
Evelyn terhuyung dan melemas, kepalanya merayang dan lututnya terasa goyah.
Dan ketika ia hampir ambruk, Migi Vox melesat ke arahnya dan menyambar pinggangnya, menahan tubuhnya.
Evelyn menatap wajah boneka itu sementara penglihatannya mulai memburam.
Seulas senyuman miring tersungging di sudut bibirnya.
Evelyn tak ingin tahu apa arti senyuman itu kali ini. Yang ia tahu, Migi Vox suka sekali menyeringai.
Sekarang boneka itu menegakkan tubuh Evelyn dan menopangnya dari belakang. Sebelah tangannya melingkar di pinggang Evelyn, sementara tangan lainnya memegangi wajah Evelyn dan menariknya untuk memandang berkeliling.
Evelyn mengikuti setiap arah petunjuknya dengan mata terpicing. Pandangannya masih memburam namun ia tak sampai kehilangan kesadarannya. Tampaknya menyerap racun dari peri pelindung dengan peri pelindung itu sendiri berhasil.
Migi Vox menelengkan kepalanya sedikit dan melongok wajah Evelyn seolah memastikan gadis itu mengerti apa yang dimaksudnya.
Tidak ada yang berubah, pikir Evelyn. Meski tubuhnya bisa berubah seperti Nazareth, raut wajahnya masih terlihat polos.
Sebenarnya apa tujuan Migi Vox melakukan semua ini? Evelyn bertanya-tanya dalam hatinya. Dia menggerayangiku beberapa saat lalu, kemudian memperlakukanku dengan kejam ketika aku menyerangnya seakan tidak peduli dengan risiko kematianku. Lalu sekarang tiba-tiba dia memperlakukanku dengan lembut dan bersikap seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu.
Benarkah Migi Vox sepolos ini?
Sampai sekarang, Evelyn merasa belum mengenal Migi Vox dengan baik.
Terkadang Evelyn ingin membongkar isi kepalanya untuk mengetahui seperti apa otak boneka itu. Dia tergolong genius untuk ukuran boneka. Kecerdasannya bahkan melebihi akal manusia. Tapi di sisi lain ia begitu jahat dan tidak masuk akal.
"Vox…" Evelyn mendesis lemah. Tubuhnya masih terasa lemas, tapi penglihatannya berangsur-angsur pulih. "Sebenarnya kita sedang di mana?"
Migi Vox menelengkan kepalanya lagi dan menatap wajah Evelyn, lalu memutar tubuh mereka sedikit.
Evelyn melihat lubang besar berbentuk oval berwarna biru langit yang sepintas terlihat seperti kolam pemandian air panas. Ia memperhatikan lubang itu dengan dahi berkerut-kerut. Merasa familier dengan corak bingkainya.
"Kalung itu!" Evelyn menyadari. Corak bingkainya seperti bandul kalung permata penyimpanan dari Nazareth.
Migi Vox menelengkan kepalanya lagi dan menyeringai.
Ternyata benar! Evelyn menyimpulkan. Untuk beberapa hal, terkadang ia bisa mengerti Migi Vox.
"Kau yang membawaku ke sini?" Evelyn bertanya sambil mendongak menatap Migi Vox.
Boneka itu tersenyum lagi.
Evelyn menarik dirinya dari rengkuhan Migi Vox dan memutar tubuhnya menghadap boneka itu. "Bagaimana caranya?" tanyanya bersemangat.
Migi Vox menjauh beberapa langkah, kemudian meregangkan kakinya dan menekuk lututnya sedikit dalam sikap kuda-kuda. Ia menggerak-gerakkan telapak tangan dan jemarinya di depan wajah, kemudian mengeluarkan teknik dasar energi cahaya berwarna putih.
"Tenaga dalam!" Evelyn menyimpulkan.
Boneka itu menarik kembali tenaga dalamnya dan menyeringai sekali lagi, menelengkan kepalanya sedikit seperti kebiasaanya.
Seketika wajah Evelyn berubah semringah, lalu dengan antusias memasang kuda-kuda, bersiap untuk menarik keluar tenaga dalamnya.
Tapi Migi Vox menghambur ke dalam pelukannya dan menggelayut di lehernya seperti kebiasaannya ketika ia hanya berbentuk boneka kecil. Tapi ukuran tubuhnya sekarang membuat Evelyn gelagapan.
"Vox! Aku tak bisa bernapas!" pekik Evelyn dengan suara terbenam.
Migi Vox melonggarkan pelukannya dan menarik wajahnya menjauh. Matanya mengerjap dengan sorot memelas.
