
Morfeous Academy, Kota Ilusi…
Hari kedua, pertarungan babak lima puluh besar, Evelyn masih tidak mengeluarkan teknik cahaya demi mengurangi risiko bocornya semua teknik yang disiapkan untuk pertarungan sepuluh besar.
Aku bahkan tidak berhasil menguasai dua puluh teknik, pikir Evelyn. Lebih baik tidak mengeluarkannya sekarang!
"Ini tak adil!" protes Lady Die pada wakil akademi. "Dia tidak menggunakan teknik cahaya, bukankah itu suatu penghinaan bagi seni beladiri spiritual?"
"Pertarungan spiritual tidak hanya tentang teknik cahaya," tukas wakil akademi. "Unsur spiritual bukan hanya cahaya. Masih ada udara, air dan api. Segala sesuatu yang tidak dapat digenggam adalah unsur spiritual. Teknik pernapasan, daya konsentrasi, insting, feeling, ketenangan batin, juga termasuk teknik pertarungan spiritual."
Lady Die langsung terdiam. Baiklah, pikirnya sinis. Peri pelindung tidak berguna memang perlu siasat berbelit-belit!
Hari ketiga, pertarungan babak tiga puluh besar, Evelyn akhirnya mengeluarkan peri pelindungnya, tapi tidak mengeluarkan cakra spiritualnya.
"Sebenarnya dia punya cakra spiritual atau tidak?" para guardian mulai bertanya-tanya.
Xenephon tersenyum samar. Tatapannya tidak beralih dari arena, bersikap seolah-olah tidak mendengar pembicaraan di belakangnya. Anak-anak itu akan mengajukan protes kalau dia mengeluarkan cakranya sekarang, katanya dalam hati. Lebih baik mengurangi risiko!
Setelah memasuki babak sepuluh besar, bisa dipastikan peserta yang tersisa adalah petarung terkuat yang sudah menguasai banyak teknik. Itu sebabnya Evelyn hanya mengeluarkan peri pelindung tanpa cakra spiritual.
Para penonton mulai meneriaki Evelyn di samping mereka yang terbahak-bahak atau sekadar cengengesan dan berkasak-kusuk mencemooh kemunculan perdana peri pelindung Evelyn.
"Akhirnya keluar juga," cemooh beberapa orang.
"Ternyata hanya kecambah!" timpal yang lainnya.
Yang lain-lainnya lagi tertawa terbahak-bahak.
"Apa yang akan kau lakukan dengan kecambah itu, Evelyn?" teriak seorang peserta bertubuh tinggi besar seperti goliath.
Peserta lainnya tergelak menanggapi anak laki-laki itu, kecuali Altair.
Altair menatap sedih ke tengah arena dengan mulut terkatup. Rahangnya mengetat menahan jengkel. Sudah tiga hari, pikirnya. Evelyn bahkan tak pernah kalah. Tapi mereka masih belum berhenti meremehkannya. Ia melirik Xena Moz yang menjadi lawan Evelyn kali ini.
Xena Moz sudah mengeluarkan cakra dan memunculkan gambar cahaya berbentuk elang di atas kepalanya.
Evelyn menjentikkan jarinya dan dalam sekejap peri pelindungnya berubah menjadi cemeti.
Para penonton menahan napas.
Para juri terkesiap.
"Menarik!" komentar salah satu juri yang sudah berumur. "Dibutuhkan teknik tinggi untuk melakukan itu!"
"Di samping kontrol yang bagus tentunya," juri lainnya menimpali.
Xena mengerjap dengan khawatir. "Kau yakin tak ingin menggunakan cakramu, Eve? Levelku sudah lima belas!" ia memberitahu.
Evelyn tersenyum tipis menanggapinya. "Kalau begitu jangan kecewakan aku," katanya dengan raut wajah datar.
"Baiklah," Xena tersenyum antusias. Lalu mulai menerjang ke arah Evelyn.
Evelyn menyentakkan cemetinya di lantai, kemudian melambungkan tubuhnya dan menyapukan tendangan memutar di udara.
Xena memutar tubuhnya dalam gerakan salto dan terluput dari tendangan Evelyn.
BLASSSH!
Keduanya mendarat berseberang-seberangan.
Senyum Xena melebar. Bagus, pikirnya bersemangat. Ternyata dia tidak menganggap remeh pertarungan ini.
Evelyn mengangguk singkat dan tersenyum tipis. Bagus, katanya dalam hati. Dia tidak menyia-nyiakan momen perdanaku mengeluarkan peri pelindung.
"Hanya peri pelindung tak berguna," gumam Lady Die seraya menyandarkan punggungnya dan bersedekap dengan tampang malas. Lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
Master Lotz tersenyum masam dan menggeleng-geleng di sisinya. "Punya masalah apa kau sebenarnya dengan Evelyn Katz?"
