
"Dengar, semuanya!" Xenephon menginstruksikan. "Bagilah dua kelompok untuk menjaga Cleon dan Altair. Pencarian ditunda dulu. Aku dan Lord Vox akan mencari Evelyn."
Para guardian dan anak-anak aset mereka mengangguk. Lalu berpencar untuk mengambil tindakan.
Nyx Cornus, Electra dan Salazar Lotz memisahkan diri untuk kemudian bergegas ke tempat Nazareth, sementara yang lain tetap tinggal untuk menjaga Cleon.
Xenephon sudah melesat lebih dulu ke tempat Nazareth dan melapor, "Evelyn menghilang!"
"Apa kau bilang? Hilang? Bagaimana bisa?" Nazareth menanggapinya dengan rentetan pertanyaan yang tidak menunggu jawaban karena begitu ia selesai mengatakannya, pria berparas malaikat itu langsung melesat membawa bonekanya sembari berteriak nyalang dengan amarah iblis. "EVELYYYYYYN!"
Xenephon mendesah berat dan melirik sekilas pada Nyx Cornus, gadis guardian itu mengangguk sekilas, dan detik berikutnya Xenephon langsung melejit menyusul Nazareth.
"EEEEEVE!" Nazareth melolong dengan sedih seiring dia melompat-lompat dari satu pohon ke pohon lain, memantul-mantul di atas bebatuan, melejit dan melesat tanpa kendali. Migi Vox melesat di sisinya mengikuti arahnya yang kalang-kabut.
"Earth!" Xenephon akhirnya berhasil menyusul Nazareth dan menyergap bahu pria itu. "Kontrol, oke?"
Nazareth menggeram dan menyentakkan bahunya dari cengkeraman Xenephon, kemudian memutar tubuhnya menghadap Xenephon seraya menghujamkan tatapan tajam. "Kontrol?" desisnya bernada dingin dan tajam. Kemudian melontarkan energi cahaya berbentuk kubah berwarna biru ke arah Xenephon.
DUAAAAARRRR!
Ledakan cahaya bercampur gelegar halilintar menyemburkan energi besar-besaran, menggetarkan seluruh tempat, dan menghamburkan serpihan debu dan kerikil.
Xenephon terlempar jauh dan membentur dinding tebing batu curam, kemudian terpuruk sambil memuntahkan banyak darah.
"Kontrol itu!" geram Nazareth dengan mata berkilat-kilat. Kelopak matanya mengeluarkan lidah-lidah api, yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya dan menyelubungi dirinya sepenuhnya. Nazareth sekarang berkobar-kobar.
Xenephon menarik bangkit tubuhnya dengan terhuyung, mengernyit dan menekuk perutnya seraya mengusap sudut bibirnya yang berlumuran darah.
Nazareth memutar tubuhnya membelakangi Xenephon, kemudian melesat menjauh bersama Migi Vox yang juga berkobar-kobar diselubungi lidah-lidah api.
Xenephon menelan ludah dan terengah-engah, menatap punggung Nazareth dengan ngeri.
Detik berikutnya, Nyx Cornus melesat keluar dari balik tebing batu bersama Salazar Lotz, lalu mendarat di tempat Xenephon sementara mata mereka menatap punggung Nazareth tak kalah ngeri.
"Are you okay?" tanya Nyx Cornus seraya meraup wajah Xenephon dengan tatapan gusar. Khawatir setengah mati.
"Biarkan saja dia!" kata Salazar Lotz seraya menopang tubuh Xenephon. "Kita kembali saja," usulnya.
Nyx Cornus mengangguk dengan raut wajah sedih.
Xenephon mengerjap tak berdaya.
Sejurus kemudian, Nyx Cornus dan Salazar Lotz sudah melesat meninggalkan tempat itu sambil menopang tubuh Xenephon di kiri-kanannya.
Ketika mereka sampai di tempat Altair bermeditasi, Lady Die sudah berada di sana bersama Xena.
"Apa yang terjadi?" pekiknya seraya menatap Xenephon dengan cemas.
"It's ok," jawab Xenephon dalam bisikan lirih, sementara Nyx Cornus dan Salazar Lotz membantu menyandarkan punggungnya ke batang pohon dengan mulut terkatup.
Xena dan Electra memperhatikan Xenephon dengan syok.
"Nyx! Sebenarnya apa yang terjadi?" Lady Die berpaling pada Nyx Cornus dengan ekspresi gusar.
"Just…" Nyx Cornus menelan ludah dan tersenyum pahit. "Lord Vox," jawabnya dengan suara tercekat.
"Lord Vox?" Lady Die ikut menelan ludah, kemudian melirik Salazar dengan tatapan nanar.
Xena dan Electra spontan memucat.
"Aku akan mencari jamur pemulih," kata Salazar.
Nyx Cornus dan Lady Die mengangguk bersamaan. Wajah keduanya masih tampak syok. Tatapan mereka sekarang terpaku pada Xenephon.
