
"Kau yakin dia Kefas Damon?" Lady Die menatap Nyx Cornus dengan alis bertautan.
Gadis guardian itu masih berbaring dalam bak mandi.
Lady Die masuk ke pondok pemandian setelah Evelyn keluar. Sekarang wanita itu duduk bersedekap di salah satu bangku di dekat meja racik obat, menemani Nyx Cornus sambil berbincang-bincang.
"Aku memang merasa auranya sangat berbeda dari biasanya, tapi aku yakin dia salah satu dari Penyihir Hati Iblis." tutur Nyx Cornus. "Hanya saja… terakhir kali Badros mengunjungi Altarus, dia kehilangan seperempat abad umurnya. Sejak saat itu dia tak pernah mau lagi menginjakkan kaki di Altarus. Jadi itu pasti Kefas."
"Terkadang situasi memaksa seseorang melupakan dendam masa lalunya," tukas Lady Die.
Nyx Cornus melirik Lady Die dengan mata terpicing, merasa familier dengan kalimat bijak yang diutarakan wanita itu. "Apa kau habis membaca karya Lord Vox?" tanyanya bernada mengejek.
Lady Die mengulum senyumnya. "Apa yang salah dengan itu?" tukasnya agak tersipu. "Dia ketua Ordo Angelos!"
Nyx Cornus mendesah sambil memutar-mutar bola matanya. Akhirnya… katanya dalam hati. Entah kenapa pengakuan Lady Die itu terdengar seperti pernyataan p e l a c u r yang bertobat. "Itu tetap saja terasa aneh," gumam Nyx Cornus, kembali ke topik pembicaraan.
Lady Die mengerutkan keningnya lagi. "Apanya yang aneh? Penyihir Kembar Hati Iblis itu jelas-jelas memiliki hati iblis. Tak heran kalau mereka menghalalkan segala cara!"
"Bukan itu maksudku," tukas Nyx Cornus. "Tapi jikapun benar Bedros berani kembali ke Altarus bukankah tujuan mereka sudah jelas? Mereka ingin menghabisi Evelyn dengan portal waktu. Lalu kenapa mereka melepaskannya?"
"Benar juga," Lady Die mengerutkan dahinya semakin dalam. "Itu terdengar seperti aksi penyelamatan bagiku!"
"Benar," timpal Nyx Cornus. "Apa itu tak aneh?"
"Tentu saja itu terlalu aneh untuk pemilik hati iblis!" sanggah Lady Die.
Kedua guardian itu bertukar tatapan tajam.
"Di mana Evelyn?" Suara pekikan di ambang pintu menyentakkan keduanya.
Xena dan Electra menatap bingung bak pemandian Evelyn yang sudah kosong.
"Dia sudah siuman," Nyx Cornus memberitahu.
"Kau juga?" Electra berlanting gembira melihat guardiannya sudah pulih.
"Aku tidak pingsan sewaktu masuk ke sini!" Nyx Cornus membeliak sebal.
"Lalu kenapa kau tidak keluar dari bathub sialan itu?" dengus Lady Die.
Beberapa saat kemudian, mereka semua sudah bergabung dengan Nazareth di ruang makan untuk membahas babak selanjutnya.
"Aku sungguh menyesal telah mengambil keputusan tanpa persetujuan kalian, mengaku kalah di ronde terakhir," ungkap Nazareth membuka percakapan. "Tapi kalian tetap lolos ke babak selanjutnya."
Seisi ruangan bertukar pandang dan saling mengangguk satu sama lain.
Cleon melirik Evelyn dengan raut wajah patah hati. Lalu memandang Nazareth dipenuhi rasa iri.
"Babak penentuan akan diselenggarakan di Perbatasan," tutur Nazareth mengulang informasi yang telah disampaikannya pada Evelyn. "Masing-masing negara akan mengirim empat tim dari lima besar. Tim peringkat atas babak penentuan tidak ikut di babak ini."
Sangat tampan dan penuh karisma, batin Cleon mengakui dengan berat hati. Migi Vox menyeringai padanya dari tengah meja.
"Akademi mana yang menjadi tim peringkat atas babak penentuan di Neraida?" tanya Evelyn.
Nazareth tersenyum muram, sedikit merasa bersalah atas keputusannya mengaku kalah di ronde terakhir babak penyisihan. "Tim Satu Akademi Kekaisaran," jawabnya.
Evelyn dan teman-temannya langsung terdiam.
Tim Satu Akademi Kekaisaran adalah tim Catlyn Thunder yang seharusnya menjadi lawan mereka di ronde terakhir babak penyisihan.
Sayang sekali mereka harus mengaku kalah!
