
Kenapa rasanya serbuan panah ini tak ada habis-habisnya? pikir Electra mulai frustrasi.
Barisan ninja di sepanjang tepi tebing semakin bertambah banyak setiap kali ia berhasil menjatuhkannya.
Apa mereka semua hanyalah sosok ilusi dari teknik bayangan seseorang? Electra bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu mengedar pandang dan terperangah menyadari dirinya sudah berada cukup jauh dari rombongan. Ini jelas jebakan ilusi! ia menyadari. Lalu segera berbalik dan kembali memantul-mantul dari dinding tebing satu ke dinding tebing lainnya.
Mencapai setengah jalan, sebuah lingkaran cahaya berbentuk cakram sebesar roda kereta kuda melesat ke arah Electra dari sudut gelap.
DUAAAAARRRR!
Seekor beruang putih bersayap kelelawar melesat entah dari mana dan menghalau serangan itu.
Electra terkesiap dan seketika sepasang tangan menyergap dirinya. "Altair! Xena!" Electra menyadari.
Xena dan Altair menyeringai di kiri-kanannya. Lalu mendarat serempak di tempat aman.
Sementara itu, jauh tinggi di atas mereka…
"Gunakan teknik kedua kekuatan inti peri pelindung leluhur!" Nazareth menginstruksikan pada Evelyn.
"Hmh!" Evelyn mengangguk di belakangnya, kemudian memasang kuda-kuda untuk menyiapkan teknik kedua. Sejurus kemudian, sosok ilusi Apollo muncul di belakang mereka dalam gambar transparan bercahaya sebesar gunung.
Pada saat yang sama, Nazareth mengayunkan sebelah tangannya, melontarkan Migi Vox ke tengah pertempuran yang dalam sekejap berubah bentuk dan membelah diri menjadi pasukan tentara Ordo Angelos dengan baju zirah bersayap emas, lengkap dengan tombak dan perisai juga helm baja tertutup.
"Sekarang gabungkan!" instruksi Nazareth lagi.
Evelyn menautkan kedua pergelangan tangannya di depan dada, kemudian mendorong kedua telapak tangannya ke punggung Nazareth. Bersamaan dengan itu, Nazareth mengayunkan sebelah tangannya yang secara otomatis, gerakannya diikuti sosok ilusi Apollo yang menggenggam palu di belakang mereka.
GLAAAAARRRR!
Palu Apollo berdebum memukul udara malam, mengempaskan angin kencang bercampur debu dan kerikil bersama ledakan cahaya terang benderang.
"Eksekusi!" perintah Nazareth dengan suara lantang.
GRAAAAKKKK!
Ilusi pasukan tentara Ordo Angelos menyeruak ke tengah-tengah pertempuran dengan kecepatan luar biasa.
Formasi pertahanan yang dibentuk dari gabungan energi cahaya para ninja meledak seperti kaca tertimpa bintang jatuh.
DUAAAAARRRR!!!
Ilusi perisai kaca yang berderet dan berputar-putar di sekeliling Bedros dan Kefas terserak ke segala penjuru.
Di sisi lain, Xenephon dan Nyx Cornus sedang bertarung sengit dengan dua penyihir lain dengan tingkat kaisar level enam puluh. Tiga guardian lainnya membantu mereka.
Sosok ilusi Sagitarius milik Arsen Heart dibantu gabungan energi Lady Die dan Salazar Lotz melesatkan sejumlah anak panah ke arah dua penyihir yang belum diketahui identitasnya itu.
Bisa jadi Penulis belum menemukan nama yang tepat untuk kedua penyihir itu!
Ada ide?
Silahkan tulis di kolom komentar!
Di sisi lain…
Cleon sudah memboroskan energi cahayanya dengan menggunakan teknik ketiga dari cakra goliath yang baru saja ia dapatkan dari Hutan Berburu Peri Monster, sementara sang putra gubernur mendatangkan lebih banyak lagi pasukan ninja yang tidak mau mengeluarkan peri pelindungnya.
Meski tidak mengeluarkan peri pelindung, kekuatan cahaya gabungan mereka sulit dipatahkan. Atau bisa jadi mereka juga hanya sosok ilusi yang tercipta dari teknik bayangan seseorang.
Cleon tidak memperhitungkan hal itu. Ini adalah pengalaman pertamanya melawan Master Spiritual aliran sihir.
Pada saat situasi semakin kritis, sesosok citah berbulu putih bersayap hitam dengan tanda petir di dahinya, melesat ke arah putra gubernur dengan kekuatan teleportasi.
TRAAAAANG!
Tongkat emas putra gubernur itu terlempar dari genggaman tangannya dan seketika barikade ninja misterius itu menghilang.
"Teknik bayangan!" Cleon menyadari.
