazareth.


Teman-teman Evelyn menatap mereka dengan ekspresi antara bingung dan ketakutan, para guardian mereka pun tergagap.


Goliath itu menarik bangkit tubuhnya sambil tetap menggendong Evelyn.


Nazareth melompat berdiri dan mengetatkan rahangnya, bersiap menyemburkan amarahnya lagi.


"Earth…" Xenephon menegurnya dengan suara lemah.


Nazareth langsung terdiam, tapi tatapannya tak mau lepas dari goliath itu.


Goliath itu menyisi ke dekat gua yang semula dihuni klan peri vampir—sekarang sudah menjadi kuburan mereka. Ia menjatuhkan dirinya di dekat gua, menyandarkan punggungnya ke dinding tebing, kemudian mengusap-usap kepala Evelyn dengan buku jarinya sekali lagi. Seperti seorang ibu yang coba menidurkan bayinya.


Nazareth mengepalkan tangannya seraya mengetatkan rahangnya. Bahkan goliath membuatnya cemburu!


"Bersikaplah sesuai usiamu, Pak Tua!" ejek Xenephon dengan napas tersengal.


Nazareth meliriknya dengan wajah cemberut. Tapi lalu mendesah kasar dan menyerah. Lalu menyisi ke tempat lain, melompati undakan bebatuan di dinding tebing, kemudian mendarat di puncak bukit batu rendah dan duduk bersila untuk memulihkan diri. Migi Vox melompat turun dari bahunya, kemudian berpindah ke pangkuannya dan duduk bersila menirukan gerak-geriknya. Lalu keduanya bergeming seperti patung Buddha.


Para pengawal kekaisaran masih membeku di tempatnya masing-masing, masih berjongkok dalam posisi hormat, lalu saling melirik satu sama lain dan mengedar pandang. Untuk sesaat, tidak satu pun dari para pengawal itu tahu apa yang harus dilakukan.


Lalu Xenephon mengeluarkan pelat Ordo Angelos dan mengacungkannya ke arah mereka. "I'm Xenephon Claus!" katanya. "Wakil ketua Ordo Angelos."


Para pengawal itu spontan beranjak dari tempatnya masing-masing, kemudian membungkuk dengan hormat tentara ke arah Xenephon.


"Aku mewakili Ordo Angelos akan memulihkan tempat ini secepatnya," kata Xenephon dengan suara tercekat akibat tusukan rasa sakit di sekujur tubuhnya. "Tidak perlu melapor pada Kaisar!" ia menambahkan. Lalu mengerling ke arah Nazareth. "Pangeran bersama kami!"


Benar saja! rutuk Evelyn dalam hatinya.