Poison Eve

Poison Eve
Chapter-26



"Master, dalam waktu dekat jangan terlalu lelah!" pesan Evelyn setelah mereka sampai di estat Nazareth. Ia membaringkan pria itu di tempat tidurnya dan meletakkan Migi Vox di dada pria itu. "Kalau butuh sesuatu, perintahkan saja padaku."


Migi Vox mendongak menatap Evelyn dengan tatapan memelas seakan tak rela turun dari pangkuan gadis itu.


Tak kusangka kali ini bisa terhindar dari kematian, pikir Nazareth sambil mengusap-usap kepala bonekanya. "Kesembuhanku bukan masalah," katanya terlihat tenang meski hatinya luluh lantak. "Tapi pelatihanmu tak boleh tertunda. Ambillah buku itu," ia menginstruksikan sambil menunjuk salah satu buku di rak dindingnya. "Buku ketiga, baris keempat!"


Evelyn mengikuti arah telunjuknya dan menarik keluar sebuah buku tebal yang ditunjuk guardiannya.


"Di situ tertulis beberapa hasil penelitianku tentang pelatihan cakra spiritual," Nazareth memberitahu. "Ikuti panduannya!"


"Hmh!" Evelyn mengangguk antusias.


"Satu hal lagi," Nazareth menambahkan. "Kau harus pergi ke kota Angelos untuk mendaftar di Ordo Angelos supaya nantinya kau bisa mendapat subsidi Master Spiritual setiap bulannya."


Evelyn mengulum senyumnya dan mengangguk sekali lagi. Lalu bergegas keluar kamar Nazareth.


Bersamaan dengan itu, Xenephon muncul di ambang pintu dan nyaris bertabrakan dengan Evelyn.


"Master!" Evelyn membungkuk cepat-cepat dan memberi hormat.


Xenephon tersenyum padanya dan bergegas masuk ke kamar Nazareth, sementara Evelyn melangkah keluar.


Xenephon memperhatikan punggung gadis itu hingga menghilang sebelum akhirnya berpaling pada Nazareth. "Apa yang terjadi?"


"Dia baru saja menyelamatkan hidupku!" Nazareth menarik duduk tubuhnya dan bersandar ke kepala tempat tidur. Migi Vox melompat dan ikut-ikutan duduk di pangkuannya sambil mendongak menatap Xenephon.


"Well---yeah," sindir Xenephon. "Aku bisa melihatnya dari Migi Vox!"


"Di samping menyelamatkan reputasiku tentunya!" Nazareth menambahkan.


Xenephon mengerjap dan membelalakkan matanya. "Kau berhasil?"


"Dia yang berhasil!" tukas Nazareth.


"Itukah sebabnya kau babak belur?" dengus Xenephon.


Nazareth tersenyum pahit. "Hanya monster level sepuluh," katanya sambil menekuk kepala Migi Vox untuk memperlihatkan bekas gigitan di tengkuk boneka itu.


Tangan dan kaki mungil Migi Vox mengepak-ngepak mencoba memberontak.


"Peri vampir," gumam Xenephon. "Efeknya akan buruk dalam jangka panjang."


Nazareth mendesah pendek dan melemaskan tubuhnya. "Dia sudah menetralisir racunnya dengan baik," katanya.


Xenephon mengerutkan keningnya. "Kukira dia hanya memberimu penawar atau semacamnya," tukasnya tak yakin.


Nazareth menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan bekas sayatan di pergelangan tangannya.


"Dia bukan pemula biasa," komentar Xenephon.


"Kau ingat pria yang kita selamatkan di gerbang perbatasan kota Fortress?"


Xenephon memicingkan matanya, "Ya," katanya. "Kenapa?"


"Dia adalah ayahnya!"


Xenephon membelalakkan matanya sekali lagi. "Gadis ini benar-benar sengketa dunia!"


.


.


.


Kota Angelos…


Evelyn mendongak menatap sebuah bangunan raksasa tinggi menjulang. Ia berjalan melewati gerbang besi hitam, menaiki beberapa tangga depan.


Sepasang pilar kembar mengapit pintu aula dengan kemegahan ala Yunani, mengarahkan kepala dua buah tangga yang menuju ke lantai utama yang tampak seolah bermil-mil jauhnya.


"Berhenti, Nak!" seorang pria berpakaian resmi meneriaki Evelyn dari koridor. "Ini Gedung Parlemen, tak boleh sembarangan masuk!"


Evelyn membungkuk sekilas dengan gaya khas bangsawan, "Aku datang untuk tes peri pelindung," katanya dengan sopan.


"Masuklah di kawasan aula pendaftaran," pria di koridor tadi memberitahu. "Carilah Master Helios!"


