
"Ada banyak peri vampir puluhan ribu tahun di kota berikutnya," jelas Evelyn pada teman-temannya. "Mungkin juga ratusan ribu tahun."
Teman-temannya menanggapi dengan antusias.
"Mereka semua sangat haus darah!" Evelyn menambahkan.
Keempat temannya melemas bersamaan.
"Kita harus menghindari golongan peri vampir yang menghormatiku," jelas Evelyn. "Pertama karena aku tak akan tega membunuh mereka, kedua karena bantuan dari mereka bisa saja jadi masalah bagi penilaian kita. Armor kita dilengkapi cermin sihir. Semua orang di Balai Mulia sedang mengawasi kita sekarang!"
"Aku mengerti," gumam teman-temannya dengan raut wajah murung.
"Xena, kau paling depan," instruksi Evelyn. "Ele, Altair—kalian berdua ikuti dia. Cleon, kau di depanku!"
"Hmh!" keempat temannya mengangguk bersamaan.
"Dengan formasi ini kita akan menyeberangi hutan dengan berlari," lanjut Evelyn. "Di ujung hutan adalah kota berikutnya. Usahakan kita sampai di sana sebelum malam. Kita akan bermalam di sana dengan mengandalkan cakra ketiga Xena."
"Aura peri vampir!" seru Xena sambil berlanting gembira seperti anak kecil. "Eve---kau memang genius!"
Teman-temannya mulai bersemangat.
"Jangan menjauh lebih dari sepuluh meter dari Xena!" Evelyn mengingatkan. "Ayo, sekarang kita berangkat!"
Teman-temannya mengangguk dengan antusias. Lalu mulai bergerak.
Xena melesat lebih dulu diikuti Electra dan Altair. Cleon dan Evelyn menyusul di belakang mereka.
"Akhirnya mereka mulai bertindak!" komentar seseorang di Balai Mulia Shangri-La.
"Sudah terlambat!" timpal yang lain. "Waktu sudah hampir malam dan tim lain sudah mendapat ribuan poin!"
"Melihat kota tujuan mereka, satu peri vampir berusia puluhan ribu tahun tidak mustahil untuk menyusul poin," komentar yang lainnya lagi.
"Mereka baru peringkat panglima, satu-satunya yang sudah mencapai level guardian hanya ketua tim mereka!" sanggah pria pertama.
Ketua tim peringkat atas mengerling ke arah mereka. Lalu kembali menatap layar tim Morfeus Academy.
Sesuatu yang sangat gelap, melesat dengan cepat ke arah Evelyn dan menyergap pinggang gadis itu.
"Lihat itu!" Catlyn Thunder memekik sambil menunjuk layar tim Morfeus Academy. Seisi aula di Balai Mulia Neraida serentak menoleh padanya dan mengikuti arah telunjuknya.
Semua orang di Balai Mulia Neraida menahan napas.
Layar kaca yang khusus menampilkan Evelyn berkeredap dan memburam. Detik berikutnya layar itu hanya menampilkan gambar kosong berwarna abu-abu.
"Apa yang terjadi?" pekik para hadirin.
Nazareth menegang bersama keempat guardian di belakangnya.
Cleon tersentak dan memutar tubuhnya ke belakang. "Eve!" pekiknya gusar.
"Ada apa?" teman-temannya balas memekik dan berhenti serentak, lalu berbalik dan menghambur ke arah Cleon.
"Dia menghilang!" desis Cleon dengan syok.
Xena melejit ke atas salah satu pohon dan mengaktifkan penglihatan supernya.
Teman-temannya serempak berhimpun saling membelakangi satu sama lain dan memasang kuda-kuda dengan sikap waspada.
Xena mendesah kasar dan menggeleng. "Aku tak bisa melihatnya," gumamnya dengan sedih.
Bersamaan dengan itu, sesuatu melesat ke arah mereka.
"Watch out!" teriak Xena memperingatkan teman-temannya.
GRAAAAAAK!
Sepasang sayap kelelawar raksasa berderak menghempaskan Xena dari dahan pohon.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA…!" jeritan Xena melengking dan memantul ke dinding-dinding tebing.
"Xena!" Altair melesat ke arah Xena.
SLASH!
Sayap gelap berukuran raksasa itu melecut ke arah Altair dan melontarkannya.
Electra mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindungnya sambil melolong.
Kelelawar raksasa itu berputar-putar dalam tarian tanpa irama, kemudian berubah menjadi seorang pria.
Xena dan Altair jatuh terjerembab beberapa meter dari tempat Cleon dan Electra. Mereka menghela bangkit tubuhnya dengan terhuyung-huyung. Lalu kembali memasang kuda-kuda.
