Poison Eve

Poison Eve
Chapter-73



"Lady…" Electra menghampiri guardiannya dengan ragu.


Nyx Cornus berdiri membelakanginya, memandang lepas ke seberang bukit dari lereng bukit di pekarangan belakang estat Nazareth. Seusai makan malam, gadis guardian itu mengajak anak asetnya untuk bicara empat mata.


Begitu juga dengan Evelyn dan tiga temannya yang lain. Masing-masing mereka diundang guardiannya untuk bicara empat mata.


Mungkin Evelyn malah sedang berkencan!


Lady Die benar. Morfeus Academy adalah sebuah lelucon. Sekolah seni bela diri spiritual paling konyol di negeri peri. Mungkin juga di seluruh dunia.


Menyadari Electra tidak melanjutkan perkataannya, Nyx Cornus akhirnya menoleh pada anak asetnya dan mengerutkan dahi.


Electra tertunduk dan tersenyum masam, "Kenapa kau mengalah pada kami?" tanyanya.


"Mengalah?" Nyx Cornus menaikkan sebelah alisnya.


Electra akhirnya mengangkat wajah, memberanikan diri menatap wajah guardiannya. "Kau tak mungkin kalah semudah itu, kan?"


Nyx Cornus terkekeh tipis dan menggeleng-geleng, lalu memalingkan wajahnya lagi, memunggungi anak asetnya. "Tanpa kekuatan cahaya, itulah aku apa adanya, Electra!" tukasnya tanpa beban sedikit pun.


Electra mengerutkan keningnya. "Apa adanya?" tanyanya tak mengerti.


"Tanpa kekuatan cahaya, kita semua tak lebih dari onggokan usus!" timpal Nyx Cornus. "Kau beruntung menerima bimbingan langsung dari Lord Vox," tuturnya tanpa menoleh. "Dalam dunia master spiritual, Lord Vox adalah orang terkuat secara fisik. Tak banyak Master Spiritual yang mengandalkan kekuatan fisik."


"Tapi—" Electra kembali ragu, tapi kemudian menguatkan hatinya untuk bertanya, meski hanya berupa bisikan tercekat. "Apa gunanya pelatihan fisik di area pertarungan spiritual?"


Nyx Cornus menoleh pada gadis itu dan tersenyum. "Beberapa organ tubuh manusia memiliki kekuatan spiritualnya sendiri. Dan itu lebih sempurna dari ras peri."


"Dan apa itu artinya?" Electra semakin tak mengerti.


Nyx Cornus akhirnya berbalik, menghadap ke arah Electra dan menatap ke dalam mata gadis itu. "Bukankah sudah cukup jelas, kita semua, para master spiritual bergantung pada kekuatan peri untuk berkultivasi? Menghisap cakra spiritual mereka, menghidupi peri pelindung kita yang tentunya berasal dari ras peri juga. Lalu siapa kita tanpa mereka?"


Electra langsung terdiam dengan dahi berkerut-kerut.


"Manusia juga makhluk spiritual, Electra!" Nyx Cornus memberitahu. "Setiap kita memiliki sembilan cakra di tubuh kita. Bukankah itu lebih sempurna dari peri monster?"


Electra mengerjap dan terkesiap. "Sembilan cakra?"


"Benar," jawab Nyx Cornus sambil tersenyum dan meletakkan kedua telapak tangannya di bahu Electra. "Setiap jengkal tubuh kita adalah kekuatan sekaligus kelemahan kita," katanya. Lalu mulai menunjuk satu per satu bagian-bagian tubuh yang menurutnya adalah titik lemah sekaligus pusat kekuatan tubuh manusia. "Dimulai dari yang paling tinggi," tuturnya sambil menepuk lembut puncak kepala anak asetnya. "Spirit---Jiwa!"


Electra mengerjap dan menelan ludah.


Lalu Nyx Cornus mengetuk-ngetukkan ujung telunjuknya di dahi Electra di antara kedua alisnya, "Intelligence---Kecerdasan!" Lalu mengusap kedua kelopak mata Electra dengan jemari tangannya, "Vision---penglihatan!"


Electra membuka kelopak matanya setelah Nyx Cornus menarik jemari tangannya.


Nyx Cornus menunjuk telinganya sendiri, "Audio---pendengaran!" Lalu menunjuk mulutnya, "Expression---pernyataan!" Lalu menunjuk tenggorokannya, "Emotion—renjana!" Lalu menunjuk dadanya, "Conscience---hati nurani!" Lalu menunjuk perutnya, "Desire---hasrat!" Lalu… melayangkan telapak tangannya di sekitar itu, "Passion---gairah!"


Electra tercenung sambil berpikir keras. Setiap jengkal, ulangnya dalam hati.


"So…" Nyx Cornus menambahkan sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Apa bedanya kita dengan peri monster?" tanyanya pada Electra, sebelah alisnya terangkat tinggi.


