
"Aku tahu kau sangat ingin bertarung dengan kakakmu," gumam Nazareth setelah mereka kembali ke akademi dan memisahkan diri ke perpustakaan pribadinya bersama Cleon.
Cleon masih terlihat jengkel dan merasa tak puas.
"Baiklah, aku terkadang memang kekanak-kanakan dalam berkompetisi pribadi," kata Nazareth. "Khusus untuk masalah Evelyn, aku takkan mengalah."
Cleon mendengus seraya mendelik sekilas pada Nazareth.
"Tapi untuk kompetisi akademi aku tak ingin melibatkan masalah pribadi," tutur Nazareth lugas. "Ketahuilah Cleon, aku tidak menyembunyikanmu karena dendam pribadi!"
Cleon menanggapinya dengan senyuman sinis.
"Coba kau pikir!" saran Nazareth. "Kalau kau muncul di babak penyisihan, Sloan akan menargetkanmu di babak berikutnya. Dan kau… mungkin tak banyak memiliki kesempatan."
Cleon mengerjap dan mengerutkan dahi.
"Kau dan Sloan memiliki peri pelindung yang sama," jelas Nazareth. "Dan kalian berada di level yang sama."
Untuk pertama kalinya sejak mereka bicara empat mata, Cleon akhirnya menoleh pada Nazareth. Benar-benar memandangnya!
"Secara teknis, kalian mungkin imbang. Tapi Sloan memiliki keunggulan," kata Nazareth lagi.
Cleon menatap ke dalam mata Nazareth dengan mata terpicing.
"Apa perlu kuingatkan bahwa ia lahir lebih dulu?" Nazareth memelankan suaranya dalam bisikan tajam. "Atau kau ingin menunggu sampai dia sendiri yang mengingatkanmu? Seorang adik, selamanya akan tetap menjadi seorang adik!"
Cleon mengerjap sekali lagi dan membuka mulut. Tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.
"Kau harus melepaskan diri dari mental blok ini," saran Nazareth. "Itulah sebabnya kubilang aku akan memberimu pelatihan khusus."
Cleon menelan ludah dan tertunduk. Dahinya kembali berkerut-kerut, berpikir keras.
"Kau bisa memuaskan keinginanmu di babak penentuan nanti," tutur Nazareth. "Tapi cakra keempat puluhan ribu tahun saja tak cukup untuk mematahkan mental blok ini. Terutama mengingat sifat dasar goliath. Posesif, pesimis, tidak percaya diri, suka menggerutu, suka sembunyi dan pencemburu. Kau akan kalah secara mental kalau hanya mengandalkan kekuatan dan teknik."
"Jadi…" Cleon berdeham dan mengangkat wajahnya, menatap Nazareth dengan ragu-ragu. "Aku harus bagaimana?" akhirnya ia melupakan harga dirinya.
"Kau sudah belajar tentang cakra spiritual yang terdapat di tiap jengkal tubuh manusia?" tanya Nazareth.
Cleon mengangguk.
"Apa kau tahu bahwa mental blok erat kaitannya dengan conscience?"
Cleon mengerutkan keningnya lagi. "Hati nurani?"
"Benar," jawab Nazareth. "Kau meragukan teoriku?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" Cleon menggeleng cepat-cepat. "Meski aku terkadang meragukanmu," ia mengaku.
Nazareth tersenyum tipis. "Temukan apa yang paling membuatmu mengasihani diri," ia menyarankan. "Apakah menurutmu menjadi seorang putra bungsu begitu menyedihkan?"
Cleon terdiam dengan raut wajah pahit.
"Sekiranya kehidupan memberimu kesempatan untuk memilih, ingin jadi siapa kau di dalam keluargamu?" tanya Nazareth.
Cleon menelan ludah.
"Apa kau ingin menjadi Sloan?" tanya Nazareth lagi.
Cleon tertunduk semakin dalam.
Nazareth tersenyum maklum, kemudian menghampiri Cleon dan meletakkan telapak tangannya di bahu pemuda itu. "Itulah yang kumaksud dengan mental blok," bisiknya.
"Aku tidak mengerti!" Cleon mengaku.
"Siapa orang yang selalu membelamu ketika kau bersitegang dengan kakakmu?" tanya Nazareth.
"Ibuku," Cleon menjawab parau.
"Execuse me?" Cleon bertanya tak yakin.
"Bunuh ibumu, Cleon!" ulang Nazareth.
"Apa kau sedang mengujiku?" Cleon meninggikan suaranya. Sebelah alisnya terangkat tinggi.
Nazareth menyilangkan kedua tangannya di belakang tubuhnya dan membusungkan dada. "Aku Earth Thunder," katanya penuh kuasa. "Ketua Ordo Angelos memerintahkanmu untuk membunuh ibumu!"
