
Aroma obat-obatan menyengat penciuman Evelyn dan menariknya ke dalam kesadaran.
Perlahan ia membuka matanya dan mengedar pandang.
Uap tipis mengepul di sekelilingnya.
Dengan sedikit linglung ia tertunduk mengamati dirinya ketika berangsur-angsur tubuhnya merasakan hangat.
Separuh tubuhnya terendam dalam bak mandi hingga sebatas pinggang sementara kedua kakinya terjulur ke depan.
Evelyn menjerit seraya menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan merapatkan kedua kakinya.
Siapa yang menelanjangiku? batinnya terkejut. Bajingan yang mana yang melakukannya? pikirnya kalang-kabut.
Lalu menjadi tenang ketika menemukan sehelai jubah merah kirmizi tersampir di sandaran kursi kayu di sudut ruangan di depan meja bundar yang penuh oleh bermacam rempah dan kotak obat.
Ia tahu satu-satunya orang yang kerap mengenakan jubah panjang bertudung berwarna merah kirmizi itu adalah Nyx Cornus.
Ia menghela napas lega dan mengedar pandang sekali lagi.
Selembar kertas terselip di bawah salah satu kotak obat di meja.
Evelyn merenggut handuk yang tersampir di kursi lainnya, tak jauh dari bak mandinya, kemudian melangkah keluar dari bak mandi, mengambil kertas pesan itu dan membacanya:
"Kalau sudah siuman, temui aku di perpustakaan!"
Evelyn mengeringkan rambut dan tubuhnya, kemudian mengenakan pakaian dan jubah armornya cepat-cepat, memasang kedua sepatunya, lalu bergegas ke perpustakaan Nazareth.
Satu-satunya tempat yang dimaksud perpustakaan di estat Nazareth tentunya hanya ruang baca pribadi Nazareth.
Tapi untuk apa Nyx Cornus ingin aku menemuinya di sana? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya.
Dan ketika ia sampai di tempat itu, ia membeku dan terkesiap
Bukan Nyx Cornus! Evelyn menyadari.
Nazareth berdiri di depan rak dinding yang dipenuhi buku-buku tebal membelakangi pintu.
"Master…" desis Evelyn nyaris tak terdengar. "Kau sudah kembali?"
Migi Vox merayap naik di dada Nazareth dan melongok dari balik bahunya sebelum pria itu menoleh.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah dengan susah payah.
"Masuklah!" perintah Nazareth.
Evelyn melangkah masuk dengan berdebar-debar kemudian berhenti beberapa langkah di belakang pria itu. "Kapan Anda kembali?" ia bertanya kikuk.
Nazareth tidak menjawab, hanya memutar tubuhnya dan menatap Evelyn dengan alis bertautan.
Evelyn langsung tertunduk. "Saya tidak tahu Anda sudah kembali…" katanya dengan suara tercekat.
Nazareth melangkah pelan mendekatinya.
Evelyn semakin tertunduk. "Saya… saya tidak tahu apa yang terjadi, saya tak ingat apa-apa…"
Nazareth semakin mendekat.
"Saya…"
"Kau terlalu banyak bicara!" potong Nazareth seraya menyambar pinggang Evelyn dan merengkuhnya, lalu membungkuk dan membenamkan mulutnya di mulut Evelyn.
Evelyn tergagap dan terbelalak. Tak siap dengan serangan mendadak itu.
Bersamaan dengan itu, Xenephon baru saja mendarat di teras kamar Nazareth, hendak melangkah ke dalam kamar itu.
Nazareth melirik ke arah pintu melalui sudut matanya tanpa melepaskan pagutannya di mulut Evelyn, kemudian menjentikkan jarinya secara diam-diam dan seketika pintu geser kamarnya terhempas menutup.
Xenephon tersentak dan terperangah. Tapi lalu mengetatkan rahangnya dan menggerutu. "Bajingan arogan tak bermoral," rutuknya sambil berbalik dan berjalan menuruni tangga dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya.
"Hei! Apa para Miss Terapis itu tidak sekalian menangani sarafmu?" suara lembut seseorang di ujung koridor membuat Xenephon berhenti di anak tangga ketiga dan menoleh ke arah sumber suara.
Nyx Cornus menghampirinya dengan langkah-langkah ringan yang tidak menimbulkan suara meski sepatu armornya sama beratnya dengan sepatu penjaga gerbang.
Gadis guardian itu melompati pagar balkon dan mendarat ringan di pekarangan, tak jauh dari tempat Xenephon berdiri.
Lalu keduanya berjalan bersisian menuju tangga di seberang pekarangan yang mengarah ke halaman belakang akademi di kaki bukit.
Sementara itu, di dalam perpustakaan, Nazareth masih melampiaskan kerinduannya pada Evelyn tanpa memberi kesempatan untuk gadis itu sekadar menghela napas. Membuat Evelyn terhuyung dimabuk kenikmatan.
Pria itu menciumnya. Keras, panas dan lapar.
"Master," bisik Evelyn terengah-engah ketika mulut Nazareth menjelajahi lehernya.
