Poison Eve

Poison Eve
Chapter-93



Evelyn tergagap menatap retakan tanah di bawah kakinya dengan terperangah.


"Kau sudah siuman?!" Cleon menghambur ke arah gadis itu dan hampir tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyergap kedua bahunya.


Tapi sesuatu menyembul dari balik bahu Evelyn dan Migi Vox muncul di sisi wajah Evelyn sambil menyeringai.


Cleon membeku dengan sebelah tangan terulur menggapai udara kosong.


"Kau sudah menguasai teknik penyatuan tiga jantung!" seru Evelyn tanpa mengalihkan pandangannya dari permukaan tanah.


"Ah—" Cleon terkekeh gelisah sembari memalingkan wajahnya sedikit dan mengusap bagian belakang kepalanya sendiri, tak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan itu setelah gagal menggapai Evelyn.


Migi Vox menelengkan kepalanya sedikit dan memperhatikan Cleon dengan dahi berkerut-kerut.


Cleon mengerling sekilas ke arah boneka itu dengan ekspresi gelisah. Kenapa dia menatapku begitu? pikirnya. "Hanya kebetulan kurasa!" katanya pada Evelyn.


"Kebetulan?" Evelyn akhirnya mengangkat wajah menatap Clean. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Well---yeah! Aku tak bisa lagi kalau disuruh mengulanginya!" Cleon mengaku. Kemudian melirik Migi Vox dengan alis bertautan.


Boneka itu masih memperhatikannya dengan kedua tangan bersilangan di depan dada.


Entah kenapa tatapan boneka itu membuat Cleon merasa tak nyaman. Apakah Earth Thunder sedang mengawasiku melalui boneka itu? ia bertanya-tanya dalam hatinya.


Meski ia mengetahui hampir segala hal tentang Earth Thunder, segala sesuatu tentang Migi Vox tak banyak diketahui orang. Bahkan kaisar Aero.


Migi Vox muncul bersama kembalinya Earth Thunder setelah sekian lama menghilang. Kemunculan boneka itu bahkan sempat menjadi kontroversi di kalangan para bangsawan.


Beberapa orang mengatakan Earth Thunder mungkin terpaksa mendalami teknik terlarang. Beberapa mengira ia berpindah aliran.


Orang-orang hanya mengetahui sedikit informasi mengenai boneka itu, bahwa Earth Thunder terpaksa menyegel sebagian kekuatannya dalam boneka itu karena pesatnya perkembangan kultivasinya, sementara peri pelindungnya cacat permanen.


Tak banyak pula orang yang tahu tentang kebenaran peri pelindung mutasi, selain hanya sebagai salah satu dari Sepuluh Teori Kekuatan Inti Peri Pelindung yang diterbitkan oleh seseorang bernama Nazareth Vox, dan berpura-pura bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan putra mahkota maupun ketua Ordo Angelos.


Yang mereka tahu, Nazareth Vox menulis teori tanpa bukti sebagai pelarian dari keputusasaannya. Bisa jadi sekadar upaya mengukir jati dirinya yang baru. Dikenal sebagai ahli teori!


Dengan begitu, meski semua orang meremehkannya, bukankah identitas rahasianya akan semakin aman?


"Omong-omong…" Cleon bicara sedikit kikuk. "Sejak kapan kau sudah siuman?"


"Sejak tadi malam," jawab Evelyn.


"Tadi malam?" Cleon membelalakkan kedua matanya ke arah Evelyn. "Aku tak melihatmu kembali ke kamar!"


"Tidak, tidak!" tukas Evelyn cepat-cepat. "Aku tidak kembali ke kamar tadi malam. Aku baru saja kembali ke sana, tapi kulihat tak ada siapa-siapa. Lalu, aku mendengar aktivitas di atas sini. Jadi…" Evelyn mengedikkan bahunya sedikit seraya menambahkan. "Aku ke sini. Kukira kalian berlatih bersama!"


"Kau… tidur dengan Lord Vox?" Cleon akhirnya tak bisa lagi memendam rasa penasarannya.


"Excuse me?" Evelyn bertanya tak yakin


"Maksudku… setelah kau siuman. Kau masih tidur di kamarnya?" Cleon tergagap-gagap.


"Apa sebenarnya yang kau pikirkan?" Evelyn mengerutkan keningnya.


"Hanya… bertanya," tukas Cleon dalam gumaman tak jelas sambil memalingkan wajahnya lagi. Tapi hanya sesaat. Ia kembali menatap Evelyn dan memaksakan senyum. "Aku hanya menggodamu saja!" ia menambahkan.


