Poison Eve

Poison Eve
Chapter-28



"Master!" seru Evelyn sedikit terlalu antusias ketika ia menghambur ke beranda kamar Nazareth dan sebelum ia sempat mengetuk, pintunya terkuak dan gadis itu tersungkur ke dalam menubruk dada seseorang.


Sepasang tangan menangkap bahunya dan mendorong wajah Evelyn menjauh dari dadanya, tapi tidak melepaskannya.


Evelyn memekik tertahan dan mendongak.


Ternyata Xenephon!


"Ma---maafkan aku!" Evelyn tergagap-gagap dengan wajah merona karena malu.


"Kau bersemangat sekali, Nona Muda," goda Xenephon sambil tersenyum miring.


"Xen…" Nazareth menggeram dari tempat tidurnya. Pria itu duduk berlunjur bersandar di kepala tempat tidur.


Evelyn melirik pria itu sekilas dan langsung tertunduk ketika menyadari Xenephon sedang memperhatikannya.


Xenephon terkekeh dan membungkuk ke arah Evelyn. "Kebetulan kau datang, Eve," katanya masih sambil tersenyum miring. "Maukah kau menggantikanku menjaga Paman Vox?"


Nazareth memutar bola matanya. Migi Vox menyeringai di pangkuannya.


"Aku sudah bosan dengannya!" Xenephon menepuk-nepuk bahu Evelyn dan melepaskannya sambil terus tersenyum, lalu melirik Migi Vox dengan tatapan nakal dan mengedipkan sebelah matanya.


Evelyn menatap Xenephon dan Migi Vox bergantian dengan ekspresi bingung.


Xenephon meninggalkan ruangan itu dan melambaikan tangannya sekilas tanpa menoleh lagi, kemudian menghilang di balik pintu.


"Kenapa teriak-teriak?" tanya Nazareth sambil mengusap-usap kepala bonekanya. Suaranya yang datar menyentakkan Evelyn dari kebingungannya.


"Ah—aku…" Evelyn menjawab terbata-bata.


Nazareth menoleh pada Evelyn dan seketika gadis itu langsung terdiam.


Migi Vox ikut menoleh dan menyeringai.


"Maaf," gumam Evelyn. "Aku terlalu senang."


Nazareth mengerutkan keningnya dan tersenyum samar. "Apa yang membuatmu begitu senang?" Ia bertanya tanpa menunjukkan antusiasnya.


"Aku—" Evelyn mengulum senyumnya, lalu tertunduk semakin dalam. "Aku sudah menembus level tiga belas… Master!"


Nazareth mengerjap dan menatap Evelyn dengan alis bertautan. Sebelah alisnya terangkat tinggi. Tapi lalu memalingkan wajahnya dan tertunduk. Migi Vox meronta-ronta di pangkuannya. Ia menekankan telapak tangannya di wajah mungil boneka itu.


Evelyn menelan ludah dan mengerling ke arah guardiannya untuk melihat reaksi pria itu.


"Beristirahatlah!" perintah Nazareth tanpa ekspresi. "Mulai besok kau akan sibuk," katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari boneka hidupnya yang terus memberontak.


Evelyn membungkuk sekilas dan berbalik ke arah pintu.


.


.


.


Keesokan harinya…


Lagi-lagi Nazareth memberi Evelyn perintah yang sama---berdiri di bawah tiang bendera dengan dikelilingi murid-murid lainnya yang melakukan pemanasan.


Murid-murid itu akhirnya semakin berani mencemooh dan menertawakannya secara terang-terangan.


"Sekarang aku mengerti apa artinya Anak Emas!" seloroh seorang murid wanita.


"Maksudmu anak Morfeus Statue?" timpal murid lainnya.


Murid-murid lainnya tergelak menanggapi mereka.


Morfeus Statue maksudnya patung emas Dewa Mimpi di tengah kolam.


Evelyn tetap bergeming dengan kedua tangan bersilangan di belakang tubuhnya. Berpura-pura tidak mendengar pembicaraan itu. Pandangannya lurus ke depan dengan dada membusung meski isi dadanya berkecamuk.


"Miss Evelyn memang sangat cantik, tapi dia terlalu keras, pria bangsawan takkan menyukai perilakunya yang seperti pria."


Kata-kata para tetangganya terngiang dalam benaknya.


Aku memang tak tahu adab, kata Evelyn dalam hatinya. Menerobos kamar Nazareth sambil teriak-teriak...


Nazareth pasti tidak menyukainya!


Kau sudah harus belajar tentang sikap mulai sekarang, Eve! hati nuraninya mulai bicara.


Kau tak ingin selamanya menjadi lelucon, kan? Atau kau ingin menyandang gelar Badut Terkenal seperti guardianmu?


Oh, aku tidak peduli dengan itu! bantah sisi lain Evelyn yang pemberontak.


Setiap hukuman memberitahukan padaku apa saja yang tidak disukai Nazareth!


Aku hanya tak ingin Nazareth membenciku.


Menurutnya, hukuman ini adalah bukti bahwa perilakunya kemarin merupakan suatu kesalahan—setidaknya di mata Nazareth.


