
"Eve!" Keempat teman Evelyn serentak menghambur menyongsong gadis itu dan menangkap tubuhnya.
Nazareth tersentak dan kembali menegang. Keempat guardian di belakangnya serentak memucat.
Kaisar mengerling sekilas ke arah Neiro.
Baron itu langsung tertunduk.
"Kita tak punya tipe pemulihan!" ratap Nyx Cornus hampir menangis.
Electra dan Xena menggotong Evelyn ke tempat aman.
Cleon memungut tulang cakra yang tersisa dari peri vampir yang mati, kemudian mengamankannya ke dalam permata penyimpanan di ikat pinggangnya.
Altair mengumpulkan ranting-ranting kering untuk membuat perapian.
Bersamaan dengan itu, lima orang remaja tiba-tiba melesat ke arah mereka dari ketinggian entah dari mana, kemudian mendarat di dekat Xena dan Electra dengan suara berdenting.
Xena dan Electra serentak tercengang. Cleon dan Altair tersentak dan menoleh ke arah mereka.
Ternyata Tim Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon!
Alice mengangguk sekilas pada Cleon dan Altair, lalu tertunduk memandangi Evelyn. "Apa dia terluka?"
"Kami juga belum tahu," sahut Electra. Kami baru akan memeriksanya."
"Biar kulihat!" salah satu teman Alice menghampiri mereka. "Aku Anastasia Gelsi, tipe pemulihan!" ia memperkenalkan dirinya.
Anastasia Gelsi tampaknya salah satu anggota yang disembunyikan seperti Cleon. Ia tidak mengikuti babak penyisihan.
"Ah—baguslah!" Xena menggumam dengan raut wajah lega. "Aku Xena Moz!"
"Aku Electra Dan!" Electra menimpali. "Kami terpisah untuk waktu yang lama. Saat dia kembali, dia tiba-tiba terpuruk dan tidak sadarkan diri," tuturnya menjelaskan.
"Tapi…" Alice Morgan menyela. "Kalian masih ingat peraturannya, kan? Menerima bantuan dari tim lain, bisa mengorbankan seribu poin. Apa kalian tak keberatan?"
"Apalah artinya seribu poin jika nyawa kami terancam?" tukas Cleon. Ia menghampiri kelompok itu dan membungkuk dengan hormat tentara. "Mohon bantuannya!"
"Kalau begitu, kami tak akan segan!" Alice Morgan dan teman-temannya balas membungkuk.
Anastasia Gelsi melangkah keluar dari kerumunan, lalu duduk bersila di dekat Evelyn, menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya yang berbentuk kecapi. Kemudian mulai memainkannya.
Seluruh tempat di sekeliling mereka tiba-tiba menyala berkelap-kelip, serbuk cahaya berwarna-warni seperti serbuk sari bunga peri dan jejak kupu-kupu monarch bertebaran seperti salju.
Energi cahaya berbentuk titinada menjalar keluar dari peri pelindung kecapi itu ke arah Evelyn dan melilit di ujung kakinya, kemudian merayap naik ke lututnya, ke pinggangnya, dan akhirnya menebar keseluruh tubuh.
Alunan musik yang diciptakannya membuat semua orang merasa relaks.
Beberapa saat kemudian, bilah poin tim Akademi Sihir Dewa Musik bertambah seribu poin bonus. Namun bersamaan dengan itu, poin tim Morfeus Academy berkurang seribu.
Sayang sekali!
Xenephon mengerling ke arah Nazareth dengan tatapan menyesal.
Menolong tim lain sama saja dengan merampas poin mereka.
Itu adalah peraturannya.
Nazareth mengangguk samar pada Xenephon mengisyaratkan bahwa ia sama sekali tak keberatan. Pria cantik itu membalasnya dengan anggukan samar yang sama.
Hanya berkurang seribu poin, pikir Nazareth. Tim Morfeus Academy tetap unggul meski sembilan ratus empat puluh ribu poin mereka dianggap tidak sah. Anggap saja bonus poin dari tulang cakra itu tak pernah ada!
Malam beranjak semakin larut. Para panitia penyelenggara membagikan Manna pemulih stamina pada semua hadirin di Balai Mulia.
Semua orang akan bergadang. Manna pemulih stamina itu diperlukan untuk menjaga stamina para pejabat kehormatan selama semalam suntuk.
Tim Satu Akademi Kekaisaran juga memutuskan untuk bertahan.
Sejumlah Master Spiritual tipe pemulihan terbaik Balai Mulia pun dikerahkan untuk membuat manna tambahan.
Balai Mulia Shangri-La juga melakukannya.
Sambil menunggu pergerakan selanjutnya, semua orang di Balai Mulia di kedua negara bermeditasi untuk menyerap manna pemulih stamina itu secara bergiliran.
Yang sudah selesai kembali memantau kegiatan para peserta melalui cermin sihir di Balai Mulia masing-masing.