"Di sini kalian tidak akan bertarung," Nazareth memberitahu.
"Apa?" Seisi ruangan terperangah bersamaan.
Migi Vox mendongak menatap Nazareth dengan ekspresi polos seorang balita.
"Kalian semua akan dilepas di Erebos tanpa dampingan para guardian," lanjut Nazareth.
Anak-anak aset lainnya membeku dengan raut wajah tegang.
Migi Vox menatap mereka satu per satu.
"Tugas kalian adalah menumpas vampir sebanyak-banyaknya dan mengumpulkan poin," Nazareth menambahkan.
"Membunuh peri monster?" Evelyn langsung melemas.
Nazareth mengerling padanya dengan prihatin. Ia tahu Evelyn tak ingin lagi membunuh peri monster. Bahkan yang lain.
Seisi ruangan terdiam dengan ekspresi muram.
Setelah kunjungan terakhir mereka ke Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran, mata hati mereka telah terbuka.
Manusia sangat serakah!
Dan sebagai Ketua Ordo Angelos, Nazareth adalah orang pertama yang memiliki kewajiban menjaga kelangsungan hidup semua makhluk. Namun entah itu membunuh peri atau manusia, semuanya tak terhindarkan.
"Untuk beberapa alasan, baik itu manusia maupun peri, terkadang harus dihukum," gumam Nazareth dengan ekspresi muram.
Seisi ruangan mengerjap dan menatap Nazareth lagi.
"Anggap saja ini sebagai penugasan ketertiban lingkungan," katanya pada Evelyn, kemudian mengedar pandang, menatap semua wajah dalam ruangan satu per satu. "Kalian tak harus membunuh peri vampir yang tidak bersalah."
"Tapi…" Xena menyela dengan gaya merajuknya yang kekanak-kanakan. "Bagaimana kami tahu mereka jahat atau tidak?"
"Erebos adalah pulau kecil yang sepenuhnya dihuni oleh klan vampir," jelas Nazareth. "Di sana juga ada kota besar, desa-desa dan kota kecil. Pilih jalur ke kota besar. Sama halnya seperti kota manusia, kota besar adalah yang paling banyak menjadi sarang penyamun. Hindari peri vampir level sepuluh meskipun mereka coba menyerang. Terkadang mereka menyerang karena ketakutan."
Peri vampir level sepuluh adalah peri vampir remaja dan anak-anak.
"Selain itu, poin dihitung berdasarkan usia kultivasi mereka." Nazareth menambahkan. "Yang kedua, yang harus kalian hindari adalah para wanita. Kecuali mereka menindas lebih dulu!"
"Ada cara untuk menentukan peri vampir mana yang perlu dibasmi," Salazar Lotz akhirnya membuka suara.
Seisi ruangan sekarang menoleh padanya.
Sebagai pemilik peri pelindung jenis unggas, ia tahu banyak mengenai peri monster sejenis. Peri vampir adalah salah satunya.
"Peri vampir petarung rata-rata memiliki cakra hati iblis," jelas Salazar. "Sama seperti cakra keempat Xena."
"Itu tetap terlalu sulit bagi kami," ratap Xena lagi.
"Kau tak bisa membedakan orang marah dari orang ramah?" Lady Die melotot pada anak asetnya.
"Kau dan Lady Corn sulit dibedakan," tukas Xena sambil tertunduk muram, mirip anak kecil yang ketakutan.
Seisi ruangan tergelak menanggapinya.
"Cleon mewarisi bakat Duke Orion," Salazar melanjutkan.
Seisi ruangan sekarang menoleh pada Cleon.
Migi Vox menjulurkan lidahnya.
"Sebagai sesama pemilik aura pembunuh, Cleon bisa melihat sampai batas mana musuh harus dihabisi!" jelas Salazar.
"Dan sebagai pemilik kemampuan super, seharusnya Xena bisa memindai aura itu!" Lady Die menimpali sambil mendelik pada anak asetnya.
"Aku belum mencapai tingkat surealis," tukas Xena beralasan.
"Masih sisa tujuh hari sebelum berangkat ke perbatasan!" sergah Lady Die bernada ketus. "Latihanmu akan ditambah," geramnya setengah mengancam.
"Hah?" Xena membelalakkan matanya dengan ngeri.
"Satu hal lagi!" Nazareth menginterupsi. "Waktu kalian di Erebos hanya dua puluh empat jam. Jika kalian dikirim pukul enam pagi, maka pukul enam pagi berikutnya kalian sudah harus berada di tempat kalian berangkat. Lebih dari itu, kalian akan dieliminasi."
Evelyn dan teman-temannya langsung melemas.