
"Mahkota cahaya membawa kemuliaan…" bisik Evelyn di antara kesadarannya yang timbul-tenggelam.
Terdengar suara mendengus, disusul suara tawa yang sama yang menggelegar.
Kelopak mata Evelyn mulai bergetar lemah, tak lama kemudian kepalanya jatuh tertunduk dan terkulai.
Suara tawa seorang pria menggelegar.
Seorang pejabat kehormatan melayang turun entah dari mana, kemudian mendarat di depan Evelyn sambil menyeringai, kedua tangannya bersilangan di belakang tubuhnya. "Memangnya kenapa kalau genius?" dengusnya. "Ayahnya juga genius, tapi tetap saja berakhir mati mengenaskan!"
Dua pejabat lainnya mengendap turun di belakang pria itu bersama Bedros Damon. Kush Thunder dan Neiro Sach.
Bersamaan dengan itu, seorang pria lain melayang turun di belakang Evelyn dan menyentakkan keempat pria lainnya.
"Kefas!" pekik Bedros tak bisa menutupi perasaan leganya. "Kau kembali?"
Berbeda dengan Bedros, tiga pria lainnya menatap Kefas dengan waspada.
Kefas menarik sudut bibirnya membentuk seringai tipis.
Raut wajah Bedros berubah terkejut. Kenapa auranya terasa berbeda?
Ketiga pria lainnya juga merasakan itu.
"Apa kau benar-benar Kefas?" Neiro Sach bertanya dengan curiga.
"Kalian orang-orang terhormat," desis Kefas menyerupai hembusan angin, mengabaikan pertanyaan Neiro. "Kalian semua begitu hebat. Apa pantas menindas gadis kecil yang level kekuatannya bahkan tidak sebanding dengan salah satu dari kalian?"
Para pejabat itu mengerjap dengan rahang mengetat.
"So…" Kush Thunder mendongakkan hidungnya dengan arogan. "Apa tepatnya tujuanmu datang ke sini? Berkhotbah?" dengusnya bernada mencemooh.
Kefas balas mendengus. Sepasang bibirnya yang gelap membentuk seringai tipis. Lalu mendekat pada Evelyn.
Pria di depan Evelyn spontan memasang kuda-kuda, diikuti Kush Thunder dan Neiro Sach.
Bedros tergagap dengan bimbang.
Kefas menjejakkan sebelah kakinya di permukaan tanah, dan seketika bumi berguncang bersama ledakan asap disertai gelegar halilintar, sebuah lingkaran cahaya berbentuk cakram berwarna hitam berpendar mengelilingi tubuhnya dan tubuh Evelyn.
Bedros dan ketiga pejabat itu terpental ke empat arah berlawanan. Lalu jatuh terjerembab dan bergelimpangan dengan menyedihkan.
"Pengkhianat!" teriak Kush Thunder dengan murka, kemudian menghela bangkit tubuhnya dan menerjang ke arah Kefas seraya melontarkan energi cahaya berwarna ungu dan hitam.
Kefas mengedikkan bahunya sedikit dan pria terhormat itu tersuruk menyergap udara kosong.
"Jadi kau benar-benar pengkhianat?" Bedros mendesis tajam sambil memelototi saudaranya dengan tatapan mencela.
Pada saat yang sama, ketiga pria lainnya juga menerjang serempak dan mengepungnya.
Kefas menjejakkan sebelah kakinya sekali lagi, dan seketika keempat pria yang mengepungnya kembali terpental.
Kefas tersenyum lebar sambil merenggut pinggang Evelyn dan menariknya ke dalam tanah, kemudian menghilang bersama cakra spiritualnya.
BLASSSH!
Ruang dimensi asing yang tak lain adalah Kota Altarus itu mendadak hening.
Keempat pria itu membeku dalam kebutaan akibat kepulan debu tebal yang menyelubungi seluruh tempat di sekeliling mereka.
Ketika kepulan debu itu berangsur-angsur hilang, Kush Thunder meraung dalam kemurkaan, sementara Kefas sudah mencapai gerbang perbatasan kota.
Begitu ia keluar gerbang, Nyx Cornus menghadangnya bersama sejumlah pengawal misterius berseragam ninja.
"Kau lagi?" geram Nyx Cornus dengan aura iblis.
Oh, s h i t ! Kefas mengerang dalam hatinya. Kemudian melontarkan cakra spiritual berbentuk gelang dari pergelangan tangannya yang dalam sekejap sudah membengkak sepuluh kali lipat lebih besar. Sebuah tangan raksasa bersarung tangan ketat berwarna hitam menyeruak keluar dari dalam lingkaran dan menerkam ke arah Nyx Cornus.
Gadis guardian itu melejit menjauhinya sambil melontarkan peri pelindung rantai nerakanya dengan gerakan memutar di udara.
GRAAAAAAKKKK!
Rantai itu melecut ke arah tangan raksasa Kefas dan menyergap pergelangan tangannya.