Menjelang pagi, Evelyn akhirnya sadarkan diri, ia mengerjap dan membuka mata, kemudian mengedar pandang.
"Eve!" Xena dan Electra menghambur ke arah Evelyn dan berebut untuk meraup tubuhnya ke dalam pelukan mereka ketika Evelyn menarik duduk tubuhnya. "Kau sudah siuman!" seru mereka bersamaan sambil memeluk Evelyn juga bersamaan, tak bisa menutupi perasaan gembira.
Evelyn menatap kedua temannya, kemudian menoleh ke arah lain.
Cleon dan Altair terlelap dalam posisi duduk melorot di kaki tebing.
Xena dan Electra belum tidur sama sekali.
"Apa yang terjadi?" Evelyn masih terlihat bingung.
"Kau baru saja kembali entah dari mana," cerita Xena dengan raut wajah sedih seorang anak kecil. "Lalu kau tiba-tiba ambruk!"
"Aku ingat sekarang!" Evelyn terpekik pelan. "Penyihir Hati Iblis…"
"Apa?" Xena dan Electra memekik bersamaan.
Cleon mengerjap dan tersentak. Lalu menoleh ke arah mereka dan terkesiap. "Eve!" serunya gembira, lalu beranjak dan menghambur ke arah teman-temannya. Kegaduhan yang dibuatnya mengusik Altair.
Pemuda itu juga tersentak dan menghambur ke arah mereka.
"Apa dia yang melukaimu?" Electra bertanya tak sabar.
"Siapa yang melukainya?" sela Altair.
"Penyihir Hati Iblis!" jawab Xena.
"Apa? Mereka lagi?" Cleon spontan menggeram.
"Tidak, tidak!" sergah Evelyn cepat-cepat. "Dia tidak melukaiku. Dan aku tak tahu apa sebabnya!"
"Itu tidak terdengar seperti Penyihir Hati Iblis," gumam Xena dengan dahi berkerut-kerut.
"Lalu kenapa kau ambruk?" tanya Cleon.
"Seorang peri vampir ratusan ribu tahun menyerangku setelah penyihir itu pergi," cerita Evelyn.
"Di mana dia sekarang?" tanya Altair sambil mengedar pandang dengan waspada.
"Aku sudah membunuhnya," jawab Evelyn sambil memijat-mijat tengkuknya.
"Apa?" Keempat temannya memekik bersamaan.
"Ssssttt!" Evelyn menempelkan telunjuk di bibirnya. "Jangan sampai membangunkan mereka!" ia memperingatkan sambil mengerling ke arah tim Akademi Sihir Dewa Musik.
"Benar," timpal Electra. "Salah satu dari mereka sudah menyelamatkanmu!"
"Benarkah?" Evelyn membelalakkan matanya.
"Mereka punya tipe pemulihan," Xena menambahkan. "Salah satu dari yang tidak diturunkan saat babak penyisihan."
"Kalau begitu, kita berhutang budi pada mereka," gumam Evelyn.
"Tidak juga," tukas Xena sambil mengerucutkan bibirnya. "Kita baru saja kehilangan seribu poin dan merelakannya untuk mereka."
"Secara personal, aku tetap berhutang budi!" sergah Evelyn.
"Omong-omong…" Altair menyela. "Waktu sudah hampir pagi," katanya mengingatkan. "Kita harus kembali ke gerbang perbatasan kota."
"Beri aku waktu sebentar untuk bermeditasi!" pinta Evelyn.
"Sure!" teman-temannya menyahut serempak.
"Kalian juga!" Altair berkata pada Xena dan Electra. "Tidurlah barang sebentar! Kami akan menjaga kalian."
Sementara Evelyn mulai bermeditasi, Xena dan Electra mencoba untuk tidur.
Tim Akademi Sihir Dewa Musik mulai bangun satu per satu.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Anastasia Gelsi sambil menggeliat.
"Sudah membaik!" jawab Cleon sambil mengerling ke arah Evelyn. "Terima kasih atas bantuan kalian."
"Tak perlu sungkan!" tukas Alice sambil menguap. "Kalau dipikir-pikir, kami juga mendapatkan keuntungan seribu poin dari kalian!"
"Tidak seberapa dibanding keselamatan Evelyn!" sergah Cleon. Altair mengangguk mendukung argumentasinya.
"Kalau begitu…" Alice menarik bangkit tubuhnya dan menepuk-nepuk celana armornya untuk menepiskan debu diikuti yang lainnya. "Kami harus pamit!"
"Kami akan segera menyusul!" balas Altair sambil membungkuk dalam hormat tentara.
Keempat gadis dari tim Akademi Sihir Dewa Musik itu membalasnya dengan hormat tentara yang sama.
Beberapa saat kemudian, kelima gadis penyihir itu sudah menghilang dengan meninggalkan dentingan nyaring bernada minor.