Poison Eve

Poison Eve
Chapter-113



"Menarik!"


Whoa! pikir Evelyn terkejut. Dia bahkan bisa bicara!


Pria paruh baya itu menggerakkan jemari tangannya lagi di sisi wajahnya dalam tarian ringan yang sederhana, lalu sebuah bola kristal berwarna biru muncul dari telapak tangannya.


Evelyn mengerjap dan terkesiap. Merasa familier dengan peri pelindung itu.


Master Claus! ia menyadari.


Dua orang yang pernah dikenalnya memiliki peri pelindung bola kristal adalah salah satu Master Penggali Bakat dari Balai Cabang Ordo Angelos dan Xenephon Claus.


Tapi mengingat serangan manna tadi, pria paruh baya ini lebih identik dengan Xenephon.


Kenapa keterampilan Master Spiritual tipe pemulihan ada di Balai Keterampilan Militer? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya.


Seolah bisa membaca pikiran Evelyn, pria paruh baya itu tiba-tiba berkata, "Jangan pernah meremehkan tipe pemulihan!"


Evelyn spontan tergagap.


Pria paruh baya itu melontarkan bola kristalnya ke arah Evelyn.


Untuk sesaat, Evelyn tak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana ia harus bereaksi. Ia belum pernah bertarung dengan tipe pemulihan.


Dan sebelum ia menyadari apa yang terjadi, sebelum ia dapat bereaksi, bola kristal itu sudah melayang mengelilinginya, kemudian bertambah banyak dan berubah perlahan menjadi gelembung air.


Evelyn mengerjap dan mengerutkan keningnya, mengedar pandang dengan tatapan bingung. Lalu tersentak mendapati pria paruh baya itu berubah dalam ukuran yang sangat besar, mungkin lebih besar dari Balai Budaya Kota Ilusi.


Benarkah pria itu semakin besar? pikir Evelyn tak percaya. Apakah bola kristal itu menebarkan semacam zat halusinogen yang bisa membuat seseorang berhalusinasi?


Tidak! pekik Evelyn dalam hatinya. Bukan dia yang membesar, ia menyadari. Akulah yang mengecil!


Keterampilan apa ini sebenarnya? Ia membatin gamang sambil mengedar pandang sekali lagi, berputar-putar dengan gelisah dalam bola kristal di telapak tangan pria paruh baya yang tak lain adalah Mikhail Claus.


"Just enough!"


Evelyn mendengar suara Nazareth yang menggelegar seperti gemuruh badai raksasa. Pria itu juga berukuran besar seperti gedung parlemen.


Mikhail terkekeh dan menarik peri pelindungnya.


Evelyn terlontar keluar seperti terhempas angin kencang dari dalam lubang.


Nazareth melesat ke udara dan menyergap pinggang Evelyn, kemudian mendarat dengan memeluk gadis itu.


Evelyn terperangah menatap kedua pria dalam ruangan itu bergantian.


"Ini Saint Claus," Nazareth memperkenalkan sambil melayangkan sebelah tangannya ke arah Mikhail. "Guardianku!"


Evelyn tersenyum gelisah dan membungkuk cepat-cepat ke arah Mikhail dengan hormat tentara. "Evelyn Katz memberi hormat," katanya.


Mikhail terkekeh menanggapinya. "Jangan sungkan begitu," katanya. "Aku hanya paman dari pihak ibunya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan keluarga kaisar!"


"Bagaimanapun Anda adalah guru dari guruku, dan itu berarti mahaguru bagiku," tukas Evelyn masih sambil membungkuk.


Mikhail bertukar pandang dengan Nazareth dengan seringai samar yang penuh arti.


"Ah—sudahlah!" sergah Mikhail sambil mendekat pada Evelyn dan meraup kedua pundak gadis itu. "Tidak ada orang lain di sini, untuk apa bersikap begitu formal?"


Evelyn meluruskan punggungnya dan tersenyum.


"Keterampilan itu belum terbuka," Mikhail memberitahu, kemudian mengerling ke arah lukisan keempat puluh lima yang tadi coba dibuka Evelyn.


Evelyn mengikuti lirikan matanya dengan alis tertaut. "Kemarin malam aku sudah mempelajarinya," katanya.


"Itu karena Vox yang membukakannya untukmu," Nazareth menimpali.


Evelyn mengedar pandang ke sekeliling ruangan untuk mencari sosok Migi Vox.


Seraut wajah lancip putih porselen, tiba-tiba melongok dari balik bahu Nazareth dan menyeringai.


Boneka itu kembali menjadi pria dewasa.


"Kenapa dia selalu seperti itu kalau di dalam sini?" tanya Evelyn penasaran.


