Poison Eve

Poison Eve
Chapter-68



Seusai makan siang, Nazareth memandu Evelyn ke ruang baca pribadinya sementara teman-teman Evelyn melakukan meditasi sendiri-sendiri.


Upaya Xenephon menakut-nakutinya ternyata berhasil membuat Nazareth berubah pikiran.


Agenda latihan khusus Evelyn yang dijadwalkan dengan Xenephon akhirnya berubah menjadi "kencan khusus" Nazareth dengan Evelyn, sementara Xenephon melanjutkan kencannya yang berantakan dengan Nyx Cornus.


"Master Claus tak bisa memandu meditasimu hari ini," kata Nazareth ketika mereka berjalan di koridor. "Tanggung jawabnya begitu banyak di akademi akhir-akhir ini. Kuharap kau tak bosan berada di sisiku sepanjang waktu."


Bosan? Evelyn tertawa dalam hatinya. Seperempat hari bersama teman-temanku lebih membosankan dibanding sehari-semalam di Hutan Berburu Peri Monster hanya berdua denganmu.


"Apakah Master Claus juga bekerja sebagai Petinggi Akademi?" Evelyn bertanya sambil menjejeri langkah Nazareth sementara Migi Vox melayang di tengah-tengah mereka sebagai orang ketiga yang tak dianggap.


Nazareth melirik Evelyn sekilas seraya tersenyum tipis, "Lebih tepatnya… menggantikan pekerjaan beberapa Petinggi Akademi," katanya.


Evelyn mengerjap dan mendongak menatap Nazareth dengan mata dan mulut membulat. Akhirnya mendapat celah untuk mengorek informasi mengenai Wakil Akademi, pikirnya


Nazareth berhenti di depan pintu kamarnya dan menguak pintu geser bergaya oriental klasik itu tanpa menyentuhnya.


Migi Vox melesat ke dalam lebih dulu dan mendarat di bendul jendela bulat di dekat meja baca rendah lesehan bergaya oriental klasik yang sama. Boneka itu duduk di sana, menggantung kedua kakinya sambil mendongak memperhatikan Nazareth dan Evelyn yang baru melangkah masuk ke dalam ruangan, seperti anak patuh yang menunggu instruksi ayah dan ibunya. Pintu bergeser menutup di belakang mereka.


Nazareth menghentikan langkahnya di tengah ruangan kemudian menoleh pada Evelyn, yang secara spontan membuat gadis itu ikut berhenti dan mendongak menatap wajahnya.


"Jadi…" Nazareth tersenyum nakal. "Kau ingin aku bicara sebagai guardianmu atau kekasihmu?" godanya.


Wajah Evelyn spontan merona. Tidak bisa menjawab pertanyaannya.


Nazareth terkekeh tipis sambil melingkarkan sebelah lengannya di bahu Evelyn dan membimbing gadis itu ke arah meja.


Migi Vox memperhatikan mereka dengan tatapan tak sabar.


Evelyn menyelinap ke tepi meja, kemudian duduk bersila dengan kedua siku tangan bertumpu di tepi meja.


Nazareth berdiri memunggunginya di depan rak dinding, mencari-cari buku panduan untuk mendukung argumentasinya. Bisa jadi sebagai pengalihan saat situasinya membuat salah tingkah.


Evelyn tersenyum pada Migi Vox ketika boneka itu melompat ke meja dan menghampirinya karena bosan.


Nazareth berdeham dan mengambil tempat duduk di sisi Evelyn, yang secara spontan membuat gadis itu langsung tertunduk dan tersipu-sipu. Biasanya dia duduk di seberang meja.


"Ide menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya, selalu menjadi pilihan bijak," Nazareth memulai pelatihan meditasi Evelyn siang itu dengan pidato pembuka yang teoritis.


Evelyn merespons pidato pembuka itu dengan dahi berkerut-kerut. Migi Vox bertengger di pangkuannya sambil meniru gerak-geriknya.


"Terutama bagi para Master Spiritual tipe pengendali sepertimu, selain bisa mengecoh lawan, menyembunyikan kekuatan juga bisa menghindarkanmu dari incaran lawan yang lebih kuat," lanjut Nazareth.


"Incaran lawan yang lebih kuat?" tanya Evelyn tidak mengerti.


"Pedoman para Master Spiritual tipe pengendali adalah mengendalikan lawan dari awal pertarungan hingga akhir," tutur Nazareth. "Biasanya serangan Master Spiritual tipe pengendali sangat lemah, tapi kekuatan kendali sangat kuat. Di bawah level enam puluh, satu Master Pengendali terbaik bisa mengendalikan lawan dengan perbedaan sepuluh level."


Evelyn mengerjap dan mengerutkan keningnya semakin dalam. Masih belum mengerti.