Evelyn membungkuk sekali lagi kemudian berbalik dan bergegas ke sisi lain bangunan itu dan mulai mencari di mana tepatnya aula pendaftaran.


Tak sampai lima menit ia sudah menemukan kawasan itu dan tidak ada penjaga yang menghalanginya ketika ia mendorong pintu ganda dan melangkah ke dalam ruangan.


Lima orang pria berseragam armor tanpa helm dan senjata menoleh serempak ketika Evelyn memasuki aula itu.


Evelyn membungkuk pada mereka dan menyapa dengan sopan. Ia mengenali kelima pria itu ketika di Balai Budaya.


"Kau…" pemilik bola kristal mengenali Evelyn.


Empat lainnya mengerutkan dahi.


"Ah—aku ingat dia!" salah satu dari mereka berseru secara tiba-tiba. "Evelyn Katz!"


"Si Rumput Liar?" timpal yang lainnya dengan mata terpicing.


Lalu yang lainnya lagi mulai mengingat Evelyn.


Para penggali bakat itu tertawa dan seketika ruangan berubah ceria. Mereka menyapa Evelyn dan menggodanya tanpa mencela.


"Tunggu sebentar!" sela si pemilik bola kristal di antara tawa mereka yang bersahabat. "Aku mengenali seragam itu," katanya.


"Tentu!" timpal yang lainnya berkelakar. "Siapa yang tidak tahu sekolah elit para pemimpi!"


Turun menyusuri tangga, muncullah seorang pria lebih tua bertubuh tinggi, tegap, dan tentu saja bak seorang raja di usianya yang mungkin telah menginjak empat puluh tahun, dengan segala kemapanan dan ketampanannya.


Para penggali bakat itu menuntun Evelyn menuju pria itu.


"Masih ingat anak yang kami ceritakan?" si pemilik bola kristal berkata pada pria itu. "Kekuatan spiritual penuh alami, tapi peri pelindungnya…" pria itu menggantung kalimatnya dan mengangkat bahu.


Pria itu menoleh sepintas lalu, kemudian menuruni beberapa anak tangga lagi dan akhirnya bergabung bersama mereka. Ia memandangi Evelyn dengan alis bertautan.


"Evelyn Katz!" salah satu penggali bakat memperkenalkan Evelyn pada pria itu. "Evelyn, ini Master Helios!"


Evelyn membungkuk pada pria itu.


"Apa kalian yakin anak ini datang untuk tes lanjutan dan bukan untuk pembangkitan peri pelindung?" tanya Helios tak yakin.


Para penggali bakat itu bertukar pandang satu sama lain.


"Kami yang membangkitkan peri pelindungnya," si pemilik bola kristal mengambil alih jawaban. "Silahkan memeriksanya!" katanya sambil membungkuk dan melayangkan sebelah tangannya ke arah Evelyn.


Helios memutar tubuhnya sambil melirik sekilas pada Evelyn, "Ikut aku!" ia menginstruksikan pada Evelyn, lalu berjalan ke arah koridor di sisi tangga.


Evelyn membungkuk pada para penggali bakat dan bergegas mengikuti Helios.


"Sampai nanti, Evelyn!" para penggali bakat itu berseru serempak.


"Ini adalah Balai Cabang Ordo Angelos tingkat terendah," Helios memberitahu. "Di Negeri Peri, meski di kota kecil sekalipun memiliki Balai Ordo Angelos dengan skala ini. Di atas Balai Cabang, ada Balai Turunan, dan di atasnya lagi ada Balai Utama. Balai Utama hanya dimiliki kota besar."


Evelyn menoleh dan tersenyum tipis menanggapi Helios. Tak tahu apa yang harus dikatakan.


Langkah mereka sudah mencapai ruangan lain di sayap kiri bangunan.


"Di ibukota kedua kekaisaran ada Balai Cabang Tingkat Dua," Helios melanjutkan penjelasannya setelah mereka mencapai altar di mana sebuah bola kristal raksasa mengambang di atas sebuah piala perak berukuran besar setinggi kepala orang dewasa. "Tingkat satu adalah Balai Mulia, itu adalah tempat tersuci Ordo Angelos. Sebenarnya, di atas Balai Mulia masih ada Balai Leluhur. Hanya Master Spiritual tertinggi yang berhak masuk ke sana. Itu adalah tempat impian semua Master Spiritual."


"Terima kasih sudah memberitahu," ungkap Evelyn sambil membungkuk hormat.


Langkah mereka berhenti di depan piala raksasa itu.


"Apa kita sudah boleh mulai?" tanya Evelyn sambil mengerling ke arah bola kristal raksasa itu.


"Anak muda zaman sekarang sungguh tidak sabaran," gerutu Helios.