DUAAAAARRRR!
Putra gubernur terpental membentur dinding tebing.
Detik berikutnya, sesosok bayangan gelap melesat ke arah mereka dalam bentuk pusaran kabut yang menyapu keempat remaja itu hingga terlempar dan jatuh terjerembab dalam posisi duduk berlunjur. Tak lama kemudian, bayangan itu menghilang dalam sekejap bersama putra gubernur.
"Apa itu tadi?" pekik Electra seraya mendongak ke puncak tebing.
"Kalau kau tanya aku, lalu aku tanya siapa?" Altair mendesis juga sambil mendongak menatap ke puncak tebing.
Xena dan Cleon juga mendongak menatap ke arah yang sama. Tapi tak mengatakan apa-apa.
Keempatnya masih duduk berlunjur dengan napas tersengal. Menatap kegelapan di puncak tebing dengan raut wajah syok.
Pada saat yang sama, pertempuran berakhir dengan kaburnya para penyihir secara misterius.
"Bajingan pengecut!" geram Nyx Cornus kehilangan kesabarannya.
Lalu secara serentak semua orang meluncur turun dan mendarat di dekat kereta kuda mereka yang sudah porak-poranda. Kuda-kudanya bahkan sudah menghilang entah ke mana.
"Oh, s h i t!" rutuk Lady Die terengah-engah. Lalu terhuyung dan menjatuhkan dirinya di dekat anak-anak asetnya yang duduk berjejer di tengah jalan.
Keempat remaja itu belum beranjak sejak mereka terjerembab di sana, membeku dalam waktu yang lama, menatap semua orang yang baru mendarat itu dengan ekspresi bingung.
Semua orang terhuyung-huyung.
Semua orang terengah-engah.
Lalu semuanya menjatuhkan dirinya masing-masing untuk sekadar meredakan napas dan amarah mereka yang tidak tuntas.
Evelyn jatuh terduduk sambil memijat kepala. Punggungnya melengkung, sementara tubuhnya bergetar hebat.
"Eve!" Nazareth tersentak menyadari kondisi Evelyn, lalu melompat dari tempatnya dan menghambur ke arah gadis itu, diikuti Migi Vox dan yang lainnya. "What's wrong?" Nazareth bertanya cemas sambil merenggut kedua bahu Evelyn.
Evelyn mengerang sambil membungkuk semakin dalam. Cengkeraman tangannya semakin ketat menekan kepalanya. "Kepalaku…" pekik Evelyn dengan suara tercekat. Kepalanya berdenyut-denyut seakan hendak meledak.
"Eve!" Semua orang memekik cemas, mengerumuni gadis itu dengan gusar.
Sekarang kepala gadis itu menyala seperti lampu pijar, lalu berkedut-kedut.
"What the—"
Semua orang memekik dan tersentak mundur. Berdiri membungkuk mengawasi kepala Evelyn yang disangga kedua tangan Nazareth yang tetap bertahan dalam posisi jongkok.
"Kepalaku!" pekik Evelyn sambil mencakar-cakar kepalanya sendiri.
Nazareth menarik kedua tangan gadis itu dan menjauhkannya dari kepalanya. Lalu meraup wajah mungilnya, menghadapkannya ke wajahnya, menatap ke dalam matanya. "Berusahalah untuk tetap sadar, Eve!" instruksinya dalam bujukan tegas.
"NOOOOOOOOO!" Evelyn menjerit sambil mendongakkan wajahnya ke atas. Melolong seperti binatang yang terluka.
"Eve!" Nazareth meraup Evelyn ke dalam dekapannya dan menyusupkan wajahnya di ceruk bahu gadis itu. Kedua bahunya bergetar, punggungnya melengkung dengan sedih.
Cleon mengerjap dan terperangah. Lalu tiba-tiba memalingkan wajahnya dan tertunduk dengan raut wajah muram.
Electra melirik pemuda itu dengan alis bertautan.
Cleon memutar tubuhnya menghindari tatapan Electra, memunggungi semua orang, lalu membungkuk pura-pura memungut sebatang pedang yang tergolek di bawah kakinya dan memeriksanya dengan tatapan kosong.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA…!" jeritan terakhir Evelyn melengking ke langit malam, menggema ke tebing-tebing. Lalu tersentak dan terkulai.
Hening.
Semua orang menahan napas. Lalu mengerjap dan terperangah.
"Lihat itu!" bisik Nyx Cornus dengan suara tercekat.
Nazareth menarik wajahnya dari bahu Evelyn, menyangga kepala Evelyn dengan telapak tangannya dan terkesiap.
Sebuah mahkota peri tahu-tahu sudah terpasang di kepala Evelyn.
Tulang cakra Apollo!
...Evelyn Katz...