"Yang dimaksud dengan lawan yang lebih kuat adalah lawan dengan perbedaan di atas sepuluh level," jelas Nazareth. "Dan itu bisa berarti kekuatan gabungan dua orang dari kelompok lawan dengan level dua puluh."


Evelyn menatap ke dalam mata Nazareth. Sebelah alisnya terangkat tinggi, menuntut penjelasan lebih.


"Levelmu belum melewati dua puluh," Nazareth akhirnya berterus terang. "Tapi kau sudah memiliki lima cakra spiritual. Itu tak bagus, Eve! Kau akan membutuhkan energi yang sangat besar untuk hal kecil."


Evelyn akhirnya mulai mengerti. Tapi masih ada satu hal yang mengganjal di pikirannya.


"Itu sama saja dengan mengendalikan lima monster di tengah kepungan," Nazareth menyimpulkan.


"Master…" Evelyn menyela dengan hati-hati.


Nazareth menoleh dengan mata terpicing.


"Kenapa Wakil Akademi sampai harus diserahkan ke pihak Ordo?" tanya Evelyn dengan raut wajah prihatin.


"Beraninya kau memikirkan pria lain selagi aku tebar pesona di depan matamu!" desis Nazareth dengan tatapan mencela.


"Apa kau merasa bersalah?" tanya Nazareth mulai serius. Raut wajahnya berubah dengan cepat. Suaranya melembut.


Evelyn tetap tertunduk.


Nazareth mengerjap dan mengusap lembut puncak kepala gadis itu dengan penuh rasa sayang. "Ketahuilah, Eve! Aku tidak akan mengampuni siapa pun yang menindas dan menempatkanmu dalam bahaya," bisiknya.


"Tapi—" Evelyn akhirnya mengangkat wajah.


Nazareth menaikkan sebelah alisnya.


"Kurasa…" Evelyn memalingkan wajahnya lagi dan kembali tertunduk. "Dia melakukannya demi kebaikan…"


"Itulah sebabnya aku mengirimnya ke Ordo Angelos dan bukan kekaisaran!" Nazareth menyela tak sabar.


Evelyn mengerjap dan mengerutkan dahi.


"Di Ordo Angelos aku adalah rajanya. Kalau kubilang salah maka dia salah!" tandas Nazareth tidak peduli.


Bajingan egois tak masuk akal!


"Jadi…" Nazareth melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menatap tajam pada Evelyn. "Kau mau melanjutkan pelatihan atau tidak?"


Evelyn tergagap-gagap. "Ah—"


"Kalau tidak kita lanjutkan omong kosong ini sambil berkencan!" Nazareth menambahkan.


Evelyn semakin tergagap. "Aku—"


"Apa kau tidak menyukaiku?" potong Nazareth lagi.


Evelyn akhirnya menyentakkan kepalanya dan menoleh pada Nazareth. "Apa yang kau bicarakan?" desisnya bernada gusar.


Migi Vox juga ikut mendongak menatap Nazareth dengan raut wajah polos.


"Kau jelas tidak pernah menganggapku sebagai kekasihmu, bahkan ketika aku bersikap sebagai kekasihmu!" sergah Nazareth.


"Itu tak benar!" tukas Evelyn.


"Lalu kenapa kau tak pernah merajuk?"


"Merajuk?" Evelyn mengerutkan keningnya.


"Aku memperlakukanmu dengan buruk," kata Nazareth. Suaranya melembut. "Aku juga memberikanmu pelatihan keras, menyamakanmu dengan yang lain," ia menambahkan.


Evelyn menatap ke dalam mata Nazareth.


"Aku bisa saja mengistimewakanmu, Eve!" bisik Nazareth. "Tapi aku tidak melakukannya. Dan kau bahkan tidak pernah mengeluh sama sekali."


"Karena aku mencintaimu, aku percaya padamu!" sergah Evelyn dalam bisikan lirih. "Lagi pula aku tak mau membuatmu malu, Nazareth. Tak ingin mengecewakanmu."


Nazareth terdiam dalam waktu yang lama. Lalu tiba-tiba mendesis tertawa. "Gadis bodoh," desisnya pura-pura marah. "Kau pikir aku peduli pada reputasi?"


Evelyn tidak menjawab.


"Tapi aku suka kalimatmu yang pertama," imbuh Nazareth seraya tersenyum miring. "Coba katakan lagi!" pintanya—lebih terdengar seperti perintah daripada permintaan.


Evelyn memandang Nazareth dengan tatapan lapar.


Nazareth membalasnya dengan tatapan lapar yang sama.


Migi Vox mengawasi keduanya dengan sorot penasaran.


"Katakan sekali lagi!" bisik Nazareth dalam bujukan tegas yang membuat Evelyn mengulurkan tangannya dengan suka rela dan menggelayut di lehernya.


"Aku mencintaimu, Nazareth!" bisik Evelyn. "Aku percaya padamu."