.


.


.


"Sesuai dengan namanya, Bola Kristal Aries---Mars atau planet merah, merupakan peri pelindung senyawa yang terbuat dari dua atom besi dan tiga atom oksigen," tutur Xenephon pada Evelyn.


Selagi kekasihnya sibuk bicara empat mata dengan anak asetnya, Xenephon memanfaatkan waktunya untuk memberikan sedikit pengarahan pada Evelyn, di samping kehabisan ide untuk membuat alasan bagus pada Nazareth.


Nazareth mengawasi mereka dari seberang meja sementara Xenephon mengambil tempat duduknya di sisi Evelyn.


Migi Vox juga mengawasi mereka sambil uncang-uncang kaki di bendul jendela.


"Sifatnya kuat namun mudah dibentuk," Xenephon menambahkan. "Selain itu juga sangat reaktif!"


"Benar," jawab Xenephon.


"Lalu…" Evelyn mengerutkan keningnya dan menoleh pada Xenephon. "Kenapa kau menautkan cakra peri monster King Cobra?"


"Bukankah setiap penyakit diturunkan bersama obatnya?" tukas Xenephon seraya tersenyum tipis. "Sama halnya seperti anugerah datang bersama kutukan, malaikat hidup berdampingan bersama iblis…"


"Oke, aku sudah mengerti!" potong Evelyn.


Xenephon bertukar pandang dengan Nazareth seraya tersenyum samar.


"Kau sungguh dalam masalah besar, Evelyn!" Xenephon akhirnya berterus terang.


Evelyn mengerjap menatap pria itu, kemudian mengerling ke arah Nazareth.


Nazareth menanggapinya dengan tatapan prihatin.


"Kau membangkitkan peri pelindung ganda," lanjut Xenephon. "Dan sayangnya peri pelindung keduamu juga bersifat ganda!"


Evelyn menelan ludah dan tergagap.


"Fokusmu akan tertuju hanya pada dirimu," kata Xenephon lagi. "Dan itu sama saja dengan memiliki kepribadian ganda!"


"Lagi?" gumam Evelyn dengan dahi berkerut-kerut.


Nazareth dan Xenephon terdiam memperhatikannya.


"So…" Evelyn mengangkat wajahnya, menatap Xenephon dan Nazareth bergantian. "Apa yang harus kulakukan?"


Xenephon mengedikkan sebelah bahunya dan melayangkan telapak tangannya ke arah Nazareth. "Itu urusan beliau," katanya sambil mengedipkan sebelah matanya pada Nazareth.


Nazareth mendelik sebal menanggapinya.


Evelyn mengerling pada Nazareth dengan tatapan memelas.


Nazareth mendesah pendek dan tersenyum tipis, "Kau sudah belajar cara menyerap cakra dengan cakra, latihanmu selanjutnya adalah menyerap peri pelindung dengan peri pelindung. Itu tak akan sulit, Eve! Tidak akan ada bedanya dengan menyerap cakra dari peri monster."


"Baiklah, aku sudah mengerti," kata Evelyn, lalu beranjak bangkit. "Aku akan mulai latihan sekarang!" katanya.


Nazareth tersenyum lagi. Lalu mengangguk menyemangati Evelyn.


Evelyn membungkuk ke arah Xenephon dan Nazareth dengan hormat tentara. Lalu bergegas keluar ruangan.


Nazareth dan Xenephon juga beranjak dari tempatnya masing-masing. Lalu bergegas keluar mengekori Evelyn.


Migi Vox segera melompat dari jendela dan mendarat di punggung Nazareth.


Nazareth meraih lengannya dan menarik boneka itu naik ke bahunya.


"Kau tidak berniat mencuri ciuman selagi Rubah Kecilmu bermeditasi, kan?" goda Xenephon sembari menyeringai.


Nazareth menginjak kakinya sebagai tanggapan.


Xenephon terkekeh dan menghambur ke pekarangan depan, sementara Nazareth masih mengekor di belakang Evelyn.


Tidak!


Tentu saja dia tidak berniat untuk mencuri ciuman sementara kekasihnya bermeditasi.


Nazareth mengikuti gadis itu untuk menemui Cleon di kamar sebelahnya.


Sementara Evelyn bermeditasi di pekarangan belakang, Nazareth membimbing Cleon ke pekarangan samping bersama Arsen Heart.


"Kau adalah tipe kekuatan dan pertahanan," Nazareth mengingatkan. "Teknik Penyatuan Tiga Jantung akan sangat membantu ketangguhanmu. Lihat ini!" Nazareth memperlihatkan teknik-teknik dasar penyatuan tiga jantung seperti yang pernah ia lakukan pada Evelyn di kereta kuda dalam perjalanan mereka menuju Hutan Berburu Peri Monster Kekaisaran.