Poison Eve

Poison Eve
Chapter-103



"Jadi…" Sloan Jace melipat kedua tangannya di depan dada, kemudian mengamati Evelyn dan teman-temannya dengan mata terpicing. "Kalian perawat atau pelaut?" godanya sambil tersenyum miring.


Evelyn dan teman-temannya tidak menjawab, hanya menatap pemuda itu dengan ekspresi dingin menantang.


"Sejujurnya kami tak butuh kedua-duanya untuk sampai di Balai Cahaya!" Sloan menambahkan seraya menurunkan kembali kedua tangannya, lalu memasang ekspresi dingin.


"Kenapa hanya tim mereka yang ditampilkan di layar?" gerutu Lady Die di tempat guardian.


"Begini juga bagus!" sergah Arsen Heart. "Untuk menyembunyikan kemampuan asli tim kita."


Lady Die langsung menggeram dengan wajah cemberut.


"Turnamen Elit Master Spiritual babak klasifikasi, ronde pertama," pemandu acara menginstruksikan, "Tim Dua Akademi Kaisar dan Tim Akademi Militer Dewa Mimpi, mohon untuk saling memberi hormat!"


Sloan Jace tersenyum miring sekali lagi, kemudian bersiap memasang kuda-kuda, diikuti kedua rekannya. Lalu ketiganya mengeluarkan cakra spiritualnya secara serentak.


Tepuk tangan kembali menggelegar.


Masing-masing mereka memiliki empat cakra spiritual.


Evelyn berdiri di depan yang lainnya dengan pose favoritnya.


Mo Rhino dan Voz Panther merasa sedikit familier.


Detik berikutnya, Evelyn dan teman-temannya juga mengeluarkan cakra spiritual mereka. Masing-masing mereka juga memiliki empat cakra spiritual.


Dan setengah dari penghuni kursi kehormatan di lantai dua memekik dan terperangah.


"Cakra Angelos!" pekik semua orang.


Cakra Angelos adalah cakra keempat Evelyn yang berwarna emas. Tak ada Master Spiritual yang memiliki cakra semacam itu kecuali Nazareth.


Cakra ketiga Evelyn berwarna biru. Itu juga tidak dimiliki banyak Master Spiritual kecuali Nazareth dan Mikhail Claus. Ditambah cakra kedua berwarna merah darah bercorak astrologi, itu juga hanya dimiliki oleh Xenephon. Dan cakra pertama berwarna kuning, jelas hanya dimiliki oleh dirinya sendiri.


"Gadis ini…" Helios bergumam di bangku pejabat kelas dua di belakang deretan bangku kaisar.


"Evelyn Katz—Si Rumput Liar!" pekik para penggali bakat di deretan bangku kelas tiga di belakang Helios.


"Itukah sebabnya kau mendukung akademi ini?" Kaisar bertanya pada Orion.


Tapi Orion Jace bahkan belum berkedip sejak kemunculan cakra Evelyn. "Tidak, Yang Mulia! Aku sama sekali tak tahu soal ini," jawabnya cepat-cepat. "Tapi putra bungsuku sekolah di akademi ini."


Kaisar mengerjap dan mengedar pandang ke tempat para guardian.


Nazareth membeku di seberang balkon sambil memeluk bonekanya, wajahnya tertunduk menatap arena dengan ekspresi dingin, tak mau repot-repot melirik ayahnya.


Kaisar berdeham dan mencoba memasang kembali wajah palsunya yang arogan ketika tersadar hingga timbul kegelisahan bahwa beberapa bangsawan sedang mengawasinya.


Sebagian besar dari bangsawan yang berderet di belakang lima bangku kehormatan utama, mengerling ke seberang balkon untuk mencari tahu arah pandang kaisar, lalu bertukar pandang satu sama lain ketika menyadari Nazareth berada di sana.


"Pertandingan dihitung mundur!" pemandu acara menginstruksikan. "Tiga!"


"Dua!" para hadirin ikut menghitung.


"Mulai!"


"Serang!" instruksi Evelyn pada kedua temannya. Dan seketika kedua gadis itu melesat ke arah Mo Rhino dan Voz Panther.


GRAAAAAKKK!


Sepasang sayap menyeruak keluar dari punggung Xena diikuti lengkingan suara elang.


Bersamaan dengan itu, Electra melejit dengan gerakan terbang melengkung di sisi lain menunggangi seekor cheetah.


Seisi aula terperangah.


Voz Panther melesat ke arah Electra dalam bentuk Black Panther, sementara Sloan Jace menerjang ke arah Xena seraya mengayunkan ilusi palu menyala-nyala yang seketika muncul seiring dia bergerak.


SLASH!


Di luar dugaan kedua pemuda itu, Xena dan Electra melakukan teleportasi dan berpindah tempat ke belakang mereka, kemudian menyerbu Mo Rhino dari dua arah yang berlawanan.


Bersamaan dengan itu, Evelyn melontarkan peri pelindungnya dari kedua telapak tangannya ke arah Sloan dan Voz Panther.


GREPPP!