Xenephon memejamkan matanya sementara wajahnya semakin pucat.
"Katakan siapa Lord Vox sebenarnya?" bisik Lady Die dengan ekspresi muram.
Nyx Cornus tetap tertunduk, menatap wajah kekasihnya dengan raut wajah sedih. "Dia bisa menjadi siapa saja di Neraida," desisnya lirih. "Terutama di dunia master spiritual!"
Lady Die menelan ludah dan kembali tertunduk.
Xena dan Electra bertukar pandang dengan ekspresi tegang.
Nyx Cornus tersenyum masam. "Dia tidak peduli dengan hal itu," katanya masih dalam bisikan lirih. "Tapi jika kau menempatkan Evelyn dalam bahaya…" ia menggantung kalimatnya dan menelan ludah, kemudian menatap sedih wajah kekasihnya. "Nasibmu mungkin seperti dia," lanjutnya dengan suara bergetar. Lalu meledak menangis sambil menyusupkan wajahnya di dada Xenephon.
Lady Die membeku dengan wajah pucat.
"Masih lebih baik jika menyerang Migi Vox daripada menyinggung Evelyn," Nyx Cornus menambahkan di antara isak-tangisnya.
Lady Die tertunduk semakin dalam.
Xena dan Electra berpegangan tangan dan saling mencengkeram tangan satu sama lain.
Lady Die menjatuhkan dirinya di sisi Nyx Cornus, kemudian duduk bersandar pada pohon yang sama di sisi lain. "Perasaan seperti itu bisa menjadi kekuatan yang mengerikan sekaligus kelemahan yang sangat fatal," gumam Lady Die.
Nyx Cornus mendesah berat dan mengusap air matanya, lalu memutar dan menjatuhkan dirinya di antara Xenephon dan Lady Die, duduk terpuruk menyandarkan punggungnya ke batang pohon yang sama pula. "Memang," katanya. "Tapi siapa yang bisa menghentikan orang kasmaran?"
Lady Die ikut mendesah dan tersenyum tipis.
Kedua wanita itu sudah terlihat jauh lebih tenang sekarang.
Xena dan Electra masih mematung kikuk di dekat Altair yang masih berjuang menghisap cakra spiritualnya.
"Daripada itu…" Lady Die melanjutkan. "Ada yang aneh dengan goliath itu. Apa kau merasakannya?"
"Benar," kata Nyx Cornus. "Goliath itu mencoba berkomunikasi dengan Evelyn."
"Tidak!" sergah Lady Die. "Bukan mencoba. Tapi mereka benar-benar bicara. Aku melihat goliath itu mengelus kepalanya. Evelyn hilang kendali setelah Cleon menikam goliath itu."
Nyx Cornus langsung terdiam. Berpikir keras.
Xena dan Electra menyimak pembicaraan mereka dengan dahi berkerut-kerut.
Bersamaan dengan itu, Altair sudah selesai menghisap cakra spiritualnya. Pemuda itu menghela napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya perlahan. Lalu mengerjap dan membuka mata. Mengedar pandang dan mengerutkan keningnya.
Xena dan Electra menghambur menghampiri pemuda itu dan menariknya menjauh dari guardian mereka.
"Apa yang terjadi?" bisik Altair. "Di mana yang lain?"
"Cleon sedang menghisap cakra di sisi lain kaki gunung," Electra memberitahu.
Altair menatap Xenephon dengan mata terpicing, kemudian mengawasi Nyx Cornus dan Lady Die.
"Lady! Kami akan bergabung dengan Master Heart," Xena meminta izin pada guardiannya.
"Sure," jawab Lady Die tanpa menoleh.
Lalu ketiga remaja itu bergegas menjauh dan berjalan pelan setelah jarak mereka cukup aman.
"Evelyn menghilang," Electra memberitahu Altair dengan berbisik-bisik.
"Hah?" Altair terperangah.
"Lord Vox menjadi tidak stabil dan menyerang Master Claus," lanjut Electra.
"Jangan bertanya apa pun sebelum Eve dan Lord Vox kembali," Xena memperingatkan. "Kita tunggu instruksi saja."
"Lalu di mana guardianku?" tanya Altair.
"Master Lotz sedang mencari tanaman obat untuk Master Claus," jawab Xena dan Electra bersamaan.
Mencapai tempat Cleon, Arsen Heart menyambut mereka dengan rentetan pertanyaan yang membuat ketiga remaja itu gelagapan.
"Apa yang terjadi? Di mana yang lain? Apa Evelyn sudah ditemukan?"
Ketiga remaja itu hanya membeku.
"Jawab!" desak Arsen Heart.
"Yang mana dulu?" erang ketiganya dengan ekspresi bingung yang sama.
"Kenapa kalian ke sini?" tanya Arsen Heart lagi. Membuat ketiga remaja itu semakin bingung harus menjawab apa.
Pertanyaan itu tak ada tadi!