Kefas balas menyergap rantai neraka itu dengan sosok ilusi tangan raksasanya, kemudian melemparkan Nyx Cornus ke sembarang arah.
Nyx Cornus terlempar entah ke mana, tapi rantai nerakanya masih melilit pergelangan tangan raksasa itu.
GRAAAKKK!
Suara-suara logam yang berbenturan meledak di udara.
Kefas berhasil menghindar sambil tetap memanggul tubuh Evelyn di bahunya, memeganginya dengan sebelah tangan, sementara tangan lainnya masih terjerat dalam belenggu rantai neraka milik Nyx Cornus.
Nyx Cornus melontarkan rantai lagi entah dari mana, kemudian menyergap pinggang Evelyn dan merenggutnya dari Kefas.
Bersamaan dengan itu, para ninja sudah mengepung Kefas dengan pedang terhunus.
"D A M N !" Kefas menggeram seraya menyentakkan tangannya sekali lagi, dan seketika rantai neraka milik Nyx Cornus meledak dan terlepas dari pergelangan tangannya. Ia menjatuhkan dirinya dalam posisi jongkok sambil mengayunkan telapak tangannya dengan jemari membentuk cakar, kemudian mendaratkan cakarnya di permukaan tanah.
DUAAAAARRRR!
Ledakan besar tercipta dari hempasan tangannya hingga membuat bumi berguncang.
Para ninja terpental dan pada waktu yang sama Kefas juga menghilang ke dalam cakra spiritualnya yang misterius.
SLASH!
Kepulauan debu membumbung tinggi di sekeliling Nyx Cornus.
Dan ketika kepulan debu itu mengendap turun dan berangsur-angsur lenyap, Nyx Cornus sudah kembali berada di pekarangan pondok Nazareth sambil bersimpuh memeluk Evelyn dengan tubuh gemetar. Para pengawal bayangan berserak di sana-sini di sekelilingnya dalam kondisi memprihatinkan.
Nazareth tersentak dan terbelalak. Kemudian menghambur ke arah mereka, diikuti ketiga guardian dan anak-anak aset mereka.
Migi Vox melesat lebih dulu ke arah Evelyn, menggelayut di leher gadis itu sambil menyusupkan wajahnya seperti biasa.
Evelyn masih terkulai dengan mata terpejam.
"Eve…" Xena dan Electra mendesis lirih, kemudian saling memeluk satu sama lain sambil menangis tanpa suara.
Cleon dan Altair membeku dengan mata berkaca-kaca.
Nazareth dan Lady Die berjongkok di dekat Nyx Cornus. Nazareth meraup tubuh Evelyn sementara Lady Die meraup tubuh Nyx Cornus.
Arsen Heart dan Salazar Lotz memeriksa para pengawal bayangan Nazareth dan menginstruksikan Cleon dan Altair untuk membantu mereka membawa para pengawal itu ke Balai Pengobatan Akademi.
Lady Die menuntun Nyx Cornus ke pondok pemandian obat bersama Electra, sementara Nazareth masih membungkuk memeluk Evelyn.
Xena berdiri gemetar memandangi Evelyn dengan berurai air mata.
Beberapa saat kemudian, Lady Die kembali bersama Electra. Xena membungkuk ke arah Nazareth untuk meminta Evelyn dirawat di pondok pemandian obat.
Migi Vox hampir melesat ketika ketiga wanita itu menggotong Evelyn ke pondok pemandian obat. Tapi Nazareth segera merenggut tengkuknya.
.
.
.
Keesokan harinya, di Balai Budaya Kota Ilusi…
Tiga bangku pejabat kehormatan terlihat kosong. Marques, Viscount dan Baron!
Kaisar melirik bangku itu dengan mata terpicing.
"Hari ini, Akademi Sihir Dewa Musik Sandalphon akan melawan Akademi Sihir Saint Claus," pemandu acara mengumumkan melalui pengeras suara.
"Apa yang terjadi?" Kaisar menggumam dengan dahi berkerut-kerut. "Bukankah hari ini seharusnya Tim Satu Kaisar melawan Akademi Militer Dewa Mimpi?"
"Akademi Militer Dewa Mimpi mengaku kalah, Yang Mulia!" Duke Orion memberitahu.
"Mengaku kalah?" Kaisar menoleh pada Orion dengan ekspresi terkejut.
"Mari kita persilahkan kedua tim masuk arena dengan tepuk tangan meriah!" suara pemandu acara kembali menggelegar, disusul suara tepuk tangan para hadirin.
Kaisar tercenung sambil melirik tiga bangku pejabat yang kosong. "Ini tidak seperti kebiasaan mereka," gumamnya nyaris tak terdengar, lebih terdengar untuk dirinya sendiri.
"Ini akan menjadi pertarungan antara ayah dan anak!" pemandu acara melanjutkan cuap-cuapnya. "Mana yang akan menang… tak sabar untuk menantikan pertarungannya."
"Cari tahu ke mana mereka pergi!" titah Kaisar pada Orion sambil mengerling ke arah bangku pejabat yang kosong.