Itu saja yang penting.


Jangan lakukan hal-hal itu lagi ke depannya! Evelyn mengingatkan dirinya.


Altair memandang sedih ke arah Evelyn dari tengah kerumunan semua orang sambil berlari.


Para guardian memandang Evelyn antara sinis dan prihatin.


"Apa sebenarnya yang dipikirkan Lord Vox?" bisik seorang guardian di sisi Master Lotz. "Musim kompetisi sudah di depan mata, tapi anak itu bahkan masih belum memulai pelatihan fisik."


Master Lotz tidak menanggapi. Lebih tepatnya tak mau ikut-ikutan.


Bahkan Lady Die tidak berani lagi membuka mulut. Keparat itu selalu muncul tiba-tiba seperti hantu, katanya dalam hati. Aku tak ingin ambil risiko.


Kelihatannya saja tidak ada masalah, sebenarnya, sehari setelah Lady Die kedapatan sedang bergosip, namanya langsung terdaftar di Buku Hitam.


Tak perlu dijelaskan apa artinya Buku Hitam, di mana-mana di setiap belahan dunia definisinya tak pernah berubah, bahkan di Negeri Peri.


Menyadari pembicaraannya tak ada yang menanggapi, guardian tadi langsung terdiam.


Memasuki jam makan siang, sesuai dugaan semua orang, Nazareth muncul di belakang para guardian itu bersama---siapa lagi kalau bukan—Xenephon yang tidak pernah mereka pahami eksistensinya.


Banyak orang mengatakan Xenephon adalah teman baik pemilik akademi, tapi tak banyak yang meyakininya. Sebagian orang berpendapat bahwa mungkin Xenephon agen Pengawas yang ditempatkan Ordo Angelos di Morfeus Academy.


Setiap sekolah seni bela diri spiritual selalu disusupi mata-mata untuk mencegah pelanggaran Hukum Ordo.


Jadi siapa pun Xenephon di akademi selalu dipandang riskan di mana setiap orang sangat berhati-hati saat menghadapinya, bahkan dibanding pemilik akademi itu sendiri.


Kedua pria kontroversial itu sekarang berhenti di dekat tiang bendera yang secara otomatis menghentikan aktivitas para pelajar yang sedang melakukan pemanasan.


Semua orang membungkuk pada mereka dengan segala hormat, tidak terkecuali para guardian dan juga Evelyn.


"Ikut aku makan di lantai dua!" perintah Nazareth yang segera dipatuhi oleh Evelyn, dan tentu saja dipandang iri oleh semua orang.


Kali ini Evelyn tidak berniat untuk menolak tawaran itu setelah sebelumnya ia kecewa pada teman-teman barunya.


Kalian mengataiku Anak Emas, maka aku akan menjadi Anak Emas! pikir Evelyn tak peduli.


Seusai makan siang, Nazareth menuntun Evelyn ke arah gerbang di mana sebuah kereta kuda sudah menunggu.


Kali ini Xenephon sendiri yang menjadi kusirnya.


Dan itu hanya berarti satu hal: PERJALANAN PENTING.


Sebagian besar orang di akademi mengetahui sejumlah agenda tak tertulis pemilik akademi dengan melihat siapa yang dibawanya.


Setelah berkali-kali melihat Nazareth pergi dengan Xenephon, mereka semua sudah cukup hafal jenis agenda yang dihadiri kedua pria berparas malaikat itu di luar akademi.


Minimal agenda Kelas Dua atau lebih dikenal dengan istilah kalangan menengah ke atas.


Evelyn bisa merasakan tatapan permusuhan kembali membakar punggungnya ketika kedua pria berparas malaikat itu membantunya naik ke dalam kereta.


"Master?" Evelyn menaikkan alisnya dengan sopan ke arah guardiannya setelah mereka duduk berhadap-hadapan dalam kereta. "Kita mau ke mana?"


Migi Vox menanggapinya dengan menyeringai dalam pangkuan Nazareth.


Evelyn melirik boneka itu dengan tatapan gugup, lalu kembali menatap guardiannya.


Nazareth menatapnya dengan ekspresi datar.


Evelyn langsung tertunduk. Jaga sikapmu, Eve! batinnya memarahi diri sendiri. Bisakah kau tidak terlalu cerewet? Nazareth mungkin tidak menyukainya.


"Kau sudah mendapatkan cakra pertamamu, dan mencapai level tiga belas," Nazareth akhirnya membuka suara. "Itu prestasi yang mengagumkan. Namun, untuk menjadi seorang Master Spiritual yang berbakat… itu saja tak cukup."


Evelyn menyimak tanpa berani mengangkat wajah.


"Setelah kau melewati latihan tahap pertama, sekarang saatnya melakukan latihan tahap kedua," kata Nazareth.


Latihan tahap pertama apa? rutuk Evelyn dalam hatinya. Selama tiga hari ini kau hanya mencekokiku teori dan menghukumku!


Namun pertanyaan Nazareth berikutnya membuat Evelyn terhenyak.


"Kau tidak anggap remeh pemanasan berdiri, kan?"


"Pemanasan berdiri?" desis Evelyn nyaris tercekik.