
"Earth…" Evelyn mendesis lirih di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam. Kelopak matanya bergetar. Napasnya terengah-engah.
"Earth!" ia memanggil sekali lagi. Suaranya tercekat di tenggorokan. Kepalanya bergerak-gerak dengan gelisah.
"EARTH!" teriakan panik itu akhirnya lolos dari mulutnya hingga meledak menyentakkan Nyx Cornus yang sedang terlelap dalam bak mandi tak jauh di sebelahnya.
"Mimpi burukmu merusak mimpi indahku!" gerutu Nyx Cornus menyentakkan Evelyn.
Evelyn menoleh ke samping dan terkesiap. Lalu tertunduk mengamati dirinya. "Kenapa kita ada di sini?" tanyanya kebingungan.
"Karena kita sudah pasti babak belur!" jawab Nyx Cornus tanpa beban sedikit pun. Kemudian duduk melorot, menyandarkan punggungnya lagi.
Evelyn menoleh lagi pada Nyx Cornus. Sebelah alis rampingnya terangkat tinggi.
"Kau diculik Kefas Damon," Nyx Cornus memberitahu.
"Kefas?" tanya Evelyn tak yakin. Lalu tercenung dengan dahi berkerut-kerut. Mencoba mengingat-ingat "Rantai itu…"
Nyx Cornus mengerling pada Evelyn. "Rantai?"
"Sangat mirip dengan peri pelindungmu," sahut Evelyn masih sambil tercenung dengan dahi berkerut-kerut.
Nyx Cornus ikut mengerutkan dahi. "Peri pelindung rantai neraka hanya dimiliki oleh klan Cornus!" sergahnya.
Evelyn menelan ludah dan terkesiap.
"Tidak---tunggu!" sela Nyx Cornus. "Jika itu diwariskan dari pihak ibu…"
"Aku mengerti," timpal Evelyn cepat-cepat. "Pemilik peri pelindung rantai neraka bisa saja bukan klan Cornus!"
Nyx Cornus masih tercenung. Raut wajahnya terlihat janggal.
Evelyn meliriknya dengan mata terpicing. "Lady," tegurnya hati-hati. "Are you okay?"
Nyx Cornus mengerjap dan tergagap. "Sebenarnya…" ia menggantung kalimatnya dan menatap Evelyn dengan ragu.
Evelyn menautkan alisnya dengan isyarat menuntut.
"Aku ingat seorang Katz mewarisi peri pelindung rantai neraka dari ibunya," tutur Nyx Cornus dengan ekspresi muram.
.
.
.
"Agathias Katz!" desis Nazareth dengan rahang mengetat.
"Benar," sahut Arsen Heart. "Satu-satunya pemilik peri pelindung rantai neraka yang paling mungkin punya masalah pribadi dengan Evelyn hanya orang Katz!"
Migi Vox mendongak menatap Arsen Heart sambil duduk bersila di atas meja.
Nazareth mengerjap dan mengerutkan dahi. Bayang-bayang ayah Evelyn yang tergeletak dengan bahu terkoyak melintas dalam benaknya. "Seharusnya aku menyadarinya sejak awal," gumamnya dengan suara agak bergetar. "Agathias Katz adalah pewaris ayah Evelyn!"
Arsen Heart tertunduk di seberang meja. Tak tahu bagaimana harus menanggapinya.
Malam itu, secara khusus Nazareth mengundang Arsen Heart untuk bicara empat mata di perpustakaannya.
Sebagai pemilik peri pelindung tipe senjata, Arsen Heart adalah orang yang paling tepat untuk diajak bicara mengenai rantai neraka. Dia mengetahui banyak jenis peri pelindung tipe senjata dan pemiliknya. Rantai neraka adalah salah satunya.
Menurut Arsen Heart, tak banyak Master Spiritual yang memiliki peri pelindung ini kecuali klan Cornus.
Menurut Nazareth, klan Cornus tidak memiliki riwayat persekongkolan buruk terkait ambisi suatu aliansi. Apalagi keuntungan pribadi.
Klan Cornus adalah klan ksatria yang namanya tercatat paling bersih dari generasi ke generasi.
Setelah pembicaraan panjangnya dengan Arsen Heart malam itu, Nazareth akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan yang menuntunnya pada sebuah nama, Agathias Katz!
Agathias Katz adalah putra seorang Katz dengan ibu seorang Cornus.
Kush Thunder…
Agathias Katz…
Neiro Sach…
Nazareth mengepalkan tangannya. Tunggu sampai kita bertemu di Balai Cahaya!
Sebuah gerakan halus di beranda membuat Nazareth spontan waspada.
Migi Vox tiba-tiba tersentak menatap Nazareth dengan mata membulat. Mata boneka itu berbinar-binar yang membuat Nazareth bisa langsung menyimpulkan… Evelyn!
