Poison Eve

Poison Eve
Chapter-77



"Altair, gargoyle ini milikmu! Serahkan goliath itu pada kami!" Evelyn berteriak pada Altair sambil melesat di udara bersama Electra dan mendarat bersamaan di belakang Altair dengan sikap kuda-kuda.


Altair melompat ke belakang dengan gerakan salto dan dalam sekejap sudah mencapai tempat Nazareth, di mana gargoyle taklukan mereka terkapar dan menggelepar.


"Kalian bantulah yang lain, aku yang akan menjaganya!" instruksi Nazareth pada Xenephon dan Nyx Cornus.


Keduanya mengangguk singkat dan melesat ke arah yang lain.


Tapi ketiga guardian lainnya mengangkat tangan, mengisyaratkan mereka untuk berhenti.


"Kita lihat hasil latihan mereka!" usul Lady Die sambil mengerling ke arah anak-anak aset mereka. "Lagi pula goliath itu sudah terluka."


Goliath itu tidak ada bedanya dengan manusia, kecuali ukuran tubuhnya, tiga kali lipat lebih besar dari manusia, begitu pun dengan tingginya. Selain itu kulitnya sekeras batu, dan ia membawa tongkat pemukul batu berduri. Pertahanannya sangat kuat, tapi daya serangnya sedikit lamban.


Sementara Altair sudah duduk bersila dan memulai meditasinya, teman-temannya masih berjibaku dengan raksasa itu.


Electra melejit bersama Xena, terbang menukik di kiri-kanan goliath itu.


Cleon berlari cepat dengan gerakan lurus sambil memanggul peri pelindung palunya, bersiap mengayunkannya saat mencapai jarak yang tepat.


Evelyn melambungkan tubuhnya ke atas, bersiap menyerang dari atas.


Goliath itu mengayun-ayunkan tongkat pemukul batunya ke sana kemari tanpa kendali dengan membabi-buta.


"Mereka tidak punya penyerang!" Nyx Cornus berkata cemas sambil mendongak mengawasi anak-anak aset mereka yang beterbangan setinggi bahu raksasa itu.


Evelyn melontarkan peri pelindungnya yang dalam sekejap sudah berhasil menyergap tongkat pemukul batu itu dan merenggutnya dari genggaman goliath.


Goliath itu meraung seraya mendongakkan kepalanya dan memukul-mukul dadanya sendiri dengan kedua tinjunya.


Bersamaan dengan itu, Cleon menghentakkan sebelah kakinya dan melambungkan tubuhnya seraya mengayunkan palu cahayanya ke arah lutut raksasa itu.


BUUUUMMM!


Benturan palu itu menyebabkan ledakan cahaya dan semburan debu bercampur serpihan kerikil.


Goliath itu menggeram seraya mengayunkan telapak tangannya ke arah Cleon dan menangkap pinggangnya.


Nyx Cornus tersentak dan nyaris melompat ke arah goliath itu, tapi dengan cepat Xenephon merenggut pinggangnya dan menahannya.


Bertepatan dengan itu, Evelyn mendarat di permukaan tanah, tepat di depan goliath itu sambil melontarkan peri pelindungnya yang dalam sekejap sudah melilit kedua kaki raksasa itu.


Dari kedua sisi bahu goliath itu, Xena dan Electra menukik bersamaan seraya melontarkan energi cahaya berbentuk kubah.


Dan…


GLAAAAAARRR!


Sedetik kemudian ledakan cahaya kembali membuncah.


Tubuh goliath itu terdengar berkeretak kemudian ambruk meninggalkan suara berdebam nyaring dan menggelegar.


Cleon terpelanting dari genggaman raksasa itu dan terjerembab di depan guardian mereka. Ia menarik bangkit tubuhnya sambil terbatuk-batuk. Arsen Heart dan Salazar Lotz segera menyergap bahunya dan menahannya.


"Perkembangan goliath sama dengan gargoyle," kata Evelyn dari tengah kepulan asap. "Tingginya sekitar tiga meter. Masa kultivasinya mendekati tiga puluh ribu tahun."


"Ada bagusnya membawa anak aset ahli teori," seloroh Lady Die bernada sinis. "Sekarang aku merasa seperti sedang study tour!"


Evelyn keluar dari kepulan asap sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan wajahnya.


Xena dan Electra menyusul di belakangnya tak lama kemudian.


"Cleon! Kemari!" instruksi Arsen Heart sambil bergegas ke arah raksasa yang sudah tergeletak tanpa daya di kaki gunung.


Cleon mengikuti guardiannya dan mengangguk pada ketiga temannya.


Ketiga gadis itu tersenyum seraya balas mengangguk menyemangatinya.


"Berhenti!"