Dia masih ingin bermain! Evelyn menyimpulkan. "Baiklah," katanya menyerah. "Tapi jangan lakukan lagi yang seperti tadi!" Evelyn memperingatkan sambil mengacungkan telunjuk di depan wajah Migi Vox.
Boneka besar itu menatap telunjuk Evelyn dengan ekspresi bingung seorang anak kecil.
Migi Vox mengerjap dan mengedar pandang ke sekeliling ruangan, mengisyaratkan supaya Evelyn mengikuti arah pandangnya.
Evelyn mengikuti arah pandangnya dan terkesiap. Penglihatan dan kesadarannya sudah benar-benar pulih sekarang. Untuk pertama kalinya sejak ia terjebak di tempat ini, ia benar-benar melihat seisi ruangan.
Ruangan itu terlihat seperti aula berbentuk lingkaran dengan undakan bertingkat seperti arena pertarungan. Kubah besar berwarna biru muda menjulang tinggi di atas kepalanya seperti langit cerah dengan awan putih.
Seluruh tempat di sekelilingnya dipenuhi lukisan besar ksatria Ordo Angelos dalam berbagai pose, lengkap dengan baju zirah bersayap emas dengan helm tertutup. Setiap undakan dipenuhi lukisan ksatria yang sama dengan pose yang berbeda.
"Apa ini?" Evelyn bertanya tanpa bisa menutupi kekagumannya.
Migi Vox mendekati salah satu lukisan yang berada di undakan paling bawah, mengeluarkan cahaya putih dari telapak tangannya dan menyentuh permukaan lukisan itu, dan seketika lukisan itu berkeredap menyala dan ksatria dalam lukisan menyembul keluar dan bergerak memperagakan serangkaian jurus yang tidak pernah dilihat Evelyn.
Evelyn terperangah dengan ekspresi takjub.
Migi Vox menoleh pada Evelyn, menelengkan kepalanya sedikit dan menyeringai seperti biasa.
"Teknik rahasia!" tebak Evelyn.
Migi Vox menyeringai semakin lebar.
Evelyn tergagap dengan mata dan mulut membulat. Seketika ia teringat Nazareth pernah berpesan bahwa ia harus menjaga kalungnya dengan sangat baik karena orang lain mungkin mengincarnya.
"Beberapa akan merenggutnya dengan jalan kekerasan!"
Sekarang aku mengerti, kata Evelyn dalam hati. Nazareth menyembunyikan teknik rahasianya dalam kalung penyimpanan.
"Kita harus keluar dari sini, Vox!" Evelyn merenggut lengan baju Migi Vox dengan raut wajah tegang.
Migi Vox balas merenggut pergelangan tangan Evelyn dan menahannya. Lalu mendemonstrasikan gerakan yang ditunjukkan oleh ksatria Ordo Angelos yang keluar dari lukisan tadi.
Evelyn memperhatikannya dengan alis bertautan. Lalu mencoba mengikutinya. Peri pelindung Evelyn menjalar keluar dari telapak tangannya dan merambat dengan cepat di permukaan lantai, sulur tanaman itu tiba-tiba bangkit, membentuk kepala dan dua tangan, lalu berubah menjadi Evelyn.
Evelyn memekik dan terkesiap. "Teknik kedua kekuatan inti peri pelindung peniru!"
Migi Vox menyeringai.
Sekarang aku mengerti kenapa Migi Vox bisa berubah bentuk menjadi apa saja! kata Evelyn dalam hati.
Evelyn mencoba mengulangi gerakan tadi dan melontarkan peri pelindungnya sekali lagi dalam jumlah yang lebih banyak, lalu dua-tiga Evelyn tercipta dari sulur tanaman itu.
"Terima kasih sudah menunjukkan ini padaku, Vox!" kata Evelyn sambil tersenyum pada Migi Vox.
Boneka itu balas menyeringai dengan ekspresi khasnya.
"Tapi… menurutmu… apakah Nazareth akan marah?" tanya Evelyn dengan raut wajah muram.
Migi Vox menanggapinya dengan menyeringai sekali lagi.
Dia tidak bisa mengangguk maupun menggeleng! Evelyn menyadari. Ia menyampaikan segala sesuatu hanya dengan menelengkan kepala dan menyeringai.
Evelyn mendesah pendek dan menggeleng-geleng. Tampaknya mulai sekarang aku harus belajar membaca emosinya melalui ekspresi itu.
Melihat sorot matanya yang berbinar-binar, Evelyn bisa menebak Migi Vox sedang merasa senang. Tapi apa artinya? Ya atau tidak? Evelyn tetap bingung.
Tapi kata-kata Nazareth kemudian melintas dalam benaknya.
"Terkadang, tindakannya berasal dari keinginanku yang paling rahasia."
Baiklah, kurasa dia tak akan marah!