
"Selamat datang di Pertarungan Semifinal Turnamen Elit Master Spiritual!" pemandu acara mengumumkan dengan bersemangat.
Aula menggelegar oleh tepuk tangan spektakuler.
"Di sini, Penasihat Agung Dunia Master Spiritual akan kembali mengundi keempat tim yang tersisa!" pemandu acara yang satunya menimpali.
Lalu Mikhail Claus berdiri di dekat pagar balkon.
Aula kembali gegap-gempita.
Mata Evelyn bergulir menyisir seluruh aula, berusaha menjaga agar penampilannya tetap ceria.
Tapi suasana hatinya tetap saja suram!
Apa yang salah?
Semua sorot penasaran, suara, dan… perhatian Nazareth yang overprotektif seharusnya sudah bisa menenangkannya.
Tapi entah kenapa Evelyn tak dapat mengenyahkan wajah cantik Mairera dari benaknya. Membuatnya terus-terusan merasa tersengat. Dadanya serasa terbakar.
Nazareth bisa merasakan kegundahan Evelyn, tapi tak banyak yang dapat ia lakukan. Ia berusaha menggenggam tangan gadis itu, mencoba meyakinkannya bahwa ia tidak peduli dengan yang lain. Tapi upaya menenangkan Evelyn kali ini terasa seperti menekan kecenderungan Migi Vox yang haus darah.
Alangkah baiknya jika Evelyn mencakar-cakar dan mengigiti bahunya!
Sementara itu, di seberang ruangan, Mikhail Claus sudah mengeluarkan bola kristalnya dan mengubahnya menjadi layar.
Tak lama kemudian gambar profil keempat tim muncul di layar dalam dua baris. Setiap tim disandingkan dengan tim lawan.
"Ronde pertama, Tim Morfeus Academy akan bertarung dengan Tim Jalur Juara Shangri-La!" pemandu acara mengumumkan hasil undian.
"Ronde kedua, Tim Jalur Juara Neraida akan bertarung dengan Tim Jalur Juara Balai Cahaya!" pemandu acara satunya menimpali.
"Dua pemenang di babak ini akan bertemu di babak final!" keduanya sekarang berseru bersamaan.
Aula kembali menggelegar oleh tepuk tangan dan sorakan semua orang. Lalu menjadi semakin meriah ketika kedua tim mulai bergegas turun ke arena.
Evelyn turun dengan wajah cemberut.
Terlihat sekali!
"Suasana hatinya betul-betul sedang buruk," komentar Lady Die.
"Kurasa dia sedang kedatangan tamu," komentar Nyx Cornus.
Nazareth spontan menoleh, memicingkan matanya, "Apa maksudnya kedatangan tamu?"
"Oh, kaum pria takkan mengerti!" tukas Lady Die cepat-cepat.
"Aku mengerti!" sergah Nazareth sambil memalingkan wajahnya kembali ke arena. "Tamu bulanan wanita, ya kan?"
Lady Die terperangah, "Jangan bilang kalau—"
"Aku ahli teori! Apa kau lupa?" potong Nazareth. "Apa sebenarnya yang kau pikirkan?"
Lady Die langsung terdiam. Tertunduk sambil membekap mulutnya menahan tawa.
"Dalam hitungan ketiga, mulai!" Seruan para pemandu acara menarik kembali perhatian mereka.
Kedua tim telah mengeluarkan cakra spiritual dan peri pelindung mereka masing-masing.
Dan…
GROAAAAAAARRR…
Angin kencang berhembus dan membadai di sekeliling Evelyn. Kakinya terangkat dari lantai dan mulai melayang. Punggungnya terkuak mengeluarkan sulur tanaman, berkeriapan seperti anakan ular yang baru menetas, kemudian melecut-lecut di sisi wajah dan sekujur tubuhnya seperti rambut yang memburai di dalam air, lalu secara perlahan sulur tanaman itu mulai berubah menjadi kepala ular.
Teman-teman Evelyn menelan ludah dan membeku dengan mata dan mulut membulat.
Lawan mereka ketar-ketir. Tidak mengira Evelyn akan mengeluarkan teknik yang belum pernah dikeluarkannya.
Nazareth dan para guardian tersentak di tepi balkon.
Lady Chaterine memucat di Balai Mulia Neraida.
Lady Madeleine dan Nadine terkesiap.
Semua orang terperangah.
"Apa dia tidak terlalu gegabah?" komentar seorang pejabat di Balai Mulia Shangri-La.
"Mengeluarkan teknik baru di awal pertarungan," komentar yang lainnya. "Entah dia terlalu waspada atau tekniknya masih banyak. Tapi kalau itu adalah hal terakhir yang dia miliki…"
"Mungkin seharusnya aku tidak membawanya ke Desa Peri," sesal Nazareth dalam bisikan tipis, lebih terdengar untuk dirinya sendiri. "Aku benar-benar telah merusak mood-nya!"