"Setelah siuman…" Evelyn mencoba menjelaskan situasinya, dan ia tak tahu kenapa ia merasa perlu melakukan itu. "Aku berlatih…" ia menggerak-gerakkan jemari tangannya di sekitar telinga dan pelipisnya yang sudah kembali normal. "Kau tahu, mengontrol itu!"


Evelyn menatap Cleon dengan dahi berkerut-kerut.


"Maksudku, sebagai teman tim…" Cleon menambahkan cepat-cepat. "Aku—kita harus saling menjaga. Kau tahu tulang cakra Apollo adalah impian semua Master Spiritual. Beberapa orang mungkin akan berusaha merebutnya dengan cara kekerasan. Aku tidak berharap…"


"Aku mengerti!" potong Evelyn sambil menepuk-nepuk pangkal lengan Cleon. "Thanks!" katanya sambil tersenyum. "Aku akan berusaha menjaga diri."


Cleon mengerjap menatap ke dalam mata Evelyn dan tersenyum sedih. Andai aku lebih kuat, pikirnya muram. "Aku akan menjagamu, Eve!" ia berjanji. Aku harus berusaha lebih kuat mulai sekarang, tekadnya dalam hati.


Tiba-tiba saja Migi Vox menyeringai dan mengecup pipi Evelyn yang secara spontan membuat kedua pipi gadis itu bersemu merah.


Cleon mengerjap gelisah dan tersenyum kikuk, antara kaget dan sedikit jengkel. Boneka sialan ini… gerutunya dalam hati.


"Omong-omong, di mana yang lain?" Evelyn memalingkan wajahnya dan mengedar pandang dengan salah tingkah.


"Aku juga tidak tahu," jawab Cleon tak kalah salah tingkah. "Aku akan mencari mereka!" katanya cepat-cepat, lalu bergegas meninggalkan bukit.


Evelyn mengekor di belakangnya dengan langkah-langkah pelan, sambil mengusap-usap punggung Migi Vox.


Boneka itu menggelayut di lehernya sambil menyusupkan wajahnya.


Cleon mengerling sekilas ke arah Migi Vox dan boneka itu balas menoleh sambil menjulurkan lidahnya. Cleon mendesah pendek dan menggeleng-geleng, kemudian mempercepat langkahnya. "Kau tunggulah di pondok!" pesannya pada Evelyn tanpa menoleh lagi. "Aku akan segera kembali."


Bersamaan dengan itu, Evelyn merasakan sebuah gerakan halus di belakangnya. Ia mengerling melewati bahunya.


Sesuatu---sebuah bayangan gelap melesat dengan cepat.


Evelyn berbalik dengan sikap kuda-kuda, menyimak sekitar dengan waspada.


SLASH!


Sebuah lingkaran gelap berbentuk cakram melesat ke arah gadis itu dalam kecepatan komet.


GLAAAAAAARRR!


Migi Vox menerjang lingkaran misterius itu dengan tendangan memutar di udara.


"What's wrong?" Cleon tersentak dan menoleh ke belakang.


Hening.


Evelyn membeku dengan mata dan mulut membulat. Menghadap ke belakang memunggungi Cleon. Kedua kakinya terangkat beberapa inci dari permukaan tanah.


Cleon segera berbalik dan menghambur ke arah gadis itu dan terkesiap.


Seorang pria mengenakan jubah gelap bertudung tahu-tahu sudah berdiri di depan Evelyn, menyergap leher gadis itu dan mencekiknya, mengangkat tubuhnya hanya dengan satu tangan.


Evelyn menyergap pergelangan tangan pria itu dengan kedua tangannya, mencoba menarik lepas cengkeraman pria itu dari lehernya.


Tapi cengkeraman pria itu sekeras pengungkit baja.


Migi Vox melayang di sisi bahu pria itu, menendang-nendang udara kosong, meronta-ronta dalam belenggu lingkaran gelap berbentuk cakram yang mengetat di tubuhnya, mengikat perut dan pangkal lengannya.


"Kau—" Clean memekik dan secara spontan menerjang ke arah pria itu, tapi dalam sekejap ia juga sudah terjerat cakra spiritual berwarna gelap seperti Migi Vox, lalu melayang dan meronta-ronta di belakang pria berjubah gelap itu bersama dengan Migi Vox.


"Kau sangat muda dan cantik," bisik pria itu dengan suara mendesis kering yang mendirikan bulu roma. "Sayang sekali kau harus mati!" Seulas senyuman miring tersungging di sudut bibirnya. Raut wajahnya terlihat datar dan dingin.