Poison Eve

Poison Eve
Chapter-148



"Kau tahu siapa dia, kan?" Sloan Jace bertanya pada Mo Rhino seraya mengerling ke arah layar yang khusus menampilkan Evelyn.


Mo Rhino dan Voz Panther mengikuti lirikan matanya.


"Of course!" jawab Mo Rhino setengah mencebik. "Pemimpin para pecundang!"


Voz Panther terkekeh tipis.


Ketiga pemuda itu menyelinap keluar dari ruangan ekslusif keluarganya saat para peserta sudah keluar dari Balai Mulia.


Sekarang mereka berhimpun di pagar balkon koridor yang menghubungkan ruangan-ruangan khusus keluarga bangsawan kelas satu, yang mulai sepi setelah keberangkatan para peserta. Hanya para penjaga dan para Master Spiritual panitia yang berseliweran di sepanjang koridor.


Sloan Jace membungkuk memandangi deretan layar yang tengah menayangkan adegan perjalanan para peserta yang membosankan. Kedua siku tangannya bertumpu pada pagar balkon. "Jadi ibumu tak pernah mengatakan apa pun, huh?" tanyanya pada Mo Rhino.


"Kau tahu ibuku, kan?" gumam Mo Rhino. "Sebagai putra satu-satunya, aku selalu diperlakukan seperti bayi. Ibuku tak pernah menganggapku sebagai pria. Kurasa, ia bahkan tak tahu kalau kejantananku sama kerasnya dengan peri pelindungku."


Voz Panther kembali terkekeh.


Sloan tetap bergeming. Tatapannya tidak berpaling dari layar Evelyn. "Masih ingat saat aku kabur di musim perjodohan?"


"Sure!" sahut Mo Rhino. "Ibuku berniat memperkenalkanmu dengan putri baptisnya."


Ibu Mo Rhino adalah Mrs. Morgenstein.


Tunggu dulu! pikir pembaca. Maksudnya si Badak Mo?


Benar!


Mo yang itu!


Musuh kedua Evelyn setelah Voz Panther dalam debut pertamanya.


Mo Rhino adalah putra tunggal Mrs. Morgenstein. Namanya Roland Morgenstein. Peri pelindungnya didapat dari gen ibunya.


Dan Evelyn bahkan tak tahu pemuda itu putra ibu baptisnya.


Apalagi pembaca!


Bagaimana bisa?


Bukankah hubungan Evelyn dengan ibu baptisnya begitu dekat?


Hubungan Evelyn dan ibu baptisnya memang begitu dekat. Tapi jarak rumah mereka tetap saja berjauhan.


Mrs. Morgenstein menjaga putra tunggalnya dengan overprotektif dan memperlakukannya seperti bayi, seperti yang dikatakan Mo.


Mrs. Morgenstein tak pernah mengizinkan Roland mengenal dunia luar kecuali hanya lingkungan sekolah bangsawan. Tidak pernah melibatkannya dalam pembicaraan dewasa. Tidak pernah membawanya pergi keluar ibukota. Pokoknya diperlukan seperti bayi. Bayi Badak!


Jadi, dia hanya bergaul dengan spesiesnya sendiri.


Kalau tidak begitu, ceritanya tidak akan seru.


"Right!" Sloan Jace tersenyum masam. "Kau tahu siapa gadis itu?"


Mo Rhino dan Voz Panther serentak mengerling ke arah Sloan.


"Dia!" Sloan Jace menunjuk layar Evelyn dengan ekor matanya.


"Apa?" Mo Rhino dan Voz Panther memekik bersamaan.


"Dia… putri baptis ibuku?" Mo Rhino menunjuk layar Evelyn sambil tergagap-gagap.


"Oh, kau anak yatim bangsawan yang malang!" dengus Voz Panther mencemooh Mo.


"Yang penting aku masih bangsawan!" tukas Mo tanpa beban sedikit pun.


Vox Panther mendengus dan memutar-mutar bola matanya.


"Menurutku dia tidak terlalu buruk!" Mo Rhino meninggikan suaranya. "Maksudku—jika aku jadi kau…"


"Kau jelas tak paham apa yang aku sesalkan!" tukas Sloan Jace bernada sinis.


"Maksudmu…" Voz Panther spontan menoleh pada Sloan Jace dengan mata terpicing.


Sloan tertunduk seraya tersenyum muram. "Dia memang saingan, tapi bukan musuh, kan?" katanya nyaris tak terdengar. "Mungkin seharusnya aku tak lari dari perjodohan!"


"Kenyataannya kaulah yang tidak punya kesempatan!" sergah Voz Panther sambil mendelik pada Mo Rhino. "Saudara batin tak bisa menikah!"


Lalu ketiganya terkekeh.


"Hei—jangan berkecil hati!" Mo menyemangati. "Musim perjodohan berikutnya…"


"Too late!" sergah Sloan memotong perkataan Mo. "Dia sudah berpacaran dengan Pangeran sekarang!"