Cleon dan Electra spontan berpegangan tangan dan seketika sosok ilusi werewolf raksasa muncul dari gabungan teknik ketiga energi cahaya mereka.
Peri vampir laki-laki itu menyeringai.
Xena dan Altair bertukar pandang, lalu saling mengangguk. Sejurus kemudian, keduanya sudah melesat ke arah peri vampir itu dan saling menangkap tangan satu sama lain.
GLAAAAARRRR!
Sosok ilusi gargoyle berwarna hitam tercipta dari gabungan teknik ketiga energi cahaya Xena dan Altair. Mungkin juga kelelawar raksasa. Bentuk gargoyle sebenarnya tidak ada bedanya dengan kelelawar, hanya saja warnanya putih dan kulitnya seperti badak. Ukurannya sebesar gajah.
Peri vampir itu kembali memutar dalam tarian tanpa irama yang dalam sekejap berubah menjadi pusaran angin berwarna hitam.
Sosok ilusi gargoyle berwarna gelap dan werewolf raksasa itu menerjang ke arah pusaran kabut gelap itu.
DUAAAAARRRR!
Ledakan cahaya bercampur kepulauan debu hitam membuncah disertai dentuman besar.
Layar tim Morfeus Academy berkeredap dan memburam, lalu berubah menjadi gambar kosong berwarna abu-abu.
Para guardian Morfeus Academy serentak menegang.
Nazareth mengerling ke arah layar yang khusus menampilkan Evelyn. Layarnya juga masih buram.
"Hilang sudah semuanya!" ratap Lady Die dalam bisikan lirih.
Salah satu layar tim tiba-tiba berkeredap dan menyala terang.
Semua mata beralih ke arah layar itu.
Tim Dua Akademi Kekaisaran baru saja berhasil mencapai sepuluh ribu poin.
Aula di Balai Mulia Neraida meledak oleh tepuk tangan spektakuler.
"Neraida pasti menang!"
"Neraida pasti menang!"
Para hadirin bersorak-sorai penuh semangat.
Kaisar mengerling ke arah Orion Jace.
Duke itu tersenyum samar sambil membungkuk. Lalu kembali menatap layar tim Morfeus Academy dengan ekspresi muram.
Layar tim Morfeus Academy masih memburam.
Dua layar tim Shangri-La berkilau serempak. Mereka berhasil menyusul poin tim Sloan Jace.
Aula di Balai Mulia Shangri-La meledak oleh euforia spektakuler.
Para hadirin di Balai Mulia Neraida melemas.
Nazareth dan keempat guardian di belakangnya membeku dengan cemas.
Layar khusus Evelyn akhirnya berpendar dan menyala lagi.
Nazareth mengerjap dan terkesiap.
Seorang pria berjubah gelap dengan tudung kepala merunduk di depan Evelyn. Sebelah lengannya melingkar di pinggang gadis itu. Tubuh keduanya melayang tinggi di atas hutan. Sepasang sayap gelap kelelawar raksasa mengepak di punggung pria itu.
Evelyn terhenyak dan terbelalak.
"Kefas Damon!" Nazareth menggeram sambil memukulkan kepalan tangannya ke pagar balkon. Tanpa sadar mengeluarkan kekuatannya. Seisi aula berguncang dan semua orang di dalamnya langsung membeku.
Siapa orang ini? pikir beberapa orang dengan ngeri.
Kaisar melirik putranya dengan raut wajah datar, tapi sorot matanya menyiratkan kegelisahan.
Catlyn Thunder menatap mereka dari seberang balkon lainnya.
Neiro dan Bedros bertukar pandang dengan ekspresi tegang.
"Bagaimana bisa Penyihir itu berada di sana?" hardik Nazareth dengan suara menggelegar, kemudian menoleh pada Bedros dengan tatapan berkilat-kilat. "Kau harus menjelaskan ini, Master Damon!" geramnya sambil menggertakkan gigi sehingga kata Damon terdengar seperti: D A M N.
Bedros Damon mengetatkan rahangnya. "Boleh percaya boleh tidak, tapi ini sama sekali bukan urusanku!" tukasnya dengan tajam, lalu melirik ke arah Neiro Sach dengan isyarat memohon.
Neiro Sach mengangkat sebelah tangannya untuk menyela, lalu menoleh pada Kaisar dan membungkuk, "Mohon izin untuk bicara, Yang Mulia!" pintanya dengan gaya menjilat.
Kaisar menaikkan dagunya sedikit, mengisyaratkan sang Baron untuk bicara.