Poison Eve

Poison Eve
Chapter-101



"Whoaaaaa…. Yang Mulia Kaisar!" seru Xena dengan ekspresi gembira seorang anak kecil. Ia bertepuk tangan dan berjingkrak-jingkrak menatap lima layar teratas tanpa peduli sekitar.


Evelyn dan Nazareth mengerling ke arah layar itu dengan raut wajah antara bangga dan kecewa.


Cleon terlihat makin pendiam.


Di sisi Kaisar Aero Thunder, duduk seorang Duke yang tak lain adalah Orion Jace---ayah Cleon. Di sampingnya lagi duduk seorang Earl yang tak lain adalah Agathias Katz---Lord Katz yang baru yang mewarisi gelar ayah Evelyn. Mungkin paman jauhnya, pria yang sama sekali asing bagi keluarga Evelyn.


Seharusnya Ayah yang duduk di sana, batin Evelyn merasa teriris.


Nazareth menurunkan pandangannya dari layar dan menoleh pada Evelyn.


Gadis itu sedang tertunduk dengan raut wajah terluka.


Nazareth mendesah pelan dan merenggut tangan Evelyn diam-diam, kemudian menggenggamnya untuk menguatkan gadis itu.


Cleon menatap jemari mereka yang bertautan dengan hati terbakar.


Tangan Evelyn balas menggenggam tangan Nazareth.


"Kau sudah melihatnya, kan?"


Kata-kata Nazareth terngiang dalam benaknya.


"Ya. Dia milikku. Dan kau tahu apa artinya? Kau tidak punya kesempatan, Cleon Jace! Sejak awal dia adalah milikku. Itulah sebabnya kenapa dia ada di sini."


"Eh, tahu tidak? Katanya anak itu disekolahkan oleh pemilik akademi!"


Kata-kata para penggosip di akademi ikut melintas dalam benaknya.


Cleon mengepalkan tangannya dan tertunduk dengan rahang mengetat.


Migi Vox melongok pemuda itu dari balik lengan Nazareth dan menyeringai.


"Sebelah kanan Kaisar itu ayah Cleon!" Electra memberitahu.


Xena dan Altair spontan menoleh pada Cleon dan terperangah.


"Kau putra seorang Duke?" Xena memekik dengan takjub.


Cleon mengerjap dan menelan ludah, kemudian menatap teman-temannya dan memaksakan senyum.


"Sebelah kiri Kaisar itu seorang Marquez," Electra berkata lagi. "Dia adik Yang Mulia Kaisar."


Nazareth membeku dengan raut wajah datar. Dan calon kaisar yang akan datang! ia menambahkan dalam hatinya dengan pahit.


Xena dan Altair menoleh lagi ke arah layar dengan ekspresi kagum.


Para guardian mereka mengikuti arah pandang mereka tanpa bicara.


Nyx Cornus menatap punggung Nazareth dengan tatapan prihatin.


"Sebelah kanan Duke itu Viscount Katz!" lanjut Electra dengan semangat.


"Katz?" Xena dan Altair memekik bersama. Bahkan Lady Die ikut-ikutan. Lalu semua orang menoleh pada Evelyn.


Evelyn melepaskan genggamannya dari tangan Nazareth cepat-cepat dan tertunduk dengan salah tingkah.


"Dia ayahmu?" Xena bertanya pada Evelyn.


Evelyn menggeleng dan memaksakan senyum. "Bukan!" jawabnya cepat-cepat. "Ayahku sudah meninggal."


Nazareth mengerjap mendengar jawaban Evelyn. Bayang-bayang seorang Knight yang tergeletak di jalan dengan bahu terkoyak melintas dalam benaknya, membuatnya merasa tersengat.


"I'm sorry!" sesal Xena dengan sedih.


"It's ok!" tukas Evelyn sambil memalingkan wajahnya menghindari pandangan semua orang.


"Lalu siapa yang satu lagi?" Altair bertanya untuk mengalihkan ketidaknyamanannya dari situasi kikuk.


"Itu adalah seorang Baron," jawab Electra, tidak terlalu bersemangat lagi seperti tadi. "Bukan orang yang baik," ia memelankan suaranya dengan raut wajah muram. "Namanya Neiro Sach!"


"Tunggu dulu!" sela Lady Die sambil menatap layar dengan dahi berkerut-kerut. "Kenapa rasanya aku merasa tak asing dengan wajahnya?"


Semua orang sekarang kembali menatap layar kelima.


"Penyihir itu!" Nyx Cornus memekik tertahan.


Semua orang serentak menoleh pada Nyx Cornus dengan mata terbelalak.


Migi Vox mengintip dari balik lengan Nazareth sementara pria itu tertegun dengan alis bertautan.


