
"Hati Iblis adalah batu energi alam semesta," tutur Victoria. "Batu mulia dewa cahaya."
Evelyn tercenung dengan eskpresi getir.
"Sekarang kau sudah tahu ambisi kedua penyihir Damon," Victoria menambahkan. "Daripada berpikir untuk membalas dendam, sebaiknya pikirkan cara untuk menyelamatkan dirimu."
Evelyn mengerjap dan terkesiap menatap Victoria.
"Kau mewarisi tulang cakra Apollo," Victoria memberitahu. "Cepat atau lambat, kau akan diburu seperti ayahmu, kakekmu, pamanmu…"
Dan juga kalian, Evelyn menambahkan dalam hatinya dengan perasaan pahit. Lalu kata-kata salah satu peri vampir itu terngiang dalam benaknya.
"Suatu saat, kau juga akan diburu seperti kami!"
Diburu… seperti peri monster! batin Evelyn.
"Milikmu adalah yang tertinggi, Evelyn!" Victoria berbisik di telinganya.
Evelyn mengerjap dan menelan ludah. Lalu tercenung dengan eskpresi sedih.
"Kau ingin tahu kenapa kakekmu, ayahmu, juga pamanmu tak bisa menjangkau tahta kerajaan cahaya?" Victoria bertanya seraya menatap ke dalam mata Evelyn.
Evelyn hanya mengerjap.
Victoria mendekatkan wajahnya ke telinga Evelyn dan kembali berbisik, "Karena mereka membunuh peri monster untuk mendapatkan cakra spiritual!"
Evelyn terhenyak dan terbelalak. Aku juga! pekiknya dalam hati.
"Di dalam dunia spiritual, Apollo adalah orang terakhir yang tidak pernah membunuh peri!" Victoria menambahkan.
"Kalau begitu… tahta kerajaan cahaya akan tetap kosong sampai—"
"Sebenarnya tahta kerajaan cahaya sudah ada yang menempati!" sela Victoria memotong perkataan Evelyn.
Nazareth! Evelyn menyimpulkan.
"Tapi bukan sebagai raja!" Victoria menambahkan.
Evelyn menautkan alisnya.
"Seperti kubilang tadi," Victoria melanjutkan. "Meski tidak memiliki gen raja cahaya, seseorang bisa saja menjadi raja cahaya berikutnya atas pilihan dewa melalui energi cahaya para malaikat. Tapi itu artinya dia Putra Cahaya. Titisan dewa cahaya itu sendiri. Dia bukan raja kami tapi dewa!"
Evelyn menatap ke dalam mata Victoria. Tapi tidak mengatakan apa-apa.
"So…" Victoria menyimpulkan. "Secara kultur, tahta raja masih tetap kosong. Raja terakhir kami masih Apollo. Jadi, kau masih putri mahkota kami. Dan kami semua, para peri memiliki kewajiban untuk melindungimu."
Evelyn tertunduk muram. "Dan aku malah membunuh kalian," sesalnya.
"Maka kami harus menyerahkan nyawa kami dengan suka rela," tukas Victoria.
Evelyn tertunduk semakin dalam. Semakin muram.
"Tidak perlu disesali, Tuan Putri!" hibur Victoria. "Mati untukmu adalah kewajiban kami."
"Bagaimana caranya mendapatkan cakra spiritual tanpa membunuh peri monster?" tanya Evelyn dengan suara tercekat.
"Sebenarnya… setiap jengkal tubuh manusia adalah cakra spiritual," jelas Victoria. Sama persis dengan yang dikatakan Nyx Cornus pada Electra. "Setiap sepuluh level pertumbuhan kekuatan spiritual, cakra spiritual manusia akan bangkit dengan sendirinya. Kalian hanya perlu mengaktifkannya."
"Bagaimana caranya?" tanya Evelyn penasaran.
"Jelajahi alam bawah sadarmu," jawab Victoria.
Evelyn tidak mengerti.
"Alam bawah sadar manusia tidak ada bedanya dengan dunia peri," tutur Victoria. "Di sana, kau akan menemukan banyak monster dari tingkat yang paling rendah sampai tingkat yang paling tinggi. Dan kau hanya perlu menemukan yang paling kuat dan membunuhnya seperti kau membunuh peri monster, lalu menyerap cakranya."
"Bagaimana caranya memasuki alam bawah sadar?" tanya Evelyn lagi.
Evelyn nyaris tersedak air liurnya sendiri. Yang paling membuat dirinya bergairah adalah Nazareth Vox.
"Yang kedua adalah desire---hasrat," Victoria melanjutkan. "Temukan keinginanmu yang paling dalam. Kemudian lakukan seperti yang kau lakukan pada peri monster---bunuh dan serap cakranya. Begitu juga dengan tingkatan berikutnya, temukan, bunuh dan serap cakranya."