Lady Die melirik pria itu setengah mendelik. "Bukankah sudah cukup jelas, dia bahkan tak pernah melakukan pemanasan, tak pernah mendapat pelatihan fisik. Menurutmu apa yang membuatnya layak mengikuti kompetisi kalau bukan karena dia anak aset pemilik akademi? Apa kau tidak merasa hal ini seperti lelucon?"
"Kenyataannya dia bertahan sampai sepuluh besar," tukas Master Lotz. "Apanya yang lelucon?"
Lady Die membeliak dan mengatupkan mulutnya.
Xena memasang kuda-kuda lagi, mengeluarkan cakra dan peri pelindungnya.
"Whoa—" salah satu juri memekik. "Anak ini memiliki daya kontrol yang baik," komentarnya takjub.
Lady Die memutar-mutar bola matanya dengan tampang sebal. Hanya begitu saja? pikirnya meremehkan.
Evelyn dan Xena mengangguk bersamaan. Lalu secara serentak keduanya mulai mengambil ancang-ancang.
Xena melambungkan tubuhnya ke udara, kemudian menukik ke arah Evelyn.
Evelyn mengayunkan cemetinya ke udara dan menjerat sebelah kaki elang yang melayang di udara, bersamaan dengan itu, Xena berhasil menyergap kedua bahunya dan mendorong Evelyn hingga terjengkang dan terjerembab.
BRUK!
Keduanya jatuh di lantai bersamaan. Evelyn jatuh terjengkang, sementara Xena berlutut mengungkung Evelyn di atasnya.
Evelyn menyentakkan cemetinya dan mengempaskan burung elang Xena ke lantai.
BRUK!
Xena terpuruk seolah diinjak di bagian tengkuknya dengan wajah membentur lantai.
Evelyn memekik tertahan. "Are you okay?" ia bertanya cemas.
"I'm okay!" jawab Xena setengah meringis. Ia menarik wajahnya dari lantai sambil meringis dan mengusap-usap dahinya. "Aku hanya terkejut," ia mengaku. Lalu menghela bangkit tubuhnya dari lantai.
Evelyn melompat berdiri dan kembali bersiap, lalu mengangguk ke arah Xena.
Xena memasang kuda-kuda lagi, mengeluarkan cakra dan peri pelindung lagi. Lalu menjejakkan sebelah kakinya ke lantai.
GRAK!
Sayap elangnya mengepak dan terbentang di punggungnya.
Evelyn memundurkan sebelah kakinya dan menekuknya sedikit.
Lalu dalam waktu bersamaan kedua gadis itu melambungkan tubuhnya ke udara dan saling menerkam.
Evelyn mengedikkan bahunya untuk mengelak dari terkaman Xena dan memutar sambil mengayunkan cemetinya ke arah Xena. Cemeti itu berhasil menangkap pinggang Xena dan dalam sekejap meringkusnya.
BRUAK!
Xena terperosok ke lantai dalam lilitan sulur tanaman yang terus menjalar dan mengetat hingga ke lehernya.
Evelyn menahannya.
Para penonton sekali lagi hanya terkesiap dan menahan napas.
Lalu para juri berdiri dan bertepuk tangan. Para penonton akhirnya mengikutinya.
Pemandu acara melayang ke tengah arena dan mendarat di depan Xena, "Xena Moz, apa kau ingin menyerah?"
Xena mengangguk cepat-cepat. Wajahnya terlihat pucat dan berkeringat.
"Pertarungan berakhir!" Pemandu acara mengumumkan, lalu melayangkan telapak tangannya ke arah Evelyn. "Anak Aset Nazareth Vox menang dengan perolehan dua poin. Satu poin untuk Anak Aset Dea Proka!"
Aula menggelegar oleh tepuk tangan meriah.
Lady Die melemas di tempat duduknya dengan raut wajah frustrasi.
Evelyn menghela napas lega dan menarik kembali peri pelindungnya, kemudian berjalan ke arah Xena dan membungkuk mengulurkan tangannya pada gadis itu.
Xena tersenyum dan menerima uluran tangan Evelyn, lalu berdiri dengan berpegangan pada Evelyn.
Altair melompat berdiri sambil menepuk-nepukkan tangannya di atas kepala.
Xenephon bertukar pandang dengan Nyx Cornus.
"Bagaimana kau melakukanya?" Xena bertanya ketika ia berjalan tertatih-tatih menaiki tangga menuju bangku peserta dengan ditopang oleh Evelyn. Sebelah tangannya menggelayut di bahu Evelyn. "Maksudku, bagaimana bisa tanaman rambat menjadi begitu lentur sekaligus keras dalam waktu bersamaan?"
"Aku akan memberitahumu kalau kau masuk lima besar," jawab Evelyn seraya tersenyum tipis.
Xena meliriknya dengan bersemangat, lalu mengangguk cepat-cepat. "Aku akan berusaha!" katanya. "Kuharap bisa bertemu lagi di pertarungan lima besar," katanya.
Evelyn balas mengangguk. "Aku akan berusaha!"