Evelyn menelan ludah dan tergagap.


"Kau tahu banyak nama-nama petinggi kekaisaran!" kata Altair pada Electra.


"Kau biang gosip sejati, Nona Dan!" dengus Lady Die sambil mendelik.


Electra melirik wanita itu dengan ekspresi kesal.


Arsen Heart dan Salazar Lotz menanggapinya dengan kekehan tipis.


Nyx Cornus tidak bereaksi. Dahinya berkerut-kerut seperti sedang mencoba berpikir keras.


"Selanjutnya, mohon Yang Mulia Kaisar untuk membuka turnamen ini!" si pemandu acara membungkuk dengan elegan ke arah kaisar.


Seluruh aula menjadi hening seiring langkah sang kaisar menuju ke tepi balkon. Semua orang membungkuk dalam posisi jongkok.


"Bangunlah!" titah kaisar dengan suara datar. "Aku kaisar Neraida, Aero Thunder, mewakili kekaisaran Neraida dan ketua penyelenggara turnamen mengumumkan bahwa Turnamen Elit Master Spiritual resmi dibuka!"


Aula meledak kembali oleh tepuk tangan spektakuler.


"Di sini, aku berharap semua Master Spiritual yang berpartisipasi dapat mengerahkan seluruh kemampuannya secara maksimal dan mendapat nilai bagus," kaisar menambahkan. "Kalian semua adalah kebanggaan Neraida!"


Para hadirin bersorak penuh semangat dan bertepuk tangan lagi.


"Selanjutnya, mohon, Tuan Duke Orion Jace memberikan kata sambutan!" pemandu acara melanjutkan setelah kaisar kembali ke tempat duduknya.


"Aku senang bisa menjadi tamu acara pembukaan ini," tutur sang Duke memulai pidatonya.


Evelyn dan teman-temannya melirik Cleon seraya tersenyum.


Cleon tertunduk kikuk dengan senyum terpaksa.


"Aku sudah melihat banyak proses jatuh bangunnya para Master Spiritual," tutur sang Duke melanjutkan pidatonya. "Hanya dengan disiplin berlatih baru bisa berkembang," ia menasihati. "Seperti kata Yang Mulia, hari ini, kalian semua adalah kebanggaan Neraida. Kelak kekaisaran bangga karena kalian."


"Tuan Duke," pemandu acara menyela dengan sopan. "Sebagai Master Spiritual tipe senjata paling kuat, Anda mendukung tim apa?" tanyanya bersemangat.


Para hadirin mendukung pertanyaan itu tak kalah bersemangat.


"Benar!" teriak sebagian besar para hadirin.


"Katakan, Tuan Duke! Kami ingin tahu!"


Orion Jace tersenyum samar. "Baiklah, aku memang mendukung sebuah tim untuk meraih juara pertama," katanya.


"Tim mana yang begitu terhormat?" si pemandu acara semakin penasaran.


"Aku masih ingin merahasiakannya," jawab sang Duke.


Para hadirin mengerang dalam gumaman rendah.


"Namun bisa kupastikan juara pertama pasti direbut kekaisaran kita!" sang Duke menandaskan.


Tepuk tangan meriah kembali menggema.


"Sayang sekali belum diketahui tim yang didukung Tuan Duke!" komentar pemandu acara berbasa-basi.


Cleon tertunduk dalam.


Evelyn dan teman-temannya melirik pemuda itu dengan alis bertautan.


Kau hanya tak ingin melukaiku! Cleon membatin getir. Ia tahu kakaknya juga mengikuti turnamen itu bersama akademi lain. Dan ayahnya berkata ia mendukung satu tim. Itu sudah lebih dari cukup untuk memperjelas bahwa sebagai putra termuda ia tak pernah masuk hitungan ayahnya di dalam segala hal.


"Selanjutnya!" pemandu acara melanjutkan. "Mari kita sambut Aktuaris turnamen ini, Master Spiritual tingkat Kaisar level enam puluh sembilan, Tuan Baron Neiro Sach!"


Aula kembali menggelegar menyambut kemunculan sang Baron di balkon lantai dua.


Evelyn bertukar pandang lagi dengan teman-temannya.


"Petinggi korup!" geram Nyx Cornus dengan aura haus darah.


"Baiklah, semuanya!" pemandu acara mengumumkan lebih antusias. "Turnamen elit yang ditunggu-tunggu akan segera dimulai!"


Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler dan seruan gembira.


Dua wanita berpakaian resmi menghampiri sang Baron dengan membawa nampan berisi pelat sejumlah akademi.


"Silahkan Tuan Baron!" pemandu acara membungkuk ke arah Neiro sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah nampan yang dibawa kedua wanita itu. "Mohon untuk mengundi babak pertama penyisihan!"