"Karena ruang dimensi adalah ruang rahasia," Mikhail mengambil alih jawaban.


Evelyn menoleh pada pria paruh baya itu dengan isyarat bertanya.


"Setiap ruang dimensi bisa menguak segala rahasia," Mikhail menambahkan.


"Dan apa artinya itu?" Evelyn tak mengerti.


Evelyn mengerjap menatap Migi Vox. Mengawasi pria itu dengan dahi berkerut-kerut. Mencoba berpikir keras.


Seketika pembicaraan kecilnya dengan Nazareth di Hutan Berburu Peri Monster melintas dalam benaknya.


"Kenapa Master menamainya dengan nama belakang sendiri?"


"Menurutku itu suatu bentuk penghormatan!"


Lalu terngiang suara Xenephon.


"Tidak perlu melapor pada Kaisar! Pangeran bersama kami!"


"Nazareth Vox!" bisik Evelyn dengan suara tercekat.


Mikhail mengerjap dan melirik ke arah Nazareth.


"Migi Vox adalah Nazareth Vox!" Evelyn menyimpulkan. Kemudian menatap Earth Thunder dengan alis bertautan.


"Kau genius gila tak masuk akal," komentar Mikhail sembari menyeringai. "Aku hanya memancingmu sedikit dan kau sudah menguak sebuah rahasia penting yang bisa menghancurkan sebuah aliansi global!"


Earth Thunder menatap Evelyn seraya tersenyum sedih. Terngiang kata-kata Evelyn, "Bagiku kau tetap Nazareth Vox!"


Evelyn menjilat bibir bawahnya dan menelan ludah. Tertegun dalam waktu yang lama.


"Jadi…" Earth mencoba memecah kebekuan. "Kau lebih suka aku atau Vox?" tanyanya berkelakar. Tentu saja ia tidak pernah menganggap Migi Vox sebagai orang lain. Bagaimanapun Migi Vox atau Nazareth Vox adalah bagian dari dirinya.


Itu tidak seperti kasus kembar siam, di mana dua tubuh jadi satu dengan dua pribadi yang berbeda. Tapi lebih kepada kepribadian ganda, di mana dua pribadi yang berseberangan memperebutkan satu kesadaran.


"Sejujurnya aku lebih suka Vox," jawab Evelyn di luar dugaan.


"What?" Earth spontan merongos.


Mikhail tergelak menanggapinya. "Aku suka kau, Evelyn Katz!" katanya.


Vox menelengkan kepalanya dan menyeringai dari balik punggung Earth.


"Bagiku kau tetap Nazareth Vox!" Evelyn bersikeras. Lalu mendekat pada Migi Vox dan meraup kedua pipinya yang licin. "Dan aku suka dirimu yang… bodoh!" Ia menambahkan sambil tersenyum pada Migi Vox.


Migi Vox menyeringai dengan ekspresi jahatnya yang khas.


Nazareth menoleh ke belakang dengan ekspresi kesal.


Mikhail terbahak-bahak.


"Ini gara-gara kau!" sembur Nazareth pada guardiannya.


"Berdamailah dengan dirimu, Earth," Mikhail menepuk pundak Nazareth. "Bagaimanapun si bodoh itu ahli teori!" katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Migi Vox.


Boneka itu mendongakkan hidungnya sambil bersedekap.


Evelyn menurunkan tangannya dari pipi Migi Vox, kemudian berbalik memunggunginya. Bergabung kembali dalam percakapan.


"Omong-omong kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Nazareth setelah sejenak terdiam.


"Ada hal yang ingin kutanyakan," kata Mikhail. "Tapi kukira aku tak perlu menanyakannya lagi sekarang."


Nazareth spontan mengerling ke arah Evelyn.


Evelyn menoleh pada mereka dengan tatapan curiga.


Mikhail berpaling ke arah Evelyn, "Aku sudah melihatnya!"


Nazareth mengerutkan dahi.


"Kau genius," kata Mikhail pada Evelyn. "Kalau tidak salah tebak… kau mewarisi tulang cakra mahkota peri Apollo!"


Nazareth dan Evelyn terkesiap bersamaan.


Kau yang genius gila tak masuk akal! kata Evelyn dalam hatinya, ditujukan pada Mikhail.


"Kalau begitu…" Mikhail tiba-tiba tertunduk dengan raut wajah keruh. "Aku terpaksa memperingatkanmu!"


"Memperingatkan?" Evelyn menaikkan alisnya.


"Ronde berikutnya… kau harus mengaku kalah!" saran Mikhail.


Evelyn terbelalak dengan raut wajah syok. Lagi? pikirnya.