"Aku tak ingin tahu apa yang dia temukan di Desa Peri," kata Nyx Cornus. "Tapi performa Evelyn sangat bagus saat mood-nya buruk."
"Jangan lupa teknik itu pernah meledakkan bangunan akademi kita!" sergah Lady Die.
"Kuharap dia bisa mengendalikannya kali ini," gumam Arsen Heart bernada gusar.
Nazareth mendesah pendek. Menatap Evelyn dengan cemas.
"Itu sangat beracun!" Salazar Lotz menginginkan sambil menunjuk sulur tanaman di punggung Evelyn.
Teman-teman Evelyn hanya membeku.
Kelima remaja dari tim lawan menggeliat-geliut dalam lilitan sulur tanaman itu, tapi sulur tanaman itu kian mengetat seiring mereka berontak. Semakin keras mereka memberontak, sulur tanaman itu mengikat mereka semakin erat. Lalu tiba-tiba mengeras seperti batu.
Tim lawan sekarang sudah tidak berkutik.
Kedua wasit melayang ke arah mereka. Salah satu dari pemandu acara sekaligus wasit itu bertanya, "Apa kalian mengaku kalah?"
"Tidak akan!" tukas ketua Tim Jalur Juara Shangri-La dengan arogan. Kami adalah satu-satunya harapan Shangri-La, tekadnya dalam hati. Kami tak boleh kalah. Ia mencoba bergerak dan mengeluarkan teknik cahaya, kemudian memotivasi semua anggotanya, tapi semua usaha mereka sia-sia.
"Dalam hitungan sepuluh," salah satu wasit memperingatkan. "Kalau kalian tak bisa melakukan perlawanan, kalian kalah! Satu…"
"Dua…" para hadirin ikut menghitung.
Ketua Tim Jalur Juara menggertakkan giginya. Yang lainnya mulai meronta-ronta.
Dan…
"Sepuluh!"
Hitungan berakhir.
Dan mereka tetap tak bisa berbuat apa-apa.
Evelyn bahkan tidak berkedip.
"Pertarungan berakhir!" pemandu acara mengumumkan. "Tim Morfeus Academy memenangkan pertandingan!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan meriah disertai sorakan histeris.
Evelyn tetap bergeming.
Migi Vox mengerutkan keningnya.
Nazareth mengerjap dan menelan ludah.
"Sudah berakhir!" pemandu acara menegur Evelyn.
Evelyn tiba-tiba tersenyum, matanya menyala dan mengeluarkan lidah-lidah api. Tubuhnya juga menyala biru.
Xenephon terperanjat hingga melompat dari tempat duduknya.
"Dia hilang kendali!" pekik Lady Die.
"Oh, s h i t !" gumam Nazareth sambil melompat dari balkon, melesat ke arah Evelyn seraya melontarkan energi cahaya berbentuk kubah.
GLAAAAAAARRR!
Aula meledak oleh semburat cahaya biru. Lalu semuanya menjadi putih.
Layar kaca di semua tempat terlihat kosong.
Lady Chaterine membeku dengan mata dan mulut membulat.
"Apa yang terjadi?" desis Nadine dengan suara tercekik.
Alun-alun ibukota dan Balai Mulia kedua negara serentak menggemuruh. Semua orang juga mempertanyakan hal yang sama.
"Apa yang terjadi?"
Dan ketika cahaya putih terang itu berangsur-angsur meredup, semua orang di tengah arena tahu-tahu sudah terserak di sana-sini. Bahkan kedua pemandu acara.
Semua orang menahan napas.
Hanya tersisa Nazareth dan Evelyn yang masih berdiri. Keduanya mengambang di udara.
Sulur-sulur tanaman berkepala ular itu masih berkeriap di sisi tubuh Evelyn. Semuanya menegang dengan mulut menganga, bersiap memagut Nazareth. Tubuhnya masih menyala biru. Rambutnya melecut ke atas membentuk lidah-lidah api.
Beruntung arena pertarungan itu beratap terbuka. Seperti lapangan di tengah bangunan. Sebut saja stadion!
"Eve… sadarlah!" bujuk Nazareth dalam bahasa cahaya. Sebelah tangannya terulur ke arah Evelyn, mencoba menyentuh kepala gadis itu.
Evelyn tetap bergeming.
"Semuanya keluar!" instruksi Nazareth kepada para peserta.
Kedua pemandu acara menggiring para peserta itu keluar arena.
Nazareth melayang perlahan mendekati Evelyn.
Ular-ular di sekeliling tubuh Evelyn semakin waspada.
Nazareth menarik napas dalam-dalam. Apa boleh buat! pikirnya. Jika ini bisa menenangkanmu… Lalu dengan cepat ia menyambar bahu Evelyn dan menariknya ke dalam dekapannya.
Dan…
JLEB!
Kepala-kepala ular itu serentak memagut punggung Nazareth.