Sloan terbelalak dan membeku di udara dalam cengkeraman sulur tanaman.


"D a m n !" rutuk Voz Panther. Seharusnya aku sudah bisa menebak gadis itu Si Rumput Liar! pikirnya.


Para hadirin membeku dengan mata dan mulut membulat.


Sloan meregangkan kedua tangannya, bersiap memecah sulur tanaman yang melilitnya.


"No!" teriak Voz Panther memperingatkan.


Tapi terlambat!


Dan seketika itu juga sulur tanaman itu mengeras seperti batu.


"Sudah kubilang jangan lakukan!" gerutu Voz Panther. "Aku pernah melawan gadis ini di Arena Debut. Dan aku kalah karena bertindak gegabah seperti dirimu."


"Ini mustahil!" gumam para hadirin. "Pertarungan bahkan belum semenit."


"Aka—Akademi…" wasit mengumumkan dengan terbata-bata, tidak percaya dengan hasilnya. "Akademi Militer Dewa Mimpi… memenangkan pertandingan!"


Hening.


Bahkan para guardian mereka belum percaya.


Tiba-tiba saja Kaisar berdiri dan bertepuk tangan, diikuti sang Duke.


Aula akhirnya meledak oleh tepuk tangan dan sorakan meriah.


Para pejabat di deretan bangku kaisar mau tak mau ikut beranjak berdiri dan bertepuk tangan dengan basa-basi.


Nazareth melirik sekilas pada ayahnya tanpa minat.


Agathias Katz mengerling sekilas ke arah Evelyn dan menelan ludah. Entah kenapa tatapannya terlihat cemas dan bukan bangga.


Apa yang salah Lord Katz yang terhormat?


Evelyn dan teman-temannya melepaskan musuh mereka dan kembali berhimpun.


Sloan dan Voz Panther menghampiri Mo Rhino yang tergeletak di lantai dengan posisi telungkup, lalu membantu pemuda tambun itu beranjak bangun.


"Tim Dua Akademi Kaisar," gumam sejumlah pejabat dengan raut wajah muram. "Kalah dalam hitungan detik…"


Lady Die bersorak dan melompat seraya mengacungkan tinjunya di atas kepala.


Cleon dan Altair berlanting dan berpelukan, lalu mengacung-acungkan tinju mereka ke arah Evelyn.


Evelyn, Xena dan Electra mendongak ke arah para guardian mereka dan mengangguk. Lalu bergegas keluar arena.


Sloan dan teman-temannya memandangi punggung ketiga gadis itu dengan kedua bahu menggantung lemas.


Cleon menatap kakaknya dengan tatapan puas seraya tersenyum miring.


Ayah mereka menatap keduanya dengan ekspresi muram, lalu menggeleng-geleng dan kembali ke tempat duduknya.


Begitu keluar dari arena, Cleon dan Altair menyerbu ke arah Evelyn dan teman-temannya.


Migi Vox tiba-tiba melesat mendahului mereka dan menghambur ke dalam pelukan Evelyn.


Cleon mengepalkan tangannya dan menggeram dalam hati. Earth Thunder… pikirnya geram. Kau sungguh kekanak-kanakan!


"Kau memang ksatria pengendali sejati!" puji Altair pada Evelyn.


Evelyn tersenyum dan ber-high five dengan teman-temannya. Migi Vox menggelayut di lehernya dengan posesif.


"Dan kau ksatria pengamat yang sangat hebat!" puji Altair pada Xena.


"Tidak perlu memujiku!" sergah Electra ketika Altair baru menoleh padanya dan membuka mulut.


"Kau—" Altair tergagap kehilangan kata-katanya.


Lalu ketiga gadis itu menyeruak melewatinya, bergegas ke arah guardian mereka.


Cleon terkekeh sambil menepuk sekilas bahu Altair, kemudian berbalik dan mengekor di belakang teman-teman perempuannya.


Altair mendesah dan bergegas menyusul mereka.


Lady Die dan Nyx Cornus menghambur ke arah anak-anak asetnya dan memeluknya.


Evelyn mengerjap dan tertunduk. Guardianku tak mungkin melakukannya, kan? katanya dalam hati. Tapi begitu ia mengangkat wajah, sepasang tangan tahu-tahu sudah melingkar di punggungnya.


"Selamat, Sayang!" bisik Nazareth, entah tulus entah modus untuk mematahkan hati Cleon Jace. "Kau selalu menjadi kebanggaanku!"


Cleon benar!


Pria itu memang sungguh kekanak-kanakan akhir-akhir ini.


Sesaat yang lalu dia marah-marah tak jelas, sesaat berikutnya dia sok manis.


Bucin gila tak masuk akal!


Evelyn membeku dalam rengkuhan pria itu dengan mata dan mulut membulat. Migi Vox terhimpit di tengah-tengah mereka dengan mata melotot.


Nyx Cornus melirik Nazareth dengan tatapan geli.


Lady Die memutar-mutar bola matanya dengan tampang muak.


Arsen Heart bertukar pandang dengan Salazar.


Sebenarnya dia kenapa? batin Evelyn tak habis pikir.