Poison Eve

Poison Eve
Chapter-130



Waktu bergulir dengan pasti. Sisa waktu satu jam lagi, dan semua peserta harus sudah mencapai portal teleportasi di gerbang perbatasan kota Erebos.


Keempat tim dari Shangri-La sudah mencapai gerbang perbatasan kota di sisi lain wilayah Erebos dengan masing-masing poin di atas sepuluh ribu.


Tim Dua Akademi Kekaisaran Neraida sudah mendekati gerbang perbatasan kota dengan total poin lima belas ribu.


Tim Akademi Sihir Dewa Musik dihadang dua vampir puluhan ribu tahun, beberapa kilometer di belakang Tim Dua Akademi Kekaisaran.


Tim Akademi Militer Dewa Mimpi baru mencapai setengah perjalanan ketika tim Akademi Sihir Azrael melintas dan mempersulit mereka. Putra gubernur itu sekali lagi menjejakkan kakinya di punggung Altair hingga pemuda itu nyaris tersungkur.


Selepas kepergian tim Akademi Sihir Azrael, tim Morfeus Academy masih dipersulit lagi oleh Kefas Damon.


Penyihir Hati Iblis itu menyergap Evelyn tanpa sepengetahuan yang lain dan melarikannya dari gerombolannya.


Benar-benar merepotkan!


Kaisar Aero Thunder sampai harus menekankan ujung tongkatnya ke lantai seperti sedang menahan kepala ular untuk menjaga supaya Nazareth tak sampai meledak dan mempermalukan dirinya.


Melalui ujung tongkatnya, Kaisar mengirimkan tekanan spiritual dengan menggunakan teknik penyatuan tiga jantung yang sudah mencapai tingkat surealis. Dan itu sangat menguras banyak energi meski di permukaan tampaknya Kaisar tetap berdiri penuh wibawa dengan raut wajah terkesan datar.


Sementara itu, teman-teman Evelyn mulai gusar ketika akhirnya menyadari bahwa Evelyn menghilang lagi.


Xena melayangkan tubuhnya ke awang-awang dan mengaktifkan penglihatan supernya, kemudian mengedar pandang.


Tak lama kemudian…


"Oh, s h i t !" Xena memekik lalu jatuh terpuruk.


"Apa yang terjadi?" teman-temannya bertanya serempak.


"Peri vampir kaisar!" jawab Xena sambil menarik bangkit tubuhnya dengan tergopoh-gopoh.


Electra menggamit lengan Xena, membantunya menyeimbangkan diri.


"Peri vampir kaisar?" tanya Altair tak yakin.


"Aku tidak bicara soal level!" sergah Xena. "Maksudku, dia benar-benar raja vampir!"


"Apa?" ketiga temannya memekik bersamaan.


"Seharusnya aku tak membiarkannya berada di belakang lagi!" sesal Cleon.


"Tenanglah! Ini bukan salahmu!" Altair menepuk sekilas bahu Cleon untuk menyemangatinya.


"Sekarang kita harus bagaimana?" sela Electra.


"Dia sangat cepat," tukas Xena. "Dan mereka sudah cukup jauh. Hanya bisa mengandalkan portal teleportasi kita!"


"Kalau begitu katakan kita harus bergerak ke arah mana?" tanya Electra cepat-cepat.


"Lima kilometer ke arah Utara!" jawab Xena.


"Lima kilometer?" Electra menelan ludah. "Jangkauan teleportasiku tak sampai sejauh itu!"


"Lakukan semampunya!" Cleon menyela cepat-cepat. "Dan cepatlah!"


"Gabungkan dengan teleportasi peri vampirku!" usul Xena.


"Hmh!" Electra mengangguk singkat, lalu mulai memasang jurus.


Xena juga melakukannya.


Tak lama kemudian mereka saling menautkan telapak tangan mereka satu sama lain, dan…


SLASH!


Portal teleportasi berkeredap di bawah kaki mereka di permukaan tanah berumput.


Detik berikutnya, keempat remaja itu sudah menghilang.


Waktu sudah hampir mencapai batas ketika Kefas akhirnya berhenti di awang-awang sambil merangkul pinggang Evelyn.


"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" jerit Evelyn tak tahan lagi.


"Aku bisa mengerti kenapa kau begitu marah," bisik Kefas dengan suara seringan angin. "Tapi aku ingin kau tahu, aku bukan lagi Penyihir Hati Iblis," katanya.


"Dan apa pentingnya itu bagiku?" sembur Evelyn tak sabar.


"Aku tak akan membunuhmu, tak akan mencelakaimu lagi!"


"Kalau begitu lepaskan aku sekarang, dan biarkan aku kembali pada timku karena jika tidak, aku benar-benar akan celaka!" sergah Evelyn.


