
Evelyn baru saja mencapai puncak tangga ketika Catlyn Thunder menyeruak membelah kerumunan dan menghambur ke dalam pelukannya.
"Catlyn!" pekik Evelyn terkejut.
Catlyn menyusupkan wajahnya di bahu Evelyn sambil terisak, tubuhnya gemetar dalam dekapan Evelyn.
Xena dan Electra bertukar pandang di tangga ke empat dari atas.
Cleon dan Altair masih berdiri di dasar tangga, mendongak dengan kebingungan.
Orang banyak berjejal di koridor dekat tangga menuju arena.
Nazareth dan para guardian terhalang oleh kerumunan.
Kedua tim dari Shangri-La juga berjejal di belakang Catlyn Thunder, menunggu giliran untuk mengucapkan selamat.
Lima Master Penggali bakat dan guardian mereka, Helios, juga menghampiri Evelyn.
Catlyn Thunder masih memeluk Evelyn dengan posesif. Tidak memberi ruang untuk yang lain.
"Jangan bilang kau sedang menangis, Kucing Kecil!" cemooh Evelyn sambil tertawa gelisah. Hatinya serasa tercubit ingin menangis juga. Perasaan hangat dan perih menyergap dirinya.
Orang banyak masih menunggu, seraya tersenyum kikuk.
Pengawalan Ketua Ordo Angelos bahkan tak lebih meriah seperti sebelumnya.
Semua pengunjung Balai Budaya yang terdiri dari para Master Spiritual tersedot ke tangga keluar arena.
Migi Vox hampir melejit ke arah kerumunan di seberang balkon itu, tapi Xenephon dan Mikhail Claus menyergap kedua lengannya dan menahannya di kiri-kanannya sampai mereka masuk ke dalam kereta.
Begitu mencapai kereta, Migi Vox langsung menciut menjadi boneka balita dan menghambur keluar melewati kerumunan, melompati kepala semua orang di pekarangan, menendang semua orang yang menghalangi jalan di sepanjang koridor, dan akhirnya menyeruak membelah kerumunan di dekat Evelyn.
Semua orang tersentak akibat ulah Migi Vox.
Nazareth mendesah kasar dan menggeleng-geleng. Benar-benar tak sabar! gerutunya dalam hati.
Nazareth dan para guardian bahkan belum bisa menggapai anak aset mereka.
Migi Vox sudah menggelayut di leher Evelyn, menempel di punggung gadis itu dan melongokkan kepalanya dari balik bahu Evelyn ke arah Catlyn.
Catlyn terperanjat dan menarik tangannya menjauh dari Evelyn. Matanya terbelalak ngeri melihat seringai Migi Vox.
Orang-orang di belakang Catlyn terperangah melihat Migi Vox.
"Mohon beri kami jalan!" sela Nazareth dengan suara dalam yang menggelegar.
Beberapa orang akhirnya menyisi setelah melihat logo Akademi Militer Dewa Mimpi di seragam Nazareth dan para guardian.
Kelima Master Penggali Bakat mengangguk samar pada Nazareth.
Evelyn dan teman-temannya akhirnya bisa bergerak di lantai koridor.
Ketua Tim Jalur Juara dan Ketua Tim Peringkat Atas Shangri-La mendekat ke arah Evelyn, memblokir jalan di depan Nazareth.
Nazareth mengerang dan memutar-mutar bola matanya dengan tak sabar.
Migi Vox menjulurkan lidahnya dari balik bahu Evelyn ke arah Nazareth dengan sikap mencemooh.
Kedua ketua tim Shangri-La tersenyum kikuk melihat Migi Vox.
Evelyn baru menyadari kedua pemuda itu berwajah mirip. Mungkin mereka kakak-beradik, pikirnya.
"Selamat!" mereka membungkuk bersamaan.
"Kau orang pertama yang berhasil mengalahkan Tim Jalur Juara Ordo Angelos dalam seratus tahun!" tutur yang lebih muda, ketua Tim Peringkat Atas Neraida.
"Bukan aku!" tukas Evelyn seraya tersenyum. Kemudian mengerling ke arah teman-temannya. "Tapi kami!"
"Benar," ketua Tim Peringkat Atas Shangri-La itu memaksakan senyum. "Akademi Militer Dewa Mimpi, dan Neraida tentunya!" ia menambahkan.
Cleon mendelik pada pemuda itu dengan rahang mengetat. Mereka hanya ingin bicara pada Evelyn! pikirnya jengkel.
"Boleh kami tahu, di mana kau tinggal, Eve?" sela yang lebih tua, ketua Tim Jalur Juara Shangri-La.
Nazareth mengerang dalam hatinya, memutar-mutar bola matanya diam-diam.
Migi Vox menatap kedua pemuda Shangri-La itu dengan alis bertautan.
Cleon mengepalkan kedua tangannya di belakang Evelyn.
Evelyn hanya mengerjap dan tergagap.
Ternyata mereka memang kakak-beradik! pikir Evelyn.
"Jika kau tinggal di sebuah kota, kami akan menemuimu di Balai Budaya di kota tersebut," lanjut yang lebih tua.
"Jika kau tidak keberatan tentunya," yang lebih muda menambahkan.
"Tidak! Tentu saja tidak," tukas Evelyn dengan sopan. "Hanya saja…" ia menggantung kalimatnya dan mengerling ke arah Nazareth.