Pria itu tiba-tiba menghentikan ciumannya.
Evelyn menatapnya. Ia tahu pria itu bisa melihat gairah dalam matanya.
"Jangan pernah memanggilku Master saat aku sedang menggila," Nazareth berbisik parau. Tercekat oleh gairahnya yang meluap-luap.
Evelyn bisa merasakan getaran gairahnya ketika Nazareth membenamkan mulutnya lagi di lehernya. Sebelah tangannya mengelus punggung Evelyn, sementara tangan lainnya merayap ke tengkuk gadis itu.
Migi Vox melipat kedua tangannya di depan dada dengan tampang bosan seraya duduk bersila di tudung jubah Nazareth yang menggelantung di tengkuknya.
"Kau sungguh memberiku kejutan," bisik Nazareth tanpa menarik mulutnya menjauh dari leher Evelyn. "Hanya beberapa hari, kau sudah menembus tingkat ketujuh dari Sepuluh Kekuatan Inti Peri Pelindung."
"Itu karena kau yang mengajariku," jawab Evelyn balas berbisik. Tergetar oleh gairah.
"Oh, ya!" Nazareth menggeram—akhirnya melepaskan ciuman mautnya. Lalu menatap Evelyn dengan alis bertautan. "Apa aku juga mengajarimu cara mendapatkan peri pelindung parasit?"
Evelyn mengulum senyumnya dan menjawab tersipu, "Tidak!"
"Lalu kenapa kau masih berani ambil risiko?" Nazareth mengetatkan rahangnya dan mencubit dagu Evelyn.
"Maaf," kata Evelyn semakin tersipu.
"Apa kau tahu bahayanya menyerap cakra dari peri pelindung parasit yang tidak diketahui umurnya? Kalau kau kenapa-napa, bagaimana aku menjelaskannya pada ibumu?"
Evelyn mengatupkan mulutnya seraya mengerjap dengan tatapan memelas.
"Dengar, Eve!" kata Nazareth dengan serius. "Tindakanmu ini… sangat berisiko. Tapi hasilnya sangat luar biasa. Cakra Xenephon memberikan keuntungan yang mengejutkan bagi poison ivy-mu. Tak hanya memperkuat ketangguhan sulurnya, tapi juga memberikan efek korosif. Tapi kuperingatkan kau, kesalahan yang sama tak boleh terjadi dua kali!"
Evelyn mengerjap lagi. Menatap ke dalam mata Nazareth. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Banyak hal tak bisa dihadapi dengan gegabah," Nazareth memelankan suaranya. "Hanya dengan melindungi diri sendiri, kau baru bisa melindungi orang lain!"
Evelyn memandang sendu ke dalam mata Nazareth. Tak tahu apa yang harus dikatakan.
"Kau lebih mementingkan perasaanmu dibanding nyawamu," kata Nazareth seraya mengusap pipi Evelyn dengan buku jarinya. "Itu adalah salah satu kelemahan yang sangat buruk. Kelak, hal ini… bisa membawa masalah besar untukmu."
Evelyn mengerutkan keningnya, menautkan isyarat bertanya.
"Seseorang baru menyinggung kelemahanku dan kau sudah begitu kacau," gumam Nazareth. "Bagaimana kalau aku dalam bahaya?"
"Kau sudah tahu?" Evelyn menarik wajahnya sedikit kemudian mendongak menatap Nazareth dengan ekspresi terkejut.
"Kalau bukan karena wakil akademi menyinggung soal kelemahanku… kau tak mungkin begitu kacau dan sangat gegabah," tukas Nazareth.
Evelyn tergagap.
"Sebagai kekasihmu, aku merasa terharu," lanjut Nazareth. "Tapi sebagai guardianmu, aku merasa jengkel. Dan sebagai keduanya, aku sangat menyayangkannya. Kau adalah satu-satunya anak asetku, dan kau juga kekasihku sekarang. Tanpa seizinku, kau tak boleh mati. Jangan pernah menempatkan dirimu lagi dalam bahaya! Apa kau mengerti?"
"Aku mengerti," jawab Evelyn seraya tertunduk.
Nazareth mendesah berat dan menyusupkan wajah Evelyn di dadanya. "Aku bisa gila kalau kau kenapa-napa!" katanya lirih. "Dan aku sudah hampir gila!"
Evelyn melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nazareth, kemudian menyusupkan wajahnya semakin dalam.
"Hari ini kau beruntung, Eve!" kata Nazareth lagi. "Lain kali, aku tak bisa menjamin. Jangan lakukan hal gegabah lagi ke depannya! Kapan pun dan di mana pun, kau harus mengambil keputusan dengan tenang. Bahkan jika orang terpentingmu dalam bahaya."
"Aku sudah mengerti," ulang Evelyn meyakinkan Nazareth.
Nazareth mengecup puncak kepala Evelyn, kemudian mengetatkan rengkuhannya. Tak rela melepaskannya.
Migi Vox sudah menggoyang-goyangkan kakinya karena bosan.