"Tapi—"
"Kau seorang Master Spiritual!" Nazareth memperingatkan. "Menolak misi Ordo Angelos adalah pelanggaran hukum!"
Cleon menjatuhkan dirinya di lantai, berlutut di hadapan Nazareth. Tubuhnya gemetar dan melengkung dengan sikap putus asa. Tapi ia berusaha menguatkan hatinya sambil membayangkan apakah ia sanggup membunuh ibunya. Tapi… tidak! katanya dalam hati. Aku tak bisa membunuh ibuku.
"Seharusnya sejak awal kau sudah mempertimbangkan hal ini, Cleon!" hardik Nazareth. "Menjadi Master Spiritual artinya mengabdikan diri pada Ordo Angelos."
Cleon tertunduk tanpa daya.
"Ambil misimu, atau keluar dari Dunia Master Spiritual?" desak Nazareth.
Cleon bergeming seribu bahasa. Ini jelas pilihan sulit. Keluar dari Dunia Master Spiritual artinya tidak ada harapan untuk mencapai puncak dunia, bahkan untuk sekadar bertahan hidup secara layak. Itu sama saja dengan tidak memiliki sertifikat pendidikan di belahan dunia lain---di zaman modern. Tapi membunuh ibunya… Arrrrrgh! Cleon meratap dalam hatinya.
"Ketahuilah, Cleon Jace!" kata Nazareth. "Ibumu akan tetap mati meski kau tidak membunuhnya."
Cleon mengepalkan tangannya, dan mendaratkannya di lantai. "Aku, Cleon Jace, siap menjalankan misi!" katanya penuh tekad.
Nazareth tersenyum samar, lalu menarik sebelah tangannya dan menjentikkan bola cahaya seukuran kelereng berwarna biru ke arah Cleon. "Jangan lupa untuk menyerap cakranya!" ia memerintahkankan. Bersamaan dengan itu, bola cahaya sebesar kelereng itu menghantam dada Cleon.
SLASH!
Cleon terpental ke belakang dengan gerakan ringan tanpa suara seolah terseret angin. Lalu membeku di udara dengan tubuh melemas tak sadarkan diri, menggelantung di langit-langit tanpa seutas tali.
Nazareth mengirim pemuda itu ke alam bawah sadarnya.
Seharusnya Cleon sudah bisa menebaknya ketika Nazareth mengungkit soal teori cakra yang terdapat di tiap jengkal tubuh manusia.
Cleon tidak menyadarinya. Ia meyakini misi yang dijalankannya sekarang sebagai kenyataan.
Begini juga bagus! pikir Nazareth. Itu akan melatih mentalnya. Lalu duduk bersila di lantai dan menjaga tubuh Cleon tetap mengambang di udara dan menyelubunginya dengan energi cahaya perlindungan untuk mencegah serangan tak terduga yang mungkin datang dari luar.
Evelyn dan teman-temannya menunggu mereka di pekarangan pondok dengan gelisah.
Migi Vox duduk bersedekap di bahu Evelyn dengan ekspresi bosan.
Nyx Cornus terlihat jauh lebih bosan. Sudah bisa dipastikan penyebabnya adalah karena Xenephon tidak bersama mereka.
"Kenapa tidak coba memanfaatkan waktu untuk berlatih dengan Vox?" Lady Die mengusulkan.
"Oh, Tidak! Kumohon, jangan Vox!" ratap Xena.
"Paling tidak, lakukanlah sesuatu yang berguna!" hardik Nyx Cornus dengan ekspresi mengerikan.
Anak-anak aset mereka spontan menghambur ke pondok mereka masing-masing dan mencoba untuk bermeditasi.
Evelyn membawa Migi Vox ke kamar mereka dan bermeditasi dengan membiarkan boneka itu tetap bertengger di bahunya.
Migi Vox menelengkan kepalanya sedikit untuk melihat apa yang akan dilakukan Evelyn, kemudian menyeringai ketika gadis itu mulai memejamkan matanya. Ia merayap turun ke dada Evelyn dan menyelinap masuk ke dalam kalung penyimpanan dari Nazareth.
Evelyn tidak menyadarinya!
Beberapa saat kemudian, permata penyimpanan itu mengeluarkan cahaya biru berbentuk sulur yang secara perlahan menyelubungi tubuh Evelyn.
Evelyn mengerutkan keningnya ketika sengatan rasa panas menyergap dirinya. Ia membuka matanya dengan tersentak dan tertunduk untuk melihat apa yang meliliti tubuhnya.
"What the—" Evelyn memekik terkejut dan menggeliat-geliut ketika sulur-sulur aneh itu mengikatnya semakin ketat. Sensasi rasa panas dan dingin menyengat dirinya dalam waktu bersamaan.