Pria itu memasang wajah datar. Tapi kilatan di matanya menyiratkan kemarahan yang hanya bisa dimengerti oleh Evelyn.
"Sejujurnya aku tak yakin akan ke mana setelah ini," jelas Evelyn. "Maksudku… aku baru saja lulus. Banyak hal yang akan dilakukan seseorang setelah lulus sekolah, ya kan?"
"Aku mengerti," sela yang lebih tua. "Paling tidak katakanlah di mana tempat asalmu!"
"Selatan Neraida," Evelyn menjawab singkat. "Fortres!"
"Terima kasih!" kedua pemuda Shangri-La itu membungkuk sekali lagi.
Setelah kedua ketua tim itu undur diri, kelima Master Penggali Bakat menggantikan tempatnya.
Nazareth mengerang lagi dalam hatinya. Raut wajahnya tetap datar, tapi Evelyn bisa melihat matanya sudah membara sekarang.
Lagi-lagi para pria itu juga hanya menyapa Evelyn. Yang lainnya tidak dianggap.
Benar-benar modus! Cleon menggeram dalam hatinya.
"Kau adalah kebanggaan Neraida!" puji salah satu dari mereka.
"Dan kalian adalah pilar Neraida!" Evelyn balas memuji. "Tanpa kalian kami bukan apa-apa!"
Para guardian sudah mulai tak tahan menunggu berlama-lama.
"Sudah larut malam!" sela Lady Die tak sabar. "Kalian juga harus beristirahat, kan? Pagi-pagi sekali kita semua sudah harus berangkat pulang. Ramah-tamahnya nanti saja. Kita satu negara, kan?!"
Para Master Penggali Bakat itu mengerang bersamaan. Tapi lalu menyerah, karena memandang Nazareth.
Begitu mereka undur diri, giliran Lady Die sekarang yang memblokir jalan Nazareth.
Nazareth memutar-mutar bola matanya lagi.
"Kau kebanggaan Morfeus Academy!" puji Lady Die sambil memeluk Evelyn dengan gaya dramatis.
Para Master Penggali Bakat itu menoleh padanya dan membeliak sebal.
Sementara itu, di Neraida…
Kaisar memerintahkan untuk menggelar pesta rakyat selama tujuh hari tujuh malam setelah mereka kembali.
"Aku ingin bicara pada seluruh Neraida!" titahnya pada para ahli sihir Balai Mulia.
Para ahli sihir itu kemudian mengirim pesan siaran langsung ke setiap Balai Cabang Ordo Angelos, Balai Budaya, Balai Kota dan balai-balai lainnya yang memungkinkan untuk dihubungi melalui cermin sihir di seluruh Neraida.
Begitu audio diaktifkan, "Damai sejahtera bagi seluruh Neraida!" Kaisar membuka sambutannya. "Hari ini, dengan bangga, aku ingin mengumumkan bahwa Neraida telah dinobatkan sebagai Negara Terkuat. Orang-orang kuat telah lahir di Morfeus Academy. Generasi berlian yang telah menghantarkan Neraida kepada kemenangan. Hari ini, mereka memenangkan pertarungan final Turnamen Elit Master Spiritual. Hari ini, Neraida dinobatkan sebagai Negara Terkuat. Neraida menang!"
Seluruh Neraida meledak oleh euforia spektakuler. Semua orang di seluruh daerah meraung karena gembira.
"Aku sungguh menyesal karena tidak semua orang bisa menyaksikan pertarungan final," Kaisar melanjutkan. "Aku tidak mengira kita akan menang mengingat selama seratus tahun hasil akhir Turnamen Elit Master Spiritual selalu bisa ditebak. Terutama karena sebagian besar penduduk Neraida juga telah kehilangan antusiasnya untuk mengikuti siaran langsung turnamen ini."
Para penonton mengerang, turut menyayangkan.
Tapi kaisar mereka benar, mereka sendiri yang tidak tertarik untuk menonton pertarungan final. Hal itu disebabkan karena hasil akhir pertarungan selalu bisa ditebak.
Sudah pasti Ordo Angelos pemenangnya!
Sebagian besar rakyat Neraida kehilangan minatnya pada Turnamen Elit Master Spiritual.
Itulah sebabnya Kaisar hanya menayangkan siaran langsung di ibukota.
"Tapi untuk merayakan kemenangan ini, akan kupastikan semua orang takkan melewatkannya." Kaisar menambahkan. "Aku ingin menggelar pesta rakyat selama tujuh hari tujuh malam. Dan aku ingin semua orang merayakannya. Seluruh rakyat harus menerima kebahagiaan yang sama tanpa terkecuali. Untuk setiap tempat yang tidak terjangkau oleh tanganku, aku ingin kalian meneruskannya sampai ke tempat paling tersembunyi."
Seluruh rakyat Neraida kembali bersorak penuh sukacita.
"Aku mencintaimu, Kaisar!" seru para penduduk di daerah-daerah terpencil.
Selesai dengan pidatonya, Kaisar mengerahkan pasukan kerajaan untuk mengirim dana dan segala keperluan untuk menggelar pesta rakyat ke semua balai perintahan yang biasa digunakan untuk berkumpul para penduduk di masing-masing daerah.
"Aku ingin semuanya selesai dalam tiga hari. Begitu para juara kita sampai, semuanya sudah harus siap!" titah Kaisar.