Evelyn tercenung dengan dahi berkerut-kerut.
"Yang ketiga adalah conscience---hati nurani," Victoria melanjutkan. "Temukan apa yang paling membuatmu mengasihani diri. Lalu, emotion—renjana, sesuatu yang paling membuatmu emosional, entah itu marah, kecewa, sedih, putus asa, apa saja, emosi negatif yang menurutmu paling tidak terkendali."
Yang paling tidak terkendali? ulang Evelyn dalam hatinya. Emosi negatif yang paling tidak terkendali dalam dirinya adalah rasa kehilangan atas kematian ayahnya.
"Selanjutnya, expression---pernyataan," lanjut Victoria lagi. "Ekspresi yang paling sering muncul secara refleks, mungkin cemas, kesal, apa saja yang paling terlihat jelas diwajahmu yang tidak bisa menutupi isi kepalamu. Kemudian audio---pendengaran, suara apa yang paling membuatmu terganggu seumur hidup. Vision---penglihatan, sesuatu yang tak bisa hilang saat kau menutup mata dan sangat menggangumu. Trauma!"
Evelyn menyimak penjelasan Victoria, kata demi kata, berusaha menyerap semuanya dalam otaknya.
"Berikutnya adalah tingkat yang paling sulit," Victoria melanjutkan. "Intelligence---kecerdasan, kalahkan kecerdasanmu sendiri dengan pertanyaan yang lebih cerdas hingga kecerdasanmu tak bisa menjawab. Terakhir, spirit---jiwa, lawan dirimu sendiri, karena musuh terbesar adalah diri sendiri!"
Evelyn baru saja membuka mulutnya, bersiap untuk mengatakan sesuatu ketika suara berdebum di luar gua menyentakkan para peri vampir yang berjaga di mulut gua, disusul ledakan cahaya dan semburan debu bercampur kerikil.
Angin kencang menerpa seperti badai ke dalam gua. Lantai gua bergetar dan dindingnya berkeretak, bergoyang-goyang.
Evelyn dan ratu peri vampir serentak menghambur ke mulut gua diikuti sejumlah peri vampir berambut hitam.
Semburan api menyambut Evelyn begitu langkahnya mencapai mulut gua.
Evelyn terlempar ke belakang bersama peri vampir lainnya.
Victoria masih bertahan di mulut gua, kedua tangannya bersilangan di depan wajahnya menyemburkan energi cahaya berbentuk kubah berwarna merah darah.
Evelyn menarik bangkit tubuhnya dan mendekat ke arah Victoria dengan langkah-langkah limbung. Lalu mendongak untuk melihat apa yang terjadi dan terperangah.
Migi Vox melayang di mulut gua dengan tubuh menyala berkobar-kobar.
"Vox!" Tanpa pikir panjang, Evelyn segera menyeruak keluar menerobos energi cahaya Victoria dan melesat ke arah Migi Vox.
"No—" Victoria berusaha mencegah Evelyn.
Tapi Evelyn tidak mendengarnya. Suaranya tenggelam di antara gemuruh badai kerikil dan badai cahaya.
Bersamaan dengan itu, Migi Vox melontarkan energi cahaya dari telapak tangannya ke arah Evelyn dan seketika Evelyn terhempas ke belakang hingga membentur dinding batu di atas mulut gua.
Apa yang terjadi? pekik Evelyn dalam hatinya. Kenapa Migi Vox juga menyerangku?
Ia mendarat terhuyung di kaki gunung, sambil menekuk perutnya. Lalu mengangkat wajahnya dan mengedar pandang. Mencari-cari keberadaan Nazareth.
Bersamaan dengan itu…
"WATCH OUT!" salah satu peri vampir melesat ke arah Evelyn dan membentenginya.
Segulung bola api sebesar batu gunung melesat cepat ke arah Evelyn.
DUAAAAARRRR!
Bola api raksasa itu meledak bersama tubuh si peri vampir.
"TIDAAAAAAAK!" jeritan Evelyn melengking nyaring.
Nazareth tersentak di puncak tebing di seberang gunung di mana terdapat gua yang dihuni klan peri vampir. Lalu melesat ke kaki gunung, di mana Migi Vox berada. Tubuhnya masih diliputi kobaran api berwarna biru. Sepasang matanya masih berkobar-kobar. Kesadarannya belum kembali.
Evelyn terpekik ngeri melihat keadaan Nazareth yang di luar kendali.
Apa sebenarnya yang terjadi? pikirnya. Kenapa dia sampai hilang kendali? Rasa bersalah kemudian menyergap dirinya. Apakah karena aku?
Dan Author cuma bisa bilang, memang apa lagi?!