Arsen Heart melirik Nazareth dengan mata terpicing ketika tiba-tiba menyadari sebuah pertanda bahwa pemilik akademi itu sedang tersipu.
Pintu geser perpustakaan itu terkuak membuka dan Evelyn tergagap di ambang pintu.
Migi Vox spontan melesat ke arah gadis itu dan memeluknya.
Arsen Heart melirik sekilas ke arah pintu melalui sudut matanya dan tersenyum samar, kemudian beranjak dari tempat duduknya dan memohon diri.
Evelyn membungkuk pada Arsen Heart dengan hormat tentara ketika pria itu melangkah keluar melewatinya.
Arsen Heart menanggapinya dengan anggukan singkat.
Nazareth masih membeku di tempat duduknya tanpa berkedip. Tatapannya tidak beralih dari Evelyn. Wajahnya masih sedikit pucat, katanya dalam hati. Tapi tetap saja cantik!
Evelyn mengerjap dan tertunduk dengan wajah tersipu, "Apa aku mengganggu?" ia bertanya ragu.
"Tidak!" tukas Nazareth sambil beranjak dari tempatnya, sedikit terlalu antusias. Tapi lalu tergagap menyadari dirinya hampir tak bisa menahan diri. "Masuklah!" katanya sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya dan berdeham, mencoba menenangkan jantungnya yang meletup-letup tak terkendali. Mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya hingga datar kembali.
Evelyn menghampirinya sambil tertunduk mengulum senyumnya.
Nazareth tersenyum samar dan mengulurkan sebelah tangannya pada Evelyn.
Evelyn menyambut uluran tangannya dan tersenyum sekali lagi, lalu mendongak dan membuka mulut.
"Jangan katakan apa pun!" bisik Nazareth sambil menarik Evelyn ke dalam dekapannya. "Aku tak ingin mendengar apa pun kecuali napas dan detak jantungmu."
Evelyn langsung terdiam.
Migi Vox terhimpit di tengah-tengah mereka, kemudian menggeliat menyikut bahu Nazareth dengan dahi berkerut-kerut karena kesal.
Nazareth tak menggubrisnya.
"Berhentilah berebut seperti ini," kata Evelyn setengah terkekeh. "Aku bukan makanan!"
"Tapi kau selalu membuat kami lapar!" tukas Nazareth. Lalu menarik wajahnya.
Evelyn berjingkat dan mengalungkan kedua tangannya di leher Nazareth, memberikan ciuman ringan di bibir pria itu.
Senyum Nazareth melembut dan tatapannya menghangat.
"Sudah lebih baik?" tanya Evelyn.
Senyum Nazareth melebar. "Baiklah," katanya menyerah. "Kau boleh bicara sekarang!"
Evelyn menurunkan tumit kakinya dan melepaskan rangkulannya dari leher Nazareth. "Berapa lama aku direndam dalam bak mandi?" tanya Evelyn setengah merajuk.
Nazareth terkekeh tipis menanggapinya. "Dua hari," jawabnya.
Evelyn spontan tersentak, "Bagaimana pertarungannya?"
"Kita terpaksa mengaku kalah!" jawab Nazareth.
"Jadi selama ini akulah yang keras kepala?" gumam Evelyn dengan ekspresi kecewa.
"Hanya babak penyisihan," sergah Nazareth. "Kita tak harus ambil risiko lebih banyak. Pertarungan sudah berakhir. Kalian lolos ke babak selanjutnya."
Evelyn mendesah pelan dan mendongak, menatap Nazareth dengan muram.
"Babak penentuan akan diselenggarakan di perbatasan," Nazareth memberitahu. "Lalu babak final di Balai Cahaya!"
Evelyn mengerjap dengan ketertarikan baru.
"Simpan tenaga dan tingkatan level!" Nazareth menasihati. "Masih sisa enam hari sebelum berangkat ke perbatasan. Erebos jauh lebih liar dari Hutan Kegelapan."
"Kalau begitu aku akan lebih banyak berada di Balai Keterampilan," tukas Evelyn.
"Tidak untuk hari ini!" sergah Nazareth.
Evelyn mengerutkan keningnya.
"Aku masih punya keterampilan lain untuk memulihkan wajahmu yang pucat," goda Nazareth sembari tersenyum nakal, lalu merunduk untuk mencium bibir Evelyn. Migi Vox menyikutnya lagi.
Evelyn menarik wajahnya menjauh sambil terkekeh. Kemudian mengusap-usap punggung Migi Vox.
"Ikut aku!" ajak Nazareth sambil menuntun Evelyn keluar perpustakaan, kemudian berjalan menyusuri koridor menuju kamar Nazareth.
Cleon dan Altair sedang melintas di pekarangan, ketika mereka melangkah masuk ke dalam kamar dan pintu bergeser menutup di belakang mereka.
Cleon spontan terhenyak. Peri pelindung palunya serasa menghantam ulu hatinya sendiri.
Hubungan mereka sudah sejauh ini?