"Berpacaran dengan Pangeran?" Voz Panther terperangah lagi.


"Sayang sekali," gumam Mo tanpa dosa.


Sloan dan Voz Panther serentak mendelik pada Mo.


"Benar-benar polos seperti bayi!" cemooh Voz Panther.


Tiga hari kemudian…


Rombongan peserta turnamen akhirnya sampai di gerbang perbatasan Kota Cahaya.


Satu per satu para peserta melangkah turun dari kereta, didampingi guardian mereka masing-masing.


Ksatria Ordo Angelos berderet dari pintu gerbang hingga ke pekarangan Balai Budaya Kota Cahaya. Di tempat itulah pertarungan berikutnya akan digelar. Lima ratus meter dari gerbang perbatasan. Dan sepanjang itulah para ksatria berzirah emas berderet seperti patung emas.


Kepingan-kepingan kaca transparan berbentuk wajik melayang-layang di sekeliling gerbang perbatasan. Mengambang di udara seperti hiasan gantung. Itu adalah kaca sihir monitor yang akan merekam setiap adegan selama babak penentuan berikutnya berlangsung. Semacam kamera di dunia modern.


Selain itu, para peserta juga masih mengenakan seragam armor yang disediakan secara khusus oleh Balai Mulia masing-masing negara. Armor mereka juga dilengkapi kaca sihir monitor yang sama.


Para penonton di alun-alun ibukota dan di dalam aula Balai Mulia masing-masing negara mulai terlihat bersemangat setelah tiga hari memelototi layar dengan terkantuk-kantuk disuguhi adegan membosankan.


Alun-alun ibukota masing-masing negara, menggemuruh oleh seruan semangat para penonton. Beberapa dari mereka bahkan menyanyikan yel-yel sambil mengacung-acungkan bendera kecil negara mereka seperti para suporter piala dunia.


Dua orang Master Spiritual yang berlaku sebagai pemandu acara sekaligus wasit, berdiri di bagian luar gerbang menyambut kedatangan para peserta. Mereka jauh lebih kaku dibanding wasit di Balai Mulia.


Dan sangat tidak ramah!


Suara mereka lebih jelas meski tanpa bantuan pengeras suara.


"Sampai di sini kalian sudah tak bisa berbuat curang," kata salah satu dari mereka.


Jelas-jelas ketus!


"Strategi dan kerja sama tim tidak berlaku di sini!"


"Bisa saja kalian melewati gerbang dengan cara curang," kata yang lainnya. "Tapi kalian takkan bertahan di tiga ratus meter dari Balai Budaya!"


Lalu keduanya menyisi. Satu ke kanan, satu ke kiri. Mereka melayangkan sebelah tangan mereka ke arah gerbang, mempersilahkan para peserta untuk melangkah masuk.


Lalu derap kaki kuat dengan irama teratur dari tumit sepatu militer yang telah disemir yang beradu dengan lantai kuno terdengar dari belakang deretan kereta kuda, memberikan kesan pertama kepada semua orang bahwa aura intimidasi kedua wasit itu tidak berpengaruh terhadap beberapa orang.


Tim peringkat atas Kekaisaran Shangri-La muncul di depan gerbang…


Dan setengah dari para peserta merasa seperti… mendapat peringatan.


Beberapa orang sebenarnya terkesiap.


Mereka semua menatap kelompok itu, memberikan pandangan antara bingung dan kagum.


Tatapan mereka sekarang terpaku pada barisan Master Spiritual muda yang gagah dengan seragam lengkap pasukan khusus.


Satu per satu para peserta itu melewati gerbang tanpa hambatan sama sekali.


Di mulai dari ketua mereka yang paling memukau.


Kulit cokelat terbakar matahari, rambut ikal cokelat sebahu, dengan tinggi badan sekitar seratus delapan puluh, kekar dan tegap.


Pemuda itu mengenakan seragamnya yang berkilau dengan penuh kebanggaan, memperlihatkan dengan jelas bahwa yang dipakainya bukan sekadar seragam kompetisi.


Pemuda itu bahkan membawakan diri sebagai seorang ksatria---tubuh tegak, dada membusung, bahu lurus, dan dagu terangkat. Kepercayaan diri yang dimilikinya saat ia berjalan dengan gerakan berwibawa dan penuh kewaspadaan, seolah menegaskan bahwa ia telah melewati gerbang perbatasan Kota Cahaya yang sangat keramat itu lebih dari satu kali.


Memasuki tiga ratus meter dari Balai Budaya, satu pemuda dari tim peringkat atas Shangri-La itu terpental beberapa meter.


Sang ketua bahkan tidak mengerjap mengetahui salah satu anggotanya tereliminasi. Tetap berjalan tanpa menoleh dengan sikap waspada.