Evelyn spontan mengerutkan keningnya. Merasa sedikit heran dengan tatapan Kefas. Kenapa dia terlihat begitu gugup? pikirnya.


Kefas mengerjap lagi dan memalingkan wajahnya sedikit, lalu tertunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahnya lagi dan menatap lagi ke dalam mata Evelyn dengan sorot penuh perasaan. "Kau mengatakan… aku…"


"Lumayan tampan?" sela Evelyn memotong perkataan Kefas yang terbata-bata. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Ini di luar kebiasaanya! batin Evelyn.


"Ya," timpal Kefas seraya tersenyum samar. Dan itu bukan seringai licik yang biasanya. "Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku… lumayan tampan?" ia bertanya sedikit tersipu.


Evelyn tertawa dalam hatinya. Dia lumayan manis kalau seperti ini! pikirnya. Sayang sekali Nazareth jauh lebih manis!


"Saying something, Eve!" pinta Kefas dalam bisikan lirih.


Evelyn tergagap dan memaksakan senyum. "Kau memang lumayan tampan," katanya. "Tidak ada maksud lebih dari pujian itu. Just it!"


"Just it?" Kefas mengerjap dan mendesah pelan. Raut wajahnya terlihat tak berdaya. "Aku akan mengantarmu sekarang," katanya tanpa berani menatap mata Evelyn. "Berpeganganlah! Akan ada angin kencang." Setelah ia mengatakannya, ia melesat dua kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.


Layar sihir yang menampilkan Evelyn berkeredap dan memburam. Lalu berhenti ketika Kefas akhirnya menurunkan Evelyn di sebuah lapangan.


Bersamaan dengan itu, teman-temannya baru saja mendarat melewati tiga kali teleportasi.


Electra sudah mulai terhuyung.


"Just enough!" sergah Cleon dengan napas tersengal. Ia mengangkat sebelah tangannya ke arah Electra sambil membungkuk menekuk perutnya. "Kita sudah berjalan terlalu jauh dari gerbang," katanya.


"Aku akan memeriksanya lagi!" Xena mengusulkan, kemudian melayangkan tubuhnya ke awang-awang sekali lagi dan mengaktifkan penglihatan supernya lagi. "Gawat!" pekiknya tak lama kemudian.


"Apanya yang gawat?" Altair bertanya cemas.


"Mereka sudah menghilang," jawab Xena sambil menurunkan tubuhnya.


"Apa?" Teman-temannya memekik bersamaan.


"Formasi gabungan!" usul Cleon.


"Tidak, tunggu!" protes Altair. "Electra sudah tak sanggup lagi."


"Waktu kita sudah hampir habis," tukas Electra.


"Tapi kita tak bisa kembali tanpa Evelyn!" sergah Cleon.


"Aku kembali!"


Teriakan seseorang menyentakkan mereka.


"Eve?!" Keempat remaja itu memekik bersamaan. Lalu menghambur ke arah Evelyn.


"Dari mana kau tahu kami di sini?" tanya Xena tak bisa menutupi rasa leganya.


"Bagaimana kau bisa sampai di sini?" tanya Electra nyaris bersamaan.


"Xena bilang kau dibawa lari seorang raja vampir, bagaimana kau bisa lolos?" tanya Altair tak mau ketinggalan.


"Raja vampir?" Evelyn mengerutkan keningnya. "Aku—"


"Jangan bilang kau membunuhnya juga!" potong Xena setengah berteriak.


"Tidak, tentu saja tidak!" sergah Evelyn cepat-cepat. "Hanya saja… tadi itu Kefas Damon! Dia menurunkanku di sini."


"Lagi?" teman-temannya serentak terperangah.


"Sudah dua kali dia menangkapmu, tapi lagi-lagi dia melepaskanmu," gumam Cleon tak habis pikir.


"Aneh sekali," gumam Xena dengan dahi berkerut-kerut. "Mata vampirku melihatnya sebagai raja vampir.


Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Tiba-tiba teringat perkataan Kefas.


"Aku bukan lagi Penyihir Hati Iblis!"


Mungkinkah…


Evelyn mendesah pendek dan menggeleng-geleng. Lalu terhenyak mengingat sesuatu. "Tidak ada waktu untuk membahasnya sekarang!" pekiknya kemudian, "Kita sudah harus kembali!"


"Sebenarnya…" Electra menyela dengan ekspresi muram. "Kami bisa sampai di sini karena melewati tiga kali teleportasi," jelasnya. "Aku tak yakin kita bisa kembali tepat waktu."


Evelyn tergagap dengan raut wajah cemas.


"Begini saja," usul Xena. "Kita buat formasi gabungan. Kita akan terbang dengan sayapku sejauh yang kita sanggup."


"Hmh!" Evelyn dan ketiga lainnya menanggapi dengan penuh tekad.