Arsen Heart dan Cleon serentak menoleh dan mengerutkan dahi.


Para guardian dan anak aset lainnya terperangah bersamaan.


Seorang pria paruh baya muncul dari sisi lain gunung bersama seorang pemuda seusia Cleon. Keduanya mengenakan jubah selutut dari kulit harimau di atas sepatu selutut berbahan sama, begitu juga dengan ikat pinggangnya.


Siapa mereka? Semua orang bertanya-tanya dalam hatinya.


Seolah bisa membaca pikiran mereka, pria paruh baya itu kemudian berkata, "Aku Badros Damon!" ia memperkenalkan dirinya seraya berjalan mendekat, tanah di bawah kakinya berpendar-pendar memunculkan lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna ungu. Enam cakra spiritual meliputi pinggangnya, tiga berwarna kuning, tiga lagi berwarna ungu. Pada sebelah tangannya ia membawa sebatang tongkat emas yang biasa dimiliki para raja.


"Badros Damon?" Arsen Heart menggumam pelan, lebih terdengar untuk dirinya sendiri. "Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."


"Kurasa dia Kaisar Spiritual level enam puluh," bisik Evelyn pada Xena dan Electra.


Cleon mendekat dan bergabung dengan ketiga gadis itu, menatap tamu asing mereka dengan dahi berkerut-kerut.


"Lady Die benar," seloroh Xena sambil mengerling ke arah Evelyn. "Pengetahuanmu lumayan luas!"


"Apa perlu kuingatkan kalau guardianku seorang ahli teori?" sergah Evelyn bernada jengkel.


Cleon dan Electra mendesis menahan tawa.


"Aku kan, hanya mencoba bicara. Kenapa kau begitu galak hari ini?" erang Xena bernada merajuk.


Pemuda di sisi pria paruh baya itu mengerling ke arah mereka dengan tatapan sinis.


"Dibandingkan dengan lima cakra milik Master Claus, ada perbedaan dalam kekuatan mereka," lanjut Evelyn, mencoba mengabaikan nada merajuk Xena. "Lihat itu!" bisiknya sambil mengerling ke arah cakra milik pria asing itu. "Cakranya berputar, tapi di tubuhnya tidak terjadi perubahan sama sekali. Kemungkinan peri pelindungnya adalah tongkat di tangannya."


"Ada apa?" Xenephon mengambil alih interaksi.


Evelyn melirik Xenephon dengan mata terpicing. Sikap Master Claus terhadap orang ini…


"Dengan segala hormat, Master Spiritual Suci!" pria paruh baya itu tersenyum pada Xenephon, namun sorot matanya berkilat-kilat. "Tapi Anda tak bisa menyerahkan goliath ini padanya!" kata pria paruh baya itu sambil menunjuk pada Cleon.


Cleon mengetatkan rahangnya, wajahnya spontan menegang. Begitu juga dengan ketiga gadis di kiri-kanannya.


"Why?" tanya Xenephon setengah terkekeh. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Merasa sedikit jengkel.


"Kami telah lebih dulu menemukan goliath ini!" sergah pria paruh baya itu. Raut wajahnya berubah dengan cepat.


"Apa katanya?" Evelyn tak bisa menahan dirinya. "Mereka yang lebih dulu?"


"Eve…" Xenephon menegur gadis itu dengan suara lembut dan tersenyum manis.


Evelyn memalingkan wajahnya sambil cemberut.


"Bagaimana kalian membuktikannya? Sewaktu kami menemukannya, kami tidak melihat kalian!" Sekarang giliran Nyx Cornus yang tidak bisa menahan diri.


Xenephon mendesah pendek dan memutar-mutar bola matanya dengan tampang lelah. Kenapa tabiat mereka mirip sekali? batinnya tak habis pikir. Di satu waktu mereka begitu lembut, tapi di waktu yang lain mereka begitu sadis.


"Tenanglah, Gadis Kecil!" sanggah pria tua itu.


"Aku bukan gadis kecil!" teriak Nyx Cornus tidak terima.


"Nyx…" Xenephon menegurnya, jauh lebih lembut dibanding saat ia menegur Evelyn. Senyumnya juga jauh lebih manis.


Dan Nyx Cornus menanggapinya jauh lebih ketus dari Evelyn.


Senyum Xenephon melebar sementara giginya bergemeretak.


"Periksa saja perut goliath itu!" kata Bedros Damon. "Di sana ada tiga lebam bekas serangan dari tongkatku!"


Arsen Heart mengerjap dan bertukar pandang dengan rekan-rekannya. Lalu mendekat ke arah goliath itu, membungkuk di atas perutnya untuk memeriksanya.


Dan ternyata benar!


Ada tiga lebam di perut goliath itu yang membuktikan bahwa Bedros Damon tidak berdusta.